logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 4 Masa Lalu Yang Datang Tiba-Tiba

“PAKET!” Suara teriakan membangunku dari tidur lelapku.
“Yaampun. Masih pagi loh ini.” Kulirik jam dindingku dan ternyata menunjukkan pukul 7. Kubiarkan suara kurir memanggil dan berharap mbak Sur yang keluar menghampiri si kurir.
“MBAK SHERLYYYY PAKEEETTTT!!!” suara kurir makin terdengar kencang. Akhirnya sambil menggerutu aku berjalan keluar kamar menuju gerbang untuk mengambil paket.
“Eh beneran Sherly. SHER… HAI SHER.” Aku terkejut, kenapa si Kurir ini berbicara seolah mengenalku. Sok akrab.
“Hah? Beneran ada paket ga sih bang? Kalo mau becanda gak dulu deh, bikin mood saya jelek aja tau.” Aku yang awalnya ingin membuka gerbang jadi urun saat dengar kalimat sapaan sang Kurir.
“Eh beneran Sher ini ada paket.” Ia mengangkat-angkat paketnya ke atas gerbang agar aku melihat paket yang dibawanya. Tapi aku masih agak ragu untuk membuka gerbangnya.
“Lempar aja deh!” pintaku malas. Aku paling tidak suka dengan orang yang sok akrab seperti itu.
“Yailah Sher, buka aja pintunya kenapa. Sombong banget dah. Gak berubah dari dulu.” Ucapannya membuatku penasaran, siapa sebenarnya orang ini. Akhirnya aku pun membuka pintu pagar rumahku.
“Hai Sher. Long time no see.” Ternyata David, teman SMA dan sekaligus mantan pacarku. Terkejut karena tidak menyangka pagi-pagi bertemu dengan orang yang tidak disangka-sangka. Aku tidak bisa membalas sapaan David karena aku benar-benar terkejut dengan keberadaannya di depan rumahku sambil mengantarkan paket pesananku.
“Kaget ya Sher? Gue juga kaget. Waktu liat namanya gue juga kaget. Jodoh apa gimana ini kita ya Sher?” ucapnya sumringah, sepertinya sangat senang sekali bertemu denganku. Sedangkan aku? Terdiam tidak tahu harus berkata apa.
“Nih paketnya Sher. Ijin foto ya.” Aku mengangguk dan membiarkan David mengambil fotoku sambil memegang paket kirimannya.
“Sip. Thank you ya Sher. Oiya apa kabar lo? Lama banget gak denger kabar lo. Berapa tahun deh kita lost contact? Lama banget deh pokoknya ya Sher.”
“Iya.” Jawabku pelan sambil sedikit memaksakan senyumanku.
“Okedeh Sher gue jalan dulu. Nice to see you. Really.” Ucap David dengan senyum sumringah di wajahnya. Lalu dia kembali ke motornya dan bersiap pergi.
“Bye Sher.” David pun berlalu.
Yang tertinggal hanyalah aku yang masih dipenuhi dengan pikiran tidak percaya kalau aku bertemu lagi dengan David. Dia yang dulu pernah mengisi hari-hariku saat sekolah sampai kuliah, bahkan sampai kami lulus. Ya, cukup lama kami berhubungan di masa lalu. Mungkin 9 tahun lebih. Tapi ternyata kehidupan memang tidak berjalan seperti yang kita inginkan.
Aku dan David bersekolah di satu SMA yang sama. Kami tidak pernah satu kelas, tetapi kami bersatu di kegiatan ekstrakurikuler. Kami bergabung di klub teater saat di Sekolah. Di situlah kami pertama berkenalan dan akhirnya kami “jadian”.
David memiliki jiwa seni yang sangat tinggi. Saat SMA itu, selain klub teater dia juga bergabung di klub mading dan band sekolah. Free spirited person. Itu yang membuatku merasa nyaman dengannya. Dia tidak pernah mempersoalkan hal-hal kecil. Maksudnya jika ada yang salah, dia jarang sekali marah dan menganggap semua itu tidak perlu atau tidak penting untuk dibahas secara serius. Tapi bukan berarti dia tidak bisa diajak berbicara serius. Hanya saja sangat jarang dia berbicara serius tentang suatu hal. Semua dianggap ringan dan bahkan candaan.
“Hidup tu jangan berat-berat Sher. Santai aja.” Ucapan ini yang paling kuingat dari David dan mungkin karena itu pula aku seperti ini saat ini.
Perhatian yang diberikan David saat kami bersama sangat besar. Dari luar mungkin David terlihat cuek, tetapi dia penuh perhatian. Dia selalu menjadi yang pertama kali tahu kapan aku perlu sesuatu, terutama saat PMS. Dia yang paling tahu apa yang aku butuhkan, apa yang aku inginkan, dan apa yang paling aku benci. He’s almost perfect.
Tapi tidak ada manusia yang sempurna, begitu juga dengan David. Karena dia merasa sebagai manusia bebas, maka terkadang iapun melakukan hal sebebas mungkin. Minuman alkohol dan bahkan narkotika. Aku yang sangat menyayangi dia selalu berusaha bertahan sambil berdoa agar dia baik-baik saja dan bisa keluar dari adiksinya.
Tapi semua usaha dan doaku tampaknya tidak didengar oleh Tuhan dan tidak diapresiasi oleh David. Hingga saat terakhir itu. Saat aku akan menemuinya di kantor polisi atas kasus kepemilikan narkoba. Tapi bukan itu yang membuatku tercengang, kaget, shock, jijik, benci, dan marah. Kalau untuk narkoba, aku memang sudah menyiapkan diri jika suatu saat ini akan terjadi. Tetapi.
Saat ia ditangkap, dia bersama seorang perempuan. Bukan perempuan biasa. Kalau sekedar perempuan bayaran, atau tante-tante girang aku mungkin tidak akan kaget. Tapi polisi bilang perempuan itu adalah istrinya. Perempuan itu pun… sedang hamil 3 bulan.
Istrinya? Sedang hamil? Lalu aku? Pacar khayalan kah? Atau justru aku dianggapnya hanya sebagai Sugar Mommy yang membiayai hidupnya kah?
Mendengar penjelasan tersebut, aku langsung keluar dari kantor polisi itu dan tidak ingin menemui David lagi. I have enough. Kenakalan lelaki semua bisa kutolerir, tapi tidak dengan yang satu ini. Ada pernikahan bahkan ada kehamilan. Mohon maaf. Aku hanya wanita biasa. Cukup sampai di sini kesabaranku dan aku putuskan semua hubunganku dengan David.
Saat itu aku terlalu terpukul menghadapi kenyataan bahwa kini David berada di penjara, memiliki istri, dan sebentar lagi akan memiliki anak. Aku menjadi hancur sehancur-hancurnya, karena banyak rencana yang sudah aku susun bersama David untuk masa depan kami. Termasuk rencana memasukkan David ke tempat rehabilitasi untuk mengatasi adiksinya. Semua sudah kami bicarakan. Tetapi ketika masalah ini terjadi, aku bingung dan tidak tahu harus bagaimana menghadapinya. Yang aku tahu hanyalah menjauh dari David. Sehingga kuputuskan untuk langsung keluar kota untuk membenahi pikiranku agar aku tidak melakukan hal-hal yang bisa membahayakan diriku sendiri.
Kuhubungi Sasha dan memberitahunya bahwa aku akan menjauh dari Jakarta untuk sementara waktu. Aku belum bisa menceritakan yang sebenarnya terjadi kepada Sasha, karena aku tahu kalau Sasha akan lebih marah saat tahu alasanku pergi menjauh. Dia lah sahabatku yang selalu menentang hubunganku dengan David. Terutama sejak David benar-benar menjadi seorang pecandu. Sasha ingin aku putus dengan David karena tahu aku pun sebenarnya tersiksa menghadapi David. Tetapi aku bertahan karena aku sangat menyayangi David. Aku selalu beralasan kalau David pasti bisa sembuh dan bisa berubah. Aku bertahan dengan pemikiran tersebut. Aku yakin kalau David bisa kembali seperti David yang kutemui saat SMA. Tetapi semua pemikiranku berubah. Aku tidak akan lagi mengharapkannya kembali. Sudah cukup.

Comentário do Livro (29)

  • avatar
    RahmayantiFebi

    Bagus banget

    17/05/2025

      0
  • avatar
    NadineAulia

    bagus banget

    08/04/2025

      0
  • avatar
    DominoHings

    bguss cerita ny

    17/03/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes