logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

chap 7

Setelah mendapatkan kabar dari Avery tentang orang bernama Theo Santoso, Jordan menyuruh anak buahnya untuk mencari tahu keberadaan Theo tersebut. Setelah pencarian alamat melalui kampus Rosalind, akhirnya anak buah Jordan yang bernama Aldi mendapatkan alamat tempat tinggal Theo.
“Pak, kami sudah mendapatkan alamat lengkap Theo dari kampus. Sekarang kami akan pergi ke Cianjur untuk mencarinya,” ujar Aldi di telepon.
“Cepat pergi, temukan Rosalind. Hubungi Avery agar ia bisa pergi dengan kamu!” Jordan sangat senang, ada titik terang tentang keberadaan Rosalind.
“Baik, Pak.” Aldi menutup teleponnya dengan Jordan. Ia menelepon Avery untuk ikut bersamanya pergi ke daerah Cianjur, Jawa Barat untuk mencari Rosalind.
oooOOOooo
Cikalong Kulon, Cianjur, Jawa Barat
Avery dan Aldi mencari alamat rumah sesuai dengan petunjuk alamat yang diberikan oleh kampus. Mereka menelusuri daerah persawahan dengan berjalan kaki.
“Pak, permisi,” sapa Aldi sopan pada seorang pejalan kaki.
“Ada yang saya bisa bantu, Pak?” tanya pejalan kaki itu sopan. Ia melihat pakaian Aldi yang sangat formal. Ia sendiri menjadi canggung melihat Aldi.
“Saya mau bertanya, dimana rumah Theo Santoso?” tanya Aldi sopan.
“Ah, si Theo, anak tengil itu,” ucap pejalan kaki itu menghina.
“Tengil? Kenapa dengan dia pak?” tanya Aldi penasaran.
“Dia teh menghamili gadis, terus dibawa kesini, bikin malu saja! Belum menikah tapi sudah buat anak orang hamil!” gerutu si pejalan kaki itu. Avery mengernyitkan dahinya mendengar Theo menghamili seorang gadis.
“Apakah gadis yang dihamili Theo wajahnya seperti ini?” Avery memberikan foto Rosalind kepada pejalan kaki itu.
“Iya … Non cantik ini yang dibawa sama Theo.” Pejalan kaki itu mengenali wajah Rosalind. Ada senyum terukir di bibir Avery ketika mengetahui bahwa Rosalind sedang bersama Theo di desa ini.
“Sekarang mereka ada dimana ya, Pak?” tanya Aldi melanjutkan.
“Sudah diusir sama warga,” jawab pejalan kaki sebal.
“Ke-kenapa diusir, Pak?” tanya Avery terbata. Punah sudah harapan Avery untuk bertemu dengan Rosalind segera.
“Mereka tidak mau dinikahkan, jadi kami usir mereka dari kampung!”
“Kalian koq kejam sekali!” ucap Avery sinis. Rasanya ia ingin menghajar bapak pejalan kaki itu.
“Mereka mencemarkan nama baik desa ini jika hamil tapi tidak menikah!” jelas pejalan kaki itu.
“Tapi bisa saja kan bukan Theo yang menghamili, dia hanya membantu gadis itu,” protes Avery.
“Eneng ini siapa sih? Koq sepertinya kesal sekali?” tanya pejalan kaki itu sewot.
“Saya kakaknya dari gadis itu, sudah hampir 2 minggu adik saya menghilang!” jelas Avery berapi-api.
“Ah, ternyata kakaknya. Pantas agak mirip. Ya, sekarang bapak tidak tahu dimana Theo dan gadis itu. Mungkin ada di rumah bapaknya Theo.”
“Dimana rumah bapaknya Theo?” tanya Avery menurunkan emosinya.
“Di daerah Tugu, Cisarua, Bogor,” ucap pejalan kaki itu memberikan petunjuk.
“Siapa nama ayah dari Theo?” lanjut Avery bertanya.
“Wikrama Santoso.”
“Apakah Bapak tahu alamat lengkap bapak Wikrama?” tanya Aldi hampir putus asa. Jika hanya berbekal nama, maka akan sulit mencari seseorang.
“Wah, bapak kurang tahu alamatnya dia. Coba tanya ke Pak RT atau Pak RW. Mungkin mereka masih menyimpan alamat Wikrama,” ucap si pejalan kaki.
“Dimana rumah Pak RT dan Pak RW, Pak?” tanya Avery.
“Itu, yang rumahnya hijau rumahnya Pak RT, nah lewat beberapa rumah, yang warna biru telur asin, itu rumahnya Pak RW,” jelas si pejalan kaki sambil menunjukkan rumah yang dituju oleh Avery dan Aldi.
“Terima kasih, Pak,” ucap Aldi sopan sementara Avery hanya mengangguk saja melihat pejalan kaki. Hatinya masih kesal karena Rosalind diusir dari desa ini..
Avery dan Aldi pergi ke rumah Pak RT untuk bertanya tentang alamat Wikrama Santoso.
Tok! Tok! Tok!
Aldi mengetuk pintu rumah Pak RT.
“Permisi.”
“Ya …,” terdengar teriakan seorang wanita dari dalam menjawab sapaan Aldi.
“Permisi bu, Kami mencari Pak RT,” ucap Aldi sopan di depan pintu rumah Pak RT.
“Sebentar ya, ”
“Iya, Bu.” ucap Aldi dan Avery bersamaan.
Tidak lama seorang wanita paruh baya keluar dari rumah menggunakan daster biru dengan motif bunga.
“Siapa dan ada perlu apa ya, Bapak dan Ibu?” tanya wanita itu sopan.
“Perkenalkan, saya Aldi dan ini Avery. Kami datang ke sini untuk mencari tahu alamat bapak Wikrama Santoso,” ucap Aldi sopan kepada wanita di hadapannya.
“Wikrama?” Wanita di hadapan Aldi dan Avery agak terkejut mendengar nama yang mereka sebutkan.
“Kalau boleh ada apa dengan nama Wikrama, sepertinya Ibu terkejut mendengarnya?” tanya Avery menyelidiki.
“Nanti Pak RT saja yang menjawab ya, Neng,” ucap wanita yang berada di hadapan Avery.
“Oh, baik, Ibu. Terima kasih.” Avery mengangguk. Ia tidak mau memaksa wanita di hadapannya untuk mengatakan yang tidak mau ia katakan.
“Silahkan duduk, tunggu sebentar lagi ya. Bapak RT sedang pergi ke kantor lurah karena ada rapat,” jelas wanita yang di hadapan Avery.
“Terima kasih, Ibu,” ucap Aldi dan Avery. Mereka duduk di kursi rotan yang panjang seperti kursi taman.
“Sebentar saya ambilkan minum dulu. Di sini sederhana saja ya, Neng. Maklum di kampung,” ucap wanita itu undur diri untuk mengambilkan air dan snack.
“Terima kasih, Bu. Tidak perlu repot.” Avery tersenyum kepada wanita di hadapannya.
Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Pak RT tiba di rumahnya.
“Wah, ada siapa ini?” tanya Pak RT kepada Avery dan Aldi.
“Perkenalkan, saya Avery dan ini Aldi,” ucap Avery memperkenalkan dirinya dan Aldi kepada Pak RT sambil bangkit berdiri.
“Ada apa neng? Sepertinya bukan orang di kampung ini.”
“Saya kakak dari Rosalind, orang yang waktu itu sempat tinggal di sini bersama Theo Santoso,” jelas Avery memperkenalkan diri.
“Ah, iya iya, bapak ingat sekarang. Mukanya neng mirip dengan neng yang waktu itu datang ke sini,” ucap Pak RT mengenali kemiripan wajah Avery dan Rosalind.
“Begini, Pak. Saya sedang mencari adik saya yang katanya diusir dari kampung ini. Apakah bapak tahu kemana mereka pergi?” tanya Avery penasaran.
“Wah, bapak tidak tahu, Neng.” Pak RT menggelengkan kepalanya.
“Apakah bapak tahu alamat bapak Wikrama Santoso? Menurut pejalan kaki yang saya temui di jalan, kemungkinan besar Theo pergi ke rumah bapaknya,” tanya Aldi sopan.
“Wikrama? Sebentar saya cari dulu ya, Neng.” Pak RT sedikit terkejut dengan nama Wikrama. Ia tergesa-gesa masuk ke dalam rumahnya dan seperti mencari berkas yang ada di meja kerjanya.
“Ini Wikrama apa ada masalah di kampung ya? Sepertinya mereka berdua terkejut dengan nama Wikrama Santoso,” ucap Avery penasaran kepada Aldi.
“Nanti kita selidiki nama Wikrama Santoso,” ucap Aldi singkat.
“Good.” Avery tersenyum puas.
“Ini alamat Wikrama, Neng. Saya tidak tahu apakah dia sudah pindah atau belum,” ucap Pak RT sambil memberikan sepucuk kertas untuk Avery.
“Maaf, Pak. Kalau boleh saya tahu, apakah ada masalah dengan Wikrama? Sepertinya Bapak dan Ibu terkejut saat saya menyebutkan nama Wikrama Santoso,” selidik Avery.
“Dia teh pembunuh, Neng. Di kampung ini dia sudah tidak diterima,” jelas Pak RT.
“Pembunuh? Siapa yang dibunuh, Pak?” tanya Avery sedikit curiga.
“Dia teh di penjara karena membunuh majikannya di kota. Pas waktu pulang ke sini selepas keluar dari penjara, kami semua sudah tidak bisa menerima dia lagi sebagai warga kampung karena para warga teh pada ketakutan kalau melihat wajah Wikrama yang banyak codet itu,” jelas Pak RT.
“Ah, baiklah. Terima kasih informasinya, Pak. Kami pamit terlebih dahulu,” ucap Avery berpamitan dengan Pak RT.
Avery dan Aldi segera pergi dari tempat Pak RT, mereka melalui jalan setapak di persawahan untuk mencapai mobil di seberang jalan.
“Aldi, cari tahu siapa sebenarnya Wikrama. Suruh anak buahmu sekarang!” perintah Avery saat sudah berada di dalam mobil. Ia sangat khawatir dengan Rosalind jika saat ini ia sedang bersama Wikrama dan Theo.
“Baik, Nona.” Aldi langsung menelepon anak buahnya dan memerintahkan untuk mencari tahu tentang Wikrama Santoso.
“Sekarang kita pergi ke alamat Wikrama. Aku harap kita belum terlambat untuk mencari Rosalind.” ucap Avery sangat tegang dan sedikit ketakutan.
“Baik, Nona.” Aldi menyetir mobil untuk berjalan sampai ke rumah Wikrama yang ternyata berada di Tugu, Bogor.

Comentário do Livro (201)

  • avatar
    Tringayu

    Ceritanya keren kak🥰

    20/05/2022

      2
  • avatar
    Angeline Lisupadang

    Bagus banget

    08/02

      0
  • avatar
    Nurul Huda

    cinta memang terkadang bikin emoziiiii😁

    10/09

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes