ISTRI BAYANGAN PART 3 #aku ingin bahagia, bukan menderita Mas Jafar dan mama Sindy sudah berangkat 15 menit yang lalu. Sekarang aku dirumah hanya berdua bersama mbok Tinah--asisten rumah tangga kami. Ini kesempatanku mencari tau tentang semua pertanyaan yang ada di kepala ini. Siapa wanita bernama Sarah Wijaya? Kenapa aku tak boleh keluar? Kenapa aku harus melakukan semua hal yang sebenarnya tak ingin kulakukan. Gegas aku turun ke lantai bawah. Sepi sunyi. Karena dirumah sebesar ini cuma ada kami berlima. Aku, mas Jafar, mama Sindy, mbok Tinah dan seorang satpam yang tinggal dipos depan. Sekarang tinggal menyisakan aku juga mbok Tinah. Aku mulai melihat-lihat berkeliling rumah besar ini. Biasanya aku tak bisa melakukannya karena ada mama Sindy. Aku takut ia akan mengadu ke mas Jafar dan nantinya akan di hardik habis-habisan olehnya. Karena tak mematuhi peraturannya. Di ruang bawah banyak terpajang benda-benda unik. Yang kutaksir pasti harganya mahal. Banyak guci-guci cantik koleksi mama Sindy. Tapi aku tak menemukan satupun foto keluarga dirumah ini. Biasanya aku sering melihat orang kaya akan memasang foto keluarga mereka, seperti di sinetron yang biasa kutonton di televisi ikan terbang. Beda dengan rumah ini, tak kutemukan sama sekali. Apa karena mereka hanya berdua? Jadi tak mengharuskan mereka untuk membuatnya. "Astaghfirullah ..." Aku melonjak kaget, saat ada tangan yang menepuk bahuku. "Maaf nona, maaf kalo mengagetkan anda," ucap mbok Tinah, Ternyata ia adalah wanita paruh baya yang bekerja di rumah ini, nampak sedang membawa ember dan pel. "Iya mbok nggak apa-apa, saya cuma kaget," sahutku sambil tersenyum. "Ada yang bisa saya bantu, non?" Tanyanya kemudian. "Jangan panggil nona, mbok ... ! Panggil aja Ara. Aku nggak biasa di panggil begitu." Disini aku mencoba mengakrabkan diri pada perempuan yang perlakuannya selalu baik terhadapku. "Saya nggak berani non," ucapnya lagi menunduk. "Kalo gitu panggil mbak aja, jangan nona," usulku lagi. "Ba_baik mbak Ara," jawabnya lirih. "Mbok, santai aja. Kan dirumah cuma ada kita berdua. Ga usah takut." Aku akan mencoba mencari info darinya. "Mbok boleh nggak aku tanya sesuatu?" Tanyaku sambil menjatuhkan tubuhku di sofa. "Boleh, mbak Ara mau tanya apa?" "Mbok sudah lama kerja disini?" Aku mulai bertanya. "Belum mbak, saya bekerja disini sebulan sebelum mbak Ara dan tuan Jafar menikah," jelasnya, ia kusuruh duduk di sofa bersamaku. "Dirumah ini, apa cuma mama dan mas Jafar yang tinggal ya mbok?" "Iya, mbak. Pas saya mulai kerja disini. Saya cuma lihat mereka berdua. Kata mereka asisten lamanya, sudah tua jadi diganti dengan yang agak muda seperti saya," ujarnya kemudian. "Terus, satpam didepan apa juga baru mbok?" "Sama seperti saya mbak, lah wong pak Zaenal satu paket sama saya. Kan kita suami istri," jawabnya tersenyum malu. "Owalah, pak Zaenal itu suami mbok Tinah to? Kok aku baru tau ya." Aku menepuk jidat. "Kenapa ya mbok, aku ga boleh keluar rumah? Tapi kalo yang lain boleh." Pertanyaan demi pertanyaan terus kulontarkan pada asisten rumah tanggaku ini. "Saya juga kurang tau kalo itu mbak. Tuan dan nyoya cuma berpesan saya harus melayani mbak Ara dengan baik. Tapi tidak memperbolehkan mbak Ara keluar rumah," jelasnya lagi. Karena aku tak banyak mendapatkan info dari mbok Tinah, kusuruh ia melanjutkan pekerjaannya. Lalu aku beranjak ke tempat yang lain. Aku penasaran ke ruang kerja suamiku. Karena dia selalu melarangku masuk ke ruangan itu. Apalagi mengganggunya saat ia ada di dalam ruang kerjanya. Kuputar gagang pintu, ternyata tak dikunci. Kali ini aku beruntung. Kumasuki ruangan kerja suamiku. Ruangan yang begitu luas. Banyak buku tertata rapi mengisi rak-rak yang ada. Di salah satu sudut ruangan terdapat sofa bed yang nyaman. Kukira jika suamiku tak kembali kekamar saat malam hari. Pasti ia merebahkan tubuhnya ke atas sofa mahal ini. Aku duduk mengamati seluruh isi ruangan. Tak ada yang aneh. Tapi, mataku tertuju pada benda di meja kerjanya. Laptop. Mungkin aku bisa menemukan sesuatu di sana. Aku memang cuma gadis desa tamatan Aliyah ( setara SMA ). Tapi kalo hanya mengoperasikan laptop aku bisa. Karena dulu ada ekstrakurikuler yang mempelajari komputer. Aku duduk dan mulai membuka laptop. Untung laptop ini tak menggunakan password untuk mengoperasikannya. Mataku membulat dibuat kaget. Di sana ada fotoku bersama mas Jafar. Lagi-lagi aku di buat tak percaya. Tak pernah merasa berfoto dengannya memakai pakaian seperti itu. Mas Jafar nampak menggunakan celana pendek dan kaos polos putih tak lupa kacamata hitam bertengger di hidungnya. Sedangkan aku di sana nampak memakai pakaian yang kurang bahan. Hanya memakai bikini. Di bagian bawah hanya ditutupi dengan kain. Topi lebar bertengger di kepalaku. Kalo dilihat dari foto ini di ambil saat berada dipantai. Ah, di ajak kepantai saja aku tak pernah. Lalu kenapa bisa ada foto ku seperti ini? Bukan mendapatkan jawaban, tapi malah kepalaku menjadi tambah pusing memikirkan semua ini. Aku memilih keluar dari ruang kerja ini. Kurapikan kembali semua seperti sedia kala. Tak ingin mas Jafar curiga karena aku telah melanggar larangannya, dan masuk kesini. Aku kembali menuju kamar. Merebahkan diri, memejamkan mata agar kepala ini tak sakit lagi. *** Entah berapa lama aku tertidur. Mbok Tinah membangunkanku. "Mbak Ara, apa sudah sholat Maghrib? Tanyanya saat aku membuka mata. "Astaghfirullah, sudah magrib, mbok? Ya Allah, aku melewatkan sholat ashar dan magrib." Aku bergegas ingin kekamar mandi dan melakukan kewajibanku pada Sang Khaliq. Tapi tiba-tiba ... "Aduh, mbok kepalaku sakit sekali." Badanku tiba-tiba lemas kepala serasa berputar-putar. Dan tak sanggup untuk bangkit dari tempat tidur. "Biar mbok bantu ya mbak Ara. Ya Allah, badan mbak Ara demam. Apa mbak Ara sakit? Saya telponkan dokter ya mbak!" Mbok Tinah nampak cemas. Ia keluar kamar. Ya badanku memang terasa lemas, pusing dan mual. Aku juga sedikit demam. Mungkin apa karena aku banyak pikiran? Mbok Tinah segera menghubungi dokter. Ia kembali dengan membawa ponsel ditangannya. "Itu ponsel siapa mbok? Bagus sekali." Tanyaku pada mbok Tinah. "Punya saya, mbak. Tuan yang memberikannya. Katanya untuk dipakai saat urgent seperti ini," jelasnya, ia nampak sedang menghubungi seseorang. Ah, asisten rumah tangga saja diberikan ponsel bagus. Tapi aku istrinya tak boleh memiliki benda pintar itu. Kau sungguh aneh mas. Aku akan terus mencari tau tentang dirimu.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 22 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (99)
KumaiRahman
bagi bagi rejeki walau kecil nilainya tapi iklasnya yg penting dalam kehidupan, tri. aksih cerita sangat menarik, semoga slalu sehat buat penulis dan sukses selalu
bagi bagi rejeki walau kecil nilainya tapi iklasnya yg penting dalam kehidupan, tri. aksih cerita sangat menarik, semoga slalu sehat buat penulis dan sukses selalu
15/02/2022
0good
14/01
0menarik
29/10
0Ver Todos