ISTRI BAYANGAN PART 2 #aku ingin bahagia, bukan ingin menderita Malam ini aku ikut dalam pesta orang kaya. Banyak wanita cantik yang memakai baju, tas, dan sepatu branded. Pantas saja, mas Jafar juga menyuruhku memakai baju ini. Di lihat dari bahan saja pasti harganya sangat mahal. Dalam pesta itu, aku di minta untuk selalu berada di sampingnya. Mas Jafar tak membiarkanku sendiri walau hanya sekedar bicara dengan orang lain. "Mas, aku ijin ke toilet boleh nggak?" Aku sudah tak tahan ingin ke kamar kecil. Tapi aku takut pada mas Jafar. "Mau ngapain sayang? Udah disini aja tetep disamping mas!" Ujarnya dan tetap menggandeng tanganku. "Tapi aku udah nggak bisa tahan lagi, mas. Udah dari tadi," rengekku padanya. "Oke, baiklah. Jangan lama-lama. Ingat jangan banyak bicara dengan orang yang tidak dikenal. Mengerti!" Ia mengingatkanku akan aturannya lagi. "Iya mas, aku mengerti." Aku mengangguk dan pergi meninggalkan mas Jafar. Kemudian bergegas mencari toiilet di gedung megah ini. "Emm, mbak maaf mau tanya, toilet ada di sebelah mana ya?" Tanyaku pada seorang pelayan, dia memakai seragam hitam putih layak pada umumnya yang dipakai para pelayan. "Di sebelah sana nyonya, nanti ada petunjuk arahnya." Tunjuknya ke suatu arah. "Baik, terimakasih." Aku pergi meninggalkanya, gegas menuju toilet. Hmmm. Akhirnya lega sekali. Bisa menuntaskan hajatku. Setelah selesai, aku keluar dan merapikan diri kembali. Supaya mas Jafar tak marah, melihatku berantakan usai dari toilet. Brugh .... "Aduh ...." celetukku. Cerobohnya aku tak sengaja menabrak seorang wanita. "Ma_ maaf nona." Ucapku menunduk. "Iya nggak apa-apa. Saya baik-baik saja kok," jawabannya tersenyum kepadaku. "Ehm, tunggu dulu! Kamu Sarah 'kan? Ya Allah Sarah. Kamu kemana saja? Akhirnya kita bisa bertemu kembali." Lagi-lagi aku dibuat bingung, ada orang yang memanggilku dengan nama Sarah. Siapa Sarah itu? Dan wanita itu memelukku. "Maaf, apa anda mengenalku?" Tanyaku menyelidik. Mungkin saja aku bisa dapat info darinya tentang Sarah Wijaya. "Kamu ngomong apa sih? Ya, pasti kenal dong Sarah. Kamu 'kan ...." Ucapannya terhenti saat suara mas Jafar memanggilku dari luar. "Ara, Ara...sayang kamu sudah selesai belum?" Sahutnya dari luar. "Iya mas, sudah." Jawabku singkat. "Maaf nona, suamiku mencari. Mari permisi. Semoga nanti kita bisa ngobrol lagi di lain waktu." Aku meninggalkan wanita itu. Ia masih melongo mendengar aku memanggilnya nona. Aku tak mau mas Jafar marah, jika melihatku bicara dengan orang asing. "Lama sekali sih, di toilet! Kamu tadi ngobrol sama siapa?" Mas Jafar mencurigaiku. "Bukan siapa-siapa mas, tadi ada yang ngantri, mau pake toilet juga," elakku padanya. "Ya, sudah ayo kita pulang! Mama kepalanya pusing. Mungkin kecapean." Ia kembali menggandeng tanggaku. Di perjalanan aku tak banyak bicara. Takut suamiku marah. Apalagi kulihat moodnya sedang tidak bagus. Tapi kejadian dipesta tadi terus mengganggu pikiranku. Siapa Sarah Wijaya? Kenapa mas Jafar mengenalkanku dengan nama itu? Lalu, wanita tadi. Dia juga memanggilku dengan nama Sarah. Apa berani aku menanyakan hal ini pada suamiku? Kenapa banyak teka teki setelah aku menikah dengannya. Ah, kepalaku rasanya sakit. **** Setibanya dirumah, aku membersihkan diri. Begitu juga dengan mas Jafar. Kami merebahkan tubuh yang sudah lelah ini. Tak lama kudengar dengkuran halus darinya. Ia sudah terlelap dalam tidur. Tapi mataku, sama sekali tak bisa dipejamkan. Aku memutuskan untuk bangun dan sholat malam. Mungkin dengan begitu hatiku bisa tenang. Kusingkirkan pelan tangan suamiku yang melingkar di tubuhku. Kubasuh diri ini dengan air wudhu, bersujud menengadah memohon ketenangan pada Sang pencipta. "Ya Allah, aku ikhlas menjalani rumah tanggaku. Aku ikhlas mengabdikan diri untuk suami dan ibu mertuaku. Kuatkan aku dalam mengahadapi semua sikap mereka." Kutumpahkan segala keluh kesahku hanya padaNya. Setelah mendekatkan diri pada Sang pencipta. Akhirnya aku bisa tertidur lelap. Ada sedikit kelegaan setelah aku curhat padaNya. **** "Ara, hari ini mas akan pergi ke luar kota selama 3 hari. Mama juga ada kegiatan bersama teman sosialitanya. Mama akan berlibur di puncak selama 3 hari dan kamu akan tetap dirumah! Di temani mbok Tinah. Ingat semua pesan mas! Kalo butuh apa-apa suruh saja mbok Tinah. Kamu tak perlu melakukannya sendiri. Paham!" Ujarnya panjang lebar. "Baik, mas. Emm, apa aku boleh menelpon ibu dan bapak di kampung?" Ucapku hati-hati. "Boleh, telpon saja sekarang!" Ia memberikan ponselnya padaku. Mas Jafar memang tak memperbolehkanku memakai benda pintar itu. Dengan alasan,ia tak mau perhatianku padanya berkurang karena aku bermain ponsel. Kutekan nama bapak dilayar ponsel mas Jafar. "Halo, assalamualaikum." Terdengar suara dari seberang sana. "Waalaikumsalam, ibu. Ini Ara. Ibu bagaimana keadaannya? Bapak gimana? Sehat 'kan Bu?" Aku memberodong ibuku dengan pertanyaan. "Ya Allah, Ara. Anakku, ibu sama bapak sehat nak. Kamu disana gimana? Sehat kan? Jafar selalu mengirim uang dan kebutuhan bapak ibu disini. Kamu yang nurut ya sama suami! Dia suami yang baik." Ibu berbicara panjang lebar tanpa kutanya. "Iya Bu, Ara juga sehat. Ara bahagia, Bu. Disini mas Jafar dan mama Sindy sangat baik padaku." Aku tak sanggup jujur pada ibu. Aku tak mau membuatnya sedih mendengar keadaanku sebenarnya disini. Apalagi nampak mas Jafar menatapku nyalang seolah memberikan kode agar aku tak banyak bicara. "Ya, sudah Bu. Kalo ibu dan bapak sehat-sehat saja." Kuakhiri sambungan teleponku. "Nanti kalo mas Jafar nggak sibuk, aku akan mengajaknya berkunjung kerumah ibu. Jaga kesehatan ya, bu! Assalamualaikum." Kuakhiri percakapanku dan memberikan ponselnya pada mas Jafar. "Terimakasih mas, sudah membantu keuangan bapak dan ibu. Maaf merepotkanmu," ucapku lagi. "Iya sama-sama," sahutnya kemudian lalu bangkit dan mengecup keningku, ia berlalu pergi kekamar menyiapkan segala keperluannya untuk keluar kota. Masih banyak, teka teki pada suamiku. Aku akan menyelidiki semua ini. Tapi apa aku bisa? Aku hanya wanita lemah, yang tak mampu berbuat banyak di atas kekuasaan suami dan mertuaku.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 20 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (99)
KumaiRahman
bagi bagi rejeki walau kecil nilainya tapi iklasnya yg penting dalam kehidupan, tri. aksih cerita sangat menarik, semoga slalu sehat buat penulis dan sukses selalu
bagi bagi rejeki walau kecil nilainya tapi iklasnya yg penting dalam kehidupan, tri. aksih cerita sangat menarik, semoga slalu sehat buat penulis dan sukses selalu
15/02/2022
0good
14/01
0menarik
29/10
0Ver Todos