logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 5 Hasilnya Suspeck Kanker

Hari ini jadwal biopsi.
Adhelia dan Riki sudah berada di rumah sakit dan sudah bersiap untuk melakukan biopsi. Meski masih harus menunggu karena jadwalnya masih sekitar satu jam lagi.
“Bagaiman mba Adhelia sudah siap? Langsung biopsi ya," tanya dokter menyapa Adhelia, sebelum masuki ruangannya.
“Siap tidak siap Dok, tak ada pilihan” jawab Adhelia pasrah.
Adhelia berusaha mengikuti prosedur dan alur dari pengobatan akan dirinya, yaitu biopsi. Adhelia berpikir dokter tentu lebih paham akan hal ini, meski berat tetap dijalaninya.
“Semangat dong mba Adhelia.” Dokter memberikan semangat, lalu tersenyum ramah
“Iya Dok, semangat” jawab Adhelia pendek, sambil mengepalkan tangan dan senyum datar.
Dokter pun tersenyum melihat jawaban Adhelia, lalu melangkah masuki ruangan khusus dokter. Sementara Adhelia masih menunggu dipanggil oleh suster untuk memasuki ruangan.
"Semangat dek, jangan takut mas akan selalu bersamamu," ucap suaminya memberikan semangat.
"Iya mas. Bismillah, jangan tinggalkan aku apa pun keadaanya ya?" ungkap Adhelia.
“Insyaallah Dek.” Digengam tangan Adhelia yang mulai dingin.
Adhelia masih harus menunggu jadwal biopsi, ditemani suaminya yang setia memberikan dukungan dan semangat.
Hari ini Riki bisa menemani Adhelia ke rumah sakit, karena masih memiliki cuti tahunan. Adhelia berharap Riki selalu bisa menemaninya meski besok atau lusa mungkin tidak ada selalu menemaninya.
***

Setelah semua sudah siap, suster memanggil Adhelia untuk keruangan tindakan karena dokter sudah menunggu di sana.
Adhelia awalnya menolak menggunakan kursi roda, karena dirinya merasa sehat dan baik-baik saja. Ini hanya biopsi suntik bukan operasi besar pikir Adhelia. Akan tetapi prosedur tetapi harus dijalankan.
"Sudah siap Mba Adhelia?" tanya dokter onkologi itu, ketika Adhelia sudah berada di dalam ruangan.
"Insyaallah Dok," jawab Adhelia meski jatungnya terus berdetak kencang seperti sedang berlari.
“Gitu dong, harus semangat.”
Dokter onkologi selalu memberikan semangat dan selalu meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dokter dibantu oleh suster melakukan penyuntikan FNAB di jaring yang posisinya berada di benjolan itu.
Adhelia merasakan ngeri, meski itu jarumnya kecil yang namanya disuntik di payudara yang ada benjolannya tetap aja berasa sakit juga.
***
"Bagaimana rasanya?" tanya dokter, setelah selesai melakukan biopsi suntik FNAB.
"Lumayan Dok, tapi memang tidak sakit cuma ngeri aja rasanya Dok," ringis Adhelia, menahan ngeri.
"Belajar terbiasa ya dengan suntikan mulai sekarang," kelakar dokter onkologi itu dengan santai.
Mungkin dokter onkologi itu sudah terbiasa ketemu dengan para pasien kanker jadi pembawaan santai dan suka bercanda.
"Ya Allah Dok, harus terbiasa ya? Berarti besok-besok ketemu lagi dong," ucap Adhelia khawatir.
"Ya bisa jadi, ketemu suntikan terus. Makanya harus siap-siap," ucap dokter Dedi, panggilan dokter onkologi itu rasa-rasanya Adhelia akan sering bertemu dengannya.
"Baiklah Dok. Aku akan menyiapakan badan besi, bertulangkan baja biar kalau disuntik ini itu aku kuat ya Dok," canda Adhelia untuk menghilangkan tegang.
"Bagus itu, harus punya semangat begitu ya, jangan kendor."
"Iya Dok," ucap Adhelia.
"Sampai ketemu lagi, untuk melihat hasil laboratorium. Jangan telat lagi, ingat selang dua puluh hari aja bedanya satu centimeter ya mba Adhelia!" sindir dokter Dedi, karena memang butuh konsisten untuk proses pengobatan ini.
"Siap Dok, aku masih menyiapkan mental Dok," elak Adhelia beralasan, tersindir oleh ucapan dokter tadi.
"Wajar Mba, merasa takut, syok, tapi kadang benjolan itu cepat sekali membesar makanya kita harus bertindak cepat.”
Dokter memandang Adhelia lalu berganti ke Riki.
“Bapak, harus mendukung mba Adhelia ya. Biar semangat dan jangan takut," pesan dokter kepada Riki suami Adhelia.
"Siap Dok. Saya akan siaga empat deh," ucap Riki bercanda.
"Kalian harus saling support dan saling menguatkan, apa pun hasilnya besok."
"Baik Dok."
Ucapan dokter terus menyemangati Adhelia dan memberi saran kepada suaminya untuk selalu bersama dan saling memberikan semangat karena nanti kalau benar-benar diagnosis suspeck kanker peran suami sangat penting sekali untuk mensupport.

***
Hasil laboratorium.
Hari ini Adhelia tidak ikut ke rumah sakit, karena kondisi yang belum pulih hanya Riki yang menemui dokter.
"Bagaimana hasilnya Dok?" tanya Riki penasaran, meski tegang melanda.
"Hasil laboratorium sudah keluar Pak, mba Adhelia harus segera melaksanakan biopsi terbuka.”
"Biopsi lagi Dok?" tanya Riki heran.
"Iya, untuk memastikan supaya lebih akurat, hasil laboratorium ini menunjukan suspeck kanker Pak."
"Suspeck kanker Dok?" Ungkapnya mulai lemas.
"Iya benar, untuk hasil lebih lengkap dan akurat maka harus biopsi terbuka. Nanti kontrol lagi tepat waktu ya, soalnya langsung biopsi terbuka," papar dokter Dedi.
"Baik Dok, saya akan kontrol dua hari lagi. Terima kasih Dok atas waktunya," ucap Riki bergegas keluar ruangan rasanya di dalam ruangan oksigennya habis sehingga terasa sesak.
Riki diam sejenak lalu menarik napas dalam. Riki bingung nanti di rumah harus bicara apa dengan Adhelia, akan hasil laboratorium yang ternyata hasilnya suspeck kanker.
***
Riki harus berpikir jernih, mencari kata-kata yang tepat untuk hasil laboratorium hari ini. Adhelia istrinya pasti akan kaget dengan hasil laboratorium, bahkan dokter menyarankan harus cepat biopsi terbuka untuk memastikan jenis kankernya.
"Mas, bagaimana hasilnya?" Tanya Adhelia harap-harap cemas.
"Dek, kata dokter besok lusa harus biopsi terbuka."
"Ko biopsi lagi?" tanya Adhelia heran.
"Iya tapi ini biopsi terbuka, besok mas ke rumah sakit lagi untuk mengurus administrasi biopsi terbuka."
"Hasilnya apa?" Tanya Adhelia, bingung dan penasaran.
Riki menarik napas panjang, bersiap untuk memberikan jawaban atas pertanyaan Adhelia.
"Apa mas?" desak Adhelia tidak sabar.
"Hasilnya suspeck kanker dek, tapi dokter tidak mau gegabah makanya besok lusa biopsi terbuka supaya lengkap."
"Suspeck kanker mas," lirihnya.
Tak terasa Adhelia terduduk di lantai, semua yang ditakutkannya menjadi kenyataan.
Dunia terasa gelap, seperti berdiri sendiri di hutan belantara yang tidak tahu arah pulang. Sepi, senyap dan tak memiliki harapan pasti.
"Tenanglah, semoga hasil dari biopsi terbuka berbeda dek" Riki berusaha memeluk Adhelia, agar lebih tenang.
"Mas, ternyata penyakit ini terus saja menghantuiku." Teriak Adhelia, tidak peduli dengan kata-kata suaminya.
"Kenapa harus aku mas!" isaknya, tak terima akan hasil laboratorium.
"Karena Allah yakin kamu akan kuat dan semangat. Berharaplah hasil analisis hari ini salah dek, besok hasilnya lebih baik," ungkap Riki memberikan harapan.
Adhelia menggelengkan kepala dan terus menangis kencang, dia sudah tahu dirinya memiliki bakat yang sama dengan mama dan sekarang hasilnya benar-benar tidak sesuai harapannya.
Benar-benar buruk dan menyakitkan.
Riki terus memeluk Adhelia erat, takut Adhelia tak terkendali dan melakukan hal-hal nekat.
Adhelia terus berpikir, apakah Allah sedang menguji dirinya? Atau Allah tidak berpihak kepadanya?

Comentário do Livro (89)

  • avatar
    HendartoFarid

    tegar. ini kisah pilu tetapi meninggalkan pesan moral yang berarti. sang pencipta memiliki janji yang lebih baik.

    06/02/2022

      1
  • avatar
    Herofah

    judulnya menarik, mengecoh pembaca saat membaca blurbnya... kisah yang pasti dipenuhi dengan bawang... semangat kakak...

    06/02/2022

      1
  • avatar
    umi kalsum

    Suku bangetttttt😍

    01/09/2024

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes