Perempuan di Klinik Bersalin Part 6 *** PoV Bu Tuti (ibunya Bidan Dewi) *** Sekitar pukul delapan pagi, aku baru sampai rumah dari berbelanja di pasar, sekalian berkunjung ke rumah orangtua, yang kebetulan tempatnya berdekatan dengan lokasi pasar tersebut. Aku menaruh semua barang belanjaan di meja dapur, kemudian pergi ke kamar Dewi, anak perempuan kami semata wayang. Tadi sebelum aku berangkat ke pasar, dia pamit akan mendatangi sebuah klinik bersalin untuk melamar pekerjaan di sana. Tok … tok … tok …. "Dewi … Wi … Dewi …" Aku mengetuk pintu kamar anak perempuanku itu, sembari memanggil namanya. Tak ada jawaban. Lima detik kemudian, aku membuka pintu kamar Dewi perlahan, tapi tak kulihat dia ada di dalam sana. Aku lalu masuk, barangkali saja Dewi ada di dalam kamar mandi yang ada di kamar. Kubuka pintunya, tapi tak juga terlihat Dewi ada di sana. Mungkin dia sudah berangkat ke klinik bersalin itu, aku membatin. Aku kemudian pergi ke dapur untuk mulai memasak. Rencananya, hari ini akan memasak sop daging sapi, makanan kesukaan Dewi. Saat dia pulang nanti, tentu merasa lapar dan pasti akan makan dengan lahap sop daging buatanku. Aku tersenyum sendiri membayangkan anak kesayanganku makan dengan lahap. Aku juga akan membuat pepes ikan mas, sambal terasi dan goreng tempe. Itu makanan kesukaan Mas Agung, suamiku. *** Jam di dinding telah menunjukkan pukul setengah satu siang, ketika terdengar pintu depan diketuk orang. Itu pasti Mas Agung, suamiku. D ia memang setiap hari pulang pada saat jam makan siang, setelah salat berjama'ah di masjid yang ada di lokasi pasar. Kami, aku dan Mas Agung, mempunyai sebuah toko buku yang terletak di lokasi pasar. Berbagai macam buku mata pelajaran sekolah dari beberapa penerbit dijual di toko kami. Mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA. Ada juga koran, tabloid dan majalah yang kami jual. Setiap hari Mas Agung yang menjaga toko buku itu dengan dibantu oleh seorang karyawan. Selepas waktu salat zuhur, dia pasti pulang untuk makan siang dan beristirahat sebentar, karena jarak rumah kami dengan toko memang tidak terlalu jauh, hanya sekitar satu kilometer. "Apa Dewi sudah berangkat, Mas?" tanyaku pada Mas Agung, setelah kami selesai makan siang. "Iya, sudah. Tadi pagi dia berpamitan sebelum Mas berangkat ke toko," jawab Mas Agung. Setelah beristirahat sebentar, Mas Agung kembali lagi ke toko. *** Sudah lewat waktu ashar, tapi kenapa Dewi belum pulang juga? Dia pun tak berkirim kabar memberitahu seperti biasanya, jika pergi agak lama. Apa sudah ketemu klinik bersalin yang dia cari? Atau malah tak ketemu lalu dia melamar pekerjaan di tempat yang lain? Aku menduga-duga dengan perasaan gelisah. Aku mulai khawatir, dan mencoba menghubungi HP-nya, tapi nomornya tidak aktif. Aku menelepon ke toko, barangkali dia ada di sana, karena memang dia sering ke toko untuk sekadar membaca-baca koran, majalah atau tabloid yang belum terjual. Mas Agung memang selalu menyimpan dengan rapi, koran, tabloid dan majalah yang belum terjual. Meskipun sudah lama, baik koran, majalah ataupun tabloid yang belum terjual, tetap tersimpan dengan rapi di rak khusus dan masih terlihat seperti baru. Sebab selalu saja ada pembeli yang mencari, tentu kami menjualnya dengan harga yang lebih murah. "Assalaamu'alaikum." Aku mengucapkan salam saat terdengar telepon diangkat. "Wa'alaikum salam," jawab Mas Agung di seberang sana. "Mas, apa Dewi ada di toko? Sampai jam segini kok dia belum pulang ya. Aku sudah mencoba menghubungi HP-nya, tapi nomornya nggak aktif," kataku dengan cemas. "Dewi nggak ada di toko, Dik. Mungkin masih dalam perjalanan pulang. Ditunggu saja sebentar," jawab Mas Agung tenang. "Iya, Mas." Kututup telepon setelah mengucapkan salam. Dewi tak ada di toko. Terus ke mana dia pergi? Tak biasanya dia seperti ini. Dia selalu memberitahu jika pulang terlambat, agar aku tidak merasa khawatir. *** Aku duduk di depan TV sambil sesekali melihat ke arah pintu luar, siapa tahu Dewi pulang. Tapi sampai menjelang maghrib dan Mas Agung pulang, Dewi belum juga sampai di rumah. Aku cemas sekali, dia anak kami semata wayang. Ke mana Dewi pergi? "Mas, gimana ini, Dewi belum pulang," kataku, seraya bergegas menghampiri Mas Agung, begitu melihat dia memasukkan sepeda motornya ke garasi rumah kami. Mas Agung tak menjawab, dia masih berusaha memarkirkan sepeda motor di garasi. Dia memang seperti itu, selalu saja tenang dalam situasi apapun. Tak pernah gegabah dalam menyikapi setiap masalah. "Kita bicarakan nanti saja setelah kita salat magrib ya, Dik. Sekarang Mas mau mandi dan bersiap ke masjid untuk salat berjama'ah," kata Mas Agung sambil menepuk pelan pundakku. "Iya, Mas." Meskipun diliputi rasa khawatir yang luar biasa, aku tak berusaha membantah kata-kata Mas Agung. Aku juga segera mengambil air wudu dan bersiap-siap untuk menjalankan salat magrib. *** Kutunggu Mas Agung pulang dari masjid dengan tidak sabar. Seraya masih berulang kali mencoba menghubungi HP Dewi, tapi nomornya tetap tidak aktif. Lemas sekali rasanya. Semua rasa bercampur menjadi satu. Cemas, takut, khawatir, dan entah apa lagi. Tiba-tiba pikiran buruk tentang Dewi melintas di kepala. Tak terasa, air mata mulai mengalir membasahi kedua pipi. Tak pernah aku merasakan sesedih ini. Dewi anak kami satu-satunya. Allah hanya menitipkan dia di rahimku sebagai amanah-Nya. Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan Dewi? Tangisku semakin kuat, tak bisa kubayangkan jika harus kehilangan anak semata wayang yang sangat kucintai itu. *** "Mas, jadi bagaimana ini?" tanyaku pada Mas Agung, begitu dia duduk di kursi ruang tengah sepulangnya dari masjid. "Sudah dicoba menanyakan teman-temannya belum?" tanya Mas Agung seraya memandangku. Ya Allah ... kenapa aku bisa sampai lupa begini. Iya juga, aku belum menanyakan keberadaan Dewi kepada semua temannya. Bergegas aku mengambil HP dan mulai mencari satu per satu nama teman-teman akrab Dewi yang ada di kontak telepon genggamku. Aku memang selalu menyimpan nomor HP mereka, agar setiap waktu bisa bertanya kepada mereka, jika Dewi terlambat tiba di rumah Aku lalu mulai menghubungi satu demi satu nomor HP teman Dewi. Tapi tak ada satu orang pun dari mereka yang mengatakan Dewi ada bersama mereka. Dan mereka juga tak mengetahui keberadaan Dewi. Lemas sekali rasanya badan ini, seperti tak bertulang. Kembali aku menangis. Aku betul-betul merasa cemas. "Nggak ada satu orang pun teman Dewi yang tahu dia ada di mana, Mas," kataku dengan suara parau. Mas Agung menghela napas panjang. "Coba tanyakan pada Ibu, siapa tahu Dewi ada di sana, Dik." Meski merasa tidak yakin, karena tadi pagi juga aku baru dari rumah ibu, tapi tak ada salahnya aku mencoba. Aku lantas menghubungi ibu dan menanyakan keberadaan Dewi. Dan ibu mengatakan Dewi tak ada datang ke rumah beliau. "Kita lapor polisi saja, Mas," ucapku, setelah selesai menelepon ibu. "Polisi nggak akan menerima laporan orang hilang jika belum 24 jam, Dik. Kita tunggu dulu sampai besok, siapa tahu nanti malam Dewi pulang." *** Malamnya, aku dan Mas Agung kembali menanyakan keberadaan Dewi kepada saudara-saudara kami. Tapi mereka tak ada satu pun yang mengetahuinya. Aku menangis sepanjang malam. Karena merasa khawatir, cemas, was-was dan entah apa lagi. Mas Agung berusaha menenangkanku, tapi aku tetap saja menangis. Sampai pagi kami tak bisa tidur. Mata ini sepertinya tak mengantuk sedikit pun. Kami duduk di ruang tamu sepanjang malam, menunggu kepulangan Dewi. Berulang kali aku mengintip dari balik gorden, berharap Dewi pulang malam itu. Tapi sampai pagi menjelang, Dewi tak kunjung datang. *** Keesokan harinya, aku dan Mas Agung berkeliling di sekitar rumah, menanyakan kepada para tetangga, barangkali saja dari mereka ada yang melihat Dewi. Tapi lagi-lagi aku harus merasa kecewa, karena tak satu pun dari mereka ada yang melihat Dewi. Sampai menjelang waktu zuhur kami berkeliling mencari Dewi. Mas Agung tidak berangkat ke toko hari itu. Namun hasilnya tetap nihil. Dewi tidak juga kami temukan. Dengan perasaan sedih yang teramat sangat, aku dan Mas Agung lantas kembali pulang ke rumah. Kami berencana setelah salat ashar, akan membuat laporan orang hilang di Kantor Polisi. *** Sekitar pukul lima sore, kami tiba di Kantor Polisi. Setelah menemui petugas jaga, kami diantar ke sebuah ruangan untuk membuat laporan orang hilang. Kami kemudian diminta untuk menceritakan kronologi kejadian. Aku menceritakan dengan detail kejadian dari sebelum Dewi pamit berangkat ke klinik sampai malamnya dia tidak pulang. Setelah selesai membuat laporan, kami dipersilakan pulang dan akan dihubungi jika ada kabar selanjutnya tentang Dewi. *** Ini hari ketiga Dewi tidak pulang. Aku dan Mas Agung masih terus berusaha untuk mencari keberadaanya, meski sudah melaporkan kejadian itu kepada pihak yang berwajib. Berbagai macam cara kami lakukan untuk mencari Dewi. Dari memasang iklan di koran tentang berita orang hilang, membagikan selebaran kepada orang yang lewat di depan maupun yang membeli buku di toko kami. Dengan usaha pencarian yang kami lakukan itu, kami berharap Dewi bisa segera ditemukan. *** Lima hari sudah Dewi hilang. Sepi sekali keadaan rumah kami. Biasanya, ada saja hal lucu yang dia lakukan, sehingga membuatku tertawa. Dia memang gadis yang sangat menyenangkan. Entah kenapa, malam ini aku ingin sekali tidur di kamar Dewi. Mungkin karena rasa rindu yang sangat kepadanya. Sudah hampir satu minggu aku tak melihatnya. "Mas, kita malam ini tidur di kamar Dewi ya, aku kangen sekali sama dia," kataku pada Mas Agung. Suamiku itu mengangguk tanda setuju. Aku merebahkan tubuh di samping Mas Agung yang sudah tertidur dengan nyenyak. Mungkin dia kelelahan seharian ini di toko sendirian, karena karyawan kami izin tak masuk kerja hari ini. Mataku tak juga bisa terpejam, walaupun sudah berulang kali aku mencoba memejamkannya. Aku memandang langit-langit kamar Dewi, seolah dia ada di sana dan tersenyum padaku. Ya Allah ... di mana sebetulnya putriku berada, aku membatin. Aku sudah pasrah, menyerahkan semuanya pada-Mu. Tidak kurang-kurang usaha yang telah kami lakukan dalam mencari keberadaan Dewi, tapi Engkau belum berkehendak mengembalikannya kepada kami. Aku beranjak dari tidur, menuju ke meja belajar Dewi. Aku lantas duduk di kursi yang ada, sambil melihat-lihat foto Dewi. Tiba-tiba diri ini melihat sebuah koran di antara tumpukan buku-buku milik Dewi. Aku lalu mengambil koran itu dan melihat tanggal terbitnya, ternyata koran lama, terbitan empat tahun yang lalu. Meski sudah lama, koran itu masih terlihat bagus. Tapi untuk apa Dewi masih menyimpan koran lama ini? Dari mana dia mendapatkannya? Dengan rasa penasaran, aku membuka-buka dan membaca isi koran itu. Sampai pada sebuah kolom Lowongan Kerja, aku melihat ada yang dilingkari menggunakan bolpoin dengan agak tebal. 'Klinik Bersalin Kencana' membutuhkan seorang lulusan D3 Kebidanan ... dan seterusnya. Aku membaca sebuah info lowongan kerja yang tertera di koran itu. "Astaghfirullahaladziim …" Aku mengucap istighfar berulang kali. Bukankah itu nama klinik bersalin yang akan Dewi datangi lima hari yang lalu? Apa mungkin klinik bersalin itu masih membutuhkan tenaga bidan, sedangkan iklan yang terpasang di koran adalah iklan empat tahun yang lalu? Lantas kenapa sampai hari ini Dewi belum juga pulang? Apa Dewi memang betul mendatangi klinik bersalin itu? Bermacam pertanyaan memenuhi kepalaku. Aku segera membangunkan Mas Agung. Memberitahu soal info lowongan kerja yang ada koran itu. Dan kami pun bersepakat, besok pagi akan mencari tahu tentang keberadaan Klinik Bersalin Kencana tersebut. *** Bersambung Di part 7, saya kembali akan menceritakan Dewi dan apa yang terjadi di klinik selama dia di sana. Cerita ini bukan hanya tentang makhluk tak kasat mata, tapi ada sebuah rahasia kentang klinik itu, yang terungkap setelah Dewi 'terperangkap' selama satu minggu di sana.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 41 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (284)
dilanDilan
ini cerita sangat seru ☺penuh dengn misteri dan rasa penasaran yg ingin tau 😊mkasih y buat yg menulis cerita ini🙂🙂😊😊😉sukses slalu 😉
11/01/2022
0
n******4@gmail.com
jalan cerita yang sangat bagus dan tidak membosankan.. Rugi siapa yang tidak baca Recommended👍👍
10/01/2022
0
Madara
bingung mau ngmong apa,inti nya cerita ini sudah berhasil buat aku merinding dan tangan ku jadi keringet dingin,aku kayak bener2 masuk ke dalam cerita ini,bisa ngerasain apa yang di rasain sama bidan dewi,mulai dari rasa penasaran sampe rasa curiga😭 pokoknya top bgt cerita ini👍👍👍
ini cerita sangat seru ☺penuh dengn misteri dan rasa penasaran yg ingin tau 😊mkasih y buat yg menulis cerita ini🙂🙂😊😊😉sukses slalu 😉
11/01/2022
0jalan cerita yang sangat bagus dan tidak membosankan.. Rugi siapa yang tidak baca Recommended👍👍
10/01/2022
0bingung mau ngmong apa,inti nya cerita ini sudah berhasil buat aku merinding dan tangan ku jadi keringet dingin,aku kayak bener2 masuk ke dalam cerita ini,bisa ngerasain apa yang di rasain sama bidan dewi,mulai dari rasa penasaran sampe rasa curiga😭 pokoknya top bgt cerita ini👍👍👍
09/01/2022
0Ver Todos