logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Part 20

Eben mengajak Awan untuk duduk di depan bangku yang dibuat dari semen dan ditutup keramik putih di atasnya. Bangku yang berada di dekat musholla.
Waktu maghrib sebentar lagi tiba. Karena itu Eben memilih tempat yang terdekat dengan musholla.
"Kong, kok aku di bawa ke sini?" tanya Awan yang tidak mengerti tujuan Eben ajak dia tinggalkan kontrakan Nus.
Sepanjang perjalanan, Awan dan Eben tidak berbicara sama sekali.
"Untuk ajarkan kamu sesuatu. Kamu mau selamatkan?" Eben tersenyum.
"Ajarkan apa Kong? Terus selamat dari apa?" Roman muka Awan terlihat bingung.
"Ilmu sedikit yang bisa jaga dirimu dari kemungkinan terkena musibah. Mau tidak?"
"Mau sih mau, Kong. Tapi musibah apa?"
"Rahasia langit, tidak boleh dikasih tahu!" Eben menunjuk ke atas langit.
Mata Awan menyorot bimbang. Bukan apa-apa, dia takut ilmu yang didapat dari Eben malah akan menyusahkan dirinya.
"Azan. Aku ke pergi dulu." Eben berdiri.
Awan ikut berdiri. Tetapi dia malah bingung sendiri. Perilaku Eben sangat aneh. Pun juga yang membuatnya heran, Eben tak mengajaknya untuk berjalan ke musholla bersama-sama.
Padahal Eben terlihat berjalan ke musholla. Awan putuskan menyusul Eben, tapi dia tidak mendahului atau menyamakan langkah dengan Eben.
Awan membiarkan Eben memasuki pagar musholla lebih dulu. Sampai akhirnya, mereka berdua kembali duduk di tempat semula, selepas tunaikan sholat maghrib berjamaah.
"Kong, sebenarnya apa sih yang mau Kong ajarkan padaku? Jujur, aku bingung dan tidak tahu apa tujuan Kong Eben, apa ini baik untukku atau tidak?" Awan memulai pembicaraan.
"Loh, baik atau tidaknya ilmu itu ya tergantung pada caramu amalkan ilmu itu. Kalau kamu gunakan ilmu yang baik buat kepentingan pribadi, apa itu bisa dianggap benar?" jelas Eben sekaligus bertanya.
Awan garuk kepala sambil melihat mulut Eben yang terbuka lebar memperlihatkan gigi ompongnya. Suara tawa Eben pun mengusik telinga Awan, yang perlahan ikut tertawa.
Namun tawa Awan berhenti kala matanya menangkap satu sosok bayangan. Ayahnya yang sudah lama tidak pulang, hitungan hari, sebelas hari ayahnya itu tidak pulang-pulang.
Meski belum sampai tiga kali lebaran ayahnya tak pulang-pulang, tetap saja ada kerinduan di hati Awan. Berikut tanda tanya, ke mana saja ayahnya itu pergi.
"Babeh!" panggil Awan, tapi saat dia mau berdiri. Dia tidak bisa bergerak. Seperti ada lem yang menahan dirinya dengan bangku batu yang dia duduki
"Itu Ayahmu?" tanya Eben tenang.
"Iya, Babeh Edi namanya."
"Salah jalan," ucap Eben yang sukses bikin Awan berkerut kening.
"Bener kok, Kong!" bantah Awan. "Ini salah satu jalan yang bisa dilewati buat sampai rumah."
"Bukan salah jalan balik ke rumah. Tapi jalan yang Ayahmu ambil udah banyak yang salah."
"Jadi kata Kong, Babeh itu salah ambil jalan hidup selama ini?" Awan meloncat berdiri dari duduknya dan kali ini bisa.
"Lah, kok sekarang bisa berdiri. Tadi susah banget!" Awan garuk kepala.
"Itu artinya Sang Pencipta tidak mau kamu salah jalan ikuti Ayahmu," jawab Eben santai.
"Memangnya Kong malaikat apa, kok bisa tahu?" Awan terbelalak matanya.
"Rahasia langit tidak boleh dibongkar!" Eben menunjuk ke arah langit.
Awan buang napas. Seingatnya, ini bukan yang pertama baginya mendengar kata 'rahasia langit' dari mulut Eben.
"Duduk dulu!" Eben tunjuk tempat yang tadi Awan tinggalkan.
Awan kembali duduk.
"Katakan, apa kamu tahu kerja Ayahmu apa?" tanya Eben.
Awan membuka mulut dengan cepat, tapi tak ada kata yang keluar. Karena dia juga bingung, selama ini apa kerja Babeh Edi.
Sejak kecil, Awan terbiasa melihat Babeh Edi keluar rumah sampai beberapa hari, lalu pulang dengan membawa uang yang banyak dan kadang satu-dua benda kuno. Semisal kalung, cincin, anting-anting, gelang, guci, piring dan banyak lagi.
Tapi benda itu jika ada yang tertarik dan mau beli, akan dijual.
Kadang sering kali Awan bisa bermain dengan Babeh Edi dalam waktu yang lama, karena tidak ada waktu bagi Babeh Edi untuk pergi, tapi herannya uang sepertinya selalu ada.
Memang terasa aneh, sampai usianya sudah kepala dua, Awan masih belum jelas pekerjaan Babeh Edi yang sejati.
"Babeh itu pedagang barang antik."
Jawaban yang diberikan Babeh Edi itu yang selama ini selalu jadi pegangan Awan. Namun sekarang, setelah mendengar Eben berkata tentang salah jalan dan rahasia langit, Awan ragu menjawab Babeh Edi itu pedagang barang antik.
"Kamu tahu, saat aku melihat Ayahmu, ada sesuatu yang aneh," ucap Eben yang sepertinya lupa akan permintaan keterangan tentang pekerjaan Babeh Edi.
"Apa yang aneh Kong? Aku lihat biasa saja. Eh, tunggu!" Awan coba mengingat apa yang aneh dan salah dari Babeh Edi yang baru melintas beberapa waktu lalu.
Eben menunggu dengan senyum kecil terlukis di bibir.
"Ah, ingat!" Awan berseru gembira. Tapi hanya sesaat, selanjutnya dia malah menatap bingung dan meminta penjelasan Eben.
"Kamu tentu bingung, kenapa Ayahmu tak mendengar saat dirimu memanggilnya, betul kan?" tanya Eben.
"Kong bisa baca pikiranku, ya?" Awan kaget.
"Sinar matamu yang bicara itu padaku. Sudah lupakan saja, kini aku mau ajarkan padamu sesuatu. Apa yang akan aku berikan ini, jika kamu mau jalankan dengan niat tulus dan sabar menunggu hasilnya, akan sangat baik untukmu."
"Kalau aku menolak, apa boleh Kong?" tanya Awan.
"Hahaha, itu pilihanmu. Aku tidak punya kapasitas untuk memaksa kamu menerima apa yang aku berikan. Bebas saja."
"Tapi...."
"Hahaha. Tak ada kata tapi untukmu. Ya, sudah begini saja... apa kamu mau terima atau tidak, katakan padaku. Waktuku tidak banyak, harus segera pulang!" Eben taruh telapak tangan kirinya di atas tangan Awan.
Awan rasakan ada aliran hawa sejuk yang menyegarkan badan dan memperkuat aliran darahnya menuju ke otak, hingga pikirannya terasa jernih dan terang.
"Aku mau terima, Kong!"
Eben terus saja berbicara dengan nada pelan dan setengah berbisik. Awan anggukan kepalanya, tanda mengerti.
"Sudah, aku pergi. Jika berjodoh, kita akan bertemu lagi!" Eben terus saja berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Awan.
Awan tidak menjawab, dia sedang sibuk mengingat setiap detail perkataan Eben di dalam otaknya. Sesekali bibirnya bergerak mengikuti sebagian kata yang dia dapat dari Eben.
"Aku sudah hapal, Kong! Eh, mana Kong Eben?" Awan kaget karena Eben sudah tak ada lagi di depannya.
Awan berdiri dan lantas pulang ke rumah. Dia berjanji dalam hatinya untuk ikuti ajaran yang baru saja diberikan Eben. Rangkaian doa yang harus disebutnya di waktu tertentu.
*
Waktu berlalu sangat cepat.
Nanti malam akan hadir purnama pertama setiap bulannya. Sayangnya, purnama hanya datang selama tiga hari berturut, itu pun kalau tidak diganggu mendung maupun hujan.
Sore itu di teras rumah Sabda, Malam kedatangan tamu, Adan dan Sani yang menanti keputusan Malam, siapa yang akan diajak untuk habiskan waktu malam di bawah sinar bulan purnama.
Seminggu terakhir ini, hampir setiap malam ada Adan dan Sani menemani Malam. Anehnya, dari sekian banyak pemuda kampung Ciparuk, hanya mereka berdua yang sering datang ke rumah Sabda menemui Malam.
Semua itu disengaja Malam yang meminta bantuan Sabda untuk menutup pandangan mata para pemuda kampung Ciparuk, agar tidak ada yang mau menjadi tamu mencari dirinya, kecuali Adan dan Sani.
Bagi Sabda yang menguasai ilmu sihir, tentu mudah saja.
Kembali pada kedua tamu Malam yang tidak sabar menunggu keputusan, siapa yang akan menjadi pilihan Malam melewati waktu malam berdua saja.
"Siapa yang akan kamu pilih, Malam? Semalam kamu bilang, salah satu dari kami akan menjadi pangeran satu-satunya bagimu malam ini. Pilih aku saja, yang jelas-jelas lebih tampan dan gagah di banding Sani," ucap Adan.
Sani mau membantah ucapan Adan, tapi dia tidak jadi karena Malam beri isyarat padanya.
Malam berdiri dari duduknya, dia menatap pada kedua pemuda dan tersenyum lembut.
"Malam nanti yang akan menjadi pasangan bagiku itu....."

Comentário do Livro (63)

  • avatar
    Darl Ki

    Ceritanya bagus, penasaran dengan ending nya gimana, masih menunggu sambungan 😌

    21/05/2025

      1
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget

    20/02/2025

      0
  • avatar
    kaylaaa

    sukaaa bgtttt😋🔥

    25/11/2024

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes