Saat istirahat Ilen terus memikirkan cara agar Hana bisa terjebak dalam perangkapnya dan mau tidak mau ia harus menjadi wakilnya. Batas pengumpulan struktur kelas adalah hari ini. Sepulang sekolah ia harus menyerahkan hasil struktur kelas ke wali kelas di kantor. Semua bidang sudah terisi mulai dari sekretaris, bendahara, semua sie, dll. Hanya wakil ketua kelas yang belum terisi dan ia sangat mengincar Hana untuk menjadi wakilnya. Saran dari gengnya untuk memilih Tari tidak akan ia ambil karena ia tahu Tari suka kepadanya. Ia nggak mungkin bekerja sama dengan orang yang menyukainya. Bisa mati gaya dia. Sambil makan bakso di kantin ia terus berpikir dan berpikir sampai nggak sadar kalau baksonya sudah diambil Goni satu. Jefri dan Zink pun hanya ngekek dalam diam aja lihat Ilen bengong sambil makan dan Goni yang dengan lahap makan bakso di mangkuk nya. Karena merasa kasihan akhirnya Zink menyenggol bahunya. Membuat Ilen terkesiap. "Apaan sih, Jin..." " Lo kenapa bengong terus dari tadi?" "Gue mikir caraa buat Si Hana itu biar bisa jadi wakil gue." "Yaelah kenapa harus Hana sih, bhrayy? Gue aja Napa? badan udah gede, juga," ujar Goni dengan santai. "Lo mah gede badan doang, otak Lo ompong..." "Apa? sekali lagi coba..." Goni melipat lengannya yang membuat Ilen langsung minta ampun. Bibirnya aja masih kerasa masih panas. "Kenapa sih Lo kukuh banget sama si Hana?" kali ini Zink yang bertanya. Ia ingin memastikan apa alasan Ilen yang sebenarnya. Padahal yang pintar bukan hanya Hana, ada Sita yang peringkat 3 nilai tes masuk SMA Lurus Maju setelah Ilen. Ada juga Banu yang peringkat 4 dan di peringkat 5 ada Laura, tapi beda kelas sih. Hehe. Ilen tinggal milih tanpa perlu susah-susah memaksa Hana. Meskipun memang Hana ada di peringkat pertama. Dan itu cukup membuat Ilen keki saat ia sebagai laki-laki harus berada di peringkat kedua. Tapi masak hanya cuma karena Hana peringkat pertama dan ia sampai segitunya? Bukankah kualifikasi menjadi wakil ketua tidak harus pintar? kan yang penting bisa diajak kerjasama dan mengayomi? "Peringkat pertama bhrayyy... Dia peringkat pertama dan gue peringkat kedua, ada dalam satu kelas. Kelas 10 IPA 2. Kalau gue dan dia jadi ketua dan wakil pasti cocok banget kan?" ujar Ilen dengan mantap. Meskipun berkata dengan mantap hanya Zink yang masih mencurigai alasan Ilen. Zink tahu bahwa Ilen adalah orang yang sangat berambisi sekali. Ada sifat-sifat dan kisah masa lalu yang mungkin akan terulang lagi. Zink hanya menebak dalam pikirannya alasan sebenarnya Ilen memaksa Hana menjadi wakilnya. Zink tak mau menjadi sahabat yang menjerumuskan, ia pun turut memikirkan cara agar ia bisa menciptakan alur yang baik tetapi tetap bisa mewujudkan keinginan Ilen. Kalau dipikir pikir Ilen dan Hana seru juga kalau bisa bekerja sama. Siapa tahu ketakutan Ilen bisa hilang saat banyak berinteraksi dengan cewek. "Gue punya saran buat Lo bhrayyy..." ucap Zink kemudian sambil menepuk pundak Ilen. Ilen jadi sumringah, "Apa? Apa? Cepet ngomong..." "Giman kalau Lo langsung tulis nama dia di daftar struktur pengurus kelas. Kalau dia protes ke wali kelas karena tiba-tiba jadi wakil ketua bilang aja kalau Lo udah voting sama teman-teman satu kelas dan suara terbanyak adalah milik Hana. Biar lebih meyakinkan kita buat kotak suara palsu dan kita serahkan ke wali kelas, biarin kita bohong yang penting kan wali kelas percaya dan si Hana nggak akan bisa berbuat apa-apa. Ia pasti mau gak mau menjadi wakil Lo, dan berhasil deh...Gimana ide gue? Smart kan?" "Double smart bhrayy, Lo temen gue paling best.. yok kita langsung eksekusi..." ucap Ilen dengan bersemangat. "Ntar...ntar...ini beneran?" tanya Goni. "Lo ngomong kayak nggak ada arainya, Jin," sahut Jefri. "Heh, ini itu ide bagus dan gue yakin ini akan berhasil. Kalau kalian berdua nggak mau yaudah biar gue dan Zink aja yang eksekusi ide ini." Ilen membalas keraguan Goni dan Jefri. "Yaudah by... kita nggak ikutan, kita berdua mau balik ke kelas aja. Ini juga udah bel masuk kelas. Dah... selamat menjalankan misi....semoga berhasil ya bhrayyy..." Goni berkata dan ia bersama Jefri langsung cabut ke kelas meninggalkan Ilen yang jadi emosi dan Zink yang masih santai sambil minum es teh. " Yuk ke kelas, " ajak Zink setelah mengabiskan es tehnya. "Lo juga mau jadi bangke kayak mereka berdua?" tanya Ilen dengan sengit. "Lo kenapa sih? PMS? " "Kita kan mau eksekusi ke kantor.." " Ya nggak sekarang juga bhrayy, nanti sepulang sekolah ya...Kita sekarang masuk kelas, belajar yang rajin biar masuk PTN ya..." "O iya bener juga kata Lo. Batas pengumpulannya kan nanti sepulang. Yaudah yuk capcus ke kelas." Amarah Ilen seketika mereda dan dengan santai mengajak Zink ke kelas. Zink hanya bisa mengusap dadanya. Kayaknya ia harus memperpanjang ukuran ususnya agar lebih sabar lagi. Sementara Ilen berjalan sambil bersiul. Ia benar-benar adik kelas tengil dan sok banget. Semakin banyak yang melihatnya maka dia semakin bergaya. Pokoknya dia harus mengeluarkan seluruh aura kegantengannya biar banyak cowok yang iri dan ia semakin bersyukur atas apa yang ada pada dirinya. Sungguh konsep hidup yang paling absurd. Lihat aja kalau ditembak cewek pasti langsung keki dan mati gaya. Apalagi kalau di depan orang yang ia sukai.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
menjiwai seakan masuk kedalam cerita
16/08/2022
0ini sangat bagus
21/04/2025
1cerita sangat bagus
16/03/2025
0Ver Todos