ISTRI BAYANGAN Part 6 #aku ingin bahagia, bukan menderita POV JAFAR 2 Laura mengajakku ke rumahnya. Rumah sederhana yang ada di suatu desa. Udara di sini masih sangat sejuk. Pemandangan indah menampakkan hijaunya padi yang baru saja di tanam. "Assalamualaikum pak." Kusalami seorang laki-laki paruh baya. Yang kutaksir lelaki itu adalah bapaknya Laura. "Waalaikumsalam, nak. Silahkan duduk! Temennya Ara ya?" Tanya bapak tersebut. Tapi kok Ara, bukan Laura? Pikirku dalam hati. "Kalo di kampung aku di panggil Ara mas bukan Laura." Nampaknya ia sadar aku bingung dengan nama Ara. Ia duduk disamping bapaknya. "Oh, iya pak. Saya temennya Ara. Maaf saya tahunya Laura bukan Ara," Jelasku lagi basa basi. "Nggak apa nak, biasa lidah orang kampung susah kalo nyebut Laura. Lebih gampang Ara," bapaknya terkekeh usai menceritakan asal mula nama Ara. Setelah ngobrol basa basi. Kuberanikan diri mengutarakan keinginannyaku untuk meminang Ara. "Pak, buk. Saya kesini ingin meminang anak bapak menjadi istri saya," ucapku to the point. Aku tak mau berlama-lama, sudah tak sabar aku ingin memilikinya kembali. Dengan pembicaraan yang lumayan lama. Akhirnya bapak dan ibunya merestui kami, karena mereka rasa Ara juga sangat menyukaiku dan mereka tak akan bisa menghalangi anak mereka untuk hidup bahagia. Pernikahan secara sederhana kami lakukan di desa tempat tinggal Ara. Ia tak menginginkan pernikahan yang mewah seperti kebanyakan gadis jaman sekarang. Beruntung aku menemukannya di sini. ☘️☘️☘️ "Ara, setelah acara pernikahan kita, aku akan mengajakmu untuk tinggal dirumahku di kota. Kamu mau kan?" Kataku saat kami sudah berada di kamar pengantin yang sudah di dekor dengan begitu indah. Walaupun pernikahan kami dilakukan hanya sebatas ijab Kabul, tapi aku memberikan semuanya dengan pilihan yang terbaik. "Tapi nanti bapak dan ibu bagaimana ,mas? Aku tulang punggung di keluarga ini," tanyanya lembut. Duh, kenapa sampai suarapun Ara dan Sarah memiliki kesamaan? Suara lembut dan mendayu. "Tenang saja, setelah menikah mereka juga jadi kedua orang tuaku. Akan kuberikan uang bulanan yang cukup untuk bapak, ibu dan juga adikmu itu," rayuku padanya. Agar dia mau tinggal di kota. "Baiklah mas, aku akan ikut kemana pun kamu pergi," sahutnya. Kutarik dirinya dalam pelukanku. Sarah aku sangat merindukanmu. Ritual malam pengantin kami lakukan, ia nampak begitu bahagia dengan pernikahan ini. Tapi untukku ini adalah pernikahan luar biasa, karena aku menikah untuk yang kedua kalinya dengan wanita yang sama tapi berbeda. Entah apalah itu namanya. Dua hari sudah aku tinggal di rumah Ara, rumah yang sebenarnya kurang nyaman untukku. Apalagi buat mama, maka dari itu ia memutuskan langsung kembali ke kota saat acara pernikahan selesai. Ia terpaksa hadir dan merestui pernikahanku ini. "Hari ini kita akan pulang ke kota, kamu persiapkan semua keperluan yang penting saja. Di sana mama sudah menyiapkan semua buat kamu sayang." Aku memeluknya dari belakang. Walau penampilannya jauh berbeda dari Sarah, tapi aku bisa merasa melihat dan menyentuh tubuhnya lagi. "Iya, mas," sahutnya lirih dan tersenyum kepadaku. 🌼🌼🌼 "Selamat datang Ara sayang, masuklah nak! Anggap saja rumah sendiri." Mama menyambut Ara dengan suka cita, tapi kutau itu hanya akting belaka, karena sebetulnya mama tak suka jika aku menikah kembali dengan wanita yang mirip dengan Sarah. "Terimakasi, Ma." Ara mencium punggung tangan mama. Dari sikap dan kebiasaan mereka memang jauh berbeda dan aku harus bisa merubah Ara seperti Sarahku. Sarah Wijaya. "Sayang lihatlah, ini kamar kita. Semoga kamu suka." Aku membawanya masuk ke kamarku tentu saja kamarku dulu saat bersama Sarah. "Di sini kita akan tinggal bersama mama, juga ada mbok Tinah. Kamu bisa meminta apapun padanya." Aku menjelaskan tentang apa yang ada dirumah ini. Ara hanya mengangguk pelan, ia masih terkagum-kagum melihat kamar yang megah ini. Akan aku ajari kau menjadi Sarahku, Ara. "Di dalam lemari ini ada baju-baju untukmu. Aku mau kamu memakainya. Tak boleh ada penolakan. Aku nggak suka," timpalku lagi. "Lalu baju yang aku bawa bagaimana mas? Tanyanya padaku, tapi matanya tak lepas memindai satu persatu barang di kamar ini. "Buang saja, aku mau kamu pakai baju bagus. Aku tak suka punya istri dengan penampilan kucel dan lusuh," kataku dalam tegas. Ara menoleh padaku, seolah ia tak suka dengan aturan yang aku berikan padanya. "Baiklah mas." Ia duduk di sisi ranjang. Wajahnya berubah murung. Aku yang menyadarinya langsung mendekati Ara. "Maafkan mas, sayang! Ini semua mas lakukan karena mas mau memberikan kamu yang terbaik," tuturku sambil duduk disisi ranjang bersamanya. Kugenggam tangannya. Ingin kuyakinkan bahwa dia aman bersamaku disini. "Aku mengerti mas, akan kulakukan jika itu membuatmu bahagia, karena sekarang surgaku ada bersamamu," ucapnya sambil membalas genggaman tanganku. ☘️☘️☘️ "Jafar, sebenarnya apa sih rencanamu menikahi gadis kampung seperti Ara," tanya mama sambil melipat tangannya di dada. Ia duduk menemaniku di rumah kerjaku. "Ma, aku itu sangat mencintai Sarah. Aku tak bisa hidup tanpanya," sahutku. Aku berdiri lalu duduk di samping mama. " Tapi dia itu Ara. Bukan Sarah! Kamu ini memang sudah gila!" Bentak mama, ia memang wanita yang suka to the point. Sifatnya begitu keras. Kehidupan yang sangat susah yang menjadikan mama menjadi wanita kuat, hebat tapi juga keras kepala. Papa meninggalkanya kami saat aku berusia lima tahun. Papa pergi karena terjerat cinta oleh janda kaya raya. Dan sejak itu mama selalu berusaha dan bekerja keras agar kehidupan kami yang susah itu bisa lebih maju. Hingga akhirnya aku bisa lulus sekolah dan kuliah dengan menggunakan beasiswa untuk siswa kurang mampu. Aku lulus dengan nilai terbaik. Sehingga aku bisa di terima bekerja di perusahaan yang bonafit. Di perusahaan itulah aku mulai mengumpulkan pundi-pundi rupiah, untuk membahagiakan mama yang sudah berjuang mati-matian untuk aku anak satu-satunya. Di situ pula aku mengenal Sarah, yang ternyata adalah pemilik perusahaan tersebut. "Awas saja jika nanti Ara berani melawanku sama seperti Sarah, akan aku buat ia mengalami hal yang sama," mama bergumam. Tapi aku masih bisa mendengarnya walau tak begitu jelas. "Mama bilang apa tadi ....?"
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 21 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (99)
KumaiRahman
bagi bagi rejeki walau kecil nilainya tapi iklasnya yg penting dalam kehidupan, tri. aksih cerita sangat menarik, semoga slalu sehat buat penulis dan sukses selalu
bagi bagi rejeki walau kecil nilainya tapi iklasnya yg penting dalam kehidupan, tri. aksih cerita sangat menarik, semoga slalu sehat buat penulis dan sukses selalu
15/02/2022
0good
14/01
0menarik
29/10
0Ver Todos