#DIBLOKIR SUAMI_7 "Mbak Dina!" seruku. Aku tak percaya Mbak Dina kini berdiri di hadapanku dan Mas Didi. Entah aku yang tak menyadari kedatangan Mbak Dina, atau Mbak Dina sengaja masuk mengendap-endap ke dalam rumah karena mendengar suara lantang Mas Didi. "Apa-apaan, kamu, Di? Jadi begini kelakuan kamu sama adikku?" sergah Mbak Dina. Ia mendorong tubuh Mas Didi hingga Mas Didi terjungkal. Perlahan tapi pasti, Mbak Dina kembali mendekat ke arah Mas Didi. Kini ganti tangan Mbak Dina yang dilayangkan ke wajah Mas Didi. Mas Didi mengaduh sambil mengusap pipinya bekas tamparan kakakku. Wajahnya berubah menjadi merah. Antara menahan sakit dan amarah. "Jangan seenaknya berlaku kasar kepadaku, Mbak! Aku tidak akan berbuat kasar pada Lulu jika ia sopan padaku!" Mas Didi berusaha membela diri di depan Mbak Dina. Aku yakin ia melakukan itu hanya karena ingin membela diri. Mbak Dina mengalihkan pandangannya ke arahku. Aku tak berdaya, seolah aku yang bersalah. Aku semakin menunduk ketika Mbak Dina lebih mendekat ke padaku. "Ada apa sebenarnya, Lu?" Mbak Dina mengangkat daguku. Kini pandangan kami bertemu. Ingin rasanya aku menangis dan menumpahkan segala sesak di dada ini pada kakakku. Akan tetapi aku takut Mbak Dina emosi dan lupa diri. "Kenapa diam? Nggak mau ngakukan kalau kamu yang salah?" sela Mas Didi. "Diam kamu! Lebih baik sekarang kamu segera pergi ke tempat kerja!" usir Mbak Dina. Tanpa permisi akhirnya Mas Didi pergi meninggalkan aku dan Mbak Dina berdua di ruang makan. Beberapa menit kemudian, terdengar deru mesin mobil Mas Didi. Semakin lama suaranya semakin menjauh dari pekarangan rumah. Keadaan di dalam rumah masih sama seperti sebelumnya. Hening. Aku dan Mbak Dina sama-sama diam. Kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak lama, Mbak Dina kembali membuka suara. Namun, kali ini lebih lembut dari sebelumnya yang terasa menyalahkanku. "Ceritalah, Lu! Ada apa sebenarnya?" tanya Mbak Dina. Tangannya mengusap punggungku terasa begitu damai. Belum juga aku menjawab, air mataku malah mendesak berlomba keluar dari tempatnya. Aku tak lagi bisa menahan tangisku. Merasakan kepedihan yang tak pernah kubayangkan akan terjadi pada rumah tanggaku. "Mas Didi, Mbak," kataku sambil terisak. "Iya, kenapa dengan Didi?" tanya Mbak Dina kebingungan. Mbak Dina menarikku ke dalam pelukannya. Mengusap rambutku berusaha untuk menenangkan. Persis seperti anak kecil yang lagi manja pada kakaknya. "Mas Didi selingkuh, Mbak!" jawabku berterus-terang. Mbak Dina terkejut. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya, seolah tak percaya dengan apa yang kukatakan. "Benarkah, Lu? Jangan mengada-ada kamu!" Secepat mungkin aku beranjak dan berjalan ke kamar mengambil sesuatu. Setelah itu aku segera kembali menemui Mbak Dina. Kuserahkan benda pipih di tanganku pada Mbak Dina. Dengan ragu Mbak Dina menerimanya. Mbak Dina menatap layar ponselku yang sebelumnya sudah kualihkan ke beranda facebook Mas Didi. Mbak Dina menatap satu persatu unggahan foto-foto Mas Didi bersama wanita lain. Hingga jempol Mbak Dina berhenti menggeser layar ponsel, diunggahan Mas Didi berupa foto cincin berlian. "Ini cincin buat kamu, Lu?" tanya Mbak Dina. Tampak keningnya berkerut ketika bertanya. Aku menggeleng kepala sebegai jawaban atas pertanyaannya. "Terus ...?" tanya Mbak Dina lagi. "Aku nggak tau, Mbak. Mas Didi nggak pernah ngasih aku cincin seperti itu!" Isakku makin menjadi ketika mengingat semua perlakuan baik Mas Didi. Tetapi semua itu hanyalah cara untuk ia menutupi kebusukannya. Mbak Dina meraih pundakku membawa lagi ke dalam pelukannya. Aku menumpahkan segala sedihku. Seolah aku mendapatkan tempat bersandar. Tak lupa juga aku bercerita tentang kontak bernama Tejo di ponsel Mas Didi. Mbak Dina yang mendengar ceritaku turut geram. Ia ingin sekali menghajar Mas Didi habis-habisan. Meluapkan emosinya karena sudah menyakiti hati adik kesayangannya. "Tenang, Lu. Kita harus bermain cantik untuk menghadapi Didi. Jangan gegabah!" saran Mbak Dina. Aku mengangguk sambil mengusap air mata yang membasahi bagian wajah. "Kita akan bongkar semua kebusukan Didi!" imbuh Mbak Dina. "Caranya, Mbak?" Mbak Dina memintaku untuk menyadap whatsApp Mas Didi. Ia bilang cara satu-satunya dan paling akurat serta mudah untuk mengumpulkan bukti-bukti. Setelah kupikir apa yang disarankan Mbak Dina adalah benar. Menyadap whatsApp lebih mudah dari pada mengintai perbuatan Mas Didi lewat aplikasi facebook meski dengan akun lain. 💔💔💔 Siang itu aku diajak Mbak Dina pergi jalan. Katanya agar aku bisa menenangkan pikiran barang sebentar. Aku sangat senang, karena sudah lama juga aku tidak pergi jalan-jalan seperti dulu. Setelah menjemput Rasya di sekolah, kami melanjutkan perjalanan ke pusat perbelanjaan di kotaku. Jarak antara pusat perbelanjaan dengan sekolah Rasya cukup jauh. Jalanan macet juga jadi alasan memperlambat perjalanan kami. "Ibu, kita mau ke mana, sih?" tanya Rasya pada Mbak Dina. Ya, sejak kecil Rasya memang memanggil Mbak Dina dengan sebutan Ibu. Mbak Dina dan Mas Ramli—suami Mbak Dina, sangat menyayangi Rasya seperti anak kandungnya sendiri. Maklum, di usia pernikahan hampir menginjak enam belas tahun, Mbak Dina dan Mas Ramli belum juga diberi kepercayaan oleh Allah. Jadi mereka berdua sangat menyayangi Rasya—keponakannya seperti anak kandungnya sendiri. "Kita mau jalan-jalan. Rasya suka nggak?" tanya Mbak Dina menggoda Rasya. "Suka, dong, Bu. Sudah lama Rasya nggak jalan-jalan sama Papa dan Mama. Kata Mama, Papa sekarang sibuk dan sering lembur, Bu." Bocah kecil itu bercerita tentang apa keinginannya selama ini pada Mbak Dina. Wajah yang tadinya semringah kini berubah muram. Aku dan Mbak Dina saling pandang ketika mendengar keluh kesah Rasya. "Ya sudah, sekarang Mama dan Rasya jalan-jalannya sama Ibu aja, ya? Papa Rasya kan sibuk." Mbak Dina berusaha untuk membujuk Rasya, agar tidak lagi sedih. Rasya mengangguk antusias mendengar penuturan ibunya. Sesampainya di pusat perbelanjaan, Mbak Dina menyuruh aku dan Rasya untuk membeli barang-barang yang kami butuh dan suka. Aku dan Rasya berjalan melihat aneka tas dan sepatu sekolah. Kebetulan sepatu Rasya sudah kekecilan. Bukannya aku tidak mampu membelikan, hanya saja Mas Didi tidak pernah mengizinkan aku pergi keluar rumah sendiri tanpanya. Ingin berbelanja online, tak ada alat yang dapat kugunakan. Ponsel canggih saja baru saja kudapat atas pemberian Mbak Dina. "Ma, sepatu ini bagus, aku mau yang ini, dong!" jerit Rasya membuyarkan lamunanku akan nasibku selama ini. "Kalau Rasya suka ambil aja, Nak! Apa yang kamu mau boleh kamu beli!" perintah Mbak Dina pada Rasya. Saat aku tengah membantu Rasya memilih sepatu yang cocok untuknya, seseorang menepuk pundakku. Ketika aku menoleh aku sangat terkejut melihat orang yang kini berdiri di hadapanku. Seolah aku tidak percaya dengan kehadirannya. Next ....
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
sangat bagusss
21/09
0mengharukan cerita nya....
02/08
0Amazing
14/07/2025
0Ver Todos