Sepulang sekolah geng Swak masih ada di dalam kelas saat yang lainnnya sudah keluar kelas. Mereka segera mengeluarkan kertas untuk membuat voting setiap siswa. mereka akan memanipulasi seolah-olah Hana yang menang dan dipilih menjadi wakil ketua kelas. Zink memotong kertas, Ilen menulis hasil voting, Goni membuat wadah hasil voting, dan Jefri berjaga di pintu kelas. Takut nanti ada yang curiga. "Cepet dong motongnya Jin, keburu ada yang ke sini lagi..." Ilen yang tak sabaran terus membuat Zink bekerja cepat. "Santai dong bhrayy... siapa juga yang mau balik lagi? Males Gilak. Jalan jauh juga lho dari parkiran ke sini. Lagian nggak ada apapun di sini, nggak ada barang yang tertinggal juga..." jawab Zink dengan santai. "Nanti keburu pak Saif pulang..." Ilen masih saja khawatir dan tergesa-gesa. "Pak Saif itu pulangnya jam tengah empat. Dia kan mau ngasih jam tambahan buat kelas dua belas. Santai bhrayy....santai kayak di pantai aja..." "Yaudah kalau gitu. Kalau sampai ada apa-apa Lo ya yang harus tanggung jawab." "Okay, fine. " Ilen kembali menulis dengan cepat sampai-sampai tulisannya sulit dibaca seperti tulisan dokter. Sementara Zink memotong kertas dengan santai sambil mendengarkan musik melalui handphone nya. "Gawat...gawat... ada pak kebon ke sini..." jeritnya Jefri yang membuat Ilen dan Goni kelabakan bahkan Zink yang santai ikut kelabakan. Ilen langsung memasukkan kertas-kertas ke dalam laci dan Goni melempar wadah yang hampir selesai ke belakang lemari. "Halo, Pak..." sapa Ilen dengan senyum senyum, membuat pak Kebon mengernyit sambil menatap mereka satu persatu. "Kenapa kalian masih ada di sini?" "Kerja kelompok, Pak," jawab Zink "Tapi bapak mau bersihin kelas, kalian bisa pindah nggak? Pindah aja ya," Pak Kebon berkata dengan maksud agar mereka pindah dan pergi dari ruangan. "Tapi, Pak ini tugas penting dan harus selesai hari ini." kata Jefri. "Iya, Pak. Kita nggak bisa membuang-buang waktu." tambah Goni. Pak Kebon terlihat terdiam sambil berpikir. "Iya Pak...ayolah Pak... kasihanilah kita..." ujar Ilen dengan puppy eye nya. Pak Kebon pun luluh melihat muka-muka geng Swak yang memelas. "Yaudah bapak izinin kalian masih ada di sini." "Yey!!!" mereka bersorak girang. "Tapi...kalian harus gantiin bapak bersihin kelas ini setelah ngerjain tugas." "Yah..." semua serentak mengeluh. "Mau tidak?" Kalau nggak mau yaudah...kalian keluar dari sini..." Pak Kebon sudah mau mengepel lantai. "Eitttt jangan Pak...Ok...ok kita setuju," Ilen memberi keputusan cepat. Pak Kebon pun tersenyum dan meninggalkan pel juga ember di kelas. Lalu ia melenggang keluar. "Gara-gara elu sih, Len. Kita jadi sengsara kayak gini." ujar Goni . "Iya, iya. Sorry. Gue juga nggak tahu kalau bakal kayak gini. Ya udahlah ya, kita kan best friend. Masak dimintai bantuan masih ada pamrihnya sih." "Lo juga minta bantuannya yang berat kayak gini..." "Yaelah cuma kayak gini, nanti gue aja yang ngepel kelas, Lo semua pulang aja deh..." ujar Ilen. "Nah gitu dong...Kan anak pinter jadinya..." ujar Goni sambil mendekat ke arah Ilen sambil membawa wadahnya yang sudah jadi. "Wihh udah jadi ni?" tanya Ilen "Bayar dulu..." ujar Goni saat Ilen akan mengambil wadahnya Goni segera menarik ke atas agar Ilen gak bisa mengambil. "Hishhh...yaudah iya besok gue traktir Lo makan bakso di kantin. Kalian bertiga nanti gue traktir." ucap Ilen yang dibalas dengan wajah sumringah oleh ketiga sahabatnya. Goni pun segera menyerahkan wadahnya, lalu masukkan kertas dan mencatat hasil voting yang sudah dimanipulasi hasilnya. Goni dan Jefri pamit pulang duluan sementara itu Ilen ditemani Zink ke kantor guru. Zink menunggu di luar dan Ilen masuk ke dalam menemui Pak Saif, wali kelasnya. "Assalamualaikum, permisi, Pak. Ini daftar struktur pengurus kelasnya." "Waalaikumussalam, ya." Pak Saif menerima dan langsung membacanya. "Lho kok ini yang jadi wakil kamu Hana? Bukannya tadi dia nggak mau? Apa Hana sudah berubah pikiran?" tanya Pak Saif. "Hana emang gak mau Pak, tapi ini udah hasil mutlak dari teman satu kelas kalau Hana yang jadi ketua kelasnya. Jadi Hana tidak bisa menolak karena hasil voting kelas sudah membuktikan." ujar Ilen. "Ada buktinya?" "Ow, tenang aja, Pak. Tentu Ada. Ini, Pak." Ilen menyerahkan kertas hasil voting, wadah hasil voting kepada Pak Saif. Pak Saif pun manggut-manggut. "Yaudah kalau memang kayak gitu. Ini saya simpan ya." "Iya, Pak. Ini berarti sudah tidak ada masalah kan Pak? Kalau tidak ada saya boleh pamit kan Pak? " tanya Ilen. "O, iya. Silakan...silakan..." "Pamit dulu ya, Pak. Assalamualaikum..." "Waalaikumussalam."
Ilen pun pergi meninggalkan kantor. Ia tersenyum penuh kemenangan. "Jangan seneng dulu bhrayy... masih ngepel kelas...ingat itu.." ujar Zink yang membuat mood Ilen seketika merosot. "Iya...iya gue tahu. Lo mau bantuin gue apa nggak?" tanya Ilen. "Bingung nih... nyokap gue nyuruh gue antar kue ke pelanggan nih..." "Yaudah pulang aja. Gue gak papa kok. Udah biasa juga ngepel rumah tetangga." jawab Ilen. "Beneran Len?" tanya Zink. Ilen langsung mendorong Zink menuju parkiran. "Udah sana pergi, balik sini besok lagi." ucap Ilen yang membuat Zink tertawa. "Yaiyalah besok, kan besok sekolah lagi. Jelas gue ke sini lah." "Ya, semoga Lo sehat jadi nggak absen kelas." "Wah lo tadi pasti doain gue sakit ya.." "Iya, biar gue gak nraktir Lo, biar ngirit, hahahaha..." "Heh ponakannya Dajjal ya?" "Hih, nauzubillahimindzalik. Dah sono pergi..." Ilen mendorong Zink agar cepat pergi, Zink pun segera makai helm, naik motor dan pergi sambil melambaikan tangan ke Ilen. Ilen mengabaikan lamabaian tangan Zink dan langsung ngacir ke kelas 12. Apalagi kalau bukan TP TP. Dia berjalan stay cool melewati kelas 12 dan turun melewati kelas 11. Saat itulah ia dicegat kakak tingkat sambil membawa pensil merk pilot. Ilen pun tiba-tiba gugup apalagi saat mulai banyak pasang mata yang melihatnya. "Ilen..." Ilen pun hanya diam mematung di depan kakak tingkat, berambut panjang yang digerai dengan bando yang menghiasi kepalanya. Cantik tapi Ilen gak tertarik. "Aku Putri Candrika, maukah kamu menjadi kekasihku? Kalau kamu mau ambil bolpen pilot ini. " Tubuh Ilen gemetar, ia bagaikan patung yang hampir runtuh. "Ayok jawabb!" bentak seorang cowok yang ada di dekat kakak kelas itu. Ilen jadi kesal ia pun tak gemetar lagi. Ia marah karena merasa dirinya adalah tontonan gratis yang dipersembahkan untuk hiburan semata. "Sorry," jawab Ilen singkat. "Okey, Vienna. Kamu gagal masuk eskul teater. Coba lagi pendaftaran berikutnya." ujar cowok yang tadi membentak Ilen. Ilen jadi bingung apalagi saat melihat kakak tingkat yang menembaknya tadi hampir nangis. "Fu*k! Gue gagal gara-gara bocah tengil kayak Lo yang gak Nerima gue. Gue gagal masuk eskul teater, eskul yang gue impi-impikan!" setelah marah-marah kakak kelas itu lalu pergi meninggalkan Ilen. What??? Gue dimarahin kakak kelas gara-gara seleksi masuk eskul teater yang nggak jelas itu? Fu*ck! Dahlah muka gue udah gak ganteng lagi... Ilen pun berjalan menuju kelasnya di 10 IPA 2. Saat masuk kelas ia begitu terkejut saat ada Hana di di dalam kelas Ia duduk menatapnya yang sangat terkejut dan tak menyangka. Berkali-kali Ilen mengucek matanya, tapi ini bukan mimpi dan Hana juga bukan ilusi. Hana nyata ada di dalam kelas dan sekarang sedang menatap datar ke arahnya.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
menjiwai seakan masuk kedalam cerita
16/08/2022
0ini sangat bagus
21/04/2025
1cerita sangat bagus
16/03/2025
0Ver Todos