Siapa yang suka mengerjakan sesuatu dengan terburu-buru? Bagaimana cara melakukan pekerjaan dalam tenggat waktu yang sempit? Sungguh sebaiknya tidak dilakukan seperti itu. Sungguh. Bekerja dalam situasi terdesak itu tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Selesai. Tapi tidak maksimal. Tapi apa yang bisa dilakukan? Ya tetap tugas akan selesai dan dikerjakan dengan sebaik-baiknya, walaupun dengan hasil seadanya. Huft. Kesal, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan. Rules is rules. Peraturan tetap peraturan. Semua harus tetap dilakukan sesuai peraturan. Apalah artinya bawahan, hanya menerima dan melaksanakan perintah. Atasan selalu memiliki kekuasan lebih untuk menekan bawahannya. Well, some says itu juga demi anak buahnya. “Demi masa depan.” they said. Ya sudah lah. Menggerutu tidak akan membuat semua pekerjaan ini cepat selesai. Yang ada hanyalah hati yang semakin panas, pikiran yang semakin buntu karena tertutup dengan semua rasa kesal yang menumpuk. It won’t pay your bill. Alarm pengingat yang sangat mujarab saat hati dan pikiran dipenuhi kedongkolan atas kecongkakan para atasan, dan ditambah lagi klien yang rupa-rupa warnanya seperti balon yang kupegang erat-erat saat aku masih kecil. Gerutu, keluh kesah, mangkir dari kerjaan atau menentang perintah atasan, semua itu tidak bisa membayar tagihan-tagihan bulananmu. That’s it. Telan semua. Kerjakan semua. Tapi apa yang membuatku selalu bertahan mengerjakan ini semua? Selain karena bayarannya, juga karena lingkungan kerja yang asik. Lingkungan kerja maksudku adalah suasana kantornya, teman-teman kerjaku, fasilitas kantornya, juga kegiatan yang aku lakukan dari pagi hingga pulang ke rumah. Situasi dalam perjalanan ke kantor adalah hal yang paling aku suka. Berdesakkan di kereta sambil sedikit mengomel tapi tetap dinikmati. Aku sering memperhatikan tingkah laku orang-orang yang sering aku jumpai. Aku bisa hapal wajah mereka, tapi tentunya aku tidak tahu siapa nama mereka. Hanya saja aku tahu, dia turun di stasiun mana, trus apa yang biasa mereka lakukan di dalam kereta, atau bahkan ada beberapa orang yang aku ingat sekali suaranya saat bicara maupun saat mereka tertawa. Menyenangkan bisa memperhatikan banyak orang seperti itu. Kadang aku belajar berpenampilan dari mereka. Kebanyakan dari mereka berpenampilan sangat elegan saat hendak berangkat ke kantor, ada juga yang kasual. Sedikit banyak mereka mempengaruhi gaya berpakaianku juga. Saat memilih baju, tidak jarang aku mengucap “Eh ini kayak punya si mbak itu.” Atau ketika aku sedang bersama rekan-rekan kerjaku aku kadang berpikir “Eh ini kok kayak si mas yang tadi bajunya.” Sungguh mereka sangat mengisi hari-hariku baik secara langsung atau tidak langsung. I wish I know their name. Setidaknya kalau nanti aku bertemu di luar stasiun atau luar kereta, aku bisa memanggil nama mereka dan bukan sekedar senyum basa basi atau sebutan “Eh.. eh..” saja. Haruskah aku memberanikan diri untuk berkenalan dengan mereka? Apakah itu sebuah keharusan? Ah sepertinya tidak. Biarkanlah mereka mengisi hari-hariku tapi cukup sampai di situ. Toh belum tentu mereka punya perasaan sepertiku. Merasa dekat hanya karena sering berpapasan dan atau berada di satu kendaraan umum yang sama setiap hari. Aku punya cukup banyak rekan di dalam kantorku tercinta ini. Salah satunya Sandi, dia adalah rekanku yang duduknya tepat di belakangku. Orangnya sih tidak terlalu asik untuk diajak bercengkerama, karena dia adalah tipikal orang yang egosentris. Susah sekali didebat karena menurutnya hanya dia yang memiliki kebenaran di dunia ini. Pendapat orang lain itu nothing. Lalu ada Resti, dia duduk di samping Sandi. Sering makan hati kalau sedang mengerjakan project bersama Sandi. Resti sering mengungkapkan perasaannya kepada kami, saat tidak ada Sandi pastinya. Dia selalu merasa direndahkan oleh Sandi. Semua pendapatnya selalu dipatahkan bahkan saat sedang berada di depan pimpinan, Sandi seolah menganggap Resti itu sampah dan pendapatnya sama sekali tidak penting. Well bukan hanya Resti yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Sandi. Aku juga sering dianggap remeh oleh manusia itu. Tapi aku anggap dia adalah orang yang tamak yang tidak perlu dianggap ada, dan aku tidak ingin energi ku habis terbuang sia-sia hanya karena ingin mematahkan semua opini yang menjatuhkan pendapat kami di hadapan pimpinan. Pimpinanku? Pak Muchtar namanya. Beliau ini pamannya Sandi. Sebenarnya beliau adalah orang yang menyenangkan, tapi beliau ini seolah selalu kalah suara dengan pimpinan milenial lainnya. Beliau ini salah satu founder perusahaan kami, namun memang kalau dari sisi usia beliau termasuk senior. Tapi untuk kinerja, walaupun terkadang beliau agak lambat, tetapi kualitas pekerjaannya tidak kalah dengan yang lainnya. Pak Anton, manusia penuh rencana tapi realisasi nol. Hampir semua pegawai sepertinya agak sebal dengan kinerja beliau. Beliau terkadang seenaknya sendiri. Datang dan pulang sesuka hatinya. Pekerjaannya sering sekali terbengkalai, tetapi untungnya anak buah beliau selalu cekatan dalam mengatasi semua pekerjaan beliau. Kelebihan beliau adalah bahwa beliau ini memiliki relasi yang sangat luas sehingga sangat menguntungkan bagi perusahaan. Pak Jeffry, manusia penuh target tapi kebanyakan adalah target yang tidak masuk akal dan hanya bisa menekan anak buah tanpa solusi konkret. Beruntungnya perusahaan ini dipenuhi oleh orang-orang yang memiliki kinerja luar biasa. Mungkin memang pada awalnya hampir semua dari kami hampir menyerah menghadapi berbagai macam bentuk sifat pimpinan yang membuat kami mengelus dada. Tetapi pada akhirnya kami semua terbiasa dengan keadaan tersebut sehingga akhirnya kami pun bisa menguasai pekerjaan kami dengan baik, baik secara teknis maupun emosional. Bu Anggi, sebenarnya beliau ini baik. Tapi masuk ke angkatan kolonial, jadi agak sulit menyatukan ritme kerja kami dengan beliau. Bukan maksud kami mendiskreditkan kaum kolonial, tetapi memang begitu kenyataan yang kami hadapi sehari-hari. Kami harus pintar-pintar menjaga mood beliau. Jika tersinggung sedikit saja, rencana kerja kami bisa berantakan, maklum bu Anggi ini memegang bagian keuangan. Jadi kami harus baik-baik dengan beliau demi kelancaran pekerjaan. Sebagai bentuk perhatianku kepada rekan-rekan kerjaku, aku pernah bertanya kepada pak Much tentang Sandi. Kenapa dia berperangai tidak menyenangkan, baik sebagai rekan kerja maupun sebagai teman biasa. Banyak yang sudah diceritakan pak Much tentang Sandi. Tentang kehidupan keluarganya, tentang rumah tangga nya yang hancur berantakan, tentang kehidupan sekolahnya Sandi dulu. Tapi itu tidak lantas membuatku mengerti bagaimana ada orang se-egois itu di muka bumi ini. Sungguh, dia adalah the worst man I ever know. Dilihat dari kacamata profesionalisme maupun pribadi, sungguh sulit melihat sisi baik orang ini. Entah karena aku yang memang belum terlalu mengenalnya karena jarang berinteraksi dengannya, atau karena aku sudah terlalu banyak mendengar keluhan teman-teman tentang Sandi. Entahlah.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Bagus banget
17/05/2025
0bagus banget
08/04/2025
0bguss cerita ny
17/03/2025
0Ver Todos