logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 7 Klarifikasi

Setelah mendengar cerita dari Sandi aku tidak sanggup berkata-kata lagi dan tetap diam berharap agar tidak ada lagi cerita mengejutkan dari Sandi. Sampai akhirnya kami selesai makan, Sandi menawarkan diri untuk mengantarkanku pulang.
“Mau gue anter pulang gak Sher? Udah malem ini.”
“Gak usah. Gue naek kereta aja. Dari sini gue pesen ojol aja ke stasiun.” Aku menolak karena masih sedikit canggung setelah aku mendengar cerita Sandi tadi.
“Yaudah gue anter aja ke stasiun gimana?” Sandi bersikeras ingin mengantarku.
“Gausah. Ini udah pesen ojol.” Ujarku sambil memperlihatkan layar ponselku kepadanya. Tapi dia kemudian mengambil ponselku dan membatalkan pesanan ojolku.
“WOY!” aku berteriak marah.
“Udah ama gue aja.” Dia menarik tanganku dan berjalan menuju mobilnya yang diparkir tidak jauh dari restoran. Entah kenapa aku membiarkannya terus menarik tanganku dan berjalan bersamanya walaupun terpaksa.
Sesampainya kami di mobil Sandi, dia membukakan pintu untukku.
“San. Serius deh. Gue naik ojol aja please. I feel so awkward.” Aku masih mencoba menolak tawarannya.
“Justru itu, let me explain biar kita gak makin awkward. Tar gue luruskan maksud cerita gue tadi.” Sandi mendorong badanku masuk ke dalam mobilnya. Aku menurutinya karena aku juga berharap rasa canggung ini juga tidak berlanjut hingga esok hari.
Sandi pun masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya bersiap untuk meninggalkan restoran.
“Don’t get me wrong ya Sher. Gue bukannya mau bikin lo takut pas cerita tadi. Tapi I think it is the time to confess my feeling. Bukannya gue memanfaatkan keadaan lo yang lagi galau atau gimana Sher. Tapi kelihatannya lo lagi ada masalah sama masa lalu lo dan gue mau bantu lo ngadepin semua kesulitan lo itu. Karena gue pernah berada di situasi yang sedang lo hadapi saat ini. Well gak persis sama, tapi.. ya… gitu deh. Lo pasti udah pernah denger lah dari pak Much, cerita tentang gue. To be exact tentang rumah tangga gue.”
Sandi melajukan kendaraannya menuju gerbang keluar Ancol. Untung jarak antara Ancol dan stasiun Jakarta Kota tidak terlalu jauh, jadi aku berharap semoga situasi ini berlalu dengan cepat.
“Sher. Kaget kah?” tanyanya sok polos.
“Menurut lo aja gimana?” jawabku dengan nada tinggi.
“Lo pikir aja gimana menurut lo perasaan gue kalo tiba-tiba ada orang yang bilang kalo dia diam-diam memperhatikan gerak gerik lo trus diam-diam stalking every single of your social media. I’m not even a celebrity. Even a celebrity doesn’t deserve that stalking kind of things.” Lanjutku dan tetap bernada tinggi.
“Iya maaf. Bukan maksud mau stalking. Cuma mau cari tahu aja sedikit. Tapi perasaan gue ini tulus Sher. Dari hati gue yang paling dalam.” Ucapnya sambil terus memperhatikan jalanan.
“STOP IT! Ini gue merinding denger lo ngomong gitu asli. Jijik. Hiy. I’m not that kind of woman ya. Yang luluh sama kata-kata manis bullsh** kayak gitu. Yang ada gue malah jijik dengernya. So stop. I’ll pretend that I never heard any of your words today. Anggap semua ini gak pernah terjadi.” Syukurnya jalanan malam ini sangat sepi dan stasiun sudah mulai terlihat, aku pun langsung bersiap turun.
“That’s my stop. Terima kasih tebengannya. See you at the office.” Aku pun langsung bergegas turun saat Sandi meminggirkan mobilnya di depan halte. Tetapi Sandi menarik lenganku pelan saat aku membuka sabuk pengaman.
“Sher. Tapi jangan marah ya. Jangan benci juga sama gue. I do really care about you. Gue gak akan minta apa-apa. Gue murni cuma mau cerita doang. Just want you to know that I am here. Ada gue yang selama ini selalu memperhatikan elo. Not in a weird way. Tapi perasaan gue ini tulus Sher.” Ucapnya serius.
“Ih. Apa-apaan sih. Tuh liat merinding gue!” kuperlihatkan lenganku yang merinding mendengar ucapannya.
“Bye. See you at the office!” Aku langsung turun tanpa menoleh dan melihatnya pergi.
Aku masih tidak mengerti tentang apa yang terjadi tadi. Pengakuan tiba-tiba dari Sandi membuatku benar-benar melupakan masalah yang sebenarnya sedang kuhadapi. Masalah dengan masa lalu. Tetapi yang terjadi tadi adalah sesuatu yang benar-benar membuatku terkejut dan tidak percaya kalau itu semua terjadi. Seorang Sandi yang biasanya sangat kaku, tiba-tiba bicara santai dengan banyak senyuman di wajahnya. Hal itu saja cukup membuatku terkejut bukan main. Ditambah dengan pengakuannya yang sangat sulit untuk kupercaya. Agak tidak mungkin seorang Sandi yang egosentris itu memiliki waktu lebih untuk memperhatikan sekitarnya, apalagi memperhatikan aku secara khusus.
Kami bahkan bisa dibilang sangat minim interaksi. Dalam pekerjaan, aku dan Sandi berada dalam bidang yang berbeda. Maksudnya kami memiliki target pekerjaan yang berbeda. Sangat jarang dalam satu tim proyek yang sama. Aku hanya sering mendengar cerita tentang Sandi dari rekan-rekan kerjaku yang lain. Jadi cerita tentang dia memperhatikanku itu hampir menjadi cerita fiktif yang hanya dikarang-karang olehnya.
Tapi bagaimana dengan perlakuannya sepanjang hari ini. Sejak pagi sampai terakhir tadi. Dia memang seperti orang yang berbeda. Apa karena ini kali pertama kami mengerjakan proyek bersama-sama, sehingga aku yang memang tidak tahu banyak secara langsung tentang Sandi jadi merasa sangat terkejut bahwa dia sepertinya agak sedikit berbeda dengan yang diceritakan orang lain kepadaku?
Bagaimana bisa seseorang berubah dalam satu malam? Eh atau jangan-jangan benar itu adalah karena ketidaktahuanku saja tentang dia yang sebenarnya? I don’t know what’s right.
Kuambil ponselku dan menghubungi Resti karena dia yang selama ini selalu bekerja sama dengan Sandi. Kuhubungi dia untuk tahu bagaimana sifat Sandi sebenarnya. Apakah dia benar seperti yang sering diceritakannya padaku sebelumnya. Atau ada sisi lain dari Sandi yang belum pernah diceritakan Resti kepadaku.
“Halo, Resti. Udah tidur belum lo Res?” Resti langsung menjawab telepon ku.
“Belum, tapi udah rebahan sih.”
“Gue ganggu bentar boleh yak?! Mau tanya sesuatu.”
“Tanya apa? Sepenting itu?”
“Penting buat gue mak. Ini tentang si Sandi mak. Dia aslinya orangnya gimana sih? Lo pernah jalan bareng dia di luar urusan kerjaan gak?” tanyaku dengan nada serius.
“Mmm….. Pernah gak yak? Kayaknya gak pernah. Eh apa pernah ya? Pas pulang meeting di Kebon Jeruk gue pernah nebeng sama dia sampe kantor. Kami waktu itu berangkatnya misah. Gue naik taksi online, dia langsung ke tempat meeting karena sebelumnya dia juga lagi ada urusan di luar gitu kayaknya.”
“Trus selama perjalanan gimana? Awkward gak?”
“Ehhh bukan lagi mak. Gak berkata-kata gue selama perjalanan. Eh tapi gak deng. Gak sediem itu. Dia sempet drive thru kopi. Trus dia nawarin gue juga. Trus pas gue gak sengaja numpahin minum waktu di mobil dia agak sedikit panik tu. Tapi dia bilang ‘Udah gapapa Res. Biarin aja. Tar pulang kantor sekalian gue cuci mobil aja. Santai aja.’ gitu mak. Itu dia ngomong sambil nyodorin tissue ke gue dan ngelap tumpahan minum gue. Gue sampe gak enak mak, udah nebeng, nyusahin pula.”
“Lo gak ngerasa aneh gitu dia begitu?”
“Hah? Aneh gimana? Wajar bukan orang gitu?”
“Tapi itu Sandi kan Res. Kata lo dia orangnya kaku.”
“Gak sekaku itu juga mak. Dia nyebelin iya, tapi ya dia kayak orang biasa juga aja gitu. Gak aneh-aneh gitu.”
“Hah? Kata Ilham dia aneh banget.” Aku makin bingung dengan jawaban Resti.
“Mmm… ya aneh. Tapi ya gitu deh. Aneh kan bukan berarti jahat mak. Nyebelin tapi kan buka berarti dia gak baik juga. Gimane sih.”
“Ya kan gue gatau. Selama ini denger-denger doang dari kalian. Dia kan emang ngeselin kalo di kantor. Gue gak pernah liat sisi lain dia karena gak pernah seproyekan ama dia kan. Lo sama Ilham yang paling sering sama dia. Jadi mana gue tau kalo dia punya sisi baik juga.”
“Emang kenapa lo tiba-tiba nanyain Sandi? O iya, lo lagi ngerjain proyek sama dia ya? Emang dapet kesan apa lo?”
[Stasiun Depok Baru]
“Gue turun kereta dulu Res. Besok sambung lagi ya.” Suara speaker kereta menyelamatkanku dari pertanyaan Resti. Karena aku tidak tahu harus menjawab apa.
Aku pun bingung ingin menceritakan hal ini kepada siapa. Apakah kepada Resti yang memang sudah banyak bekerja sama dengan Sandi, sehingga mungkin aku bisa mendapatkan gambaran lain tentang Sandi. Atau kepada Sasha, sahabatku. Entahlah aku bingung.

Comentário do Livro (29)

  • avatar
    RahmayantiFebi

    Bagus banget

    17/05/2025

      0
  • avatar
    NadineAulia

    bagus banget

    08/04/2025

      0
  • avatar
    DominoHings

    bguss cerita ny

    17/03/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes