logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 22 Korban Di Dua Sekolah

"Ponselku di kamar, Ma. Baterainya habis. Kenapa?"
Yulissa menyerahkan tugas untuk menambahkan choco chips pada biskuit cokelat yang hendak dipanggang berikutnya kepada Yonna.
"Mama lupa memberi tahu kalau nomor telepon Mama sudah berganti."
"Kok, diganti? Tapi … Waktu itu Yonna telepon, panggilannya masuk, Ma. Cuman tidak diangkat saja."
"Hari itu Mama memang masih menggunakan nomor biasa, tetapi tepat sekitar satu jam sebelum mendapat kabar tentang ayahmu, tas kecil Mama yang berisi ponsel dan uang kes dirampok. Ketika sudah pulang dari pusara kemarin, barulah Mama beli gantinya," jelas Yulissa panjang.
"Ya, ampun. Mama nggak kenapa-kenapa, 'kan? Rampok itu apain Mama? Nggak ada yang luka?" tanya Yonna khawatir, disentuhnya tubuh sang mama untuk memeriksa apakah ada yang luka.
Tersenyum simpul mendapatkan perhatian dari anaknya, Yulissa senang jika Yonna sungguh telah memaafkan dirinya. "Mama baik-baik aja, kok. Tidak ada yang luka ataupun tergores. Orang itu langsung merebut dan membawa tas Mama, tidak terlihat ada tanda adanya niat ingin melukai," jelasnya lembut.
Merasa tenang mendengar jawaban dari mamanya, Yonna mengangguk paham. Lantas ia berpindah untuk mengambil loyang tambahan.
"Nak," panggil Yulissa.
"Iya, Ma." Yonna menoleh, sembari ia memarut keju cedar untuk tambahan taburan di camilan yang lain.
"Gimana hubungan kamu sama Luther? Mama perhatikan makin dekat, ya, kalian," goda Yulissa.
Yonna terkikik malu, "Iya, Ma. Makin ke sini, kami malah merasa semakin membutuhkan satu sama lain. Luther itu baik banget, selalu ada untuk Yonna. Maka dari itu, Yonna nggak akan lepasin Luther!" tekad Yonna penuh semangat.
"Mama bersyukur setiap menemukan kebaikan dalam diri Luther. Terlepas dari timbal balik sebuah hubungan antar pasangan, Mama selalu berharap Luther akan ada di sisi kamu, bagaimanapun itu."
"Yonna juga punya harapan yang sama. Yonna pasti akan berperilaku baik kepada Luther. Mama jangan khawatir, jika itu yang Mama maksud dengan timbal balik hubungan kami."
Yulissa tersenyum, lalu mengangguk. "Bagus kalau begitu. Bagaimanapun juga, Luther membutuhkan perhatian dan kasih sayang kamu."
Membenarkan ucapan sang mama, Yonna berdeham. Namun, detik berikutnya ia tampak tengah berpikir keras. Melirik Yulissa sesekali, dengan ragu.
Merasakan kegelisahan anaknya, Yulissa pun menoleh. "Ada apa? Kamu kelihatan gelisah. Kalau ada sesuatu yang pengin kamu bilang atau tanyakan, katakan saja. Mama siap mendengarkan."
Yonna kembali berdeham, tetapi tidak kunjung berbicara. Setiap kata yang sudah terangkai di kepalanya, seakan tertahan di tenggorokan. Suaranya pun, enggan untuk membantu menyampaikan.
"Ayo, Mama nunggu, nih. Kenapa? Atau kamu sebenarnya lagi berantem sama Luther, tapi tidak enak jujur ke Mama? Atau teman-teman kamu tidak jadi datang?" terka Yulissa yang ingin Yonna segera mengutarakan isi hatinya.
"Atau mungkin ini tentang Mama?" terkanya lagi.
Menggeleng cepat, Yonna mengelak dugaan terakhir sang mama. "Nggak, Ma. Ini bukan tentang Mama, tapi tentang Yonna sama Luther."
"Terjadi sesuatu?"
"Yonna nggak tahu ini waktu yang tepat atau justru akan memperburuk keadaan, tapi Yonna cuman pengin Mama tahu."
"Kalau gitu, katakan saja, Nak." Yulissa menghentikan aksinya sepenuhnya.
Bibi yang baru saja selesai memeriksa biskuit dalam oven dari kaca pembatas, turut menanti apa yang hendak diucapkan oleh Yonna. Melihat raut nonanya yang tampak ragu juga takut.
"Di hari Mama jemput Yonna untuk datang ke pusara Ayah, sebelum Malilah dan yang lainnya datang. Luther…," gantung Yonna.
"Luther?"
"Luther melamar Yonna, Ma," gumam Yonna sembari menutup rapat kedua matanya.
Tidak terdengar respons apa-apa, Yonna mengintip dan mendapati sang mama terbengong di depannya.
"Ma? Maaf, Yonna tahu ini bukan saat yang tepat, tapi Yonna malah memaksakan diri untuk ngomong sekarang."
"Ah, tidak. Bukan itu, Nak. Kamu tadi bilang dilamar?" tanya Yulissa hendak memastikan ia salah dengar.
"He-em." Yonna mengangguk kaku.
Garis bibir yang semula datar, berubah menjadi lengkungan tajam seperti bulan sabit. Yulissa melepaskan kaus tangan plastiknya, beralih memeluk Yonna dengan erat.
"Selamat ya, Nak!" seru Yulissa bahagia.
Bibi pun ikut memberi selamat, tak ayal ia bertepuk tangan.
"Mama nggak marah?" tanya Yonna ragu.
Melepaskan pelukannya, kening Yulissa mengerut. "Kenapa Mama marah?"
"Ayah ka, baru aja-"
"Sstt! Meskipun Ayah kamu baru pergi, bukan berarti kita, keluarga kita tidak boleh menerima kabar baik, bukan?"
"Mama serius?"
"Iya, sayang," jawab Yulissa yang langsung mendapat pelukan dari anaknya tersebut.
"Kebahagiaan kamu, kebahagiaan Mama juga. Tapi, kamu belum lulus sekolah, loh. Sudah dilamar aja."
Yonna terkekeh kecil, satu tangannya menggaruk tengkuk yang tak gatal. "Waktu itu, Yonna pernah bilang ke Mama, kan?"
"Tentang apa?"
"Yonna nggak ada keinginan untuk lanjut kuliah, Yonna mau langsung cari kerja aja."
Menghela napasnya, Yulissa meraih kedua bahu sang anak. "Kamu yakin dengan keputusan itu? Banyak keuntungan dari kuliah, Nak. Termasuk dalam hal pekerjaan. Kamu sungguh tidak berniat melanjutkan pendidikan setelah lulus nanti?" Yulissa mencoba membujuk Yonna.
"Nggak, Ma. Sejauh ini, Yonna belum pernah terbesit untuk itu. Yonna mau langsung kerja aja, Yonna sudah cari-cari lowongan pekerjaan, kok, Ma. Dan dari yang Yonna dapatkan, banyak juga yang tidak masalah dengan hanya memiliki ijazah SMA."
Tersenyum pasrah, Yulissa mencoba menebaknya sekali lagi. "Kamu mau nyanyi?"
Menundukkan kepalanya, Yonna memilih memandang sendal rumahnya.
"Mama dulu sering banget dengerin kamu nyanyi, Mama juga diam-diam buat akun dan memutar video yang kamu unggah berulang kali."
Terkejut, Yonna menatap sang mama dengan cepat. "Mama serius? Jangan bercanda, Mama bilang gini karena kasihan sama Yonna, 'kan?"
"Tidak, sayang. Mama berkata jujur, setiap harus lembur bekerja, pasti Mama akan memutar video kamu. Tapi kenapa dalam sebulan ini kamu tidak pernah menambahkan unggahan terbaru?"
Membuang napasnya kasar, Yonna memandang bibi yang ternyata sedang mengeluarkan biskuit dari oven. "Semenjak kejadian teror di pasar malam, Yonna jadi nggak kepikiran untuk meng-cover lagu apa pun, Ma. Dan semakin ke sini, Yonna seakan kehilangan semangat untuk itu dalam kondisi yang malah makin nggak aman."
"Kamu benar, Nak. Maafkan Mama, ya? Seharusnya Mama dukung kamu, memperkuat keyakinan untuk selalu melindungi."
"Nggak perlu minta maaf, Ma. Yang terpenting sekarang, kita sama-sama."
"Terima kasih, ya, sayang. Mama selalu mendukungmu!"
/////
Menjelang waktu malam, Yonna tengah duduk di sofa, menonton berita saat ini. Sekalian ingin menunggu teman-temannya datang, semua jajanan sudah siap. Di grup chat mereka, Malilah berkata kalau mereka merencanakan untuk pesta piama.
Walau Akia sempat menahan agar kegiatan itu diundur saja, Yonna menolak saran Akia tersebut. Tidak ada yang salah dengan memakai piama selaras, perang bantal, menikmati film sambil makan bersama. Ia pun, setuju dan memutuskan untuk melakukan semuanya bersama.
Bagi Yonna, memang buruk jika kita berlarut dalam duka. Tidak ada yang salah dengan mencoba menghibur diri. Namun, bukan pula itu bermaksud untuk tidak menghargai dia yang sudah tiada. Asal tahu batasan, tidak melakukannya secara berlebihan.
Meneguk habis jus jeruk yang tersisa sedikit, Sharmion mengerutkan dahi bingung saat di layar televisi tertera nama sekolah yang sangat tidak asing.
SMA Wondrous.
Menajamkan pendengarannya, Yonna dibuat terkejut dengan berita yang disiarkan.
"Pada sore hari, tepatnya pukul tiga lewat sepuluh, wakil kepala sekolah di dua sekolah yang berbeda dikabarkan menjadi korban teror. Di rumah masing-masing, dua pria paruh baya ini yang memiliki profesi sama yaitu wakil kepala sekolah menengah atas, dihabisi tanpa ampun.
Aneh memang, mereka terbunuh dalam kurung waktu yang hampir bersamaan. Terlebih lagi profesi keduanya yang serupa. Pria paruh baya yang bernama John Pandira sebagai wakil kepala sekolah SMA Merah Putih, dan Pahar Toli yang tak lain adalah wakil kepala sekolah SMA Wondrous. Dengan anggota keluarga masing-masing yang menjadi saksi.
Para korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, dengan tubuh yang sudah bergelimangan darah. Bahkan salah satu korban, yaitu John Pandira disebutkan sudah terpisah antar kepala degan badannya. Untuk pelaku, pihak berwajib belum memiliki tersangka terkuat. Hingga sejauh ini, pihak keluargalah yang menjadi dugaan pelaku sementara," jelas pembawa berita begitu rinci.
Mendengarnya, Yonna menutup mulutnya menggunakan tangan. Terkejut atas kabar yang sungguh jauh tidak tersentuh oleh pikiran, Yonna tidak bisa menahan tangis. Walau mereka jarang bertemu, Yonna tahu kalau wakil kepala sekolah mereka tidak termasuk tipe manusia yang pantas untuk dibunuh. Mengingat sikapnya yang sangat baik di kalangan para murid, belum pernah ia mendengar desas-desus kasus bahkan yang kecil sekalipun.
"Ya, Tuhan! Kenapa bisa kayak gini, sih? Makin banyak yang jadi korban. Sebenarnya siapa pelaku teror itu?"
Yonna memperhatikan tayangan berita yang sudah mengganti pembahasan, menjadi ke topik yang lebih berbeda.
"Pemerintah nggak mungkin diam aja di situasi yang makin gila ini, 'kan? Sumpah! Nggak masuk akal!"
/////
"GILA! Aku juga kaget waktu dengar berita itu, Yon. Nggak pernah aku mikir kalau ini teror sungguhan, awalnya aku kira cuma dendam, atau apalah itu." Malilah menggeleng dramatis.
Mengangguk, Akia ikut berbicara. "Yang membuat saya bingung itu, kenapa wakil kepala sekolah? Maksud saya, mereka dibunuh di waktu yang hampir bersamaan."
"Sa-saya juga penasaran, a-apalagi dua se-sekolah itu cukup ter-terkenal," tambah Petunia, di tangannya menggenggam satu wadah kaca berisi biskuit.
"Nah, itu dia yang dipertanyakan! Kenapa harus orang-orang dari sekolah kita?" Malilah menatap Petunia, lalu melanjutkan ucapannya, "Petunia, kau kan, pernah sekolah di sana. Menurutmu, apakah wakepsek di sekolah lamamu itu pernah melakukan kasus?"
Terlihat berpikir, Petunia menggelengkan kepala. "Setahu sa-saya, tidak pernah a-ada berita bu-buruk masuk ke pen-pendengaran kami se-sebagai murid. Bapak J-John sangat ramah, di-dia suka membelikan mu-muridnya makanan," jawabnya, lalu memakan satu biskuit cokelat di pelukan.
"Sama seperti Pak Pahar, tidak pernah ada skandal tentangnya. Setidaknya sejak awal kita masuk sekolah," ujar Akia ikut berpikir.
Mengayunkan kepalanya naik turun, Yonna menduga-duga, "Kalau mereka punya skandal sampai menjadi sasaran pembunuhan di masa lalu sebelum kita masuk SMA, pasti ada saja kabar yang disebarkan secara turun temurun dari senior, 'kan?"
"Betul!" seru Malilah yang membenarkan dugaan Yonna.
"Kalau memang ada, pasti kita sudah dengar. Secara, apa yang Malilah nggak ketahui di sekolah kita."
"Atau, minimal sudah muncul desas-desus keburukan mereka di grup masing-masing sekolah," duga Yonna lagi.
Menepuk kedua tangannya sekali, Malilah menarik perhatian seluruh penghuni di kamar Yonna tersebut. "Jangan-jangan ini berkaitan sama roh Vasha yang waktu itu kau ceritakan, Pet!"
"Pet?" tanya Akia yang justru salah fokus dengan panggilan dari Malilah tadi.
"Petunia maksudnya, namanya terlalu panjang," perbaiki Malilah.
Tidak lama, terdengar gumaman dari arah Yonna duduk. "Betul juga kau, Lil. Bisa jadi roh Vasha yang kau ceritakan hari itu yang mengganggu wakepsek kalian."
"Ta-tapi kenapa?"
Yonna sedikit melirik remahan biskuit di ujung bibir Petunia, juga memintanya untuk membersihkan menggunakan kode. Setelah melihat noda itu dibersihkan langsung oleh Petunia, Yonna melanjutkan hasil pemikirannya.
"Mungkin karena ketika murid-murid lain membicarakan tentangnya, wakepsek yang kamu bilang ramah tadi nggak membantu dia. Misalnya meminta murid lain untuk berhenti atau diam."
"Oh, jadi maksudmu dia dendam gitu, Yon?"
"Iya, Lil! Dia bisa aja dendam karena bapak itu kan, terkenal ramah. Kok, malah nggak bantuin dia yang juga murid di sana. Kita juga tahu jelas kan, kalau bullying itu nggak baik. Ya, walau dari yang Petunia ceritakan watak si roh Vasha ini nggak baik."
"Bi-bisa jadi, Y-Yon. Itu ma-masuk akal juga," setuju Petunia selanjutnya.
"Lalu, bagaimana dengan wakepsek dari sekolah kita? Apakah ada hubungannya juga dengan roh Vasha?" tanya Akia.
Merasa bingung, Yonna ikut mempertanyakan mengenai mengapa wakil kepala sekolah mereka jadi korban, jika ini berkaitan dengan roh yang ia duga.
"Iya juga, apa hubungannya dengan sekolah kita? Kalau kebetulan aja, nggak mungkin, deh. Ini terlalu aneh jika kebetulan semata."
"Atau…?" Malilah memancing Yonna juga Akia menatap ke arah Petunia, hingga murid pindahan itu menunjuk diri sendiri.
"Sa-saya? Ka-karena saya?"
"Nggak mungkin," sangkal Yonna, "yang pindah dari sana kan, bukan cuma kau. Memang nggak ke SMA Wondrous, sih."
"Jangan asal duga," timpal Akia, "kalau ini karena murid dari sekolah itu pindah, pasti bukan hanya sekolah kita yang menjadi korban. Jangan berpikir mereka sedang menuduh kamu ya, Petunia."
"Ti-tidak apa, sa-saya juga sempat mendu-duga begitu," balas Petunia.
"Pertez?"
Mendengar itu, Petunia menoleh cepat ke sumber suara.

Comentário do Livro (26)

  • avatar
    ArifinFadhil

    apk nya bagus

    17/10/2024

      0
  • avatar

    jelek

    27/12/2023

      0
  • avatar
    RadiansyahRafi

    iya

    11/04/2023

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes