logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Istri Bayangan 5

ISTRI BAYANGAN
PART 5
#aku ingin bahagia, bukan menderita
POV JAFAR
Hari ini, hari yang sangat melelahkan dari pagi aku harus meeting dengan beberapa klien. Andai saja meeting itu tak menguntungkan perusahaanku rasanya malas sekali melakukannya.
Setelah semua pekerjaan selesai, aku kembali keruangan, tempat ternyaman di kantor ini. Kunyalakan AC, menyandarkan bahuku di sofa.
Siang ini aku malas keluar untuk makan. Hingga aku menyuruh office boy saja untuk membelikanku makanan.
Sambil menunggu makananku datang aku membuka aplikasi biru yang ada di ponselku.
Tak banyak yang kulakukan di aplikasi itu, aku hanya sesekali membukanya. Siapa tau ada gadis cantik yang bisa menarik perhatianku. Maklum sudah satu tahun hidup tanpa cinta dari seorang perempuan.
Jariku berhenti pada sebuah akun yang bernama Laura Saraswati. Tunggu ...
Kenapa dia begitu mirip dengan Sarah? Apa mataku yang salah lihat?
Kutekan profilnya, nampak beberapa fotonya yang mengenakan baju sederhana, namun dia nampak begitu cantik sekalisaat memakainya. Wajahnya nampak khas seorang gadis desa. Tidak seperti darahku yang glamor, ia selalu memakai pakaian yang mahal dengan make up yang begitu mempesona.
Tidak, tidak. Wanita ini bukan Sarah. Sarah sudah meninggal setahun yang lalu. Tapi kenapa mereka begitu mirip? Setahuku Sarah tak memiliki saudara apalagi saudara kembar. Ia pernah berkata kalo ia anak tunggal dari mama dan papanya.
Aku harus mencari tau siapa wanita ini?
Segera kuklik tombol permintaan pertemanan pada akun tersebut. Lalu kukirimkan pesan melalui messenger.
[ Hai ... ]
5 menit 10 menit sampai 1 jam tak kunjung ada balasan dari akun tersebut.
Kuputuskan membukanya kembali sepulang kerja nanti.
Flashback on.
"Mah, aku dimana mah?" Netraku menangkap sebuah ruangan berwarna putih, dan aku terbaring di sebuah brangkar rumah sakit. Ada mama di sampingku. Ia nampak berurai air mata.
"Jafar, kau sudah sadar nak. Dok, Dokter, anak saya sudah sadar, dok." Mama berlari keluar ruangan memanggil dokter.
"Syukurlah, Bapak sudah melewati masa kritis. Kami akan terus memantau keadaan Bapak sampai sehat kembali. Istirahatlah yang cukup," ujar dokter setelah memeriksa keadaanku.
Menurut Mama aku sudah pingsan tak sadarkan diri semalaman.
Kejadian ini bermula saat aku sedang pergi berdua dengan Sarah--istriku. Kami sudah menikah selama 2 tahun. Malam itu kami akan makan malam romantis untuk merayakan anniversary kami yang kedua.
Tapi naas, saat kami sedang perjalanan pulang. Ada sebuah mobil yang menabrak mobilku dari arah belakang. Lalu menyerempet kembali mobilku yang sudah oleng. Sehingga kecelakaan tak dapat kucegah. Setelah itu aku tak mengingat apapun. Hingga aku terbangun dan sudah ada di rumah sakit.
"Mah, dimana Sarah? Bagaimana keadaannya? Aku mau menemuinya Mah?" Aku ingin bangkit tapi rasanya ada yang sakit di kakiku.
"Sss-Sarah tidak selamat, nak," ucapan mama membuat jantungku seolah berhenti berdetak.
"Tidak, mah. Sarah itu wanita kuat, ia pasti selamat. Aku akan menemuinya."
Tak kuhiraukan lagi Mama, yang melarangku untuk bangkit.
"Kakimu masih sakit, nak. Biar mama bantu kamu ke kamar jenazah." Diambilnya kursi roda dan menyuruhku duduk. Tapi kata-kata mama tadi membuatku makin tak karuan.
Setibanya di sebuah ruangan yang bertuliskan kamar jenazah. Aku meminta mama mendorong kursi roda yang kududuki agar segera masuk ke dalam.
Hatiku hancur berkeping, jiwaku seolah hilang entah kemana. Kubuka kain putih yang menutupi jenazah yang di kakinya tertulis kertas bernama istriku Sarah Wijaya.
"Tidaaak ...." Kupeluk tubuhnya yang sudah dingin, kuraba wajah pucatnya.
"Sayang, kenapa kamu meninggalkanku? Kenapa kamu tak mengajak serta diriku bersamamu? Kenapa? Kenapa Sarah?" Tak ada jawaban, hanya ada suara tangisku dan tangisan mama.
Karena Sarah, yatim piatu dan akupun tak begitu banyak tau dimana keluarganya. Bahkan saat pernikahan kami dulu tak ada satupun keluarga dari pihak Sarah. Mama memutuskan langsung memakamkan Sarah saat itu juga. Sehingga tak banyak orang yang tau kalo Sarah sudah meninggal dalam kecelakaan itu.
Mama membujukku untuk diam, tak memberitahukan kabar kematian Sarah pada khalayak umum. Karena mama takut kalo mereka mengetahui itu. Maka posisiku di perusahaan Sarah bisa saja di lengserkan. Ya, perusahaan dan semua kekayaan itu adalah milik Sarah--istriku. Aku tak memiliki hak sepeserpun dari hartanya. Karena semua ini peninggalan dari orang tuanya.
Flashback off
🌿🌿🌿
Ting.
Lamunanku berhenti saat, ada notifikasi masuk di ponselku.
Ada pesan masuk, dari akun yang tadi mirip dengan Sarah.
[ Hai juga]
Cuma itu balasannya. Kulihat ia juga sudah mengkonfirmasi pertemanan yang aku ajukan tadi.
[ Maaf, boleh tau namanya siapa? ]
[ Namaku sudah tertulis di bio, kak ]
[ Maksudku nama asli kamu siapa? ]
[ Itu nama asliku ]
[ Apa itu juga foto aslimu? ]
Kutanyakan langsung apa yang inginku tanyakan. Aku tak mau basa basi. Daripada nanti aku tak bisa tidur karena terus terbayang wajah Sarah, istriku tercinta.
[ Emang, kenapa kak? Apa fotoku terlihat seperti palsu?]
Ternyata itu memang foto dan nama aslinya. Aku akan terus mencari tau siapa dia sebenarnya.
Tak lama kami saling berbalas lewat messenger akhirnya kudapatkan nomor WhatsApp-nya dengan sudah payah.
Obrolan kami nampak lebih akrab. Bahkan aku sengaja mengajaknya video call hanya untuk memastikan bahwa ia bukan Sarah tapi Laura.
**
Beberapa bulan berlalu, aku berhasil membuatnya jatuh hati padaku. Aku memintanya mengirimkan alamat rumahnya. Agar aku bisa menemuinya secara langsung. Jujur aku sudah tak sabar bertemu dengannya. Aku merasa menemukan Sarah hidup kembali pada diri Laura.
Aku sengaja tak menceritakan tentang Laura pada Mama. Aku takut Mama tidak setuju aku dengan wanita lain karena ia sudah menjodohkanku dengan seorang gadis yang belum tentu aku suka.
"Mas Jafar." Laura melambaikan tangan ke arahku.
Aku gegas menghampirinya. Akhirnya aku bisa melihat Sarah hidup kembali.
"Mas ..." Laura mengibaskan tangannya ke arahku. Aku begitu menikmati wajahnya yang begitu mirip dengan Sarah.
"Eh, iya. Maaf, kamu udah nunggu lama ya?" Tanyaku padanya.
"Belum mas." Ia nampak tersenyum. Senyuman yang sangat aku rindukan.
Ah, masa bod*h. Mau dia siapa kek. Yang penting aku bisa melihat Sarah hidup kembali pada dirinya.

Comentário do Livro (99)

  • avatar
    KumaiRahman

    bagi bagi rejeki walau kecil nilainya tapi iklasnya yg penting dalam kehidupan, tri. aksih cerita sangat menarik, semoga slalu sehat buat penulis dan sukses selalu

    15/02/2022

      0
  • avatar
    BaruAkun

    good

    14/01

      0
  • avatar
    Rasty Juwita

    menarik

    29/10

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes