Setapak jalan panjang ini kulalui dengan hati penuh onak duri. Terbata saat langkahku memasuki pintu kayu sebuah rumah, rumah yang tak lagi berselimut kenyamanan serta kehangatan. Tak lagi layak menjadi tempat untuk pulang. Malam telah pekat berteman hembusan angin dingin. Menyentuh kulitku seperti dinginnya mampu mencabik daging dan mencapai tulang belulang. "Ayahmu ditahan, Sabta." Sambutan kalimat itu menyapa runguku. Merusak indera pendengar yang tak siap mendengar penuturan tak mengenakkan. Mataku masih terbuka dengan kaca menggenang memenuhinya. Bukan aku tak terima atas hal yang memang sudah kuduga sebelumnya. Dan hal yang sama pasti akan kulakukan seandainya siapa pun berani menyentuh Azharyku. Azharyku? Aku tersenyum kecut dalam hati, gadis itu bukan lagi milikku. "Apa yang bisa Sabta lakukan, Bu? Bukankah lebih baik begitu? Ayah pantas mendapatkannya setelah ia menghancurkan segalanya. Bahkan menghancurkanku," jawabku seraya tersenyum sinis. "Ayahmu memang bersalah, Sabta. Tapi sampai mati kau tidak akan bisa menolak kenyataan bahwa dia ayahmu." "Sabta menyesal berayahkan dia, Bu." Kalimat itu lepas begitu saja oleh lidah kurang ajarku. Tak pernah selama ini aku bersikap tak tahu diri di hadapan ibuku. Tapi aku tidak tahan lagi. Hatiku sempit dan sakit, tenggorokanku tersumpal benda berat tak terlihat. Mencekikku dan menyulitkan ludahku menuju kerongkongan. Plakkkk...! Tangan lembut ibuku yang tak pernah menyentuhku dengan cara kasar kini melayang dan menandatangani pipiku. Sialan, semua gara-gara laki-laki keparat itu. "Ibu menamparku? Hanya karena laki-laki yang telah mengacaukan keluarga kecil kita? Ibu membelanya?" Rasa kecewaku melambung tinggi. Kekalutan dan amarah membuncah mengakuisisi seluruh bagian di otakku. Darahku mendidih. Hatiku begitu pedih. "Ibu tahu kau kecewa, Ibu tahu kau cinta pada Azhary. Tapi cinta tidak pernah mengajarkan untuk lupa cara hormat kepada orang tua." "Hormat kata Ibu? Katakan pada Sabta, laki-laki macam apa yang harus Sabta hormati? Yang memuja kesesatan dan mengorbankan kebahagiaan anak lelaki satu-satunya? Katakan pada Sabta, orang tua macam apa yang harus Sabta patuhi? Laki-laki yang mengumbar dan menuhankan hawa nafsu di atas rasa malu dan melukai masa depan anaknya sendiri? Yang dia khianati itu Paman Aziz, Bu ... yang dia khianati Ibu, yang menemani hidupnya selama berpuluh-puluh tahun, dan yang lebih parah yang dia khianati aku, Bu ... AKU... PUTRANYA SENDIRI! Dengan apa ayah akan menebus kesalahannya?!" Tatapanku penuh ketidaksukaan. Lagi-lagi ibu membela laki-laki itu. Aku tak habis pikir terbuat dari apa hatinya, kenapa dia begitu kukuh memintaku memaafkan ayah dan itu terasa memuakkan. "Ayahmu telah berulangkali meminta maaf, Sabta. Tidakkah itu cukup?" "Maaf? Nyatanya Sabta tak puas dengan maaf itu. Tak semuanya bisa diperbaiki dan diganti dengan maaf. Ibu kira semudah itu? Tali pengharapanku dirampasnya, mimpiku untuk bisa membersamai Azhary diremuknya. Ayah telah mencabik wajahku dengan jutaan rasa malu, cukupkah kata maaf membawaku pada nama bersih yang dulu kusandang dan kumiliki?" Aku menjeda kalimatku sejenak, menatap ibuku dengan tatapan penuh permusuhan. "Maafkan Sabta jika Sabta menghukum ayah dengan kejam. Maafkan Sabta, Ibu. Tapi demi Tuhan, aku tidak kejam sebelum ayah mengajariku cara berbuat kejam!" Aku meraup wajahku, mengibaskan tangan perlahan dan mendengkus kasar. Berharap rasa malu bercampur gusar yang sedang merantai hatiku lekas luruh bersama hempasan tanganku. Kuangkat wajahku menatapi langit-langit ruang tamu. Membantu air mataku meleleh dari kedua mataku. Kenyataan kadang terlalu menakutkan untuk kulewati saking perihnya. Dan semuanya dengan paksa harus ikhlas kutelan dalam diam. Aku tak mampu berbuat apa-apa. "Maafkan ayahmu, dan keluarga kita akan baik-baik saja. Kau bisa dapatkan Azhary yang lain nanti." Kalimat itu menyinggung hatiku, ledakan kemarahan memburai. Aku tak tahan lagi, ibu memang tak pernah memihakku. "Secinta itukah ibu kepada ayah sampai ibu sampai hati berbicara seperti itu? Bibi Mutia meninggal bunuh diri. Tak mungkin ibu tak mendengarnya. Lalu setelahnya aku harus memaafkan setan yang telah mengacaukan semuanya dan aku berdansa di atas penderitaan wanita yang kucintai? Lalu aku harus tersenyum dengan memasang wajah tanpa dosa? Tidak, Bu. Jika ayahku hanya seonggok sampah jangan paksa aku menerima keberadaannya, jika ayahku binatang, jangan paksa aku menyamainya." Air mata mengalir, menyisakan jejak basah di pipi ibuku. Berai sudah sebuah keluarga yang dulu begitu sempurna. Kenapa takdir kejam sekali? Hatiku sesak dirundung pilu menggertak. Tuhan mencobaiku dengan cara rumit yang tak kumengerti. "Silakan ibu menghamba pada ayah, tapi jika ibu masih mengakuiku sebagai putramu, tinggalkan ayah. Kita tinggalkan tempat ini bersama." "Sampai hati kau, Sabta." Ucapan itu penuh ratapan mengiba. Tapi aku tetap tak peduli, hingga kalimat itu dilanjutkan, "jika kau tidak bisa memaafkan ayahmu, sebaiknya kau juga tidak memaafkan ibumu, karena ibumu tidak akan pernah meninggalkannya. Terlalu banyak yang kami perjuangkan bersama." "Lalu kebersamaan dan perjuangan itu diludahi dengan pengkhianatan? Tidak, Ibu. Maafkan Sabta. Sabta tidak bisa memaafkan ayah." Aku tersenyum perih. Harusnya aku tahu itu jawaban ibu. Kutinggalkan ibuku yang menangis tergugu. Derap langkahku mulai menjauh, berlalu dari kediamanku dengan gelagat tak senang yang menjadi pembungkus ragaku. Aku tak peduli, rasa sakit ini laki-laki itu yang ciptakan. Aku bukan Tuhan yang bisa dengan penuh kasih mampu memaafkan. Saat laki-laki itu memutuskan untuk menyentuh ibu dari kekasihku sendiri, detik itu juga dia telah menghapus status ayah dalam dirinya di hadapanku. Rumah kontrakan sempit Pras menjadi tujuanku, membuka dan berdiri di ambang pintu, melongok ke kiri dan kanan sekilas lalu berkata, "ana apa , Sab? Iki wis wengi. Ora biasane awakmu mrene jam semene." (Ada apa, Sab? Ini sudah malam. Tidak biasanya kau kemari jam segini.) "Kau keberatan jika aku bermalam di tempatmu?" kataku langsung ke inti. Aku tak mungkin lagi berbasa-basi. Tak cukup waktu. "Ya ra papa, awake dhewe lak kekancan (tidak apa-apa, kita kan bersahabat) wis sewajarnya aku bantu teman jika membutuhkan. Tapi, ya ... beginilah keadaanku, Sab. Rumahku tidak cukup bagus buat kau tinggali. Ayo, masuklah!" Prasetio adalah teman baikku, tentang aku dan Azhary, tentang bagaimana kehidupanku, dia menjadi orang pertama yang paling tahu. "Maaf merepotkanmu. Tapi aku tidak punya pilihan lain, Pras. Aku sangat kalut saat ini." "Tenangkan pikiranmu di sini. Aku sama sekali ndak keberatan kok, Sab. Setidaknya sampai kau tenang dan bisa menyelesaikan masalahmu dengan baik. Mengenai kau dan Azhary, aku turut prihatin. Sing sabar ya, Sab." Prasetio menepuk pundakku perlahan, berbicara dengan logat jawanya yang kental. Tak banyak kutanggapi, aku hanya tersenyum kecut sambil meraup wajahku. "Aku akan pergi, Pras," kataku berat. "Pergi kemana? Bagaimana dengan kuliahmu, cita-citamu, Azharymu? Kau pernah bilang, setelah lulus kau mau mengubah nasib kampung kita, tak hanya mengandalkan pertaniannya, kau bilang kau mau menciptakan lapangan pekerjaan agar pemuda di kampung kita ndak banyak pengangguran yang malah cuma mabuk-mabukan. Kau bilang kau mau bikin sistem perairan yang baik biar para petani semakin makmur, mau bikin peternakan, kau bilang mau mengajarkan masyarakat cara budidaya jamur, berkebun buah-buahan di tanah kita yang subur ini, di mana mimpimu itu kini, Sab?" "Aku tidak yakin, tapi kau tentu tahu aku tak punya pilihan. Aku harus meninggalkan tempat ini. Aku tak lagi punya siapa-siapa di sini." "Bagaimana dengan Azhary? Kau memilikinya, Sab." Pras menatapku intens, penuh penekanan seolah memintaku agar aku tak meninggalkan Azhary. "Aku tak lagi memilikinya, setelah bibi Mutia meninggal ... apakah aku tak lagi punya rasa malu untuk tetap berada di sampingnya? Tidak mudah, Pras ... sungguh ini keputusan yang sulit." "Kau memilikiku, Sab. Aku dulurmu.(aku saudaramu)" "Tentu, kita akan tetap bersaudara meskipun kita berjauhan, Pras. Jika aku pergi nanti, aku titip Azhary, ya. Jagakan dia sebagaimana kau menjaga adik perempuanmu sendiri. Aku mempercayaimu, Pras." "Nek itu ya jelas. Ndak perlu memintanya, Sab. Azhary memang sudah seperti adikku sendiri. Omong-omong, kapan kau berangkat? Dan kemana?" "Jakarta. Aku akan cari kerja di sana. Mungkin besok. Aku akan gunakan uang tabunganku sebagai uang saku, insyaAllah cukup," pungkasku lirih. "Kapan kau kembali?" "Bila aku tak kembali, jagakan juga ibuku ... Pras. Dia tidak bersalah atas hal ini. Sampaikan juga permohonan maafku." Garis perjalanan kisahku berseliweran di pikiranku, kampung ini sangat kurindukan. Sebanyak aku juga merindukan Azhary. Jika waktu bisa kuputar kembali, aku ingin mengulang waktu. Menulis ulang bintang-bintang dan menuliskan takdirku sendiri. Tentang Azhary dan aku.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Alur ceritanya bagus
06/07
0bagus
07/06/2024
0baguss sihhh asik ceritanya
02/06/2024
0Ver Todos