MENGHIDUPI BENALU TAK TAHU DIRI Bab 4 [Assalamu'alaikum. Din, gimana kabarnya disana? Alhamdulillah Ibu sehat disini. Besok Ibu mau kirim uang. Besok Ibu hubungi lagi, soalnya sekarang Ibu masih banyak pekerjaan.] Senyum mengembang di bibir ini. Setelah sekian lama Ibu ada menghubungiku. Dengan cepat jari ini mengetik balasan. [Waalaikumsalam. Alhamdulillah baik Bu. Ibu jaga diri baik-baik disana! Semoga sehat terus. Aku kangen Ibu!] Tanpa aba-aba air mata menganak sungai di pipi. Baru kali ini aku merasakan serindu ini pada Ibu. Aku salah menilai Ibu. Ternyata Ibu yang selama ini selalu kasar dan marah-marah padaku, rela berkorban untuk kesejahteraan keluarga. Tidak benar memang aku bersikap buruk pada Ibu, meskipun ucapan Ibu kadang kasar dan tidak pantas didengar. Ibu … maafkan anakmu ini! *** "Besok aku libur. Kita pulang ke rumah yuk! Sekalian aku mau ngasih uang kiriman Ibu ke Bapak," ajak ku. Naira mengangguk tanpa merespon ucapanku. Wajahnya terlihat murung. Naira yang super cerewet sekarang malah irit bicara. Pasti Ia ada masalah. "Pasti galau karena si Bagas itu 'kan?" tanyaku. Dengan cepat Naira menoleh ke arahku. Aku dan Naira memiliki masalah percintaan yang sama-sama rumit. Tapi masalah keluarganya juga tidak kalah berat. Bapaknya meninggal dua tahun lalu, dan dia menjadi tulang punggung. Harusnya aku lebih bersyukur karena orang tuaku masih lengkap. "Aku lagi gak mau bahas soal dia!" jawab Naira dengan malas. Daripada bersedih, aku mengajaknya untuk belanja oleh-oleh yang akan dibawa pulang besok. *** "Ini buat Amel ... Rifki dan Bapak!" Aku menyerahkan paperbag itu pada pemiliknya. Terlihat senyum riang terbit di wajah kedua adikku itu. Berbanding terbalik dengan wajah bapak yang berhias senyum yang dipaksakan. Pasti bapak merasa bersalah karena membiarkan istrinya banting tulang di negeri orang. "Pak, ini dari Ibu. Sebagian bisa di pakai buat cicil hutang Ibu, sisanya Bapak pakai buat modal jualan!" Bapak menerima amplop putih itu. Matanya melebar melihat isi di dalamnya. "Banyak sekali uangnya," gumam Bapak. Aku tersenyum melihatnya. Hanya bisa berdo'a semoga pengorbanan Ibu untuk keluarga ini tidak sia-sia. Sebelum pulang. Aku sudah mewanti-wanti pada Bapak jika ketiga Tanteku menanyakan soal uang kiriman dari Ibu, tidak usah bicara apa-apa. Aku tidak mau Ibu susah bekerja disana dan uangnya dipakai untuk senang-senang oleh ketiga koala menyebalkan itu. *** [Kamu tahu bukan, Mas ingin menikah di tahun depan. Tepatnya awal bulan.] Aku tidak percaya saat membaca pesan masuk dari Mas Rian. Tahun depan? Hanya tinggal dua bulan menuju tahun depan. Apa Mas Rian akan melamarku? Jika iya, aku bahagia, tapi aku merasa belum siap. [Aku belum siap Mas. Bagaimana kalau dua tahun lagi?] Aku memberikan penawaran. Jujur, memang aku belum siap dalam segala hal. Ting! [Ya udah, kalau itu yang kamu mau!] Lega rasanya. Mas Rian pasti mengerti bagaimana kondisiku, Beruntung, ia mau mengalah. *** Dua bulan berlalu setelah kejadian itu, Mas Rian sama sekali tidak menghubungiku. Apa ia sangat sibuk? Sudahlah lebih baik aku bersiap untuk bekerja. Mungkin sepulang kerja ia akan menghubungiku. "Din, Hari ini kita pulang agak telat, soalnya banyak stok barang yang tidak sesuai sama datanya," jelas Erika saat aku baru saja sampai di toko. "Gak masalah sih. Besok kan bagian kita libur ya?" tanyaku meyakinkan. Hanya di jawab anggukan oleh gadis berambut ikal itu. Menghabiskan waktu dengan pekerjaan sebelum nanti pulang kerja aku menjadi 'budak cinta' dengan Mas Rian meskipun hanya lewat telepon atau video call. Keinginan memang tidak sesuai kenyataan. Sepulang kerja aku tidak mendapatkan satu pesan pun dari Mas Rian. Lebih baik tidur saja kalau begini caranya. Menyimpan benda pipih itu di meja kecil dekat kasur dan bersiap untuk menyelami dunia mimpi. Ting! Dengan cepat aku menyambar benda yang berbunyi itu. Senyumku langsung luntur saat melihat nama 'Rifki' di layar datar itu. Bukan yang aku harapkan. [Mbak, aku pengen beli motor. Malu kalau sekolah harus numpang terus sama temanku!] Aku menghela napas berat membaca pesan tak di harapkan itu. Malas membalas pesan itu. Aku memilih membuka aplikasi biruku. Entah kenapa mata ini sulit terpejam. 'Berjalan beriringan bersamamu untuk meraih kebahagiaan' Caption dari sebuah photo yang menampakan dua tangan yang saling bertautan, cincin melingkar di jari manis keduanya. Mata ini sontak melebar, itu semua aku lihat dari akun Rian Pratama. Mas Rian? Aku mengucek mata, mencoba meyakinkan jika yang kulihat itu salah. Tidak ada yang berubah, masih tetap sama seperti yang kulihat pertama kali. "Mas Rian …." Aku bergumam lirih. Air mata itu terjun bebas membasahi pipi tanpa dikomando. Tanpa pikir panjang, aku langsung menghubunginya. "Angkat dong Mas!" lirihku dengan perasaan gelisah. Berharap jika semua ini hanya mimpi buruk. Panggilan ke lima kali, mas Rian masih tidak mengangkat teleponnya. Aku pasrah, malam itu aku menangis sejadi jadinya. Rasa sakit, sesak dan kecewa bercampur jadi satu. Saat pagi menjelang aku mendapati mata ini sembab, beruntung karena hari ini adalah jadwal libur. Aku masih merasakan hati gelisah. Jemari ini menari di layar datar membuka aplikasi hijau dan melihat pembaruan status mas Rian. "Kamu jahat banget Mas. Hiks … hiks …." Photo yang memperlihatkan akad nikah lelaki yang sangat kucintai, membuat diri ini tidak bisa menahan bendungan cairan bening yang menggenang di pelupuk mata. "Apa selama ini, kamu hanya mempermainkanku, Mas?" *** "Apa salahku Nai? Kenapa Mas Rian tega selingkuh dari aku." "Nangis sepuasnya, Din! Mungkin ini cara Allah buat ngasih tahu kamu, kalau Rian itu bukan orang yang baik," ucap Naira sambil mencoba menenangkanku. Siapa yang tidak sakit hati melihat orang yang dicintai menikah dengan wanita lain. Bahkan aku dan mas Rian menjalin hubungan bukan satu atau dua bulan, tapi 5 tahun. "Dia jahat banget, Nai! Padahal aku cinta banget sama dia!" "Aku bela belain dateng kesini buat kamu. Sekarang kamu boleh nangis sepuasnya. Tapi aku gamau liat kamu besok masih mewek karena lelaki bajing*n itu!" tegas Naira lalu mengusap lembut punggungku yang masih bergetar hebat. *** "Din, jangan ngelamun! Ada customer tadi, kamu sih ngelamun jadi pergi 'kan." Ana berucap dengan kesal. "Maaf … aku gak fokus," jawabku seadanya. Masalahku dengan mas Rian, membuat diri ini tidak bisa bekerja dengan baik. Bahkan hampir setiap saat ditegur karena sering melamun. Cinta itu ada dua sisi, satu sisi membuat orang yang merasakannya sangat bahagia dan merasa dunia hanya milik berdua, yang lain ngontrak! Tapi disisi lain, bisa membuat orang sangat terluka karena sebuah penghianatan atau terlalu mencintai tanpa dicintai. Di sisi inilah aku berada sekarang. Saat istirahat tiba, hanya kilasan kenangan ku dan mas Rian yang ada di pikiran ini. Semakin aku mencoba melupakannya, semakin sakit rasanya. [Udahlah Din … kamu gak usah sedih lagi! Masih banyak laki-laki di luar sana yang lebih baik dari pada si banc* itu!] hanya melihat sekilas pesan masuk dari Naira. Aku tahu, Naira pasti sangat mencemaskanku. Dengan cepat jari ini mengetik pesan balasan untuk Naira. [Gak segampang itu aku lupain dia, Nai! Kamu kira 5 tahun bersama itu gak lama?! Aku gak bakalan bisa lupain dia!] Send! Ting! Notif pesan lain masuk dari kontak 'kumis lele' tidak ada hal penting dari uang buat tanteku yang satu ini. Pasti! [Dinda, Tante pinjam uang dulu bisa gak? Lagi darurat ini. Soal…] Aku hanya menatap sekilas tanpa berniat untuk membuka atau membalasnya. Malas rasanya. Aku memasukan kembali benda pipih itu ke saku celana. Menghabiskan minuman yang sisa setengah itu sebelum kembali bekerja. Mengingat waktu istirahat hampir habis. Pulang kerja aku baru mengaktifkan kembali ponsel, setelah tadi menonaktifkan benda pipih itu. Merasa terganggu karena Tante Wina alias kumis lele itu tidak berhenti menghubungiku. Ada 10 panggilan tak terjawab dari om Seno–suaminya Tante Wina–tak biasanya lelaki tambun itu menghubungiku. Mataku sontak membulat, saat membaca keseluruhan pesan dari Tante Wina. [Dinda, Tante pinjam uang dulu bisa gak? Lagi darurat ini. Soalnya Reval tiba tiba kejang, badanya panas tinggi.] Ada juga sebuah pesan yang menohok hati dari om Seno. [Dasar anj*ng! Kamu memang gak punya hati! Keponakanmu hampir sekarat dan kamu malah mengabaikannya!] Bersambung ….
kpn bab selanjutnya
21/05
0bagus
22/04
0ceria nya bagus
07/12
0View All