logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 7

MENGHIDUPI BENALU TAK TAHU DIRI
Bab 7
[Biarkan aku hidup tenang, Mas. Gak cuman kamu, aku juga mau bahagia!]
Tanpa menunggu balasan dari Rian, Dinda langsung memblokir kontak lelaki itu. Netranya memanas, satu per satu cairan bening meluncur bebas membasahi pipinya. Dadanya terasa semakin sesak. Dengan Rian yang kembali menghubunginya, membuat Dinda seperti di permainkan.
"Gak usah berhubungan lagi atau nanggepin bajing*n itu. Mending kamu fokus cari kerja, hidup ini gak melulu soal cowok, Din. Buktiin sama dia, kamu bisa bahagia tanpa dia! Jadi cewek itu jangan lemah cuman karena satu cowok bangs*at macam si Rian! " pesan Naira kala itu kembali terngiang di telinga Dinda. Mengenang masa lalu malah semakin membuat semangat untuk bangkit kembali menjadi melemah. Itu yang Dinda rasakan saat ini. Ia perlu menata kembali hatinya, menutup rapat-rapat lembaran masa lalu untuk melangkah ke depan.
Dinda menghapus lelehan air matanya. Ia bertekad dan berjanji pada dirinya sendiri untuk bangkit dan membuat lelaki itu menyesal telah mencampakkannya.
Gadis bermata sipit itu kini mencoba menyibukkan diri dengan mencari lowongan pekerjaan. Karena ia tidak bisa berlama-lama menjadi pengangguran, uang sakunya akan semakin menepis tanpa ada pemasukan sedikit pun.
Tak lupa ia menghubungi satu per satu temannya, siapa tahu di antara mereka ada yang mengetahui info lowongan pekerjaan.
[Din, kalau kamu mau … di pabrik tempatku bekerja ada lowongan. Tapi harus masuk dulu 2.5 juta, gimana?]
Dinda menghela napas berat mendapat sebuah balasan pesan dari salah satu temannya, Ainun. Orang berniat bekerja untuk dapat uang ini malah dimintai uang. Zaman sekarang memang sudah tidak sehat dalam hal apapun. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.
[Makasi ya, Ai infonya. Kalau aku minat nanti aku hubungi kamu lagi.]
Mungkin Dinda akan menjadikan ini opsi terakhir jika memang sampai bulan depan ia tidak mendapatkan pekerjaan.
***
"Mbak … kata ibu, aku mau di beliin motor," seru Rifki pagi itu. Dinda yang tidak diberi tahu apa-apa tentu saja tidak mengerti. Tanpa pikir panjang, gadis itu menghubungi ibunya untuk memastikan. Karena Rifki jika keinginannya tidak dipenuhi akan marah dan jelas isi rumah akan jadi pelampiasan amarahnya.
[Hari ini ibu kirim uang buat beli motor Rifki. Ibu udah ngasih tau bapakmu kok.]
Hatinya merasa terenyuh, ia bangga kepada ibunya yang luar biasa kuat dan tegar. Sebaliknya, Dinda malu pada dirinya sendiri karena belum bisa membahagiakan keluarganya.
Dinda dan Rifki langsung pergi ke showroom setelah mengambil uang yang dikirim ibu mereka. Uang itu hanya cukup untuk uang muka dan cicilan bulan depan. Ingin membantu meringankan beban ibunya membuat Dinda berpikir menerima tawaran Ainun kemarin.
Karena tidak mungkin ia berdiam diri sementara ibunya susah payah menghidupi keluarga. Ia juga ingin merenovasi rumahnya karena sudah ada beberapa bagian yang rusak dimakan usia.
Malam harinya Dinda kembali menghubungi ibunya. Dia merindukan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Assalamu'alaikum, Bu …."
"Wa'alaikumsalam. Neng Dinda … aduh maaf ini ya, teh Santi yang angkat telponnya. Soalnya teh Sumi lagi sakit," jelas seseorang dari seberang telepon. Jelas itu bukan suara yang Dinda kenal. Gadis itu merasakan lututnya lemas seketika.
"Sakit apa, Teh?" tanya Dinda khawatir.
Netra itu berembun mendengar penjelasan dari Santi. Ibunya Dinda sakit hampir seminggu, sebelah badannya tidak bisa digerakkan. Untuk berdiri saja tidak bisa, beruntung Santi adalah orang baik, ia merawat Sumi dengan telaten. Bahkan yang mengirimkan uang tadi itu Santi.
Niat hati Sumi ingin menyembunyikan sakit itu dari anaknya. Tapi memang takdirnya sang anak harus mengetahui itu semua.
Tangis pilu gadis itu pecah setelah memutus sambungan telepon. Hatinya teriris mendengar ibunya yang seorang diri sakit di negeri orang. Apalagi bukan sakit yang ringan.
Dinda tidak akan mengatakan ini pada bapaknya. Takut jika lelaki tua itu semakin merasa bersalah dan khawatir.
Beberapa hari setelah kabar buruk itu. Dinda semakin cemas karena tidak bisa menghubungi sang ibu. Bahkan saat melakukan pekerjaan rumah, gadis itu tidak bisa fokus sama sekali. Masakannya jadi keasinan, lantai yang ia pel tapi belum di sapu, bahkan ia mencuci baju tanpa memakai deterjen. Bisa bayangkan betapa tidak fokus gadis ini.
Ia hanya bisa mendoakan kesembuhan untuk ibunya.
***
Haru bercampur bahagia setelah mendengar kabar jika sang ibu sudah pulih kembali. Dinda mendapat voice note dari ibunya tadi malam yang mengabarkan kondisinya saat ini.
Gadis itu tak berhenti mengucapkan kata syukur kepada Sang Pencipta.
Setelah selesai dengan urusan rumah, Dinda berangkat untuk memberikan berkas lamaran pada Ainun. Berharap jika langsung bisa bekerja karena ia memakai jalur cepat.
"Aku gak bisa janjiin kapan kamu mulai kerja. Soalnya yang lain juga banyak yang pake uang, Din," jelas Ainun. Dinda hanya menghela napas pasrah. Namanya rezeki mutlak kuasa Allah. Ia sebagai seorang hamba yang taat hanya bisa berdoa dan berusaha.
Ting!
Notif pesan masuk di ponsel Dinda. Nomor yang tidak dikenal.
[Kapan kamu mau melunasi hutangnya? Aku udah baik ya nunggu sampai hari ini. 50 juta … aku mau dibayar tunai. Sekarang juga!]
Dinda mengernyit heran membaca pesan masuk dari orang tak dikenal. Ia hanya mengabaikan karena berpikir jika itu hanya orang iseng.
Merasa diabaikan. Orang itu menelpon berkali-kali, ponsel Dinda yang kini menjadi mode silent membuat gadis itu asyik berbincang dengan Ainun.
Selang satu jam, Dinda membuka kembali ponselnya. Betapa kagetnya gadis itu melihat banyak pesan dan telepon masuk dari nomor tidak dikenal itu.
[Kamu jangan pura-pura lupa ya! Aku capek nanggih terus sama kamu, banyak banget alesannya!]
[Eh set*n … lu jangan mau enaknya aja pake uang itu tapi gak mau bayar. Minjem pake mohon-mohon, sekarang giliran gua minta balikin malah lu gak ada respon!]
Merasa tidak memiliki urusan dengan orang itu, Dinda langsung memblokirnya.
"Kenapa, Din? Kamu kok keliatan kesel gitu?" selidik Ainun.
"Ini nih, Ai. Orang iseng … yang nagih utang ke aku. Padahal aku gak pernah minjem uang sama siapa pun," terang Dinda.
"Hati-hati loh, Din. Bisa jadi itu modus penipuan," seru Ainun yang di balas anggukan oleh Dinda.
Zaman sekarang memang marak sekali modus penipuan dengan menghubungi lewat pesan singkat atau sosial media. Setelah kemarin diganggu oleh Rian, hari ini malah diusik oleh orang yang tak di kenali.
Ponsel yang baru saja di letakan di atas meja kini berkedip menandakan panggilan masuk dari kontak bernama 'Tante Yul'.
Dinda dibuat panik mendengar suara Yuli yang bergetar diiringi dengan tangisan. Terdengar suara ribut orang-orang disana. Dinda tidak bisa mendengar dengan jelas suara-suara itu.
Bersambung ….

Book Comment (227)

  • avatar
    NaylaPutri nayla

    kpn bab selanjutnya

    21/05

      0
  • avatar
    Alya Alya

    bagus

    22/04

      0
  • avatar
    Hesti Wulandari

    ceria nya bagus

    07/12

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters