Lamat-lamat kuingat saat senyum Azhary terulas di bibir ranumnya. Kebersamaan yang tak bisa kuganti dengan nyawaku sekalipun. Meski kini senyum indah itu tak lagi mekar untukku dan dia telah direnggut oleh bengisnya takdir yang kini sedang menertaiwaiku penuh kepongahan. Senyum Azhary adalah senyum terindah di seluruh mayapada yang pernah aku punya. Ya ... setidaknya senyum itu pernah milikku. Kejadian demi kejadian terangkum jelas membentuk sinopsis yang terangkai secara runtut dan membekas di ingatan. Terlintas kembali saat Azhary melepaskan pelukanku dan mengatakan padaku, "Sabta, semuanya akan baik-baik saja, 'kan?!" Kulihat mata indah penuh luka itu lekat, kuusap wajahnya yang tampak penat. Dipermainkan kesalahan laknat yang tak pernah kami perbuat. Azhary, bagaimana caraku menghapus lukamu? Bagaimana caraku menebus dosa ayahku? Rumah joglo dengan tatanan jawa yang khas didominasi ornamen kayu jati berukir itu, penuh bising suara nyaring. Lengkingan tangis dan jeritan lantang mengaung. Para tetangga berbondong-bondong seperti laron berterbangan mencari sumber cahaya. Kuperhatikan dari kejauhan Isna berlari-lari kecil ... dia adalah teman sepermainanku dan Azhary. "Ada apa, Is?" Isna yang tampak terburu-buru berhenti sejanak. Menjeda jawaban untukku dan sesaat mengatur napas. "Ibunya Azhary ditemukan di kamar mandi telah terbujur kaku, mulutnya mengeluarkan buih. Kemungkinan besar keracunan. Di samping beliau terdapat botol pestisida yang telah kosong, sepertinya ibunya Azhary sengaja mengakhiri hidup dengan menenggak sebotol obat pengendali hama," terangnya dengan wajah tampak sedih. Aku mendesah berat. Kakiku melemas, seperti tak lagi bertulang. Tak terbayang apa yang kini dirasakan Azhary. Di mana harus kusembunyikan rasa malu di hadapannya? Rasanya aku seperti akan dibunuh dengan rasa bersalah padanya seumur hidup. Rasa kecewaku melambung tinggi. Seorang ayah yang dulu begitu kubanggakan dan kuidolakan kini hanya terlihat layaknya sampah di mataku. Mengoyak hatiku dan menghancurkannya luluh lantak. Tak tersisa barang sekeping. Aku harus menjadi apa? Tubuhku lemah dirundung pilu resah. Tak lagi ada senyumnya yang rekah. Sekujurku telah teraliri namanya sampai-sampai aku bisa melihatnya layaknya melihat seorang dewi cinta yang sedang tersenyum mesra seraya bersenandung riang. Lalu aku harus kehilangannya dengan cara sesakit ini? Kini hanya jemawa rindu yang menguasaiku, tatkala Azhary hanya sebuah kemustahilan yang nyata dan memenjarakanku dalam rasa asing yang sunyi. Betapa kosong ragaku tanpa hadirnya. Sepuluh tahun aku hidup bagai mati. Tanpanya membuatku benar-benar kehilangan arah, seperti layaknya planet kehilangan orbitnya. Azhary, apakah kau rasakan hal yang sama? Secuil harapan redupku kini kubentangkan. Bertemu dengannya dan ingin kusampaikan bahwa aku merindukannya. Hanya sebatas itu Hatiku yang terseok-seok menujunya, tersesat hilang arah. Netra sayunya menatapku dalam diam. Bibirnya terkatup rapat tanpa kata tegur sapa kala berpapasan. Kami seperti sepasang orang asing yang saling berpaling saat berjumpa. Namun wanita itu tetaplah seorang tawanan di kepalaku, tak akan kulepaskan dari penjara yang kubuat dari kepingan masa lalu sebelum habis napasku. Aku tau, kau bukan milikku lagi, Azhary. Tapi aku tahu cintamu masih milikku. Prosesi pemakaman waktu itu berlangsung tanpa kendala. Kulihat dengan jelas derai air mata yang merembes hingga membasahi kerudung hitamnya. Sesenggukan sambil memeluk adiknya, Hafizah. Matanya balut oleh tangis panjang. Dan gadis kecil itu melilit pinggang sang kakak sambil merengek, "Mbak, tangikno ibu!" (Bangunkan ibu) Azhary mengusap punggung adiknya naik turun, si kecil masih menarik-narik kerudung sang kakak, menjerit histeris saat tanah merah itu menimbun jasad sang ibu. "Jangan timbun ibuku dengan tanah ... jangan! bangunkan ibuku ... Ibu ... bangun, Bu ...." Erangan tangis gadis kecil itu merobek hati. Kukepalkan jemariku kuat-kuat. Ayahku telah menjadikan keluarga penuh cinta ini rusak, sesuatu yang seharusnya ayahku jaga malah sengaja dihancurkannya. Dan aku lebih hancur kala harus menyaksikan semua ini. "Mbak jangan biarkan tanah menimbun ibuku. Ibuku hanya tidur, Mbak, jangan hanya diam saja, Ayo lekas! bangunkan ibu!" serunya. Azhary tampak mendekap erat tubuh adiknya, sampai seluruh peziarah telah meninggalkan pemakaman. Paman Aziz mengusap kepala sang putri, beralih mengusap pipinya dan mengucapkan sepatah kata, "maafkan ayah." Aku masih berdiri mematung di antara mereka yang masih dirundung duka. Kucoba membimbing Azhary bangun dari tempatnya. Membimbing pula Hafizah dan ia berpindah pada gendongan sang kakak. "Semua sudah selesai. Hentikan tangismu, pulanglah! Kasihan Hafizah. Jadilah penghiburnya, Azhary." Kuusap air matanya perlahan. "Biar kuantar kau pulang," kataku pendek. "Azhary bisa pulang sendiri. Paman butuh bicara sebentar denganmu, Sabta," potong paman Aziz datar. Aku mengangguk. Apakah pria ini juga akan menghukumku karena aku adalah satu-satunya anak Anto Sanjaya? Sesaat pikiranku berkecamuk liar. Kuhela napas panjang. Aku telah siap dengan apa pun yang akan terjadi. Azhary telah meninggalkan kami hingga kami hanya berdiri berhadapan empat mata. Manik kami saling bertabrakan dengan guratan emosi yang tak bisa kujelaskan. Tertunduk lesu, hatiku bimbang menerka apa yang hendak Paman Aziz katakan. "Mutia telah pergi. Karena salahku, kau tentu tahu siapa yang paling bersalah, Sabta." "Paman tahu, aku tak tahu apa-apa berkenaan dengan semua ini. Atas nama ayahku, aku mohon berikanlah maafmu, Paman. Maafkan ayahku," ucapku diikuti rundukan wajah yang tak mampu menahan malu. "Maaf? Setelah semuanya telah sebegini hancur kau minta maaf? Katakan apa maafmu mampu menghidupkan Mutiaraku kembali? Katakan apakah maafmu bisa membuat semuanya kembali baik-baik saja? Semuanya baik-baik saja sebelumnya, Sabta." "Aku tahu, Paman. Terlalu lancang maafku untuk bisa Paman terima. Bahkan aku pun tak bisa semudah itu melupakan kesalahan ayahku. Tapi lihatlah, Paman! Beringasnya amarahmu semakin membuat semuanya memburuk. Bibi Mutia pergi, apa yang harus Sabta lakukan, Paman?" "Tutup mulutmu dan jangan mengguruiku! Jika itu terjadi padamu apakah kau akan bergelak tawa dan mampu berlapang hati sementara wanita yang paling kau cintai telah mengkhianatimu dengan sahabatmu sendiri? Tidak, Sabta. Kau pun tak memiliki kesabaran sebanyak itu." Pria paruh baya itu mengusap wajahnya sejenak. Kulihat binar kekalutan tergambar jelas membingkai kedua matanya. "Ayahmu seperti saudaraku, lebih darri itu. Jika saja aku tak pernah meninggalkan dompetku di kamar waktu itu, tentu aku tak perlu memergoki persebadanan kotor mereka. Dan aku hanya perlu menjadi seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa. Tak apa, aku akan dengan senang hati dibohongi jika aku boleh memilih. Tapi aku tidak bisa memilih ketentuan takdir yang telah tersurat, aku begitu lemah, Sabta. Hingga aku dihancurkan oleh orang yang begitu aku percaya. Ayahmu. Masih sulit kupercaya apa yang aku alami ini. Keluargaku sebelumnya begitu sangat sempurna. Lalu kau dan keluargamu menyempurnakan kami dengan ikatan persaudaraan yang ayahmu tawarkan. Bodohnya aku percaya ... dan aku terpedaya," ungkapnya penuh sesal. "Jauhi Azhary. Aku akan melupakan segalanya. Kesalahan ayahmu, biar hukum yang mengadilinya. Jadi kuharap lupakan segalanya juga antara kau dan putriku. Kehadiranmu akan tetap mengingatkanku pada luka lama nantinya. Kau tahu ini bukan keinginanku. Kau tahu aku pun sangat menyanyangimu, menjadikanmu satu-satunya kriteria untuk menjadi bakal mantuku. Tapi ini tak sesuai dengan yang kita harapkan. Sudahi semuanya, Sabta. Aku tak memintamu menjauh sebab aku membencimu. Anggaplah ini permintaan seorang ayah kepada putranya." Paman Aziz menepuk pundakku mengusapnya perlahan lalu menarik seulas garis lengkung di bibirnya. Wajah dengan garis-garis halus menua di kulitnya itu tertekur sesaat. Masih dapat kulihat setetes cairan bening terjatuh dari pelupuk matanya. "Maafkan Paman jika Paman bersikap tak adil padamu. Percayalah, ini sangat sakit, Sabta." Paman Aziz meninggalkan tempatku. Terdengar samar derap langkah kakinya yang mulai menjauh. Kuputar kepalaku untuk menyaksikan kepergiannya. Sembilu mencakar hatiku terlampau dalam. Sebuah ketakutan yang selama ini selalu membayangi, kehilangan Azhary adalah sebuah momok mengerikan bagiku. Dan hari ini, semuanya benar-benar terjadi. Aku kehilangannya. Azhary ... Azhary ... Azhary .... Kupanggil namamu setiap malam. Mungkinkah kau dengar?
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Alur ceritanya bagus
06/07
0bagus
07/06/2024
0baguss sihhh asik ceritanya
02/06/2024
0Ver Todos