ISTRI BAYANGAN PART 4 #aku ingin bahagia, bukan menderita "Bagaimana proyek di luar kota mas? Apa berjalan dengan baik?" Sapaku saat mas Jafar masuk ke dalam rumah. Kucium punggung tangan suamiku. Aku mengiringi langkahnya menuju kamar. Tak lupa, kubantu membawakan koper dan barang bawaan miliknya. Tiga hari berlalu, mas Jafar sudah pulang dari luar kota dan kembali kerumah. "Baik, semua berjalan dengan lancar," ucapnya datar dan terus berjalan menaiki tangga. Sesampainya di kamar, Mas Jafar melepaskan kemeja yang membalut tubuh kekarnya. Ia kemudian membuka koper yang di bawa saat keluar kota dan mengeluarkan sebuah paper bag putih. "Ini oleh-oleh untukmu, Ara." Ia memberikannya padaku. "Alhamdulillah, terimakasih ya, mas. Kamu selalu memberikan semua yang tak pernah kumiliki. Walaupun aku tak pernah memintanya." Kutatap wajah tampannya. Nampak guratan lelah di wajahnya. "Sama-sama," sahutnya singkat. "Sekarang mas mandi dulu, aku sudah menyiapkan air hangat," timpalku lagi. Mas Jafar segera masuk ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya. Tak lama kemudian, ia sudah keluar dengan tubuh yang lebih segar dan harum. "Sayang, mas kangen sama kamu." Ia mendekati dan memelukku. Bau aroma maskulin menyeruak dari tubuhnya. Aku tau jika ia sudah seperti ini, maka ia akan meminta haknya sebagai seorang suami. ☘️☘️☘️ Aku tertidur dalam dekapannya. Tanpa di komando air mata ini menetes. Entah apa yang kurasakan saat ini. Bahagia atau sedih. Flashback on. Beberapa hari yang lalu, aku memang sakit. Karena ia merasa khawatir, Mbok Tinah memanggil dokter untuk memeriksaku. "Bu Ara, kapan terakhir datang bulan?" Tanya dokter saat memeriksaku kemarin. "Astaghfirullah saya lupa, dok. Bulan ini saya memang belum mendapatkan haid." Saking banyaknya pikiran aku sampai lupa jika aku terlambat haid. "Dari gejala yang Bu Ara alami. Sepertinya Bu Ara sedang hamil. Tapi nanti untuk memastikan Bu Ara harus memeriksakannya ke dokter kandungan," jelas dokter. "Ini saya tuliskan resep. Nanti minta tolong mbok Tinah untuk menebusnya ya, Bu," tambahnya lagi. Sambil membuat resep untukku. "Baik, dok. Terimakasih. Emm, apa boleh saya meminta sesuatu, dok?" Tanyaku pada dokter. "Boleh, Bu. Silakan." "Saya minta tolong jangan beritahu suami saya dulu ya, kalo saya hamil. Ini akan menjadi kejutan tersendiri buat dia. Saya mohon ya, dok. Nanti saya yang akan memberikan surprise untuknya," pintaku pada dokter. "Baik, Bu. Kalo begitu saya permisi. Jaga kandungan baik-baik ya!" Ucapnya seraya meninggalkan kamarku. Flashback off. Ya, Aku akan menyembunyikan kehamilanku ini sampai aku tau, apa yang sebenarnya suami sembunyikan dariku. Aku masih sering ketakutan saat mas Jafar membentak dan memarahiku. Bahkan suasana hati suamiku, tak bisa ditebak. Malam ini ia bisa begitu manis. Memanjakan dan nampak sekali binar cinta di matanya. Tapi entah kenapa saat itu juga, ia bisa seketika berubah menyeramkan. Di matanya hanya ada kebencian. 🌼🌼🌼 "Selamat pagi ma, Gimana liburan mama? Menyenangkan pastinya." Aku menemani mama yang sedang sarapan di meja makan. Kami cuma berdua. Karena mas Jafar masih nampak kelelahan setelah bekerja di luar kota, hingga saat aku membangunkannya, tapi ia terus terlelap memejamkan matanya. "Lumayan," jawabnya datar, tanpa menoleh padaku. "Eh, Ara kamu dapet hadiah apa dari Jafar?" Tanyanya sambil memakan nasi goreng buatanku. Darimana mama tau mas Jafar memberiku hadiah oleh-oleh? "Aku belum membukanya, mah. Masih kusimpan di almari." Ah, bahkan aku lupa untuk membukanya. "Ara. Dengarkan saya. Kamu itu harus menuruti semua perkataan Jafar dan saya. Kamu ingat kan? Kami memungutmu dari lingkaran kemiskinan dan lihatlah, sekarang kamu bisa menjadi wanita terhormat yaitu Nyoya Jafar Adiyaksa," ucap mama dengan angkuh. Ya Allah, tak usah diingatkanpun aku selalu ingat jika aku hanya wanita kampung yang tak memiliki apapun. "Iya mah, Ara ngerti" jawabku menunduk. Tak berani kubalas tatapannya yang tajam. "Satu lagi. Jika kamu banyak bertanyanya dan banyak omong. Kami akan mengentikan biaya sekolah adikmu dan biaya hidup sehari-hari keluargamu yang miskin itu." Lagi dan lagi mama mengina keluargaku. Sejak setahun terakhir bapak memang tak lagi berkerja. Kondisinya yang sakit-sakitan, membuatnya jadi pengangguran. Karena itulah mas Jafar membantu ekonomi keluargaku. Akan kutahan perih ini sendirian. Aku takut, Jika aku melakukan kesalahan sedikit saja, maka akan membuat keluargaku berada dalam kesusahan. Bapak dan ibu sudah banyak berkorban untukku selama ini. Sekarang giliranku yang harus mebuat mereka bahagia. Walau dengan tinggal dirumah besar ini, batinku akan tersiksa. Tapi mas Jafar adalah suami pilihanku. 'Ya, pilihan yang salah' *** Dirumah ini tak ada orang yang bisa kutanya. Pergi pun tak bis kemana-mana Akan kuberanikan diri menanyakan semua yang ada di kepalaku ini pada mas Jafar. ****** "Mas, kalo boleh tau Sarah Wijaya itu siapa sih?" Tanyaku hati-hati, sambil memasangkan dasi di lehernya. Seketika wajahnya tegang, seperti ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. "Memang kenapa kamu menanyakan siapa dia?" Jawabnya menyelidik. "Karena kemarin di pesta kamu memperkenalkanku dengan nama itu, mas," ucapku lirih dan ragu. "Lalu, ketika aku berada di toilet. Ada seorang wanita yang tiba-tiba memeluk dan memanggilku dengan nama Sarah," lanjutku lagi. "Apa? Lalu apa yang kamu katakan pada wanita itu, hah? Apa Ara?" Mas Jafar mengguncang pundakku dengan kasar. "Ssst, aduh sakit mas. Kenapa kamu selalu menyakitiku, mas? Apa kamu tidak mencintaiku, mas?" Aku meringis kesakitan, tak kujawab pertanyaannya, kulontarkan kembali pertanyaan untuknya. "Apa kamu bilang? Sudah berani meninggikan suaramu di hadapanku?" Kulihat matanya merah. Wajahnya mengeras, bisa kupastikan aku akan mendapatkan siksaan seperti yang sudah-sudah. "Maaf, mas. Aku cuma ingin tau. Jika kamu mencintaiku. Kenapa selalu menyakiti hati juga tubuhku?" Kupelankan suara. Tak terasa air mata menetes di pipiku. "Ara, Ara sayang dengarkan aku! Aku sangat mencintaimu. Maka dari itu aku akan menjagamu. Tak ada satu orangpun yang boleh mendekatimu dan memilikimu selain aku. Aku tak mau kehilanganmu lagi." Mas Jafar melunakkan suaranya. Dibingkainya wajahku. Di usap air mataku. "Kehilangan lagi? Apa maksudnya? Lalu, kenapa kamu selalu menyakiti tubuhku mas?" Isakku makin berurai air mata. "Karena kau terlalu banyak tanya sayang, dan aku tak suka dengan semua itu. Cukuplah jadi istri yang cantik, penurut, tak banyak bicara dan tak banyak menuntut," jelasnya lagi, sambil menuntunku duduk di ranjang kami. "Tapi aku istrimu mas, bukan bonekamu." Aku masih terus menginginkan jawaban darinya. "Cukup Ara, Kalo tidak ...." "Kalo tidak apa mas,?"
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 22 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (99)
KumaiRahman
bagi bagi rejeki walau kecil nilainya tapi iklasnya yg penting dalam kehidupan, tri. aksih cerita sangat menarik, semoga slalu sehat buat penulis dan sukses selalu
bagi bagi rejeki walau kecil nilainya tapi iklasnya yg penting dalam kehidupan, tri. aksih cerita sangat menarik, semoga slalu sehat buat penulis dan sukses selalu
15/02/2022
0good
14/01
0menarik
29/10
0Ver Todos