Sore itu aku kembali pulang ke rumah ibuku. Rumah sunyi seperti tak bertuan. Pintu tertutup tanpa terkunci. Kubuka perlahan, memasuki kamarku dan mengemas pakaian ke dalam ransel hitam milikku dengan gegas. Peduli setan, aku tak perlu berpamitan dengan ibuku. Saat ia telah memilih membela ayah ketimbang aku, artinya aku sudah tak penting lagi untuknya. Ketika aku tak menemukan keberadaan wanita yang seharusnya memiliki surgaku di telapak kakinya itu, aku bisa menebak bahwa pasti ia sedang bersama suami berengseknya. Surgaku berkhianat, biarlah kupilih neraka karena durhaka. Kutengadahkan wajahku kembali, nyeri kembali mengusik paruku. Jalinan rusak antara aku dan Azhary tak mungkin kupintal kembali. Aku telah kehilangan segalanya ... dan Azhary yang adalah segalanya bagiku. Menunggu sampai hari mulai gelap, bahkan aku tidak tahu kepada siapa aku menuju. Aku hanya ingin mengadu nasib yang entah apa jadinya di jakarta nanti. Secarik kertas kuperhatikan. Aku ingat Rahman, teman lamaku yang tinggal di jakarta. Dia bilang hidup di sana sebagai seorang mandor bangunan. Jika saja Rahman yang hanya tamatan sekolah dasar mampu bertahan hidup di sana, kenapa aku tidak? Bahkan penyandang tunadaksa saja mampu bergerak saat tergencet kejamnya takdir, bahkan seorang tunanetra pun mempunyai peluang yang sama, apa yang kutakutkan? Aku tahu tujuanku, Rahman. Sementara aku akan jadi kulinya di sana sebelum aku mendapatkan pekerjaan lain yang lebih layak. Aku lelah dihantam deburan ombak ganas yang mungkin akan menenggelamkanku jika aku tidak mencoba bangkit. Lewat Adzan maghrib, aku masih belum beranjak dari kamarku. Memeluk telepon genggam dengan gadis desa berkuncir seperti ekor kuda menjadi wallpapernya. Aku tersenyum kecut, wajah polosnya menjamah hatiku yang berusaha mati-matian menepikannya. Sesungguhnya aku tak ingin kehilangannya. Lamunanku mengabur, berpendar menuju alam nyata saat ketukan pintu bertubi-tubi menyapa indra pendengarku. Mengantongi kembali ponselku, menenteng ransel yang berjejal dengan baju-baju sederhanaku. Aku tak ingin seorang pun mengganggu dan tetap akan pergi bahkan jika malaikat yang memintaku untuk tetap tinggal. "Jangan pergi, Sabta." Kalimat itu langsung menyambutku saat pintu terbuka. Berdiri di ambang pintu bersama Prasetio. Ah, aku tahu pasti Prasetio yang memberitahunya. "Kumohon, jangan pergi, Sab." Gadis dengan rambut legam itu menatapku dengan mata berkaca-kaca. Merobohkan diri dan memelukku dengan isak tangis tumpah ruah. "Aku harus pergi, Cantikku." "Tidak, Sabta. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon." Dia menatapku mengiba. Kuuraikan pelukan hangatnya, kukecup punggung tangannya bergantian. "Semuanya sudah berubah, Azhary." "Kau yang berubah? Bukankah kita sudah berjanji untuk tak saling meninggalkan apa pun alasannya? Kenapa? Kau tidak mencintaiku lagi? Karena aku tidak pantas? Karena aku hanya anak Mutia?" tuturnya nelangsa. "Tidak, Cantikku. Kau tahu bukan itu. Kau tahu aku sangat mencintaimu. Tapi kita tidak bisa bersama lagi. Terlalu banyak pengkhianatan, Azhary. Dan aku tidak akan lagi mengkhianati permintaan ayahmu untuk menjauh dari hidupmu." "Karena ayahku? Aku akan coba membicarakannya. Bukan seperti ini caranya, Sab." Kuusap air mata yang berurai di pipi gadisku. Aku tahu ia telah banyak sekali menangis sampai-sampai kelopak matanya membengkak. "Kau menangis sepanjang waktu?" Kutatap bola mata indahnya, ia merunduk sejenak. Kulanjutkan kalimat yang tertahan di kerongkongan. "Semuanya karena aku, karena salahku. Salah, kenapa aku putra Anto sanjaya." "Apa yang bisa kulakukan selain menangisimu? Hidupku begitu indah sebelum akhirnya pengkhianatan itu membuat semuanya porak poranda. Aku tidak bisa kehilanganmu lagi, Sab. Sudah begitu banyak kualami kehilangan ... tapi kali ini kumohon, jangan kau yang hilang dariku." "Tidak ada harapan, Zhar ... aku pun berat. Tapi aku tak punya pilihan. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahan ayahku pada ayahmu. Kumohon mengertilah." Kurengkuh gadis itu, membawanya ke pelukanku. Rasa sakit merantai dalam kalbu. Kuusap rambutnya, rambut lembut itu terasa menyakiti ruas jariku seakan penuh duri. Aku akan merindukan pelukan ini, tangisan ini, suara indah ini, kehangatan ini, dan semua yang ada dalam diri wanita ini. "Berjanjilah kau akan bahagia, meskipun bahagiamu bukan aku. Berjanjilah kau akan baik-baik aja, maka aku akan baik-baik saja di sana. Hanya raga kita yang jauh. Bukankah hatiku selalu tertinggal bersamamu? Jika kau merindukanku, kau hanya perlu mengenang hari-hari indah kita. Aku mencintaimu, Zhar." Kukecup hangat keningnya. Dia menatapku penuh ketulusan. "Aku cinta padamu, Sabta." Dia menggenggam tanganku erat, menciuminya bergantian, linangan air matanya membasahi punggung tanganku. Tak sanggup menyembunyikan isak yang dalam. "Aku akan menunggumu." Aku tersenyum pedih. "Bila aku kembali," jawabku. "Kau harus kembali, untukku." Kembali terulas senyum pahit membingkai wajahku. Tanpa jawaban yang mampu terucap dari lisanku. "Berjanjilah kau akan menjaga orang yang kucintai dengan baik. Berjanjilah kau akan makan dengan baik, kau akan mengingatku dengan baik, nerindukanku dengan baik dan kau akan tetap mencintaiku sampai kapan pun. Aku mencintaimu, Sabta." Aku mengangguk dalam. "Aku sudah pesan tiket kereta, sebentar lagi kereta akan berangkat. Aku tak mau tertinggal. Terima kasih telah mengantar kepergianku, Zhar." Aku melepas genggaman tangannya, melangkah beberapa langkah meninggalkan manik legamnya yang menatapku tanpa berpaling. Sampai sebelum aku jauh dia kembali merengkuhku, memelukku dari belakang. "Sab, jangan pergi." Prasetio berdiri mematung menyaksikan kami. Tatapannya penuh kesedihan. "Pras, aku titip Azhary. Dia saudarimu." "Tentu, Sab. Jangan lupakan aku nanti ya, Sab. Kau harus tetap ingat bahwa meski jelek begini, *awakmu ndue dulur nang kene. Balia sak kepinginmu ... tak tampa kapan pun kau kembali dengan tangan terbuka. (Kau punya saudara di sini. Kembalilah jika kau menginginkannya. Kuterima kapan pun kau kembali dengan tangan terbuka) Seperti biasa Pras selalu menggunakan logat jawa yang kental, dia sahabat terbaikku. "Aku berangkat, Azhary. Jaga dirimu." Kulepaskan kedua tangannya yang melingkar di pinggangku. Berjalan dengan gontai. Aku telah mengemasi kasih sayang yang kumiliki untuknya dan menjadikannya masa lalu. Namun cinta kukuh ini tak mungkin bisa kuhapus bahkan sampai aku mati. Aku tak berani menoleh lagi, hanya sayup-sayup kudengar rintihan tangisnya dan langkahku yang terus saja digayuti sepenggal kalimat Azharyku. "Berjanjilah kau akan menjaga orang yang kucintai dengan baik. Berjanjilah kau akan makan dengan baik, kau akan mengingatku dengan baik, merindukanku dengan baik, dan kau akan tetap mencintaiku sampai kapan pun. Aku mencintaimu, Sabta." Aku mengingatnya dengan baik, kuingat Azhary dengan baik sampai aku hampir mati karena terlalu baik dalam mengingatnya. Aku merindukannya dengan baik, rindu yang membuatku merasakan kesakitan luar biasa di dalam hati. Sakit, Azhary ... kehilanganmu terasa hampir membunuhku. Apa kau juga merasakan hal yang sama? Wajah Azhary tampak merekat kuat di pelupuk mata. Seolah tak mau pergi dan aku sedang terkungkung dalam delusi. Semua yang kulihat adalah dirinya, dirinya dan dirinya. Telah kutinggalkan kota Mojokerto yang penuh sejarah. Bukan hanya sejarah tentang kerajaan tempo dulu, tapi juga sejarah tentang rentetan kisah hidupku yang kelam. Tentang segala macam kenangan mengenai Azhary dan aku. Menjejakkan kaki di kota Jakarta. Sampai pada keramaian ibu kota yang katanya lebih kejam dari pada ibu tiri, apakah aku akan merasakan kekejamannya? Kubuka lagi secarik kertas. Menelpon nomor yang telah kusimpan rapi di ponselku. "Man, aku wis tekan stasiun. (Man, aku sudah sampai stasiun) Kamu jadi jemput aku to?" "Ya jadi lah, aku sudah jalan menuju stasiun. Kamu tunggu di situ ya! Aku akan sampai kurang dari setengah jam." "Matur suwun (terima kasih), Man." Mataku nanar menatap sekitar. Keramaian ini tak juga mampu membuat hatiku yang kosong dan sunyi menjadi reda. Ada luka menganga di dalam sana. Luka yang tak terlihat tetapi sakitnya seolah berdarah dan bernanah. Menunggu Rahman, kuperhatikan jarum jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah lewat tiga puluh menit, rasa haus mencekikku. Perjalanan panjang telah kulalui. Kubeli sebotol air mineral lalu meneguknya. Menyisir stasiun Gambir dengan penglihatanku. Tak ada makhluk pendek serupa Rahman di sini. Aku masih menunggu, mencoba kembali menelpon dan nomor Rahman tidak aktif. Apa sekarang? Aku tidak memiliki tempat tujuan lain. Entahlah, masih ada beberapa lembar uang merah di dompetku. Akan kugunakan untuk mencari rumah kontrakan, setelahnya aku bisa mencari pekerjaan. Dua jam lewat aku menunggu Rahman dan dia tidak juga tiba. Ponselnya tak bisa kuhubungi. Alamat, aku harus mulai mengandalkan diriku sendiri. Aku tersenyum getir, sadar perjalanan ini terlalu riskan bagiku. Namun lebih menyakitkan jika aku tak pergi dan hanya diam meratapi kehancuran Azhary. Tidak, aku tahu aku dan dia sama hancurnya. Azhary, seandainya kau tahu betapa sulitnya hari-hariku tanpamu di sini.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Alur ceritanya bagus
06/07
0bagus
07/06/2024
0baguss sihhh asik ceritanya
02/06/2024
0Ver Todos