logo text
Add to Library
logo
logo-text

Download this book within the app

Bab 5

MENGHIDUPI BENALU TAK TAHU DIRI
BAB 5
POV Author
Tanpa pikir panjang, Dinda pergi untuk mengirim uang pada Wina. Ia akan merasa jadi orang jahat jika sampai terjadi sesuatu pada Reval.
Tak lupa, Dinda mengabari Wina lewat pesan singkat.
[Maaf Tan, Dinda baru buka chat dari Tante. Udah Dinda kirim 500 ribu.]
Ting!
Tak lama Dinda mendapati pesan masuk dari Wina.
[Makasih, Din. Gak apa-apa, Reval juga udah mendingan kok. Kalau ada rezeki Tante balikin uangmu!]
Dinda mengernyit membaca ujung pesan itu. Bahkan untuk kali ini Dinda tidak mengharap uangnya dikembalikan.
[Gak usah Tan. Dinda ikhlas, semoga Reval cepet sembuh ya!]
***
Tak terasa sudah tiga bulan berlalu semenjak tragedi kandasnya cinta Dinda dan sang pujaan hati. Sampai sekarang bahkan Dinda tidak bisa melupakan Rian.
Sekarang masalah keluarganya soal hutang dan keuangan sudah lebih membaik. Tapi masalah percintaannya semakin tidak karuan.
"Kayaknya … aku sampai bulan ini aja deh, Rik," ungkap Dinda pada gadis berambut ikal di depannya.
"Maksudnya? Kamu mau resign?" tanya Erika tak percaya.
Dinda mengangguk sebagai jawaban.
Sudah tidak kuat lagi dengan tekanan soal target yang tidak tercapai selama beberapa bulan ke belakang.
Dinda merasa mungkin lebih baik ia mencari pekerjaan dekat rumahnya, ia juga kasihan jika sang ayah harus mengurus kedua adik Dinda sendirian.
Ting!
Sebuah pesan masuk dari aplikasi hijau miliknya.
[Din, Tante minta uang 500 ribu dong!]
Dinda mengacak rambutnya frustasi, hidupnya mulai tak tenang lagi. Jika kemarin Wina meminjam uangnya karena Reval yang sakit, Dinda masih bisa terima.
Sekarang? Rumana–si Kunti–malah dengan seenak jidat meminta uang padanya.
[Dinda gak ada uang sebanyak itu, Tan!]
Pesan balasan dengan cepat Dinda terima
[Alesan aja kamu! Dulu, Wina kamu kasih uang. Kenapa, Tante enggak?! Kamu harus adil dong!]
Sebenarnya Dinda sudah malas meladeni tingkah laku adik-adik dari Ibunya itu. Tapi Dinda mengingat pesan sang Ibu.
"Din ... Ibu minta kamu bantuin Tante-tante kamu kalau lagi butuh uang! Kasihan, mereka. Kamu harus janji sama Ibu, ya," kata Ibunya Dinda kala itu lewat sambungan telepon.
[Aduh ... gimana ya? Dinda cuman punya uang buat makan aja!]
Centang biru!
Beberapa menit belum ada balasan.
Ting!
Malah pesan dari Sumi yang Dinda terima.
[Din, pinjami dulu Tantemu uang. Lusa Ibu ganti! Ibu belum menerima gaji soalnya.]
Sudah diduga, Rumana pasti mengadu pada Sumi–Ibunya Dinda–Ini yang Dinda tidak suka. Ibunya selalu membela Rumana.
[Gak bisa Bu! Ini uang makan Dinda … nanti Dinda makan apa kalau uangnya dikasih buat Tante Rum?]
Dinda mengela nafas kesal. Tidak lama pesan balasan datang dari sang Ibu.
[Ibu mohon Din ... nanti Ibu ganti kok! Kalau Ibu ada, gak mungkin Ibu minta tolong kamu!]
Jika sudah seperti ini, Dinda mengalah. Ia menyimpan selembar uang 50 ribu. Selebihnya ia kirimkan pada Rumana.
***
Gadis itu mondar-mandir gelisah, sambil sesekali tangannya mengusap layar benda pipih itu. Berharap ada pesan masuk dari Ibunya.
Tiga hari berlalu, uang Dinda hanya tinggal lima ribu dan Ibunya belum ada mengembalikan uang itu.
"Gimana ini? Apa aku pinjem ke Naira aja kali ya." Dinda bergumam pelan, jarinya menari di layar datar itu mencari kontak Naira.
Ia mengacak rambut frustasi saat beberapa kali mencoba menghubungi tapi nomor Naira tidak aktif.
Dinda semakin frustasi, dari kemarin Dinda mencoba menghubungi sang Ibu tapi tidak ada respon sama sekali.
Dengan memberanikan diri, Dinda mengetuk pintu kontrakan sebelahnya.
Tok Tok Tok!
"Eh … Mbak Dinda." Sang empunya membuka pintu dan menyapa ramah pada Dinda.
"Iya Mbak Ratna." Dinda tersenyum kikuk. Ragu dengan apa yang akan ia katakan.
"Ada yang bisa aku bantu, Mbak?" tanya Ratna.
Jemari tangan gadis itu saling bertautan, takut dan malu bercampur aduk. Jika bukan karena terpaksa, Ia tidak akan mau melakukan ini.
"Aku … bisa pinjam dulu uang kah, Mbak? Itu pun kalau Mbak Ratna gak keberatan," ungkap Dinda dengan ragu.
"Mbak Dinda ini kayak ke siapa aja. Mau pinjam berapa Mbak?"
"300 ribu aja," jawab Dinda.
Ratna masuk kembali ke dalam rumah dan keluar dengan membawa tiga lembar uang merah.
Dinda merasa bersyukur memiliki tetangga yang baik. Ia kembali ke kontrakannya setelah banyak mengucapkan terima kasih pada tetangganya itu.
"Alhamdulillah … Ya Allah. Aku masih bisa makan." Dinda bergumam dengan rasa haru dan berlalu untuk mandi, bersiap untuk bekerja.
***
Ketiga wanita itu dengan suara nyaring dan tawa bahagia sedang duduk santai, sembari menikmati berbagai makanan yang lumayan banyak itu.
"Win, kamu 'kan lagi hamil. Suruh suami kamu itu cari kerja yang benar!" tegur Rumana dengan mulut yang penuh makanan.
"Cari kerja sekarang susah Mbak, lagian 'kan masih ada Mbak Sumi. Dia juga gak bakalan tega kalau melihatku susah!" jawab Wina dengan seenak jidatnya. Ia tidak peduli jika sang kakak disana banting tulang untung mendapatkan uang.
Mereka hanya bisa menghabiskan uang, membeli apa yang mereka mau dengan uang orang lain. Sungguh tidak tahu malu!
"Lihat dong suamiku, Dia udah bisa dapat uang banyak! Buktinya aku bisa renovasi rumah," tutur Yuli dengan bangga.
Yuli memang sedikit beruntung karena memiliki suami yang berada, tapi itu dulu. Sekarang mereka hidup hanya mengandalkan uang dari sisa penjualan aset dari warisan orangtua Tio–suami Yuli–yang pengangguran itu.
"Alah …. uang warisan aja bangga! Paling bentar lagi juga habis!" sahut Rumana.
"Masih mending aku bisa hidup dengan uang sendiri, dari pada kalian … minta terus sama Mbak Sumi dan Dinda. Dasar gak tau malu!" Yuli menggerutu kesal sebelum pergi dengan menghentakan kakinya, ia kembali ke rumahnya.
"Sombong banget! Lihat aja nanti, uangnya habis dia pasti ngemis-ngemis minta sama Mbak Sumi," ujar Rumana sembari menatap kesal punggung adiknya yang sudah berjalan menjauh.
***
"Din, bener yang Erika bilang ... kamu mau resign?"
Dinda hanya menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan Ana.
"Sayang banget loh! kontraknya 'kan tinggal enam bulan lagi."
"Aku udah gak kuat, Na. Gak masalah jika harus hilang 5 juta, yang penting aku hidup tenang," tutur Dinda.
Di dalam kontrak kerja memang tertulis, jika mengundurkan diri sebelum kontrak selesai akan kena denda sebesar 5 juta.
"Kapan rencananya kamu mau ngomong sama manager?" tanya Ana, ia juga menayangkan ini karena Dinda salah satu partner kerja yang humble dan ramah.
"Minggu depan."
"Kalau memang baiknya begini. Aku bisa apa, tapi jangan lupa loh. Kamu harus sering main kesini nanti!" seru Ana lalu menyesap coffe latte miliknya.
Dinda sudah memiliki tabungan yang lumayan karena beberapa bulan ini gaji yang ia terima full. Tidak terpotong untuk membayar cicilan hutang Ibunya.
Ting!
Dengan malas tangan itu meraih benda pipih di atas meja. Matanya melebar saat melihat siapa yang mengirimkan pesan padanya.
[Dek, gimana kabarnya? Mas kangen banget sama kamu, sayang!]
Dinda merasakan jantungnya berdebar. Tangannya bergetar, dan matanya membulat tak percaya.
Bersambung ….

Book Comment (227)

  • avatar
    NaylaPutri nayla

    kpn bab selanjutnya

    21/05

      0
  • avatar
    Alya Alya

    bagus

    22/04

      0
  • avatar
    Hesti Wulandari

    ceria nya bagus

    07/12

      0
  • View All

Related Chapters

Latest Chapters