logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Remedi Rasa

Remedi Rasa

Snora


1. Mahasiswa Abadi

Kau tahu hal apa yang paling kubenci di dunia ini? Selalu berada di urutan terakhir dan tertinggal jauh dari yang lain. Tidak peduli seberapa besar aku membenci situasi ini, tetap tidak akan menutup fakta bahwa aku memang selalu terjebak di dalamnya. Karena memang itulah hidupku, sejak dulu hingga sekarang.
Lebih mudah menyebutkan berapa banyak kegagalan yang kulalui, ketimbang harus menjawab berapa banyak keberhasilan yang telah kuraih. Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali pernah mencapai sesuatu dalam hidupku. Rasanya semua yang kulakukan dan kerjakan selalu saja berujung kegagalan. Entah itu dalam persahabatan, cinta, keluarga, ataupun mimpi. 
"Drey, jangan bengong terus. Panas nih!"
Aku mendengkus mendengar suara menyebalkan Ribka yang membuyarkan lamunanku. Dia pikir cuma dia yang kepanasan di sini? Aku juga! Bahkan wajahku nyaris berganti kulit saking keringnya. Mereka sih enak, hanya perlu berdiri sambil berpose anggun memakai toga, sementara aku setengah mati harus kayang sana-sini demi mencari angel yang pas untuk foto mereka.
"Jangan dekat-dekat, Drey. Nanti kelihatan gendut. Mundur dikit lagi," perintah Lana seraya mengibas-ngibaskan tangannya mengusir panas.
"Ambilnya dari kanan, Drey. Pipi gue makin tembem kalo difoto dari kiri." Mia juga tak ketinggalan ikut memerintah.
Jangan tanya berapa banyak stok kesabaran yang kumiliki saat ini, karena aku juga tidak yakin berapa lama lagi mampu menahan diri untuk tidak mencabik-cabik bulu mata anti badai mereka.
Setelah satu jam bersusah payah menjadi tukang foto gratisan, akhirnya aku bisa bernapas lega beristirahat di kafetaria. Aku sengaja memilih kafetaria jurusan yang jauh dari auditorium agar dapat melarikan diri jika sewaktu-waktu Ribka cs kembali mencariku, mengingat ketiga orang itu cukup tidak tahu diri dalam merepotkan orang lain.
Miris memang, ketika sebagian besar teman-teman seangkatan sedang sibuk merayakan acara wisuda di gedung sebelah, aku dengan malangnya duduk sendirian di sini ditemani semangkuk bakso dan segelas Nutrisari.
Kalau dihitung, ini yang kelima kalinya aku lagi-lagi melewatkan wisuda. Bahkan beberapa mahasiswa dua angkatan di bawahku hari ini secara resmi telah menyandang gelar sarjana mereka. Ribka cs hanyalah bagian dari angkatan kami yang tersisa. Dan kemungkinan besar aku akan menjadi penunggu terakhir di angkatan ini. Ya Tuhan ... membayangkannya saja sudah sangat mengerikan.
"Daripada lo sibuk melamun, mending selesain tuh' revisi." Gio duduk di depanku membawa sepiring gorengan. Melihat wajah seseorang yang senasib, rasanya sedikit melegakan.
Gio adalah mahasiswa semester akhir sama sepertiku. Kami juga berasal dari kelas yang sama, hanya saja level Gio tentu berada jauh di atasku. Meski sama-sama berstatus sebagai mahasiswa nyaris expired, cowok itu setidaknya masih sanggup berjalan tegak di kampus ini.
Pasalnya, status Gio sebagai mantan ketua HIMAJU dan keterlibatannya di beberapa organisasi penting kampus, tidak mungkin dipandang sebelah mata. Selain itu, posisi menjadi asisten dosen sejak dua semester lalu juga mendukung nilai tambah cowok itu.
Satu-satunya alasan kenapa seorang Giovandra Asa belum melakukan sidang skripsi sampai sekarang, adalah kesibukannya sebagai mahasiswa kura-kura, alias kuliah rapat-kuliah rapat sampai membuatnya lupa diri dan lupa umur. Jadi jangan samakan denganku yang berada di situasi pelik ini karena sudah suratan takdir.
"Nikmati aja semua proses yang ada, Drey. Setiap orang punya masanya masing-masing, lo cuma perlu berusaha dan bersabar sedikit lagi."
Kata-kata Gio terucap tulus. Salah satu alasan kenapa aku cukup nyaman berteman dengan cowok ini karena sikap peduli dan rasa setia kawannya yang tinggi.
"Thanks, Gi." balasku tersenyum hangat.
"Astaga!" Gio tiba-tiba menepuk jidat. "Gue lupa kasih tahu kalau Pak Angga nyariin lo daritadi."
APA? Sontak aku langsung berdiri dari kursi menahan panik. "Ka-kapan?"
"Satu jam yang lalu. Sorry gue baru ingat sekarang."
Aku tarik kembali semua pujianku tentang Gio yang peduli dan setia kawan. Cowok ini sungguh pikun, tidak dapat diandalkan. Bagaimana bisa dia melupakan tugas sepenting ini dan menyebabkan orang lain berada dalam masalah?
Tanpa berpikir panjang, secepat mungkin aku segera angkat kaki dari kafetaria, berlari-lari kecil menuju ruang dosen. Karena terlalu sibuk membantu Ribka cs, aku sampai lupa mengecek ponselku yang selalu di-silent.
Gawat! Membuat Pak Angga kesal adalah bencana yang mati-matian ingin kuhindari. Masa depanku dipertaruhkan di tangan lelaki itu.
Sesampai di depan ruang dosen, aku mengatur napas untuk menenangkan diri, lalu berjinjit mengintip ke dalam mencari sosok menakutkan tersebut.
Seorang pria berkemeja navy di pojok ruangan tampak sibuk berkutat di depan laptopnya. Wajah datar ditambah tatapan dingin familiar itu langsung menarik perhatianku, atau lebih tepatnya menarik rasa takutku.
Tenang, Drey. Dia seratus persen manusia, bukan kanibal. Tidak perlu secemas ini. Belum ada mahasiswa yang mati hanya karena dibentak dosen pembimbing.
Berlandaskan keyakinan teguh dosen juga manusia, aku memberanikan diri melangkah masuk. Sisi baiknya, di ruangan ini hanya ada tiga dosen yang tersisa. Jadi tidak akan terlalu memalukan jika kemungkinan nanti Pak Angga menyalurkan kekesalannya padaku.
"Ma-maaf. Pak Angga nyari saya?"
Pria itu mengangkat wajah dan melirikku sekilas, lalu kembali lagi fokus pada laptopnya. Sial, aku dikacangi.
"Ada perlu apa ya, Pak?"
Pria itu tetap bergeming. Hanya suara ketikan keyboard menjadi satu-satunya pemecah kesunyian di antara kami. Pendendam juga dia ternyata. Sabar Drey sabar, anggap ini ujian. Aku berdiri diam seperti orang bodoh menunggu responnya.
Padahal lelaki itu hanya tujuh tahun lebih tua dariku, tapi sikapnya seolah-olah kami memiliki rentang umur teramat jauh. Kalau ada pilihan mengganti dosen pembimbing, sudah pasti kulakukan dari dulu. Namun sayang, sebagai mahasiswi berotak pas-pasan serta minim prestasi, aku tidak mungkin seenak jidat mengutarakan keberatan. Sadar diri, sadar posisi.
Selang 10 menit membuatku terabaikan, dia akhirnya mendongak.
"Kenapa baru muncul?" tanyanya dengan wajah tak bersahabat seperti biasa.
"Saya baru dengar dari Giovandra kalau Pak Angga nyari saya."
"Memangnya ponsel kamu cuma jadi pajangan? Saya bahkan sudah SMS dari satu jam yang lalu."
"Maaf, tapi tadi ponsel saya---"
"Kajian teori masih banyak yang kurang, latar belakang masalah juga masih tidak jelas. Kerjakan kembali bab satu dan dua, bawa hasil revisinya ke saya besok pagi." Dia menyodorkan lembar proposal skripsi yang kuajukan satu minggu lalu. Sekaligus menitahkan perintah yang dengan spontan membuatku terbelalak selebar mungkin.
"Be-besok? Maaf, maksud Bapak, semuanya?" Aku tak habis pikir dia memberi deadline mematikan seperti itu.
"Kalau tidak sanggup, kamu bisa ajukan surat permohonan mengganti pembimbing. Saya tidak keberatan sama sekali." Dia berujar tenang seraya kembali menunduk pada pekerjaan di hadapannya.
Yang benar saja! Kalau mengganti pembimbing semudah membalikkan telapak tangan, dengan senang hati pasti kulakukan. Siapa juga yang mau menghabiskan waktu dibimbing oleh dosen muda angkuh macam dia. Nyatanya daripada ribet urus persetujuan sana-sini, aku tidak punya pilihan selain bertahan dalam kondisi menyesakkan ini sesabar mungkin. Lagipula meskipun diganti, ke depannya belum tentu menjamin dia tidak akan mempersulitku, mengingat betapa pendendamnya dia.
"Ba-baik, Pak," sahutku bergumam pasrah. Terlalu tahu diri untuk membantah. "Akan saya antar revisinya besok pagi." Aku membungkuk sedikit, memberi hormat sebagai bentuk sopan-santun sebelum hendak meninggalkan ruangan.
"Audrey Mariska." Suaranya terdengar memanggil saat aku baru saja berbalik tiga langkah menjauh dari meja kerjanya.
"Ya?"
"Tolong lainkali jangan buang-buang waktu saya lagi. Belajarlah untuk lebih tepat waktu," ujarnya satir tanpa melepaskan pandangan dari layar laptop.
Aku hanya mampu mengukir senyum penuh pengertian dan mengangguk patuh. "Kalau begitu saya permisi, Pak."
***
Lain kali jangan buang-buang waktu saya lagi? 
Aku berdecak gemas mengulang setiap ucapan arogannya tadi. Apa dia pikir aku juga mau sengaja datang terlambat mengulur waktu dan berniat mangkir dari panggilannya seperti ini? Dia bahkan tidak mau merepotkan diri memberiku kesempatan untuk menjelaskan.
Kuusap kasar wajahku dengan air mengalir, menatap pantulan kekesalan pada cermin panjang di atas wastafel. Entah dosa apa yang telah kulakukan di masa lalu sampai harus bertemu manusia sejenis Najendra Anggara. Hah! Dunia pasti sedang bercanda.
Setelah puas memaki serta mengutuk pria itu di depan cermin, aku membereskan sisa-sisa tisu bekas yang tadi kupakai untuk mengelap wajah ke tempat sampah. Merapikan sedikit pakaian yang mencuat kusut, sebelum bergegas meraih tas selempangku keluar dari toilet ini. Menyeret langkah menuju tempat parkir.
Tidak ada kata yang dapat mendefinisikan seberapa buruk perasaanku hari ini. Tidak hanya cukup dibuat patah hati menghadiri acara wisuda orang lain---sekaligus menjadi tukang foto dadakan, berurusan dengan revisi kilat tanpa hati nurani dari seorang Najendra Anggara seolah menjadi pelengkap semua kesialan yang ada.
Namun sepertinya semesta masih belum cukup untuk bermain-main, kesialan itu semakin bertambah jelas saat belum terlalu jauh melewati area selasar gedung jurusan, langkahku spontan terayun memelan ketika tak jauh di depan sana, netraku menangkap dua sosok familiar yang berjalan saling berdampingan.
Tawa mereka yang masih bisa kutangkap samar-samar, membuat kedua kakiku terasa mati rasa untuk terus beranjak maju. Bahkan tak butuh waktu lama sampai berhenti sepenuhnya terpaku di tempat.
Dari pijakanku berdiri, aku hanya menatap punggung keduanya yang perlahan semakin menjauh ditelan jarak. Usapan hangat di kepala yang diberikan laki-laki itu pada gadis dalam rangkulannya, menjadi pemandangan terakhir yang bisa kusaksikan, sebelum mereka berdua benar-benar hilang dari pandangan.
Tanpa sadar, aku mengulas senyum miris. Bahkan sudah satu tahun berlalu, tapi rasa sakit itu masih terasa sama. Tak peduli berapa kali meyakinkan diri untuk melupakan segala yang pernah terjadi di masa lalu, memori yang terlanjur menjejaki kepala terlampau sulit untuk dihilangkan sepenuhnya.
Lebih bodohnya lagi, aku tak pernah bisa berhenti menjadi seorang pengecut yang selalu lebih dulu melarikan diri jika diperhadapkan pada situasi yang tanpa sengaja membawaku berpapasan dengan keduanya.
Padahal di sini yang seharusnya tenggelam dalam rasa bersalah adalah mereka.
Bukan aku.
Sebut saja diriku pecundang, idiot, atau apapun itu. Tidak berani bersikap tegas menangani para pengkhianat yang sudah menyakitiku.
Ini bukan pertama kali aku dibuat mati kutu berhadapan dengan mereka. Walau tahu betapa buruk dan menggelikan perbuatan mereka di masa lalu, aku masih dengan bodohnya berdiam diri tanpa mampu membalas.
Sebesar apapun rasa benci dan kekecewaan yang ada, aku lebih memilih menahan diri. Karena walau bagaimanapun, gadis dalam rangkulan itu, gadis yang akhirnya menjadi pilihan laki-laki itu, tak lain adalah Arabella. Satu-satunya adik yang kumiliki.
"Sebenarnya lo mau sampai kapan terus-terusan berdiri di sana?"
Aku tersentak mendengar suara yang tetiba membuyarkan lamunanku. Menoleh ke sisi kiri, sosok Gio tengah bersedekap menatap balik ke arahku seraya bersandar pada dinding selasar.
"Sejak kapan lo nangkring di situ?" Aku nyaris memekik saking terlalu terkejut akan kehadirannya yang tiba-tiba.
"Cukup lama," ujarnya seraya mengedikkan bahu sekilas. Dia mengurai sedekapnya, lalu mengayun langkah mendekat dan berhenti di depanku. "Mungkin terlalu lama buat menyaksikan muka bloon lo!"
Aku kembali mengulum senyum getir. "Gue benar-benar bodoh ya, Gi?"
"Ya memang," ujarnya santai tanpa rasa berdosa, hal yang dengan spontan mengundang pelototan tajamku. Namun alih-alih merasa bersalah, cowok itu hanya menunjukkan cengiran tengilnya, sehingga kejengkelanku bertambah naik dua kali lipat.
"Dasar bedebah sialan!" Baru saja aku berniat untuk menjitak kepala makhluk pecicilan itu, dia dengan gesit lebih dulu berkelit menghindar. Hanya dalam satu gerakan, seluruh tubuhnya sudah berpindah menyusup ke belakang punggungku dan menopangkan kedua tangannya seenak jidat ke bahuku.
"Jangan keseringan marah-marah, Drey, keriput lo udah lumer ke mana-mana. Emang lo mau, belum genap 25 tahun, tapi udah jadi nenek-nenek milenial?" ujarnya tak tahu diri. Kemudian mendorong pelan punggungku kembali melanjutkan langkah menuju parkiran.
"Lo ngapain di sini, sih? Bukannya tadi bilang sibuk mau konsultasi pembimbing?"
"Ya maunya, sih, gitu, tapi gimana gue bisa ikut konsultasi dengan tenang kalau gue belum memastikan lo bisa keluar selamat-selamat dari ruangan Pak Angga."
Bola mataku memutar muak. "Terima kasih banyak atas keteledoran seseorang," balasku sengit seraya menepis rangkulannya, diikuti tawa cekikan anak itu.
"Emhh ... Drey." Belum genap lima langkah aku menarik jarak, suara panggilan Gio membuatku otomatis berbalik menoleh padanya.
"Soal yang tadi ... gue bercanda." Dia terlihat menggaruk tengkuknya. "Lo nggak seburuk dan sebego itu. Yang harusnya nyesel di sini si bajingan itu, karena udah nyia-nyian perasaan cewek sebaik dan setulus lo." Lalu tanpa menunggu responku, dia segera berbalik dan buru-buru melangkah menjauh. Mengundang senyum tipis di bibirku menyaksikan sikap salah tingkahnya.
Bagi seseorang yang teramat pecicilan dan senang menista orang lain, selalu memberi kata-kata positif bukan gaya Gio sekali. Tapi menghabiskan pertemanan bertahun-tahun dengannya, membuat aku bisa mengenali dengan baik sisi tulus yang tersembunyi di balik semua tingkah menjengkelkannya selama ini.
Bagaimana pun juga, sejauh ini, hanya Gio lah yang selalu berdiri di sisiku. Bahkan setelah pengkhianatan Raskal, mantan sahabat yang pernah begitu lama mengisi hari-hariku, sekaligus orang pertama yang membuatku tahu bagaimana rasanya jatuh cinta dan patah hati di saat bersamaan.

Comentário do Livro (151)

  • avatar
    Lutviah Winarni

    suka banget dengan ceritanya, lucu ngegemesin, ilmu pengetahuannya jg ada..pokoknya komplit..bikin penasaran

    26/01/2022

      0
  • avatar
    ALFEANAMMAR

    enak

    10/04

      0
  • avatar
    Bilkis Allma

    terbaik

    02/04

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes