Nayla diam merenung memikirkan obrolannya dengan Bu Andara beberapa jam yang lalu. "Kamu tidak ingin kembali sekolah, Nay? Bukan maksud Ibu tidak suka kamu tinggal disini, Ibu sangat senang kamu tinggal disini . tapi keluargamu pasti khawatir mencarimu dan juga bukankah sebentar lagi ujian kelulusan sekolah ? Kamu tidak ingin lulus ?" Itulah kurang lebih yang Bu Andara tanyakan padanya tadi. Sudah hampir 1 minggu Nayla tinggal di panti asuhan ini. Gadis itu merasa sangat senang, semua yang tidak pernah dia dapatkan dikeluarganya dapat ia dapatkan disini, terutama kasih sayang. Bu Andara sangat menyayangi nya, bahkan Putri yang awalnya tertutup bisa sangat terbuka dan dekat dengannya apalagi Chiko. "Kak," Suara panggilan itu membuat Nayla langsung menoleh. Putri, Gadis kecil yang selama beberapa hari ini tidur dengannya terlihat mulai terbangun. "Kakak tidak tidur?" Tanya nya dengan mata yang masih setengah terpejam. "Iya, Kakak akan tidur setelah selesai membereskan ini," jawab Nayla sambil tersenyum sebelum kembali sibuk memasukkan barang-barang nya kedalam tas gendong miliknya. "Kakak mau pergi ? Kak, jangan tinggalin Putri," Ucap Putri berhasil membuat Nayla menghentikan kegiatannya. Nayla sedikit menggeser tubuhnya agar lebih mendekat kearah gadis kecil yang duduk disamping nya itu. Tangannya menarik kedua tangan gadis kecil itu. "Putri, Kakak minta maaf. Kakak harus menyelesaikan masalah kakak di jakarta. Kakak janji setelah semuanya selesai, kakak akan langsung kembali lagi kesini," "Putri percaya kan sama Kakak ?" lanjut nya saat melihat Putri hanya diam menunduk, gadis kecil itu tampaknya akan menangis sebentar lagi. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Putri pun mendongak, menatap sosok perempuan yang sudah ia anggap sebagai kakak kandungnya itu. "3 bulan lagi aku ulang tahun, Apa kakak bisa datang ? Aku akan sangat senang jika kakak mau datang," Nayla mengangguk menanggapi ucapan gadis kecil disamping nya itu "Kakak janji, kakak akan datang membawakan Putri boneka kelinci yang selama ini putri inginkan. Kakak janji , kamu harus baik-baik disini sampai kakak kembali. Putri, dengarkan kakak baik-baik ya, Semuanya yang berada disini sayang Putri , jadi belajar lah untuk menerima mereka semua. Putri mau kan ?" Dengan mantap putri menganggukan kepalanya. "Aku janji kak, aku akan menuruti ucapan kakak. Aku tidak akan lagi menyindiri, aku akan berteman dan bermain dengan yang lainnya. Aku janji," Melihat bagaimana ekspresi wajah senang putri membuat nayla tersenyum senang. "Aku mengatakan padanya untuk membuka diri sedangkan diriku sendiri belum bisa melakukannya," batinnya. ,,,,,,,,,,,,, "Bagaimana dengan Nayla ? Samuel, kamu belum menemukan keberadaannya ?" tanya tuan Wijaya pada anaknya yang sedang bersantai diruang keluarga bersama yang lainnya. "Belum Pah. Aku sudah mencarinya tapi tidak ketemu. Beberapa hari yang lalu aku melihatnya pergi menaniki bus dengan seorang brandalan," "Brandalan ? Maksud kamu Nayla pergi bersamanya ?" sahut Nyonya marisa terkejut sekaligus khawatir setelah mendengar apa yang baru saja samuel katakan. "Tidak, dia bukan brandalan. Namanya Adit, dia salah satu teman kelas ku dan juga Nayla, Tante," Sahut Michelle sebelum Nyonya Marisa berfikir yang tidak-tidak tentang Adit. "Teman sekelas yang suka membolos dan berkeliaran dijalanan," seru samuel dengan nada kesal nya. "Papah akan menyuruh orang-orang suruhan papah untuk mencarinya," Ujar tuan wijaya, pria paruh baya itu juga merasakan kekhawatiran yang sama. Nayla adalah anak perempuan satu-satunya, walaupun hanya anak tiri tapi beliau tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk dengannya. "Tidak perlu. Jika memang dia benar-benar pergi dengan brandalan itu, biarkan saja. Mungkin dia ingin menjadi sepertinya," sahut Nyonya Marisa sebelum akhirnya pergi ke kamarnya. "Biar saya yang berbicara dengan Tante Marisa, Om," Sahut Michelle kemudian melangkahkan kakinya menyusul Nyony Marisa kekamarnya. Didalam kamar, Nyonya Marisa menangis. Wanita paruh baya itu tidak bisa menahan air matanya begitu mengetahui kabar tentang anak gadisnya. Michelle yang berada disana hanya bisa diam sambil berusaha menenangkannya. "Hiks Michelle, Kenapa Nayla berubah ? Kenapa sekarang dia menjadi anak yang sangat susah diatur, Hiks," "Tante tenanglah. Michelle janji akan membantu mencari Nayla dan akan membawanya pulang. Tante jangan terlalu banyak fikiran, nanti kondisi tante ngedrop lagi," "Andaikan Nayla sepertimu, Aku pasti akan sangat bahagia," ,,,,,,,,,,,,, Pukul 10 malam Nayla baru saja tiba di jakarta. Gadis itu langsung pergi ke sekolahannya untuk mencari bukti tentang Kematian Nina karena dia yakin bukan dialah penyebab Nina bunuh diri. "Siapa mereka ? Kenapa ada di sekolah malam-malam begini ?" gumamnya saat tak sengaja melihat ada 2 orang dengan pakaian serba hitam serta menggunakan masker berjalan menuju gudang sekolah. 2 orang itu terlihat menengok ke kanan kiri sebelum membuka kunci pintu gudang yang berada dibelakang sekolah. Lebih tepatnya gudang yang sudah lama tidak pernah dipakai. Dengan pelan dan hati-hati Nayla ikut masuk kedalam gudang itu dan bersembunyi dibalik tumpukan kardus bekas. "Bagaimana ? Apa semuanya lancar ?" tanya seseorang dengan pakaian serba hitam juga pada 2 orang yang Nayla ikuti tadi. "Semuanya beres. Sudah lebih dari 2 minggu si wanita menyebalkan itu tidak masuk sekolah , aku juga mendengar jika dia kabur dari rumah," "Bagus, pastikan dia terus menjadi tersangka atas kematian Nina," Nayla menutup mulut nya tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, Jadi semua dugaannya benar, ada seseorang dibalik semua kasus ini. "Tidak, Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus melabraknya," Gadis itu sudah ingin keluar dari tempat persembunyiannya untuk melabrak orang-orang tadi, namun tiba-tiba saja ada seseorang yang membekap mulutnya dan membawanya keluar dari tempat itu. ,,,,,,,,,,, "Mbbbbhhh lepmmbbbb," "Akh," Suara teriakan keras menggema begitu saja saat Nayla berhasil menggigit tangan orang yang membekap mulutnya. "Sttt jangan berisik," Sahut orang itu sebelum Nayla mengeluarkan suaranya. Betapa terkejutnya gadis itu saat mengetahui siapa yang baru saja membekap nya dan membawanya keluar dari gudang tadi. "Adit ? Ngapain kamu disini?" Orang tadi adalah Adit, Tadi saat dijalan pria itu tak sengaja melihat Nayla berjalan menuju sekolah. awalnya dia sempat ragu jika itu benar Nayla, karena yang dia tahu gadis itu masih di panti asuhan. Tidak ingin larut dalam kebingungan, Aditpun akhirnya menghubungi Bu Andara untuk menanyakan keberadaan Nayla. Bu Andara bilang jika Nayla sudah kembali ke Jakarta sore tadi, Jadi Adit yakin 100% jika yang dia lihat itu memang benar Nayla. Karena penasaran dengan apa yang ingin gadis itu lakukan disekolah malam-malam begini, dia pun mengikuti nya. "Jadi kamu mengikutiku ?" "Hmm. Apa kamu waras ? Ngapain kamu ke sekolah malam-malam begini ? Mau uji nyali?" tanya Adit dengan nada bicara yang bisa dibilang tidak santai. "Aku hanya ingin mencari bukti tentang kematian Nina karena bukan akulah yang salah. Tadi aku tak sengaja melihat 2 orang masuk kedalam gudang , didalam gudang sudah ada 1 orang dan ternyata mereka lah dalang dari semua kasus ini, jadi aku ingin melabrak mereka tapi semuanya gagal karena mu !" "Apa ? Jadi kamu menyalahkanku? Hei, aku bahkan menyelamatkan mu. Bagaimana jika mereka mengeroyokmu ? Apa kamu tidak memikirkan itu ?" "Lalu aku harus bagaimana ? Diam saja dan membiarkan semua orang menuduh ku sebagai pembunuh begitu ?" "Aku akan membantumu," "Apa ?" "Aku akan membantumu mengungkap yang sebenarnya. Tapi kita tidak bisa langsung melabrak mereka , kita harus mengumpulkan semua bukti untuk mengungkap kebenaran ini," ,,,,,,,,,,,, Keesokan harinya Nayla kembali nekat datang ke sekolah. Gadis itu tidak perduli jika dirinya akan menjadi bulan-bulanan teman-temannya. "Cih untuk apa kamu kembali ke sekolah ini ? Dasar pembunuh !! Mengotori sekolahan saja," Nayla yang tadinya ingin diam saja sekarang berubah pikiran, gadis itu memutar langkahnya menghampiri perempuan yang baru saja menghinanya. "Coba katakan sekali lagi apa yang baru saja kamu katakan," ucapnya. "Kamu tuli ? Aku bilang kamu pembunuh ! Kamu kriminal !! Seharusnya kamu enyah dari sekolah ini !" Bukannya merasa kesal, Nayla justru tersenyum sinis, gadis itu melirik sekilas nametag perempuan yang baru saja menghiananya itu. "Monika? kamu bilang aku kriminal ? Aku harus enyah dari sekolah ini ? Jadi apa menurutmu semua orang yang berhubungan dengan seorang kriminal juga harus enyah ?" "apa maksud mu ?" Nayla berdehem cukup keras sambil menegakkan tubuhnya. Gadis itu kembali menyunggingkan senyum sinisnya pada lawan bicaranya itu. "Sekarang aku ingin bertanya dengan mu dan juga dengan kalian semua. Apa seorang kriminal harus enyah dari sekolah ini ? Apa seseorang yang berhubungan dengan seorang kriminal juga harus enyah dari sekolah ini ?" "Jelas itu harus ! Itu semua hanya akan mengotori sekolah kita," sahut Dinda yang baru saja bergabung bersama teman-teman nya. "Lalu bagaimana dengan putri seorang koruptor ?" tanya Nayla membuat salah satu dari mereka diam membeku di tempat. "Apa putri dari seorang koruptor harus enyah juga ?" "Apa maksud mu ?" Nayla kembali menyunggingkan senyumnya sebelum akhirnya kembali menatap tajam kearah Monika. "Monika Bramanta, anak tunggal dari pasangan Bramanta semesta dan Angela Bramanta," "Bramanta Semesta ? Tunggu, aku seperti pernah mendengar nama itu," sahut salah satu lainnya menanggapi apa yang baru saja Nayla katakan. "Apa yang ingin kamu lakukan, Nay?" Tanya Monika geram. Gadis itu seolah tahu apa yang akan Nayla katakan pada teman-temannya. "Kamu tahu maksudku Monika Bramanta, putri kesayangan Bramanta Semesta, mantan ketua yayasan salah satu panti asuhan yang ditangkap polisi karena dugaan korupsi," ucapnya berhasil membuat Monika langsung diam menegang ditempat. "Kamu salah karena sudah berani menyenggolku, Monika Bramanta," Bisik Nayla sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
waah aku yang baca ikutan sakit hati😭
17/05/2022
0Bagus cerita nya
09/07/2025
0Keren banget sih
07/06/2025
0Ver Todos