Luna memasuki pintu unit apartemen yang ditempatinya bersama Bela. Luna menduga bahwa Bela pasti sedang tidak ada di apartemen. Biasanya, Bela sedang berkencan apabila dia pulang lebih cepat dari lapangan. “Wuih, sampe malem lu?” Bela yang sedang menonton televisi di ruang duduk apartemen menyapa Luna yang baru saja masuk. “Gue kira lu nggak ada Bel, tumben ada di rumah jam segini,” jawab Luna pada Bela sambil melepaskan sepatunya. “Lagi menstruasi, kagak bisa kemana-mana,” jawab Bela sambil tertawa. “Dasar lu, udahan kenapa Bel?,” Luna bertanya sambil menjatuhkan badannya di kursi sofa di samping Bela. “Tau deh Lun, gue juga capek sebenernya,” Bela menjawab sambil mengganti saluran televisi. Tampaknya tidak ada satupun yang benar-benar diminatinya. Luna menatap sahabatnya itu. Dia bisa merasakan kelelahan di wajah Bela. “Gue paham Bel,” jawabnya. Luna benar-benar merasa iba pada Bela. Bela sebenarnya tidak akan melakukan semua itu kalau dia tidak terpaksa. Bela mempunyai banyak tanggungan, orangtua, adik, dan anaknya dari pernikahan yang telah kandas. Semuanya hanya mengandalkan Bela sendiri sebagai tulang punggung keluarga. Ayah Bela sudah lama tiada. “Paham apa lu, anak kecil,” Bela terkekeh mengolok Luna. Luna tahu bahwa Bela berusaha lari dari sejuta perasaan yang berkecamuk di kepalanya. Luna tahu bahwa Bela selalu menghindar dari situasi yang dramatis. “Lu sebenernya capek ngejalanin itu semua kan?” Luna menjawab Bela sambil melirik televisi dengan acara yang berpindah-pindah setiap 3 detik. Luna kemudian merampas remote televisi itu dari tangan Bela. “Kenapa lu? Nggak bisa banget liat gue bahagia,” Bela menatap Luna dengan gaya sinis yang dibuat-buat. “Lu lari dari perasaan lu sendiri,” Luna menjawab sambi mematikan televisi. “Okelah ya, gue nggak lari. Gue lelah Lun. Gue capek harus jadi perempuan pemuas nafsu laki-laki, hampir setiap hari. Gue capek digerayangi oleh semua laki-laki itu tanpa ada rasa cinta, gue capek Lun, capek membiarkan tubuh gue jadi mainan mereka cuma karena mereka nggak puas dengan mainan yang udah mereka punya. Gue puas dijadiin kayak barang pinjaman, dipake terus dibuang begitu aja dengan banyak tingkah dan banyak gaya Lun. Tapi gue butuh duitnya, gue harus gedein anak gue yang Bapaknya nggak mau tau lagi, gue harus sekolahin adek gue sampe setinggi-tingginya biar nggak jadi kayak gue, gue harus angkat derajat keluarga gue biar nggak selalu dihina orang. Udah puas lu?” Bela merebut kembali remote televisi dari tangan Luna yang ternganga heran. Dia sebenarnya sama sekali tidak ingin menyinggung perasaan Bela. Luna benar-benar tidak ingin menyinggung perasaan Bela. Dia tidak tahu bahwa kata-katanya itu bisa membuat Bela berbicara seperti itu. Selama ini, Bela tidak pernah menunjukkan pemberontakan dalam hatinya itu pada Luna. Bela yang dikenal Luna selama ini adalah Bela yang selalu menikmati apapun yang ada dalam hidupnya. “Bel, maafin gue,” Luna merasa bersalah setelah mengetahui reaksi Bela padanya. “Apaan lu minta maaf segala. Gue kagak nyalahin lu tau,” jawab Bela sambil kembali ke kegiatan mengganti saluran televisi setiap menit. “Tapi gue beneran nggak bermaksud menyinggung perasaan lu, Bel,” suara Luna terdengar memelas, memohon maaf dari sahabatnya itu. “Beneran Lun, gue kagak marah sama lu. Lagian apa yang lu bilang bener kok Lun. Gue maksain diri. Gue maksain diri biar semuanya hidup enak sedangkan gue tersiksa banget. Harusnya gue sadar juga kalau nggak semuanya harus gue kejar kayak begitu. Gue nggak seharusnya ngambil risiko segede ini untuk memenuhi kebutuhan Lun,” sekarang giliran Aine yang mematikan televisi. Dia menatap Luna. Bela memutuskan untuk berbicara masalah perasaannya kali ini pada Luna. “Bel, gini aja. Gue masih nyimpen duit sisa dari Arya. Duit yang dulu dikasih buat operasi ayah gue. Gimana kalau kita pakai aja duit itu untuk bikin usaha. Kecil-kecilan aja nggak apa-apa Bel, namanya juga awal kan Bel,” Luna berbinar-binar menatap Bela. Bela memandang Luna dengan binar mata yang sama. “Gue juga punya simpanan dikit Lun, buat persiapan pendidikannya Zeta. Tapi bisa kita pakai dulu Lun,” Zeta adalah putri Bela yang tinggal bersama orang tua Bela di kota asalnya. “Nah, kita bikin coffee shop aja Bel, kecil-kecil dulu nggak apa-apa, walaupun yang sewanya Cuma bisa kita bayar per bulan juga nggak apa deh Bel. Ntar pelan-pelan kita bangun,” Luna menjadi sangat bersemangat. “Iya Lun, gue mau banget. Lu aja ambil pendidikan barista deh Lun. Lu suka nggak sih? Ntar gue ambil kursus kecil-kecilan aja, kursus bikin kue-kuenya gitu. Biar paling enggak kita nggak terlalu tergantung sama barista dan koki,” Bela justru memiliki ide lebih lanjut. Mereka berdua langsung setuju untuk melaksanakan itu semua. Setidaknya, mereka memiliki harapan dan impian untuk dicapai dan tidak merasa harus menjalani pekerjaan yang sebenarnya tidak mereka sukai dan tidak bisa untuk menjamin masa depan mereka. “Beneran ya, besok kita bikin planingnya lebih matang Bel, gue cari tempat kursus itu, sekalian kita survey lokasi. Kita hubungi aja tuh ruko-ruko yang disewakan. Kita cek juga gimana caranya cari-cari karyawan,” Luna sudah membayangkan coffee shop yang akan mereka buat dan bagaimana bahagianya mereka memiliki coffee shop itu bersama nanti. Bela bisa terbebas dari melakukan pekerjaan yang selama ini menyiksa batinnya. “Iya Lun, deal. Besok kita mulai ya. Kita bikin daftar apa aja keperluan kita, sekaligus kita hitung modalnya. Ntar kalo anggaran kita nggak cukup, gue masih bisa peras laki-laki hidung belang lagi buat nyukupin anggaran, hahaha ....” Bela terkekeh tapi Luna menggelengkan kepalanya. “Nggak, udah Bel. Gue nggak mau lu terus-terusan nyiksa diri lu. Udah deh, kita bangun aja dari apa yang kita punya,” Bela sebenarnya terharu mendengarkan jawaban dari sahabatnya itu. Dia tahu bahwa sebenarnya Luna tidak setuju pada pekerjaan “sampingan” tersebut. “Lun, makasih ya. Makasih udah nemenin gue, nggak menjauh dari gue walaupun gue wanita tuna susila gini,” Bela bersungguh-sungguh mengucapkan perasaannya pada temannya itu. Selama ini, memang hanya Luna yang menjadi temannya. Luna adalah teman yang memahami posisi Bela. “Iya Bel, jangan gitu dong. Gue jadi pingin terharu. Gue yang harusnya banyak terimakasih sama lu. Lu udah bantuin hidup gue banyak Bel. Apa yang lu dapat dari kerjaan lu itu juga lu bagi buat gue, biar kita bisa tinggal disini, biar gue bisa numpang sama lu,” Luna menatap Bela. Luna tahu bahwa Bela tulus membantunya selama ini. Selain Bela, tentu Luna tidak memiliki orang lain lagi di Jakarta. “Iya, iya, kita nggak usah sentimentil gini deh. Kan kita mau berjuang bersama nih. Hidup baik-baik, jadi orang bener, ya kan?” Bela terkekeh membalas tatapan Luna. “Eh, ngomong-ngomong gimana Bapak lu tadi?” Bela tiba-tiba teringat pada Arya yang pergi bersama Luna siang tadi. Luna membelalak menatap Bela, semua yang diceritakan Arya kepadanya terlintas dalam kepala Luna. “Lu tau nggak sih, dia itu sedih sama kehidupan dia. Dia itu sebenarnya memuja banget istrinya. Cuma istrinya itu tipe ibu rumah tangga yang baik banget, sampai lupa perhatiin Pak Arya,” Luna menjawab pertanyaan Bela sambil beranjak ke meja bar. Dari tadi mereka banyak berbicara dan membuat Luna merasa haus. “Ya, kayaknya sih gitu Lun. Mana ada orang libur-libur main golf sendirian juga, Cuma bareng Lorna aja tadi. Dari wajahnya aja gue tau lah dia lagi galau Lun. Makanya gue bilang ke lu supaya menghibur dia. Jadi lu udah hibur dia tadi,” Bela memperhatikan Luna yang selesai mengambil minum dan kembali ke sofa di sebelahnya. “Ya udah lumayan kali ya Bel. Tadi pas pulang dia seenggaknya udah ketawa lah,” Luna membalas perkataan Bela kemudian meneguk air dari gelas yang dibawanya. “Emang istri dia memperlakukan dia kayak gimana sih Lun? Tapi kayaknya istriya ceek baik-baik kok Lun, maksud gue dia nikah sama Pak Arya bukan Cuma karena mau duitnya aja,” Bela tidak bisa menyembunyikan keingintahuannya mengenai apa yang diceritakan Arya pada sahabatnya itu. “Ya baik-baik banget tau Bel. Dia itu berhenti kerja karena nikah sama Arya tanpa diminta Arya. Dia berhenti karena dia mau membaktikan diri jadi istri dan ibu yang baik. Dia sayang banget kok sama anak-anaknya Pak Arya dari pernikahan pertamanya. Dia jadi istri teladan banget lah Bel, yang nyediain makanan buat Pak Arya, ngurusin anak-anak. Saking dia itu ibu yang baik ya, dia sampe nggak mau gitu nemenin Pak Arya kemana-mana kalo pas anak-anaknya lagi nggak libur. Itu yang bikin Pak Arya jadi kesepian Bel,” Luna menceritakan semuanya pada Bela. Luna menceritakan itu semua uan dengan maksud membicarakan masalah Arya. Namun justru sebagai wujud empatinya terhadap apa yang dirasakan Arya. “Tapi ini udah bagus Pak Arya kagak cari-cari cewek di luar Lun, laki-laki lain kalau kayak gitu pasti udah ganas kemana-mana,” Bela terdengar menahan suaranya. Dia merasa tahu betul banyak lelaki yang merasa kesepian dalam kehidupan rumah tangga dan berakhir di ranjang bersamanya. Luna merasa ragu menceritakan kelanjutan kisah Arya pada Bela. “Lah, kenapa wajah lu yang berubah? Lu baper sama nasibnya Pak Arya?” Bela yang sudah memperhatikan wajah Luna menjadi bertanya-tanya. “Bukan gitu Bel, masalahnya Pak Arya ternyata punya istri lagi gara-gara kesepian itu juga. Dia nikah lagi sama pramugari, tapi ya sama aja. Nggak menemukan yang dia cari juga Bel,” mendengar jawaban itu Bela terdiam. Baru saja Bela menyangka bahwa masih ada laki-laki baik yang tidak tergoda untuk mengkhianati istrinya akibat percikan-percikan masalah rumah tangga, namun hal itu sudah terbantahkan. Arya juga ternyata bukan lelaki setia, begitulah yang ada di dalam pikiran Bela.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 34 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (43)
Toslam Barokah
oke 👍 ini adalah hasil
12d
0
Bubllegumverosa
Ceritanya bagus kak, Jangan Lupa mampir ke ceritaku ya , Rasa Sakit Gina-Seluas Laut 🫶🏻✨
oke 👍 ini adalah hasil
12d
0Ceritanya bagus kak, Jangan Lupa mampir ke ceritaku ya , Rasa Sakit Gina-Seluas Laut 🫶🏻✨
19/02
1bagus
20/08/2022
0Ver Todos