logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

CHAPTER 5. LUCID DREAM

"๐˜”๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฃ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ, ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ช๐˜ต๐˜ถ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ต๐˜ข๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ถ๐˜ฎ ๐˜ด๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฉ๐˜ธ๐˜ข ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ญ ๐˜บ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ณ๐˜ถ๐˜ด ๐˜ฌ๐˜ช๐˜ต๐˜ข ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ ๐˜ฅ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ด๐˜ถ๐˜ข๐˜ต๐˜ถ ๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ณ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ช ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฃ๐˜ถ๐˜ต ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ธ๐˜ถ๐˜ซ๐˜ถ๐˜ฅ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ."
Pagi hari, aku bergegas menuju perpustakaan sekolah. Diri ini mencari lagi informasi tentang mimpi, yang selama ini kualami. Sungguh susah sekali mencarinya, dari kemarin tetap saja tak ditemukan informasi yang akurat.
"Apa yang kau cari?" tegur pria berjaket hoodie di sampingku.
"Tidak ada aku tak mencari apa-apa, hanya membaca buku saja," balasku menyembunyikan apa yang kucari, sambil diri ini melirik sedikit ke arah pria itu.
"Kau tak akan menemukannya jika mencari di sini, carilah jawabanmu di situs ini! Maka kau akan cepat menemukannya." Disodorkannya secarik kertas ke arahku.
"Ap-pa ... " belum sempat aku bertanya dia telah pergi, bahkan wajahnya pun belum sempat kulihat.
'Loh, ke mana orang tadi? Siapa dia sebenarnya, kenapa aku seperti mengenal suaranya,' gumamku sendiri.
Setelah pria itu tiba-tiba menghilang entah ke mana. Diri ini sempat membaca secarik kertas yang dia berikan tadi. Kubolak balikkan kertas tersebut, hanya ada tulisan yang menunjukkan sebuah situs web. Kembali rasa penasaran ini datang, entah sudah berapa banyak hal yang membuatku merasa penasaran. Rasanya, belum selesai satu hal yang membuatku penasaran kini bertambah lagi satu. Akhirnya tak butuh banyak pikir panjang, diri ini memutuskan untuk mencari apa yang sebenarnya ada di dalam situs web yang dimaksud pria itu. Diri ini berharap semoga benar jawaban yang kucari ada di sana.
Lab TIK, tempat yang kutuju selanjutnya. Bergegas diri ini menuju tempat tersebut yang hanya berjarak beberapa gedung dari perpustakaan. Sesampainya di sana, ternyata petugas lab tidak ada di tempat dan ruangan masih dalam keadaan terkunci.
'Sial, ke mana sih Pak penjaga lab ini?' gerutuku.
"Aryan! Ngapain kamu di sini?" Sapa seorang gadis yang ternyata adalah Riri.
"Eh, Riri! Gak ada, Ri, ini mau ke lab TIK ada tugas yang harus kuselesaikan, rencana ingin mencari sumber rujukan eh ternyata malah masih tutup," alibiku kepada Riri.
"Aku kira ngapain, kamu, Ar! Clingak clinguk seperti orang mau ngapain aja," balasnya sambil tertawa kecil.
"Hehehe, iya, Ri! Eh udah waktunya jam pertama kuliah nih, ayo! Ri, kita ke kelas keburu telat nih," ajakku.
Entah apa yang terjadi kepada Riri, wajahnya tiba-tiba memerah seperti sedang demam. Dia juga menundukkan wajahnya, seperti merasa berat di kepalanya.
"Ri, kau kenapa? Pusing? Wajahmu memerah, kamu sakit ya?" Reflek kutempelkan telapak tanganku ke dahinya.
Betapa terkejutnya diri ini, Riri seperti mau jatuh. Mungkinkah Riri beneran sakit, aku mulai panik melihat keadaan Riri. Reflek kuraih lengannya, dan kupapah dia agar tidak sempoyongan berjalan.
"Ri! Kau gak enak badan ya, kenapa kau masuk? Ayo kuantar kau ke ruang kesehatan," ajakku dengan memapahnya.
"Ti-tidak, Ar! A-aku gak apa-apa kok, su-sudah le-lepas saja, a-aku bisa jalan sendiri k-kok," balasnya gagap.
"Ri! Serius kau gak apa-apa, dari bicaramu, kau sepertinya benar-benar sakit, udah diam yah, ayo aku antar ke ruang kesehatan dulu, tak mungkin kau kubiarkan dalam keadaan seperti ini!" perintahku dengan lembut.
Aku dan Riri menuju ke ruang kesehatan, wajahnya masih memerah, bicaranya selama diperjalanan masih gagap, bahkan kakinya seperti sudah tak kuat menopang tubuhnya, dan yang lebih parahnya detak jantungnya terasa semakin kencang saja. Panik sekali diri ini, bagaimana jika terjadi apa-apa kepada Riri.
"Ri! Kita ke rumah sakit saja, kau sepertinya semakin parah," ajakku kepadanya.
"E-eh, gak, Ar! Gak usah, a-aku gak apa-apa, a-aku mau ke kelas saja," balasnya.
"Tapi, Ri! Kondisimu 'kan sedang seperti ini, kau harus cepat-cepat dibawa ke UKS atau Rumah Sakit dengan segera, aku takut terjadi apa-apa denganmu," tuturku menjelaskan.
"G-gak usah, Ar! A-aku gak apa-apa, terima kasih sudah khawatir, aku bisa jalan sendiri," ujarnya sambil melepaskan lengan atasnya dari pundakku.
"Eh, Ri! Hati-hati kau masih sempoyongan gitu." Kujulurkan tanganku bersiap untuk menopangnya jika hendak jatuh.
Riri, tetap bersikeras untuk dilepaskan dan ingin berjalan sendiri, karena merasa dirinya baik-baik saja. Walaupun kulihat dirinya agak sempoyongan. Tetapi entah mengapa, setelah semakin jauh dirinya bisa berjalan seperti biasa, bahkan terlihat dari belakang, dia melompat kecil sambil menggelengkan kepalanya. Entah apa yang terjadi dengan Riri. Tapi syukurlah jika dia memang tidak apa-apa. Akupun mengikutinya dari belakang menuju kelas, dan juga sambil berjaga-jaga takut dirinya sempoyongan lagi.
***
Perkuliahan awal dimulai, hari ini materinya tentang psikologi. Yang membuat diri ini sangat antusias mengukuti materi perkuliahan kali ini, karena Pak Dosen sedang menjelaskan tentang pikiran yang dibawa ke dalam mimi, dan kita seakan menyadari bahwa itu adalah mimpi.
'Pembahasan materi kali ini, sepertinya sesuai dengan apa yang kucari dan kualami,' gumamku.
"Hal yang berulang-ulang di pikiran kita, jika itu terus menerus akan menjadi sebuah mimpi yang mana di dalam mimpi itu kita sadar bahwa kita sedang bermimpi," kata Pak dosen menerangkan materinya.
Walau materi perkuliahan kali ini, bersinggungan langsung dengan apa yang kualami. Tapi tetap saja diri ini belum puas, karena jawaban dari yang ada di pikiran ini masih belum keluar. Walau ada beberapa hal, dari apa yang dosen jelaskan memberikan sedikit pencerahan kepada diriku.
Setelah perkuliahan selesai, diriku bergegas menuju ruang lab TIK. Benar saja kini ruangan itu telah dibuka. Diri ini mengambil tempat, dan mulai berselancar ke dalam situs web yang kudapat dari pria yang belum diketahui identitasnya pagi tadi. Setelah selesai mengetik laman situs webnya, diri ini menekan tombol enter yang ada di ๐˜ฌ๐˜ฆ๐˜บ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฅ.
LUCID DREAM : Fenomena bahwa seseorang menyadari sepenuhnya bahwa dirinya sedang bermimpi. Saat mengalami lucid dream seseorang tersebut dapat mengontrol mimpinya. Selanjutnya seseorang itu akan disebut sebagai DREAM CONTROLLER. Akan muncul sebuah tanda, untuk menandai bahwa dirinya adalah Dream Controller. Umumnya para DC memiliki tanda di lengan bagian dalam tangan sebelah kanan. Mereka adalah orang-orang terpilih yang bebas semaunya keluar masuk dimensi mimpi bukan hanya mimpinya tetapi mimpi orang lain juga. Jika ada DC yang bisa memasuki dimensi mimpi DC lain, maka yang paling lemah akan menerima resiko paling parah tidak akan bisa kembali ke dunia nyata dan tentu saja akan mati. Tetapi DC tersebut bisa selamat dari kematian, jika dalam keadaan koma dia berusaha untuk up level sampai ke batas minimal yaitu 3/10.
Situs ini ternyata menjelaskan secara detail apa yang aku cari selama ini. Bahkan bukan itu saja tanda beserta dampaknya telah dijelaskan. Namun anehnya tanda milikku ada di lengan bagian dalam sebelah kiri. Kini, rasa penasaran itu telah terobati, hanya tinggal perihal tanda di lengan kiri ini.

Book Comment (83)

  • avatar
    Wnda Andri

    cerita ini sangat bagus dan seru

    08/01/2023

    ย ย 0
  • avatar
    ArdaMuhammad

    mau top up

    13/06/2022

    ย ย 0
  • avatar
    coemarcoem

    sukses selalu

    03/05/2022

    ย ย 0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters