Perkuliahan baru saja selesai. Bendot langsung keluar kelas, sesaat setelah Pak Dodik mengakhiri kelas. Baru beberapa langkah, dia balik lagi. "Yun, gua kagak jadi ke tempat lo! Mia minta dianter ke Paskal. Jangan ngambek yak ntar gua kirim kue. Ok?" Aku mengangguk sambil menempelkan ibu jari dan telunjuk membentuk huruf O. Baru akan mengangkat badan, Lucky menghampiriku. "Yun, gue nggak jadi maen. Mama dateng dari Tasik. Nanti gue bagi, deh, oleh-olehnya " Lucky juga batal main ke kost'an aku. "Ok, gpp santai aja. Ditunggu oleh-olehnya hehehehe ...." Lucky tertawa lalu menepuk puncak kepalaku. Tidak lama dia langsung pamit pulang lebih dulu. Rika berdecak melihat interaksiku dengan Lucky. "Lo tuh ya, nggak punya cowo tapi punya banyak TTM. Baru nyadar gue." Aku mengerutkan kedua alisku. Tidak mengerti maksud perkataan Rika. "Maksudnya?" "Iya itu Bendot sama Lucky. Mereka lagi bersaing buat deket-deket lo." Aku terbahak mendengar gurauan Rika. "Ya ampun, lo tuh ya kalo ngelawak jangan lucu-lucu napa ... sampe kram nih perut," sahutku tanpa meredam tawa. "Siapa yang ngelawak?!! Gue serius, Markonaah!!" Melihat reaksi Rika yang ngegas aku langsung kicep. Tutup mulut lebih baik dari pada Rika makin emosi. "Dengerin gue! Bendot sama Lucky itu beneran lagi pdkt sama lo. Ini penilaian gue ya. Gue objektif nih ... nggak pake hati atau perasaan. Setelah gue lihat dari tingkah laku mereka ke elo. Perhatian mereka ke elo nggak sama kayak ke cewe lain di kelas kita. Nyadar nggak, sih, lo?" Aku bengong mendengar penjelasan Rika. Kok bisa Rika punya pikiran seperti itu? Mereka itu, kan .... "Apa? Mau nyanggah? Bendot cuma anggep lo adek. Lucky cuma anggap lo mak comblang. Gitu?" Aku mengangguk. Rika mendesah lalu meremas kedua telapak tangannya. "Hadeeeh! Gemes gue! Lo pinter tapi oon. Terserahlah lo percaya atau nggak sama penilaian gue. Pokoknya menurut gue mereka itu cuma MODUS! Aslinya mereka emang pdkt sama lo!" "Mungkin itu nggak akan terbukti dalam waktu dekat, karena menurut gue, mereka lagi nunggu waktu yang tepat. Anjir! Mereka lumayan lihai juga sih .... Gue aja sampe terkecoh, apalagi lo yang masih polos bin oon." Rika pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih bengong. Aku cuma bisa mengedipkan mata, bingung mau komen apa. Tidak masuk di otakku. --- Akhirnya bisa rebahan juga. Aku ambil ponsel dari tas, mengecek apakah ada pesan atau misscall. Oh iya, tadi ada pesan masuk. +62835xxxxxxxxx : Assalamu'alaikum, Yuna. Ini mbak Evi kakaknya Evan. Kamu sibuk nggak? Bisa mbak telfon kamu? Mbak Evi? Ada apa ya, tumben. Me : Wa'alaikum salam, Mbak. Maaf baru sempat balas. Silahkan kalau mau telfon. Aku sudah di kost'an. Haduh jadi deg-degan. Ada apa ya Mbak Evi mau telfon. Eits langsung bunyi nih... +62835xxxxxxxx calling "Assalamu'alaikum, Yuna" "Wa'alaikum salam, Mbak. Apa kabar?" tanyaku basa-basi. "Alhamdulillah baik. Yuna sehat 'kan?" "Alhamdulillah sehat, Mbak." "Alhamdulillah. Yuna, Mbak mau ngerepotin kamu, nih. Aslinya nggak enak banget sih harus ngerepotin kamu. Tapi Mbak bingung harus minta tolong sama siapa lagi?" Mbak Evi mau minta tolong apa ya? Suaranya panik seperti itu. Dia bukan mau pinjam uang kan ya? Tolol! Kenapa kepikiran seperti itu sih, Yuna ... "Mau minta tolong apa, Mbak? Mudah-mudahan aku bisa bantu," sahutku dengan nada lembut. Meski aku tidak tahu bisa bantu atau tidak, minimal bisa bantu menenangkan dia dengan suaraku yang lembut ini. "Hem ... gini, Yun. Aduh ngomongnya gimana ya?" Haduuh aku makin deg-degan. Ini Mbak Evi sedang mengerjai aku atau bagaimana? Kok, bikin panik begini? "Yuna, Mbak Evi minta tolong. Tolong kamu kirimkan makanan buat Evan. Evan sedang demam. Dia kalau sakit susah makan. Sedangkan Ibu juga aku nggak bisa ke Bandung. Bisa nggak? Mau sehari sekali atau dua kali, bebas sesempetnya Yuna aja. Syukur-syukur bisa sehari tiga kali kirim makanan ke Evan" cerocos Mbak Evi tanpa jeda di seberang sana. Sepertinya benar Mbak Evi sedang mengerjai aku. "Halo Yun ... kamu bisa 'kan?" "I ... iya, Mbak " "Alhamdulillah, makasih ya, Yun." Hah?! Loh kok? "E ... eh maksudnya aku, ini Mbak serius minta tolong aku kirim makanan ke Kak Evan?" "Iya, Yun. Kamu bisa kan? Please, tolongin Mbak." "Tapi aku kan nggak tahu alamat kost'an Kak Evan. Harus kirim kemana?" "Nanti Mbak kasih alamatnya. Oh iya sekalian minta nomor rekening kamu. Mbak transfer uang buat kamu beli makanannya." "Eh iya, nanti aku kasih nomor rekening aku." "Makasih ya, Yuna. Jangan lupa kasih Mbak nomor rekening kamu. Ok? Assalamu'alaikum." Mbak Evi mengakhiri telfonnya. Aku masih kaget, syok. +62835xxxxxxxx: Nomor rekening kamu berapa? Me : Yuna Anggraini bank Mandxxx 900-0000-1245xxxx Aduh, kenapa tangan ini cepat banget sih balasnya? Hapus lagi saja, deh. Gawat, sudah di-read sama Mbak Evi. +62835xxxxxxxx: Oke. Ini alamat Evan. Jl. Wartawan IV no 505, Turangga Lengkong. Ini nomor Evan, 0853xxxxxxxx +628356xxxxxxx: Transfer berhasil Rp 500.000,00 Aku bingung, benar-benar bingung. Kenapa aku iyakan, sih, tadi? Haduuh ... mana uangnya sudah ditransfer lagi. Mbak Evi gercep banget, sih. Aku menggaruk rambutku. Inginku teriak! "Aaaaa!!!!" $$$$$ 23 Desember 2021
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Sungguh menarik critanyaaaa
27/04
0bagus sekali 🫶
25/04
0keren 😊👍🏼
21/08
0Ver Todos