logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Istri Bayangan 7

ISTRI BAYANGAN
Part 7
#aku ingin bahagia, bukan menderita
"Awas saja jika nanti ara berani melawanku sama seperti Sarah, akan aku buat ia mengalami hal yang sama," gumam Sindy, tapi masih bisa sedikit terdengar oleh Jafar.
"Mama bilang apa tadi?" Tanya Jafar, ia mendekati sindy, wajahnya nampak kikuk dengan pertanyaan yang di lempar oleh anaknya.
"Oh, enggak. Mama cuma bilang, semoga Ara betah dirumah ini." Sindy beralibi, ia bangkit dan melangkah keluar dari ruang kerja Jafar. Tak menghiraukan pertanyaan Jafar.
"Apa maksud mama? Ah, mungkin memang aku yang salah dengar," gerutu Jafar, dan kembali ke meja kerja untuk meneruskan pekerjaannya.
Sindy kembali masuk ke dalam kamarnya, kamar yang tak kalah megah dari kamar Jafar dan Ara. Ia menghempaskan tubuh ke kasur empuknya.
"Huh, hampir saja aku keceplosan. Bisa gawat kalo Jafar tau. Dia bakal marah besar," gumam Sindy.
☘️☘️☘️
Makan malam telah siap, semua yang menyiapkan adalah Ara dengan dibantu oleh mbok Tinah. Ia begitu cekatan mengerjakan semua tugasnya dirumah ini. Ia memang sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah, dulu sebelum menikah dengan Jafar ia pernah bekerja di sebuah warung makan yang ada di kampungnya.
"Mas, ayo kita makan dulu!" Ucap Ara lirih, sambil mengguncang pelan bahu suaminya yang tertidur di ruang kerjanya.
"Ara, ngapain kamu kesini?" Jafar tergagap saat membuka matanya yang masih di landa kantuk.
"Sepertinya mas kecapean, makanlah dulu setelah itu istirahat di kamar," tutur Ara dengan lembut.
"Iya, iya, nanti aku menyusul. Sekarang kamu pergi dari ruangan ini!" Bentak Jafar pada Ara.
"Baik, mas." Ara sadar ia telah melakukan kesalahan dengan masuk ke ruangan ini. Wajahnya panik, takut jika suaminya itu akan murka kembali seperti yang sudah-sudah.
"Tunggu! Lain kali jangan ulangi lagi! Aku sudah melarangmu masuk kesini," ucap Jafar yang seketika menghentikan langkah Ara.
"Maaf mas, aku cuma tak tega melihatnu tertidur dalam keadaan belum makan," bela Ara, tapi masih bisa terlihat wajahnya yang ketakutan.
"Pergilah, nanti aku menyusul!" Jafar segera merapikan berkas yang ada dimejanya.
"Tunggu, laptop ini tadi menyala. Apakah Ara melihatnya? Jika iya, maka banyak pertanyaan yang akan ia tanyakan padaku.
Ara duduk termenung di meja makan saat menunggu suaminya datang. Ia memandangi makanan yang ada di depannya. Makanan yang terlihat enak dan lezat. Ia teringat pada kedua orang tua juga adiknya.
"Bapak, ibu apakah kalian di sana bisa makan enak seperti ini?" Ucap Ara. Ia merasakan kerinduan yang mendalam pada orang tuanya. Selama enam bulan menikah dengan Jafar ia sama sekali belum pernah pulang ke kampung untuk menjenguk mereka. Bahkan menelfon mereka juga baru sekali itupun saat Jafar akan pergi keluar kota tempo hari.
"Iya sayang, nanti mama akan membujuk Jafar agar sering pulang kesana. Kamu tenang saja, ia pasti akan menuruti semua perkataan mama," ucap Sindy melalui saluran teleponnya. Ia sedang berbincang entah dengan siapa.
Suara Sindy membuyarkan lamunan Ara. Ia mendekati tempat dimana sindy sekarang berdiri. Langkahnya di buat sepelan mungkin agar mertuanya itu tak tau jika ia sedang menguping pembicaraannya.
"Iya Anya, mama akan suruh Jafar memberikan apapun yang kamu mau. Tenang saja, sekarang semuanya sudah sah menjadi miliknya dan kamu sebagai menantu mama tersayang akan mendapatkan kemewahan yang seperti kamu idamkan," ucap Sindy sambil duduk di kursi santai dekat kolam renang.
"Anya ...? Menantu kesayangan? Apa maksud semua ini?" Gumam Ara. Kepalanya terasa berat, begitu banyak teka teki yang harus ia pecahkan seorang diri di rumah ini.
"Ara ...." Teriak Jafar saat melihat tubuh Ara limbung dan terjatuh. Ia segera menangkap tubuh istrinya.
"Ada apa Jafar, Ara kenapa?" Tanya Sindy saat mendengar teriakkan Jafar. Sindy ikut mendekati Ara, Ia segera memutus sambungan teleponnya dengan Anya.
"Entahlah mah, Ara pingsan. Tadi aku melihat ia sedang berdiri di dekat jendela ini. Lalu tiba-tiba ia limbung," tutur Jafar pada mamanya.
"Apa?" Sindy terlihat gusar saat mendengar penjelasan Jafar.
"Jangan-jangan ia mendengar percakapanku dengan Anya barusan, sialan!" Umpat sindy dalam hati.
Jafar segera membopong tubuh Ara masuk kedalam kamar. Gegas ia mengambil ponselnya yang ada di meja rias, dan langsung menghubungi dokter keluarga ini.
☘️☘️☘️
"Pak Jafar, tidak perlu cemas! Ibu Ara hanya perlu istirahat yang cukup. Ia tak boleh banyak pikiran. Vitamin dan pengguwat kandungannya juga harus tetap diminum," kata dokter usai memeriksa keadaan Ara yang masih belum sadarkan diri.
"Tunggu, apa tadi dokter bilang? Pengguwat kandungan? Maksud dokter apa?" Tanya Jafar penasaran.
"Lho memang pak Jafar belum diberitahu Bu Ara soal kehamilannya?" Timpal dokter itu lagi.
"Ara hamil .... ?" Ucap Jafar dan Sindy serempak. Tapi nampak dua ekspresi yang berbeda. Jafar telihat bahagia saat diberitahu bahwa istrinya sedang hamil. Sedangkan Sindy, mukanya seketika memerah seakan tak suka dengan kehamilan Ara.
🌼🌼🌼
"Apa yang sebenarnya terjadi dirumah megah ini?" Ara terbangun, dan melihat suaminya baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ara, kamu jangan banyak bergerak ya! Jaga calon bayi kita baik-baik. Jangan sampai ia kenapa-kenapa," kata Jafar penuh perhatian pada Ara.
"Mas sudah tau kalo aku hamil?" Tanya Ara lirih, tubuhnya masih lemas.
"Iya sayang, terima kasih akhirnya aku akan menjadi seorang ayah. Penantian selama tiga tahun akhirnya terkabulkan," sahut Jafar gembira, tak sangka ia mengatakan hal yang aneh menurut Ara.
"Tiga tahun apa mas? Kita baru menikah enam bulan," tanya Ara menyelidik.
"Oh, itu. Maksud mas, tiga tahun mas menjomblo, Sayang," tukas Jafar berbohong. Entah berapa kebohongan lagi yang akan di ciptakan oleh mereka pada Ara.
Gadis kampung yang berharap menjadi Cinderella, tapi malah menjadi Upik abu. Di jadikan mainan oleh suami dan juga mertuanya.
"Lagi-lagi istri Jafar mengetahui rahasiaku. Dulu Sarah, dan sekarang Ara. Aku yakin ia sudah mendengar percakapanku dengan Anya. Apa aku harus melakukan hal yang sama seperti setahun yang lalu. Tapi kali ini aku akan meminta bantuan Anya" batin sindy dari balik pintu kamar Jafar dan Ara.

Comentário do Livro (99)

  • avatar
    KumaiRahman

    bagi bagi rejeki walau kecil nilainya tapi iklasnya yg penting dalam kehidupan, tri. aksih cerita sangat menarik, semoga slalu sehat buat penulis dan sukses selalu

    15/02/2022

      0
  • avatar
    BaruAkun

    good

    14/01

      0
  • avatar
    Rasty Juwita

    menarik

    29/10

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes