MENGHIDUPI BENALU TAK TAHU DIRI BAB 6 POV Author Bohong, jika Dinda tidak merasa senang saat melihat pesan singkat itu. Senyum merekah di wajahnya yang kini terlihat tirus. Jemarinya dengan refleks mengetik balasan pada lelaki itu. [Mas kemana aja? aku kangen banget sama kamu. Kenapa baru hubungi aku sekarang?] Send! Senyum itu luntur, sedetik setelah ia menyadari jika lelaki pujaannya kini telah menjadi milik orang lain. Terlambat! Niat hati, Dinda ingin menghapus pesan itu. Tapi centang biru dan Rian sudah mengetik balasan. [Kamu lagi gak kerja 'kan? Mas telepon kamu ya?] Nama lelaki itu terpampang, di panggilan masuk. "Beg* banget sih aku," gerutu Dinda saat menyadari kesalahannya. Ia membiarkan saja benda pipih itu terus berdering tanpa berniat untuk mengangkatnya. Setelah beberapa saat benda itu tidak berbunyi lagi. Dengan cepat Dinda meng-klik blokir pada kontak Rian. Ia tidak mau jadi orang ketiga dalam rumah tangga lelaki itu. Cukup selama ini ia tersakiti, sekarang adalah waktunya untuk membuka lembaran baru tanpa menengok masa lalu. *** "Gil* emang tuh orang! Masa udah punya istri masih aja gangguin kamu," tutur Naira dengan kesal setelah mendengar cerita dari Dinda. "Jangan sampai kamu punya hubungan lagi sama dia, Din!" lanjutnya berapi-api. "Udah aku blokir kok kontaknya. Aku juga gak mau di bayangi masa lalu. Apalagi sampai jadi orang ketiga," tutur Dinda sembari memasukan baju ke dalam tas besarnya. Dinda sudah resign dari pekerjaannya. Saat ini ia tengah membereskan semua barangnya agar besok pagi bisa langung pulang. Beruntung Naira bersedia membantunya untuk pindahan, membuat Dinda tidak terlalu repot untuk membereskan semua barang di kontrakannya. *** Dinda baru sampai di rumahnya tepat jam 2 siang. Ia di sambut oleh adik bungsunya. "Mbak Dinda ... jangan kerja jauh lagi ya," ucap Amel–adik bungsu Dinda–Dengan suaranya yang cempreng. "Iya ... Mba Dinda gak bakalan kemana-mana. Yang penting Amel gak nakal!" sahut Dinda sambil mencubit gemas pipi gembil sang adik. Di bantu adik lelakinya, Dinda memasukan semua barang bawaannya ke dalam rumah. Sang ayah belum pulang dari berjualan di pasar. "Kenapa kamu bawa barang banyak banget? Kamu udah gak kerja lagi di kota?" Dinda memutar bola matanya malas saat Rumana tiba-tiba muncul di belakangnya. Tanpa permisi wanita bertubuh tambun itu membuka tas pakaian Dinda. "Din, ini buat Tante, ya? Bagus nih ... cocok buat pergi pengajian. Ini juga, ya!" serunya dengan semangat mencomot dua gamis kesayangan Dinda. "Tan, itu masih Dinda pake! Tante pilih yang lain aja ya," kata Dinda tak terima. "Alah … kamu 'kan bisa beli lagi yang baru!" sungutnya dengan kesal. Bahkan baju itu baru satu kali di pakai. Dan Rumana tanpa tahu malu, malah membawanya pulang tanpa izin sang-empunya. "Dasar parasit!" maki Rifki dengan kesal melihat kelakuan Tantenya itu. Tidak ingin kehilangan barang kesayangan yang lainnya. Dinda dengan cepat memasukan semuanya ke dalam kamar. Masih beruntung hanya Rumana yang datang. Untung saja Naira sudah pulang, jika tidak Dinda pasti malu karena kelakuan bar-bar Rumana. *** "Baju baru nih kayaknya! Nyolong dari mana, Mbak?!" ejek Yuli saat melihat Rumana dengan tampil barunya. "Eh … jangan sembarangan kalau ngomong! Ini oleh-oleh dari Dinda, tahu!" balasnya sengit. Ia tidak terima dengan ucapan Yuli yang menyakiti hatinya. Apa ia tidak sadar, ucapannya itu juga sering menyakiti orang lain. "Kok aku gak di kasih ya, Mbak?! Aku 'kan juga mau," tutur Wina. "Kenapa tanya sama aku? Sana, minta kamu sama Dinda!" sungut Rumana sebelum berlalu, ia akan memamerkan baju mahal itu pada tetangganya yang lain. Ia tahu, jika barang yang di beli Dinda pasti bukan barang murahan. "Kayak pengemis aja ... bisanya cuman minta-minta," gumam Yuli pelan. Bahkan mereka tidak bisa mendengar ucapan Yuli. Wina yang mengikuti saran Rumana langsung mendatangi Dinda, menyisakan Yuli yang menatap remeh kepergian kedua kakaknya itu. Dengan semangat yang menggebu karena ingin mendapatkan baju baru, ia mempercepat jalannya. Samapi di depan rumah Dinda, netranya menyisir kearah kanan dan kiri. Berharap tidak ada ayahnya Dinda. Merasa kondisi terkendali, ia mengetuk jendela kamar Dinda. Sosok itu menyembulkan kepalanya dengan malas. "Dimana, bapakmu?" bisik Wina. "Di dapur, emang kenapa?" tanya Dinda malas. Tanpa menjawab pertanyaan Dinda, Wina masuk melewati jendela karena tidak berani lewat pintu depan. Takut jika bapaknya Dinda akan melihat keberadaannya. "Tante gak sopan banget sih!" gerutu Dinda. Tante Dinda yang satu ini memang ajaib, dengan kondisi hamil ia nekad melewati jendela yang lumayan tinggi itu. Obsesinya untuk dapat baju baru sepertinya lebih besar dari rasa malu. "Wih … banyak banget skincare kamu, Din," kagumnya dengan mata berbinar. Ia lantas mengaplikasikan satu per satu skincare pada tubuh dan wajahnya. Dinda yang melihat hanya bisa memutar bola matanya malas. Dengan gerak cepat, Wina mengambil paper bag di sudut kamar dan memasukan beberapa skincare. "Tadinya Tante mau minta baju tapi kayaknya ... skincare lebih bagus deh.Tante minta ini, ya! Jangan pelit, ini 'kan maunya si jabang bayi," jelas Wina sembari mengelus perutnya yang mulai membuncit. Dinda hanya diam, tidak mencegah atau menyangkal. Karena ia tahu semua itu akan sia-sia. Masalahnya si kumis lele ini paling pintar berkilah, dan sering mengadu pada ibunya Dinda. "Makasi loh … aku harus pulang sebelum bapakmu tahu aku disini." Wina kembali melewati jendel itu. Ia tidak ingin mengambil resiko jika lewat pintu. Wina memang takut pada bapaknya Dinda. Karena lelaki tua itu, memiliki lidah yang tajam. Bahkan lidah pisau semacam trio koala itu bisa kalah, dan tak berani melawan. "Untung aja Tante Yuli masih sedikit war*s. Jika enggak … gak tau apa lagi yang akan hilang dari kamar ini," gumam Dinda. *** Dinda mengerjapkan matanya berulang kali, tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Pesan masuk di aplikasi berlogo kamera miliknya. [Kamu marah sama, Mas? Kok nomorku di blokir sih?] "Mahluk tol*l dari mana ini? Apa ia lupa dengan apa yang telah ia lakukan padaku. Setelah semua rasa sakit yang ia torehkan, bajing*n ini masih bertanya," jerit Dinda dalam hati. Jemari Dinda menari di atas layar, mengetik balasan untuk Rian. Dengan amarah yang mencoba ia tahan. [Kamu amnesia, Mas? Siapa yang gak marah kalau di tinggalkan pas sayang-sayangnya!] [Jangan hubungi aku, lagi! Lebih baik kamu jaga perasaan istrimu.] Send! [Gak! Sampai kapan pun aku gak bakalan lepasin kamu, aku sayang sama kamu, Din.] Dinda mengerang frustasi membaca pesan balasan dari Rian. Rian memang keras kepala dan egois. Ia tidak memikirkan bagaimana hancurnya hati Dinda setelah di campakkan begitu saja. [Kalau memang sayang, kenapa kamu nyakitin aku? Kenapa kamu malah nikah sama orang lain? Kenapa?!] Dinda terpancing emosi. Ia tidak habis pikir dengan isi otak lelaki yang pernah mengisi hatinya itu. Bukan, bukan pernah. Tapi masih mengisi hati Dinda sampai detik ini. Entah kapan lelaki itu bisa lenyap dari hati dan pikiran Dinda. Bersambung ….
kpn bab selanjutnya
21/05
0bagus
22/04
0ceria nya bagus
07/12
0View All