Alunan musik Jazz menjadi latar yang tepat untuk mengiringi derai hujan di luar. Langit mendung yang menggantung di atas sana tampak akan bertahan lama untuk beberapa waktu ke depan. Kulirik Sandi yang tengah sibuk menggerakan jemari di atas keyboard laptop. Begitu fokus menuangkan seluruh perhatian pada benda berlayar 14 inch itu. Sedari tadi dia memilih mempersiapkan berkas penting untuk apply beasiswa Dokter spesialis ke Johns Hopkins tahun depan, selagi menunggu hujan deras yang menahan kami di kafe ini seusai makan siang untuk sedikit mereda. Wajar saja kalau aku terus diabaikan sejak setengah jam lalu. Aku memandangi sisa-sisa nasi goreng di piring, kemudian berpindah pada gelas kopi dan jus yang sudah tandas. Ikut meringis samar karena teringat baru satu setengah jam lalu menghabiskan semangkuk besar bakso urat di kafetaria kampus. "Sorry ... kamu pasti bosan." Sandi serta-merta beralih menatapku. "Aku selesai sepuluh menit lagi. Nggak apa-apa, kan?" Aku menggeleng pelan. Sama sekali tidak keberatan kalau harus menunggu dia menyelesaikan pekerjaannya. Selain itu, di luar juga hujan masih terus menderai, otomatis menunggu sedikit lebih lama di kafe ini adalah pilihan yang tepat, mengingat mobil Sandi terparkir cukup jauh dari pintu kafe. Sudah pasti kami akan basah kuyup kalau nekat berlari menerobos hujan. "Kamu beneran jadi berangkat ke Maryland tahun depan?" tanyaku masih tak percaya. Padahal sudah sedari bulan lalu aku mengetahui rencana kepindahan studinya ini. Tapi tetap saja, rasanya sulit sekali membayangkan perpisahan panjang tersebut. Waktu yang sering kami habiskan bersama tak urung membuatku juga merasa kehilangan. Tak bisa dipungkiri, kehadiran Sandi selama beberapa tahun ini turut memberi warna berbeda pada keseharianku. Sama seperti Gio, Sandi adalah teman yang sama berharganya. "Hm." Dia membalas dengan anggukan yakin. "Mendalami spesialis bedah saraf sudah cukup lama jadi mimpi yang ingin aku wujudkan, Drey. Aku nggak mungkin melewatkan kesempatan ini." "Emang tante Voni udah setuju kamu ambil spesialis ke luar negeri? Bukannya selama ini dia selalu protektif berlebihan?" Aku mengingat kembali satu sosok yang sudah pasti paling dibuat uring-uringan oleh kepergian Sandi, selain aku dan Gio tentu saja. "Aku bahkan pernah dengar dari Gio, waktu kamu ikut program Dokter PPT ke Papua aja dia sampai rela nyeret semua orang rumah buat terjun langsung ke Asmat setiap enam bulan sekali, cuma buat mastiin kamu baik-baik di sana." Sandi terkekeh pelan saat aku mengungkit kembali sikap protektif tante Voni di awal-awal karirnya sebagai Dokter umum. "Awalnya Mami susah dibujuk, tapi lama-lama bisa luluh juga. Beliau cuma cemas berlebihan, tapi dia nggak seegois itu menghalangi mimpi anak-anaknya." Aku manggut-manggut memaklumi. Tante Voni memang cenderung berlebih terhadap anggota keluarganya. Gio bahkan sering mengeluhkan sikap posesif maminya itu padaku, yang membuatnya merasa seperti gadis perawan yang minim ruang gerak---saking sering mendapat teror telepon hampir tiap hari sejak cowok itu memilih tinggal nge-kos jauh dari rumah. Meskipun begitu, hubunganku dengan tante Voni juga tergolong dekat, wanita paruh baya itu selalu memperlakukanku seperti putri kandung sendiri. Maklum, di rumah mereka sama sekali tidak ada perempuan lain selain dirinya. Hidup bertahun-tahun bersama para lelaki cuek dan ripuh sungguh membuatnya kesepian. Makanya saat pertama kali Gio mengajakku main ke rumah di semester awal kuliah dulu, tante Voni adalah orang yang paling bersemangat. Dan di saat itulah awal mula bagaimana aku mengenal Sandi, kakak sepupu Gio yang sudah lama tinggal menetap bersama keluarga mereka. Aku kembali memandang dalam diam Sandi yang sudah berbalik ke mode serius pada layar pekerjaannya. Ketekunan dan jejak gigihnya yang mengantarkan dia jauh di titik ini, kadang mengundang rasa iri bagiku. Sebenarnya bukan cuma Sandi, tapi juga pada orang-orang di sekitar yang setidaknya tahu tujuan hidup dan apa yang mereka inginkan untuk masa depan mereka sendiri. Sangat berkebalikan jauh denganku. Jika membahas apapun soal mimpi, mungkin aku adalah salah satu manusia langka yang masih kelimpungan dengan apa yang benar-benar kuinginkan ke depannya. Di waktu sekolah dasar dulu, saat teman-teman sejawatku dengan lantang menyebutkan cita-cita mereka yang ingin menjadi guru, dokter, pilot, polisi, atau pekerjaan-pekerjaan lainnya, aku secara diplomatis hanya menjawab ingin menjadi orang sukses yang berguna bagi bangsa dan negara. Jawaban yang sampai sekarang selalu membuatku tertawa miris jika mengingatnya. Bagaimana ingin menjadi manusia sukses dan berguna? Memilih jurusan kuliah sebagai garis awal masa depanku saja aku begitu kesulitan. Aku masuk ke jurusan Akutansi ini pun tak lepas dari saran---bahkan setengah paksaan ayahku yang memang sudah lebih dulu berkecimpung di bidang itu. Ibuku yang berstatus sebagai guru sekolah dasar juga memberiku pilihan untuk mengikuti jejaknya sebagai sarjana pendidikan dan pegawai negeri sipil. Katanya, dengan menjadi PNS setidaknya masa tuaku akan terjamin finansialnya. Tentu saja aku menolak mentah-mentah saran tersebut. Jangankan menjadi guru dan mengajar di depan para siswa, disuruh maju menghafal perkalian di depan kelas waktu sekolah saja aku sudah merinding gemetar sekujur bulu kaki. Sebagai gantinya, aku lebih memilih mengikuti permintaan ayah sebagai solusi terakhir, karena tidak tahu harus jadi apa dan bagaimana di masa depan. "Drey?" Kurasakan kibasan tangan Sandi di depan wajahku. "Kenapa melamun?" "Oh." Aku mendadak kikuk karena kedapatan menatapnya dengan pikiran melayang kemana-mana. "Bukan apa-apa," jawabku memasang senyum salah tingkah. "Mau pesan minum lagi?" tawarnya, mengerling gelas minuman kami yang sudah kosong. "Boleh." Tanpa menunggu lama, dia lantas berdiri dari kursi dan bergerak menuju bagian konter untuk memesan. Sembari menunggu kedatangan Sandi, aku menopang dagu menatap deras hujan yang masih mengguyur jendela. Posisi tempat duduk kami yang langsung mengarah ke parkiran, membantuku dengan mudah mengamati suasana di luar sana. Kupandangi lama tetes air yang tak kunjung reda. Aku tidak ingin terjebak hujan sepanjang hari di sini. Bukan masalah keberatan berada lama-lama di dekat Sandi, sebaliknya, aku selalu menantikan setiap kebersamaan kami meski di waktu singkat sekalipun. Seandainya alarm peringatan deadline revisi tidak meraung sedari tadi di otakku, mungkin aku akan cukup menikmati jika semesta menjebak kami di tempat ini seharian penuh. Rasanya ingin kukutuk saja pelaku kejahatan yang tega menghancurkan momen berharga ini. Seakan belum puas menambah keluh kesahku, sebuah Range Rover hitam tiba-tiba masuk ke area parkiran dan berhenti manis di depan sana. Mendapati mobil dengan warna dan plat nomor yang sangat dikenali, sukses membuatku nyaris saja tersedak saliva sendiri. Belum cukup mengejutkan dengan segala kebetulan yang terjadi, sesosok pria tegap langsung ke luar dari dalam dan dengan sigap membuka payung senada warna bajunya. Berjalan mengitari mobil ke bagian pintu penumpang. Tak sampai hitungan menit, seorang wanita mengenakan balutan dress kasual ikut turun bergabung bersamanya di bawah payung. Dengan posesif, pria itu merangkul pinggang sang wanita agar lebih mendekat, keduanya terlihat hampir tak berjarak bernaung di bawah payung yang sama, melangkah hati-hati menuju.... Tunggu dulu! Mereka mau ke sini? Baru saja tersengat kesadaran, refleks aku bangkit mendadak dari kursi, hingga nyaris membuat kursi yang kududuki terbalik. Keributan tak terduga itu mau tak mau turut mengundang tatapan pelanggan lain di sekitar meja. Terlihat Sandi melangkah tergesa mendekatiku, masih memegang nampan membawa minuman kami. Namun, belum sempat ia bertanya, aku sudah lebih dulu beranjak melewatinya. "A-aku mau ke toilet dulu!" Hanya seruan singkat itu yang mampu kuberikan saat dia mencoba menahan langkahku. Dengan cepat aku berlari masuk ke toilet wanita tak jauh dari posisi meja kami. Bersembunyi di sana untuk alasan yang aku bahkan tak tahu jelas kenapa. Menyandarkan diri ke pintu berupaya menetralkan rasa terkejut yang ada. Aku memberengut frustasi. Dari sekian banyak skenario terburuk dalam hidupku, kenapa harus pertemuan kebetulan dengan dosen killer menyebalkan itu yang menjadi salah satunya? Najendra Anggara... Semesta sepertinya memang senang bermain-main denganku.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 26 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (151)
Lutviah Winarni
suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran
suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran
26/01/2022
0enak
10/04
0terbaik
02/04
0Ver Todos