Dari kejauhan, aku dapat mengenali punggung tegap Sandi yang berdiri membelakangiku, bersandar pada kap depan mobil. Tubuh tinggi dibalut kemeja polos berwarna biru laut, dipadu celana panjang hitam licin, serta kacamata bening yang selalu rutin membingkai di wajah orientalnya, membuat penampilan formal lelaki itu terlihat begitu mencolok di antara lalu-lalang mahasiswa di tempat ini. Satu tangannya terlihat bertumpu pada pinggiran grill mobil saat langkahku kian mendekat, sementara satu tangan lagi sibuk menggulir layar ponsel dalam genggamannya. Dia bahkan terlalu fokus menuangkan perhatian pada benda pipih tersebut, sampai-sampai ikut mengabaikan sekitar dan tak menyadari kehadiranku yang sudah berdiri tepat di sampingnya. Dari jarak sedekat ini, aku dapat mengintip sekilas apa yang menarik atensi lelaki itu sedari tadi. Halaman jurnal yang menampilkan bacaan dengan judul Patofisiologi yang terpampang nyata, seketika membuat kepalaku langsung pening dadakan. Astaga, bahkan di luar tempat kerja pun, dia masih saja bergulat dengan hal-hal berbau medis. "Udah lama?" sapaku berusaha mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. Sandi menoleh sesaat setelah menyadari kehadiranku. Lesung pipit kecil di ujung bawah bibirnya ketika tersenyum, sukses membuat irama jantung ini kalang kabut. Oh ayolah jantung, berkompromi lah sedikit. "Lumayan," balasnya singkat, lalu mengantongi kembali gawai ke dalam saku. "Kenapa teleponnya nggak diangkat? Aku bahkan minta Gio buat nyariin kamu ke dalam kampus." Oh, mulut manis Giovandra memang tidak pernah dapat dipercaya. Bisa-bisanya aku sempat berpikir dia menungguku karena rasa bersalah setelah melemparkanku dengan tidak tahu diri menghadapi mulut sarkas Pak Angga. "Sori, ponselnya aku silent, jadi nggak sempat kedengaran," ujarku seraya mengukir sunggingan rasa bersalah. Walau bagaimanapun, sikap lalaiku mengabaikan pesan dan panggilan masuk darinya bukanlah hal yang bijak. Apalagi sampai membuat dia menunggu cukup lama di parkiran kampus tanpa kabar. Cowok itu kini beringsut memposisikan diri menghadapku. Satu tangannya terulur mengusap salah satu bagian bawah mataku. "Kalau yang ini?" Aku mengerjap kaget merasakan sentuhan tak terduga itu. "Kenapa bisa nangis?" Refleks, aku ikut menyentuh bagian mataku yang terasa lembab. Aku sempat menangis? Sejak kapan? Kenapa aku sendiri bahkan tidak sadar sama sekali? Dengan kikuk, aku berdeham samar saat dia menurunkan sentuhan tangannya. "Mu-mungkin cuma kelilipan," jawabku asal. Menolak untuk mengatakan kesialan apa yang kulewati sebelum hendak menemuinya ke sini. Terserah alasannya terdengar masuk akal atau tidak. Yang jelas, mustahil bagiku membenarkan tebakannya barusan. Mana mungkin aku dengan santai mengakui kalau tadi aku memang habis nangis karena tidak sengaja memergoki mantan pacarku---yang hanya kupacari tiga minggu, kebetulan sedang berangkulan mesra bersama pacar barunya yang notabene adalah adikku, dan aku sebagai mantan yang terbuang, hanya bisa menatap kebahagiaan mereka dalam diam dari belakang seperti pecundang sejati. "Aku nggak apa-apa," timpalku lagi berupaya terlihat meyakinkan, mencoba terhindar dari tatapan intens yang dia tujukan. "Ja-jadi kita mau makan siang di mana?" Aku mengalihkan pembicaraan dengan mengingat tujuannya menjemputku di kampus siang ini. Tapi sialnya, entah kenapa suaraku justru kembali berubah gagap. Sandi tampak tersenyum tipis. "Aku nggak akan maksa kalau kamu nggak ingin cerita." Cowok itu kemudian sudah berpindah ke sisi pintu penumpang bagian depan dan membukanya. "Kita bisa cari kafe atau restoran terdekat di sekitar sini." Kalimat itu memang disampaikan dengan santai, tapi entah kenapa aku sontak ikut tersentil karena sepertinya usahaku untuk berbohong, dengan mudah terbaca olehnya. Sandi adalah sosok yang cukup peka terhadap orang-orang di sekitar, dan aku benar-benar ceroboh kalau berpikir sanggup mengelabuinya. Bukan apa-apa, sebagai wanita normal dengan jantung yang masih berfungsi sempurna, serangan perhatian mendadak seperti ini sanggup menambah debaran-debaran tak lazim di dalam sana. Aku tak ingin terkapar serangan jantung dadakan hanya karena jiwa jombloku meronta-ronta haus akan belaian. Apalagi setelah trauma putus cinta yang belum sembuh seutuhnya. Lagipula menyadari dari siapa perhatian ini berasal, rasanya ada jutaan tangan yang menamparku kembali pada kenyataan. Sadar Drey, sadar! Yang melakukan ini seorang Sandi Mahesa, pria terkenal paling ramah dan perhatian se-Jabodetabek. Haram hukumnya kalau sampai terbawa perasaan hanya karena sepenggal perlakuan manis. "Ada apa?" tanyanya saat melihatku masih bergeming di tempat semula, mengutuki kebodohanku barusan. "Atau kamu mungkin punya rekomendasi tempat makan siang yang lain?" Aku menggeleng pelan, seulas senyum kembali kusunggingkan. "Aku nggak keberatan makan di mana aja." Lalu kemudian ikut menempatkan diri pada kursi jok depan seraya bersandar dengan nyaman di sana. Sejujurnya, perut ini sudah cukup kenyang diisi semangkuk bakso di kafetaria tadi. Tapi menolak ajakan Sandi yang jauh-jauh kemari di tengah kesibukan pekerjaannya, pasti akan terkesan tidak sopan. Lagipula sebagai warna negara Indonesia sejati, makan siang tanpa nasi belum bisa dikatakan makan siang, kan? Sepanjang perjalanan, kami berdua mengobrol banyak hal. Sesekali juga Sandi menanyakan soal perkembangan skripsiku. Tanpa ragu aku mengeluarkan semua kekesalan beserta unek-unek yang ada, termasuk bagaimana menjengkelkannya dosen pembimbing keduaku yang irit empati itu. "Jadi kamu disuruh revisi dua bab dalam sehari?" Sandi tampak takjub mendengar curhatanku. Jangankan Sandi, patung Pancoran pun mungkin akan geleng-geleng kepala mendengarnya. "Dosen kamu kedengarannya punya kepribadian yang unik." "Aku bahkan heran masih bisa waras setelah beberapa kali berurusan sama dia," gerutuku masih tak habis pikir. Sandi spontan terkekeh pelan. "Dia mungkin nggak seburuk itu, Drey." Ya, ya, dia memang tidak seburuk itu, tapi justru jauh lebih menyebalkan dari itu. Pak Angga memang dari dulu terkenal sangat otoriter dalam menyiksa mahasiswa. Mulai dari deadline tugas-tugas kampus yang bikin gigi kepayang, sampai soal-soal UAS yang Google pun tak akan mampu memberi sontekan. Tak jarang lelaki itu kerap mendapat sumpah serapah mahasiswa di belakang. Aku sendiri selalu berusaha menghindari kelas mata kuliahnya sejak pertama kali merasakan kelas neraka itu di semester tiga dulu. Percayalah, mayat hidup masih akan terlihat manusiawi dibanding mahasiswa kucel karena jadwal padat tes bercampur tugas-tugas tanpa jeda seperti kami. Awalnya aku begitu bersyukur karena semenjak semester empat, kelasku selalu terhindar dari mata kuliah wajib dosen killer itu. Hanya ada beberapa mata kuliah pilihan di setiap semester berbeda yang mencantumkan namanya. Jangan tanya apa kelas kami ada yang mengambil mata kuliah pilihan tersebut, sudah pasti jawabannya 'TIDAK' karena kami masih waras. Bahkan Gio si otak cemerlang pun terlebih dulu mengangkat tangan jera. Sayangnya, langit sepertinya bersekongkol mengerjaiku. Lolos dari kandang singa, malah masuk ke mulut buaya. Percuma hampir tujuh semester merasakan kemerdekaan kalau ujung-ujungnya terjajah juga di semester-semester sekarat, semester di mana kata revisi jauh lebih menyakitkan dibanding ribuan foto mesra sang mantan. Berdasarkan pembagian dosen pembimbing skripsi setelah pengajuan judul penelitian, nama Najendra Anggara bersanding manis di samping nama Pak Tanto---dosen pembimbing akademikku, hingga secara otomatis mengantarkan dosen muda itu menjadi salah satu faktor penentu cepat lambatnya kelulusanku. Bahkan masih nyata di ingatanku ketika pertama kali muka sedatar tripleknya menatapku di konsultasi pertama kami. Aku tak akan melupakan ekspresi meremehkannya itu saat mengetahui status angkatanku yang tertera pada NIM di sampul proposal penelitian yang kuajukan. "Angkatan 2014? Dan kamu baru mengajukan proposal penelitian di saat seperti ini? Kenapa tidak sekalian saja tunggu jadi Lansia dulu baru ikut Wisuda." Semenjak hari itu aku mengutukmya hampir setiap hari karena selalu menelan kata-kata pedas dan sikap menjengkelkannya selama ini. Puncaknya adalah beberapa jam lalu, ketika ia dengan tanpa hati nurani memberiku deadline revisi yang sangat jauh dari kata beradab. Intinya, membenci makhluk searogan Najendra Anggara sudah menjadi bagian dari naluri alamiku.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 26 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (151)
Lutviah Winarni
suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran
suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran
26/01/2022
0enak
10/04
0terbaik
02/04
0Ver Todos