logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Istri Bayangan

Istri Bayangan

yusiriana90


Istri Bayangan 1

ISTRI BAYANGAN
#aku ingin bahagia, bukan menderita
Plak ...
"Auu ... Sakit mas ..." jeritku saat tangan kekarnya melayang di pipiku.
Aku keluar kamar menggunakan piyama, namun suamiku malah mengayunkan tangannya pada pipiku.
"Sudah kubilang pakai pakaian yang sediakan. Jangan keluar kamar dengan pakaian sepeti itu. Ingat nggak kamu dengan aturanku." Mas Jafar mengingatkan akan ucapannya tempo hari.
Ini sekian kalinya aku mendapatkan tamparan dari mas Jafar--suamiku.
Semua hal yang aku lakukan selalu salah di matanya. Tamparan, cacian menjadi makanan sehari-hariku.
Lalu kenapa aku tak lari? Meninggalkan rumah bak neraka ini. Kenapa aku tak melaporkan mereka ke polisi? Aku takut aku tak berani. Ancamannya sangat memojokkan diriku. Ya, aku menyebutnya mereka. Karena bukan hanya mas Jafar yang melakukannya, tapi ibu mertua tak beda jauh dengan suamiku.
Aku Laura Saraswati. Mereka biasa menyebutku Ara. Gadis desa yang di ambil oleh keluarga kaya, untuk di jadikan menantu dan istri.
Bayangan hidup indah dan bahagia akan ku rasakan. Sirna setelah aku tinggal di rumah besar ini.
"Pak, buk. Saya datang kesini ingin meminang anak bapak menjadi istri saya," ucapnya saat datang menemui kedua orang tuaku.
Aku mengenalnya lewat sosial media. Tak menyangka dia akan mendatangiku setelah kuberi alamat rumah orang tuaku.
Di pertemuan pertama aku sudah jujur jika hanya seorang gadis desa lulusan madrasah Aliyah ( setara SMA ), orang tuaku hanya seorang petani.
Tapi dia tetap nekat meminangku. Kepolosan gadis kampung membuat aku langsung jatuh cinta saat pertama melihatnya. Senyumnya yang begitu menawan. Wajah tampan yang memukau. Membuatku menerima pinangannya begitu saja.
Ah, sekarang itu semua tidak ada artinya lagi bagiku. Aku tak boleh larut dalam kehancuran.Tapi hidupku harus berlanjut. Tak boleh lemah dan pasrah dengan keadaan ini.
***
Setelah akad nikah dilakukan secara sederhana. Aku diboyong untuk tinggal dirumah suamiku. Sebagai istri aku mengikuti permintaannya. Walau sedikit berat karena harus berpisah dengan kedua orang tuaku.
"Selamat datang Ara sayang. Masuklah nak angggap rumah sendiri!" Mama mertuaku menyambut dengan riang gembira. Wajahnya masih cantik di usianya yang tak lagi muda. Mungkin begitulah orang kaya. Bisa membuat yang tua nampak lebih muda dengan uang yang mereka miliki.
"Ayo sayang, aku perlihatkan kamar kita! Pasti kamu suka," ajak mas Jafar. Ia menggandeng tanganku menuju sebuah kamar yang dia bilang akan menjadi kamar kami.
"Iya mas." Aku mengikuti langkah mas Jafar.
"Nanti kita disini tinggal bersama mama. Disini juga ada mbok Tinah yang membantu membereskan rumah. Jika ada sesuatu yang kamu inginkan bilang aja sama mbok Tinah," jelas mas Jafar.
Mataku disuguhi nuansa pemandangan yang indah. Kamar megah dengan ranjang besar nan empuk. Semua fasilitas ada disini. Bahkan aku tak perlu keluar kamar untuk makan. Di kamar di sediakan kulkas besar yang isinya penuh dengan makanan.
"Terimakasih mas, aku nggak nyangka bisa mendapatkan semua ini," ucapku sambil terus memeluk lelakiku.
***
Pagi ini ...
"Ara, aku sudah bilang kalo bikin kopi jangan terlalu banyak gulanya. Aku ga suka," omelnya pagi ini.
"Maaf mas, itu gulanya cuma sesendok. Ga banyak kok," ucapku menunduk.
"Kamu ya, sekarang sudah berani ngebantah." Dia mulai menghardikku.
"Iya mas, besok aku nggak akan mengulanginya lagi," ucapku menyesal.
Tak lama kemudian suara lain terdengar.
"Ara ... kamu udah buatin mama roti bakar belum buat sarapan?" Mama berteriak dari kamarnya.
"Iya mah, sudah Ara siapkan," sahutku.
Setiap pagi aku bertugas menyiapkan sarapan untuk suami dan mertuaku. Walaupun ada mbok Tinah mereka mau aku yang membuatkannya.
Aku ikhlas, ini wujud pengabdianku pada mereka. Tapi ada aturan mereka yang tak boleh aku langgar. Aku tak boleh keluar rumah. Kecuali pergi bersama suami atau mertuaku.
Aku bagaikan burung dalam sangkar emas. Hidup enak dan mewah tapi tak bisa kemana pun yang aku ingin. Semua hidupku di atur oleh mereka.
Pakaianku juga di atur, dipaksa memakai pakaian yang disediakan suamiku. Aku harus memakai pakaian modis dan mahal. Walau hanya memasak aku harus memakainya.
Makanan pun juga begitu, aku tidak boleh makan makanan yang banyak lemak. Aku hanya boleh makan sayur dan kalopun makan daging juga tak boleh banyak.
Mungkin jika orang lain melihatku, mereka pasti akan bilang. Aku wanita yang beruntung. Tapi ini semua tidak seperti yang mereka lihat.
Aku dipaksa untuk menjadi orang lain. Bukan diriku sendiri.
"Ara sayang, nanti malam mas akan mengajakmu datang ke pesta ulang tahun temen mas, kamu pakai baju ini. Jangan lupa dandan yang cantik. Nanti mama akan membantumu berdandan." Mas Jafar memberikan paper bag padaku, lalu pergi setelah mengecup keningku.
Entah, aku memang belum begitu mengenal suamiku. Karena proses perkenalan begitu singkat.
Kadang dia bersikap manis, dan terlihat sayang sekali padaku. Tapi kenapa kadang dia begitu terlihat mengerikan saat marah jika aku melakukan kesalahan.
Aku ingin bahagia, tetapi apakah sekarang aku bisa mendapatkannya?
***
Malam ini aku di bantu berdandan oleh mama mertuaku. Make up yang tak terlalu tebal. Rambut di urai. Menggunakan gaun tanpa lengan yang panjangnya sebatas lutut. Perhiasan elegan nan mahal menempel di leher dan telingaku.
"Mah, aku tak nyaman memakai pakaian ini. Terlalu pendek mah," Protesku padanya. Karena aku memang tak biasa memakai pakaian seperti ini.
"Ara, ini permintaan suamimu. Kau ingat, dia akan marah kalo tidak mengikuti keinginannya." Mama berjalan mengambil sepatu heels dan menyuruhku untuk lekas memakainya.
"Tapi mah ...." Ucapku masih ragu.
"Sudah ayo turun! Kita nanti ketemu Jafar di sana. Kamu bareng sama mama," ajak mama kemudian.
Kami berangkat menggunakan mobil mewah, malam ini.
Saat tiba di hotel berbintang tempat pesta di gelar. Mas Jafar sudah menunggu kami.
"Cantik sekali istriku tercinta." Mas Jafar memberikan tangannya untuk bergandengan masuk ke dalam pesta.
Ini pertama kali aku ikut ke pesta orang kaya. Wah, begitu indah. Mereka memakai baju yang bagus dan mahal. Sepertinya semua yang ada di sini orang kaya.
Aku dikenalkan dengan teman-temannya mas Jafar. Dan juga teman si empunya hajat ini.
"Hai bro, selamat ya semoga panjang umur. Sehat selalu." Mereka saling berpelukan menepuk bahu.
"Apa ini istri cantik yang selalu kamu ceritakan, Jafar?" Tanya temannya.
"Iya, ini istri cantikku, kenalkan."
"Saya Lauu___," ucapanku terhenti.
"Namanya Sarah Wijaya." Mas Jafar menyebutkan nama lain bukan namaku.
"Mas ...." Ucapku ingin bertanya, tapi matanya memelototiku. Aku tak berani membantah. Nanti sajalah aku tanyakan.
Tapi siapa itu Sarah Wijaya? Kenapa aku harus memakai nama itu?

Comentário do Livro (99)

  • avatar
    KumaiRahman

    bagi bagi rejeki walau kecil nilainya tapi iklasnya yg penting dalam kehidupan, tri. aksih cerita sangat menarik, semoga slalu sehat buat penulis dan sukses selalu

    15/02/2022

      0
  • avatar
    BaruAkun

    good

    14/01

      0
  • avatar
    Rasty Juwita

    menarik

    29/10

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes