logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Chapter 7

Nayla mulai menggeliat dalam tidur nya, badannya terasa sangat sakit karena semalaman tidur diatas kasur lipat yang sangat tipis. Saat matanya terbuka, sosok yang pertama kali ia lihat adalah Adit yang sedang bersiap-siap entah mau kemana karena ini hari minggu dan sekolah libur.
"Kamu sudah bangun ? Hmm aku harus pergi ada urusan mungkin pulang malam. Kalau kamu mau pergi sebaiknya nanti malam saja setelah aku pulang," Ujar Adit sambil memasukkan beberapa bungkus coklat kedalam tas nya.
"Aku mau ke suatu tempat yang harus aku kunjungi. Jauh dari kota Jakarta," lanjut nya seolah tahu isi pikiran Nayla yang ingin bertanya namun ragu.
"Aku boleh ikut ?"
,,,,,,,,,,,
"Kak, bukankah seharusnya aku pergi saja ? Nayla pasti pergi karenaku sampai membuat Tante sakit," lirih Michelle saat melihat dokter pribadi keluarga Wijaya baru saja selesai memeriksa Nyonya Marisa. Semalam setelah berdebat dengan Nayla, Wanita paruh baya itu langsung pingsan dan kembali drop.
"Sudah berapa kali aku bilang ini bukan salah kamu, Michelle. Sudahlah jangan katakan itu lagi. Aku harus ke kantor sekarang,"
"Ini hari minggu, Kak. Kenapa Kakak kekantor ?"
"Ada banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Kamu kan tahu beberapa hari ini kerjaanku berantakan karena harus mencari Nayla,"
"Aku ikut, Kak. Janji aku tidak akan mengganggu,"
,,,,,,,,,,,
Pada akhirnya setelah melewati perdebatan yang cukup panjang, Nayla diizinkan ikut dengan Adit . Mereka sedang berada di halte menunggu bus menuju terminal. Sedari tadi mereka hanya duduk saling diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hingga tak lama kemudian bus yang ditunggu pun datang. Karena ini weekend bus menjadi sangat ramai, mereka berdua harus rela berdiri karena tak mendapat tempat duduk yang kosong.
"Kak, Sepertinya tadi aku melihat Nayla. Kakak lihat juga kan ?" tanya Michelle pada Samuel . Saat mereka sedang berhenti dilampu merah, tanpa sengaja mereka melihat Nayla masuk kedalam bus. Saat ingin menghampirinya, lampu lalu lintas sudah berubah warna hijau.
"Aku juga melihatnya. Tapi tadi dia sepertinya dengan seorang pria. Kamu mengenalnya ?"
"Sekilas mirip Adit. Teman sekelas kita,"
"Adit ?"
Michelle mengangguk "Adit itu terkenal pintar tapi dia sering membolos dan juga nakal kalau yang aku dengar dari teman teman,"
Samuel mencengkram stir mobil nya kuat setelah mendengar apa yang baru saja Michelle katakan. "bagaimana Nayla bisa bersama pria seperti itu,"
,,,,,,,,,,,,
Nayla sedikit risih karena sedari tadi ada seorang pria paruh baya yang mencoba menempel ke tubuh nya. Gadis itu terus berusaha menghindar dari pria yang berdiri ditengah antara dirinya dan Adit itu. "Maaf Pak, tolong jangan terlalu dekat," ucapnya dengan nada sopan, namun pria paruh baya itu tampaknya hanya menghiraukan peringatannya. Bahkan pria itu terlihat semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Nayla.
"Sayang, Apa kamu masih marah ? Jangan menjauhiku. berdirilah disamping ku," seru Adit sambil menarik tangan Nayla untuk berdiri disamping nya. Mengubah posisi yang tadinya pria paruh paya tadi ditengah mereka menjadi Dirinya yang di tengah.
Adit melingkarkan tangannya di pundak Nayla , seperti merangkul nya agar tak jatuh dan di goda oleh penumpang lainnya. Nayla yang diperlakukan seperti itu seolah tak percaya , ternyata Pria sedingin Adit benar benar baik.
,,,,,,,,,,,,,
Sambil menunggu Samuel bekerja, Michelle sibuk dengan ponsel nya. Gadis itu saat ini sedang mengirim pesan pada Dinda untuk meminta foto Adit. Setelah mendapat foto yang diinginkan, Michelle langsung membuka foto itu, gadis itu terkejut. ternyata benar yang tadi pergi dengan Nayla itu memang Adit.
"Kak, lihat ini. Jadi benar kan tadi yang bersama Nayla itu Adit," seru nya menghampiri Samuel dan menunjukkan foto Adit yang baru saja Dinta kirim.
"Itu Adit ?"
"Iya. Jadi benar mereka pergi bersama. Ah kenapa Nayla bisa pergi dengannya ? Aku takut dia kenapa-napa,"
Samuel memijat pelipisnya pusing , pekerjaannya sudah membuat kepalanya pusing sekarang ditambah Nayla. "Michelle, kamu tahu di mana rumah pria itu ?"
Michelle menggeleng. "Tidak. Tapi aku akan bertanya pada temanku. Kakak ingin kesana ?"
,,,,,,,,,,,
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 jam akhirnya Adit dan Nayla sudah sampai di tempat tujuan mereka. "Panti asuhan ?" tanya Nayla membaca papan nama besar didepannya.
"Hmm ayo,"
Adit berjalan masuk kedalam kawasan panti asuhan diikuti Nayla di belakang nya. Panti asuhan ini cukup besar , didepan gerbang ada halaman taman yang cukup luas dengan berbagai mainan seperti ayunan , perosotan dll. Ditambah pepohonan dengan daun berwarna hijau membuat suasana terasa asri.
"Kak Adit !!!" dari teras panti sudah ada seorang anak kecil yang berteriak sambil berlari kearah mereka.
Dengan sekali gerakan, bocah kecil itu sudah berada pada dekapan Adit.
"Kak, Chiko kangen,"
Adit mengusap rambut Chiko yang berada di dekapannya "Ibu bilang kamu demam. Sudah sembuh ?"
Chiko mengangguk kemudian melepas pelukannya. "Iya, Semalam Ibu bilang katanya kakak akan datang jadi aku langsung sembuh," jawab bocah itu dengan senyum cerah nya.
"Anak pintar,"
"Kak, itu siapa ? Pacar kakak ?" Tanya Chiko melihat Nayla yang berdiri dibelakang Adit.
"Tidak. Dia hanya teman kakak disekolah, namanya Kak Nayla,"
"Oh. Halo kak Nayla, Namaku Chiko," Sapa Chiko dengan ramah dan sopan. Melihat itu, Nayla pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Kak ayo masuk. Teman-teman Pasti sangat senang. Kak Nayla, Ayo,"
"Eh ?"
"Kalau mau berdiri disini juga tak apa. Ayo Kak," lanjut Chiko yang langsung menarik tangan Adit pergi meninggalkan Nayla sendirian di halaman panti.
"Apa ? Ckk, kenapa bocah itu sangat menyebalkan," Gumam Nayla kesal melihat Chiko dan Adit pergi meninggalkannya sendirian.
,,,,,,,,,,,,,
"Hei jangan rebutan. Bagi satu-satu yang rata ya. Nggak boleh rebutan," Seru Adit pada beberapa anak panti yang tengah berebut Coklat yang ia bawa.
"Oh Nak Adit, kamu sudah datang ?" Bu Andara yang baru saja keluar dari ruang kerjanya berjalan menghampiri Adit.
Melihat kedatangan Bu Andara, Adit meminta Chiko untuk mengambil alih coklat yang ia bawa untuk dibagi rata pada teman-temannya. "Siap kapten! Ayo yang mau coklat kejar aku !!" teriak Chiko berlari meninggalkan ruang tamu diikuti teman-teman nya.
"Selamat siang, Bu," Sapa Adit sambil membungkuk sopan.
Bu Andara tersenyum kemudian mendudukkan dirinya di kursi samping jungkook berdiri. "Duduklah. Oh ngomong-ngomong siapa gadis cantik ini ? Pacarmu, Dit?"
Nayla yang sejak tadi hanya berdiri diam itupun langsung mengucapkan salam pada wanita paruh baya itu. Sepertinya Bu Andara menyukai nya, terlihat saat wanita paruh baya itu tidak bisa berhenti menyunggingkan senyum nya. "kamu sangat cantik. Ibu pikir kalian pacaran hehe, ayo nak Nayla silahkan duduk,"
"Terima kasih Tante, Hmm sepertinya saya ingin berkeliling di panti ini saja, apa boleh ?" Tanya Nayla meminta izin pada Bu Andara, Gadis itu tidak ingin mengganggu obrolan Adit dan Bu Andara.
"Tentu saja boleh. Silahkan Nak Nayla kalau ingin berkeliling. Apa perlu ibu temani ?"
"Tidak perlu, Tante. Biar saya sendiri saja. Kalau begitu saya permisi,"
Nayla pun langsung melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu panti asuhan itu. Tujuannya yang pertama adalah taman panti yang sejak tadi membuatnya kagum. Di taman itu dia tidak sengaja melihat seorang gadis kecil yang tengah duduk sendirian diatas ayunan. Dengan senyum merekahnya, Nayla menghampiri gadis kecil itu. "Hai," Sapa nya kemudian mendudukan dirinya diayunan samping gadis kecil itu.
"Kamu kenapa disini sendirian ? Kamu tidak meminta coklat seperti yang lain ?" tanya Nayla namun gadis itu hanya menoleh sebentar lalu kembali menatap lurus.
"Siapa namamu ?"
Lagi , pertanyaan Nayla sama sekali tidak ditanggapi oleh gadis kecil itu. "Ckk, apa dia sama sepertiku ?" gumamnya kesal.
"Namanya Putri, Kak. Dia memang begitu suka sendiri, nggak asik," sahut Ciiko yang entah datang dari mana. Bocah itu berjalan menghampiri mereka berdua.
"Kakak jangan mengajaknya berbicara, percuma dia tidak akan menjawabnya,"
"Kamu nggak usah ikut campur, Chiko!! Dasar anak nakal," Seru Putri tak terima dengan apa yang baru saja Chiko katakan tentang dirinya pada Nayla.
"Memang benar kan kamu itu suka menyendiri. Tidak asik jadi kamu tidak punya banyak teman weeekkk," Bocah tengil itu tampaknya sangat suka menjahili temannya.
"Memangnya kenapa ? Yang penting aku tidak nakal sepertimu !"
"Ckk, dasar orang aneh,"
"Dasar anak nakal," Teriak Putri tak mau kalah.
"Aneh !!"
"Nakal !!"
"Kamu aneh !"
"Kamu nakal !"
Melihat bagaimana 2 bocah didepannya itu bertengkar membuat Nayla teringat sesuatu. Sesuatu di masa lalu nya yang hampir sama dengan kejadian sekarang.
"Dasar gadis aneh,"
"Kamu nakal,"
"Kamu aneh,"
"Huaa hiks Mamah, Michelle tidak aneh,"
"Hei? Kalian apakan temanku ?" teriak Nayla pada orang-orang yang mengejek Michelle dengan sebutan Aneh.
"Temannya orang aneh datang haha kabur,"
"Awas saja Kalian ya!"
"Michelle, kamu gapapa?" Tanya Nayla menghampiri Michelle yang masih menangis.
"Hiks memangnya aku aneh ya nay?"
"Tidak , mereka yang aneh dan nakal. Sudahlah jangan di dengerin mereka,"
Memori masa kecil nya dengan Michelle tiba-tiba teringat lagi saat melihat perdebatan Chiko dan Putri. Hingga beberapa detik kemudian, suara sesuatu yang terjatuh membuatnya tersadar dari lamunannya. Chiko baru saja mendorong tubuh Putri hingga membuat gadis kecil itu terjatuh dan menangis
"Putri!" Teriak Adit tak sengaja melihat kejadian itu. Pria itu langsung berlari menghampiri Putri, membantu gadis kecil itu untuk berdiri.
"Putri, kamu gapapa ?"
Gadis kecil itu kembali menangis saat melihat lututnya mengeluarkan darah. "Hiks sakit, Kak,"
"Chiko, kenapa kamu mendorong Putri ? Ayo minta maaf," Pinta Adit pada Chiko.
"Tidak mau. Putri mengataiku Anak nakal,"
"Hiks kamu kan hiks memang nakal,"
"Aku tidak nakal gadis aneh !!"
"Aku tidak aneh !!"
"Chiko, minta maaf pada Putri. Kakak tidak suka Chiko menyakiti perempuan,"
Pada akhirnya Chiko mau meminta maaf pada Putri. Senakal-nakal nya Chiko, dia akan Menuruti perkataan Adit.
"Putri, maafin aku. Maaf aku sudah mengatimu Aneh,"
Adit tersenyum senang melihat 2 bocah yang biasanya bertengkar itu akhirnya baikan. "Nah gitu kan enak dilihat nya. Chiko, kamu kan cowok , kamu harus bisa jagain putri. Kakak akan sangat bangga jika Chiko bisa menjaga putri. Kamu mengerti kan ?"
"Mengerti Kak,"
Nayla yang sejak tadi hanya diam sangat terkejut melihat sosok lain dari Adit. Ternyata selama ini yang orang bilang tentang pria itu nakal , dingin dan kejam semuanya salah. Nyatanya Adit adalah orang yang sangat hangat.

Comentário do Livro (155)

  • avatar
    AlfatihBarra

    waah aku yang baca ikutan sakit hati😭

    17/05/2022

      0
  • avatar
    Melyana Utami

    Bagus cerita nya

    09/07/2025

      0
  • avatar
    Emy Santonii

    Keren banget sih

    07/06/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes