logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Anak Selingkuhan Ayahku

Anak Selingkuhan Ayahku

Sky1125


Capítulo 1 Kembali

Kampung dengan pemandangan menghijau, kini tampak gersang dan tandus. Sungai Kinasih yang dulu kunikmati alirannya kini telah mengering dan tak berair lagi.
Hampir sepuluh tahun kutinggalkan, kampung ini dahulu adalah milikku, tempat tinggalku, sampai takdir mengusirku dengan paksa dan membuatku tak berkampung halaman. Jauh hidup di tanah rantau, meninggalkan keluarga yang masih tersisa, yang mungkin tak lagi pantas kusebut sebagai keluarga.
Memang berat, tapi yang paling berat bagiku adalah, meninggalkannya.
Aku tak bermaksud pergi. Namun, aku tahu, aku dan Azhary Agyata tak akan lagi bisa bersama. Dan aku tak bisa melihatnya bahagia bersama orang lain jika bukan denganku. Karena aku selalu berharap akulah orang yang membuatnya bahagia itu. Bukan orang lain.
Sungai ini adalah tempat kami bermain air, dahulu. Kini airnya telah mengering ... betapa semuanya telah berubah. Nungkinkah hatinya pun berubah juga?
Seandainya dia tahu, tak ada berubah dariku. Masih ada satu nama yang terukir begitu dalam dan tak akan lapuk diterpa hujan dan tak lekang dibakar panas. Namanya, cinta pertama sekaligus terakhirku.
Saat aku kembali dia telah berekor panjang, seorang buah hati dan seorang pria rupawan yang menyandingnya, kuyakin mampu membuatnya bahagia melebihi aku. Dan satu pertanyaan itu selalu berdesing nyaring di kepalaku.
"Siapa nama gadis kecil dan heromu itu, Azhary?"
Aku tahu, aku pun sama sepertinya. Sepasang cincin telah mengikatku. Mengikat leherku dan membuatku merasa benar-benar telah kehilangannya.
Aku selalu berharap ia selalu mengingat bagaimana dulu kami merasa seolah saling memiliki. Kami nyaris dibesarkan bersama oleh dua orang sahabat. Dan mereka tersenyum menatap keakraban serta tawa kami setiap saat sebelum hari itu tiba ....
Hari ketika persahabatan orang tua kami dihancurkan oleh bengisnya sebuah pengkhianatan.
Dia tentu tahu, aku tak pernah mengkhianatinya, cinta ini masih kupegang teguh meskipun aku tak lagi bisa menyandingnya dan tertawa bersamanya. Betapa kejam cara takdir memisahkan kamu. Bagaimana mungkin aku bisa lupa rasa sakitnya?
Gemerlap kota Jakarta menjadi tujuanku saat itu, berharap perempuan Jakarta mampu mengikis namanya dari hatiku. Berharap sepatu hak tinggi dan polesan gincu warna-warni mampu membuaiku dan bisa membuatku menepikannya dari anganku. Namun tidak. Gadis kampung yang tak pandai bersolek itu telah merebut seluruh hatiku dan membuatku hampir mati.
Tiga bulan lamanya aku hampir mati menanggung derita. Tergolek lemah di tempat tidur padahal aku yang putuskan meninggalkannya. Aku malu, malu atas apa yang dilakukan ayahku kepada keluarganya. Meskipun aku tahu dia pun menanggung malu atas perilaku ibunya.
Tak banyak yang ingin kukatakan jika aku bertemu kembali dengannya. Aku hanya ingin mengatakan bahwa, aku ... mencintainya ....
*******
Cukup lama aku terduduk sembari bermonolog dengan imajinasi seolah aku berbicara dengan Azhary. Seolah waktu bergeming dan netraku berlarian menangkap matahari yang tiba-tiba telah berada satu jengkal di atas horizon. Ternyata telah cukup lama kutenggelamkan diri ini dan larut ke dalam sisa pedih deburan ombak masa silam.
Wajah itu tak pernah kulupa ayunya. Saat berpapasan dan matanya menyapaku penuh tanya, seolah dia berkata, "masihkah ada antara kita rasa yang sama seperti dulu?"
Sepuluh tahun yang terlewatkan tanpanya itu menyesakkan. Sungguh, rasa yang tak cukup kuutarakan dengan rangkaian kata. Aku merindukannya. Melewati ribuan hari untuk bisa kembali menatap matanya dan ingin kukatakan bahwa aku cinta padanya.
Azhary tetap tinggal dalam setiap napas yang kuhela. Meskipun Laras Mahadewi kini telah menjadi bidadari pilihan Tuhan untuk menemani hidupku. Tak kututupi semua lukaku darinya, dia memahamiku dan menerima hatiku yang tak mungkin sempurna mencintainya.
Dari ikatan suci perkawinanku seorang jagoan kecil telah istriku hadiahkan untukku. Dan ia pun tak berkeberatan saat aku menamainya dengan nama gadis masa laluku. Azhar nama jagoan kecilku yang kini telah berusia tiga tahun.
Memiliki kehidupan rumah tangga yang harmonis tak serta-merta membuatku mengikis luka-lukaku akan Azhary. Entahlah, aku sendiri tak yakin pada rumah tangga ini. Tidak, tentu saja aku tetap menyimpan Azhary sebagai prioritas hatiku. Dia milikku di alam mimpi meskipun dalam dunia nyata dia hanya mimpiku.
Aku tak pernah menyangka akan mencintainya sebesar dan sedalam ini. Kukira kisah cinta sejati hanya ada dalam kisah legenda. Namun lihatlah! aku menemukan rasa itu dalam diri Azhary meskipun kami tak mungkin lagi bersama.
Langkah ini terayun gontai, kueja setapak kecil pematang sawah berkerikil, aku dan Azhary sering melihat kerbau yang dilepasliarkan di hutan tepi sungai Kinasih. Senyumku sejenak tergambar samar. Petang menyambut dengan rona merah mengelilingi cakrawala. Kami biasa tertawa bersama sembari bersenandung riang di sore hari.
Azhary, aku merindukanmu.
Aku tak akan lupa peristiwa hari itu. Yang terekam sangat jelas di ingatanku kejadian sekitar sepuluh tahun yang lalu. Saat wanita yang kecantikannya terwaris kepada Azharyku----harus menangung malu---diseret nyaris tanpa busana ke halaman rumah yang telah ramai oleh berkumpulnya para khalayak sebab keingintahuan mengapa terjadi keributan.
Selimut masih membungkus sebagian tubuhnya. Kuingat dengan baik bagaimana ia coba menggenggam erat selimutnya agar tubuhnya tak terekspose dan menjadi tontonan warga. Tangisnya meraung mohon ampun oleh amarah yang diledakkan sang suami.
Sesekali ia menyeka peluh yang bercampur derasnya deraian air mata. Sementara para perempuan yang berkerumun di antara mereka menyuarakan bisik-bisik busuk penuh aroma caci maki.
"Pantas saja Aziz marah, wanita seperti Mutia memang pantas ditelanjangi keliling kampung sambil dilempari dengan batu," ujar seorang wanita yang masih dengan jelas dapat kudengar meskipun aku sengaja mengambil jarak di antara meraka.
"Anto juga sangat keterlaluan. Aziz, 'kan sahabatnya, kenapa tega? Mereka benar-benar menjijikkan," pungkas yang lain.
"Jalang! Apa matamu buta tak mampu melihat siapa dia? Dan kau telah membagi tempat tidur kita dengannya, hah? Tak tahu malu!" Tak banyak yang pria paruh baya itu katakan selain umpatan dan makian, sesekali dorongan kuat, jambakan dan pukulan menerpa tubuh istrinya yang tampak pasrah tak berdaya.
Wajah sayunya menggambarkan gurat kekalahan. Lebam-lebam di tubuhnya cukup untuk mengisahkan rasa sakit yang sedang ia rasakan meskipun tak terucap.
Seorang gadis kecil terisak sambil menarik ujung kemeja sang ayah. Memeluk ayahnya agar berhenti menyakiti ibunya.
"Ayah ... jangan pukul ibu! Ayah, Hafizah yang nakal ... pukul saja Hafizah," erangan anak kecil itu sejenak meredakan aktivitasnya. Namun tak cukup menyiram api amarahnya yang terlanjur berkobar agar segera padam.
Pria yang kukenal sangat menyenangkan dan ramah itu terus menghukum istrinya dengan cara begitu kejam. Sekalipun aku tidak menepis bahwa wanita itu adalah sumber dari segala kekejaman. Sebagaimana nafsu dunia telah mengalahkan seluruh akal sehat dan menghancurkan segalanya hingga runtuh.
Pun, tak seharusnya pria yang kerap aku panggil Paman Aziz itu, mempermalukan wanita yang pernah mengisi hidupnya, sesakit apa pun luka yang telah bibi Mutia torehkan. Lupakah laki-laki itu bahwa wanita itu adalah ibu dari anak-anaknya? Siapa yang ingin ia permalukan sebenarnya?
Tidakkah ia sadar dia telah membuka ketiak amisnya sendiri? Aib yang seharusnya ia tutupi, hanya karena menurutkan amarah ia umbar ke seluruh penjuru kampung dan menjadikannya buah bibir. Lalu menjadikan Azharyku ikut menanggung semuanya. Ini tak adil. Sungguh tak adil.
Pelukan Hafizah kecil mengendur, beralih memeluk ibunya, tangisnya kembali pecah.
"Ibu, apakah Ibu nakal sampai ayah menghukum Ibu? Ibu mengajariku meminta maaf, kenapa Ibu tidak meminta maaf pada ayah, agar Ibu tidak dihukum?" celetuk polos gadis kecil berusia lima tahunan itu membuat dadaku berkedut nyeri. Aku saja menyaksikannya terasa sesakit ini, apalagi Azhary. Tentu yang ia rasakan lebih pilu dariku.
Di sisi kiri halaman, hanya berjarak beberapa meter, kulihat seorang pria yang masih bertelanjang dada, dengan celana beserta ikat pinggang yang terpasang seadanya. Mencoba melarikan diri tetapi pria itu dihadang oleh seorang pria lain bertubuh tambun. Pria tambun itu paman Azhary, namanya Arman.
"Jangan sampai bajingan itu kabur, Man!" Paman Aziz cepat beralih, mendekat ke arah pria itu lalu mengakuisisinya dari tangan paman Arman. Menarik tangan si pria dan menghadiahkan berkali-kali pukulan yang membuat pria tanpa baju atasan itu tersungkur dan menggelepar seperti ikan yang kehabisan air. Menyedihkan, terlebih mengingat bahwa pria itu adalah ayahku. Pria yang sedang tertangkap basah telah mencuri istri orang itu adalah ayahku.
Kupejamkan mataku saat tangan pria itu mencekik leher ayahku hingga megap-megap kehabisan udara. Rasa tak tega menyelusup dalam relungku, lalu kubawa tubuhku meninggalkan tempat itu agar aku tak lagi menyaksikan apa pun.
Khalayak ramai masih menjadi penonton setia, aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya. Yang kutahu pria babak belur itu pada akhirnya dibawa ke kantor desa untuk diadili.
Saat beberapa langkah kutinggalkan tempat itu, tangan lembut itu menggayutiku, dengan suara pilunya yang lirih.
"Sabta, bawa aku bersamamu."
Rasa sakit menekan dadaku begitu kuat. Gadis yang menggenggam tanganku, dia kekasihku, dia sahabat kecilku, dia wanita yang paling kucintai, dan celakanya dia adalah anak perempuan dari wanita yang menjadi gendak ayahku. Air mata menggenang di pelupuk matanya, merunduk sendu lalu butiran bening itu luruh menuruni pipinya yang polos tanpa polesan apa-apa.
"Ke mana harus kubawa? Semuanya yang kita bangun telah hancur, Azhary." Kuteguk ludahku cepat, suaraku serak dan tercekat. Aku dan Azhary kini tak lagi mungkin.
"Ke mana pun. Kalau perlu jika harus mati, asal denganmu aku rela," jawabnya di tengah isak.
Kugapai tubuhnya, kudekap penuh kelembutan raga berhati rapuh itu.
"Kita tenangkan pikiran sejenak, lupakan dulu apa yang kita lihat."
Mengeja langkah penuh sesal, kubimbing Azharyku menuju tempat kami biasa tertawa bersama. Tempat kesukaannya, sungai Kinasih yang bunga-bunga liarnya bertaburan di tepiannya. Dandelion yang bermekaran menerbangkan biji-biji seringan kapas yang biasa menemani kami.
"Kenapa mereka melakukannya, Sabta?"
Suara gadis itu lirih, nyaris berbisik. Kulihat luka-luka dari kedua sorot matanya yang kuyu. Sama sepertiku, ia tak sedang baik-baik saja.
"Dia ibumu, kenapa ayahmu mempermalukannya dengan sangat kejam?! Aku tak habis pikir, Azhary."
"Siapa yang kejam, Sab? Jawab ... siapa yang kejam? Kenapa ayahmu begitu kejam kepada ayahku? Mereka bersahabat bahkan nyaris seperti saudara. Tidak, Sabta ... ayahku tidak kejam." Tatapan gadis itu terasa menusuk jantungku. Tajam penuh luka dan luka itu menjalar merambatiku. Sakit yang ia tanggung sama sepertiku.
"Seorang tamu tidak akan masuk ke sebuah rumah jika sang pemilik rumah tak pernah mengijinkan tamunya masuk," ingkarku.
Azhari tertunduk sayu.
"Aku mencintaimu, Sabta."
Kalimat itu semakin membuatku nelangsa. Sungguh bukan ini yang kumau. Segalanya telah teregas oleh keegoisan. Siapa yang mesti kusalahkan? Bagaimana bisa aku putuskan untuk mengambil langkah saat setiap jengkal jalan yang terpampang di hadapku hanyalah kebuntuan?
"Tapi, mungkin kau bukan untukku, Azhary. Bukan salahmu atau salahku. Bagaimana bisa kita bersama dalam keadaan seperti ini? Ayahku seorang pecundang." Kuhela napas panjang. Ruang dadaku tersekat pilu. Sesak dan sakit.
"Jangan tinggalkan aku, Sabta. Aku tidak bisa menanggung semuanya sendiri. Tidak mungkin aku bisa tanpamu?"
Kupeluk kembali bahu yang berguncang oleh tangisan. Apa yang selanjutnya kuharapkan dari kisah ini? Mengharapkan apa yang telah terjadi ini hilang terbakar di tengah hujan? Ataukah mengharapkan cerita ini tenggelam terbawa arus banjir dalam kemarau? Semuanya telah menjadi kemustahilan. Namun kisah ini akan aku bawa sampai aku mati, jika tak kumiliki, maka akan kumiliki dalam kenangan yang akan kusimpan dan kurindukan tanpa terbatas waktu.
Azhary, aku pun mencintaimu ... maafkan aku ... maafkan ayahku ....

Comentário do Livro (126)

  • avatar
    Tri andiniNabilla

    Alur ceritanya bagus

    06/07

      0
  • avatar
    FathoniAli

    bagus

    07/06/2024

      0
  • avatar
    putriMiracele

    baguss sihhh asik ceritanya

    02/06/2024

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes