Terburu-buru ku pakai jaket warna hijau, simbol salah satu ojek online ternama di negri ini. "Maafkan Aku Vin , Tunggu suami mu ini sayang. Sebentar lagi Aku datang." Ucap ku lirih dengan air mata yang mengalir deras. Segera ku hidupkan motor dan melesat pergi meninggalkan rumah Ibu. Tak ku pedulikan lagi sumpah serapah Ibu. Yang ada dalam fikiran ku saat ini adalah Vina dan Bayi kami yang baru saja lahir. "Maafkan Gilang Bu, Aku harus pergi menemui istri dan anak ku Bu. Mereka membutuhkan kehadiran ku saat ini." Hiks. Hiks. Hiks. Ku usap air mata yang mengalir deras, berharap bisa sekedar mengurangi rasa sesak di dada. Tak henti bibir ini bermonolog, menyesali diri. "Kumohon jangan pergi Vin. Kuatlah Vin demi Bayi kita. Bertahanlah sayang." Hiks. Hiks. Hiks. Motor ku laju dengan kencang, berharap segera sampai di kontrakan. "Tunggu Ayah sayang, Sebentar lagi Ayah datang." Kembali ku hapus air mata yang sedikit menghalangi pandangan. Kutambah kecepatan agar diri ini segera sampai. Ku salip Bus angkutan kota yang sedari tadi menghalangi laju motor ku. Tak di nyana dari lawan arah melaju kencang Truk pengangkut pasir. Karena gugup motor ku menyenggol Bus dan Aku terjatuh. Tiiin. Tiiin.Tiiin. Ciiiiit. Braaakk. Aaaarghhh. Aku menjerit sekencang mungkin menahan rasa sakit pada betis ku. Sekilas ku lihat Roda truk melindas kaki ku, Dan akhirnya semua terasa gelap. Perlahan ku buka mata, silau sesaat. Kuedarkan pandang pada seluruh ruang yang bercat putih, sepi. Kriieet. Kulihat pintu terbuka dan seorang perawat menghampiri ku. "Sudah bangun pak. Saat ini bapak berada di ruang pemulihan paska operasi, karena Bapak mengalami kecelakaan. Untuk lebih jelasnya biar nanti dokter yang menjelaskan di saat Visit." Aku hanya diam mendengarkan ucapan suster. Tubuh ini terasa lemah walau hanya sekedar sepatah kata pun tak terucap. "Saya cek tekanan darahnya ya pak. Jika kondisi sudah memungkinkan, segera akan di pindah ke ruang rawat." Hanya ku anggukkan kepala pelan sebagai jawaban. "Oke, tensinya 110/76. Sudah lumayan bagus ya pak. Saya tinggal permisi dulu ya pak, mari." Ucap suster sembari melepas alat tensimeter. Kupejamkan lagi mata ini berharap setelah beristirahat, lelah ini segera pergi.
"Pasien akan segera kami pindahkan ke ruang rawat inap." "Baik Suster silahkan ,saya akan mengikuti dari belakang." "Apa pasien belum sadar Sus?" "Tadi sudah sadar Sus, mungkin tertidur lagi." "Baik kalau begitu, mari kita pindahkan ke ruang rawat inap." Kudengarkan suara-suara orang yang bertanya jawab tentang kondisiku. Rasanya malas sekali membuka mata, hanya lemas itu yang kurasakan saat ini. Entah apa yang terjadi padaku, tapi aku bersyukur masih bisa selamat dari kecelakaan itu. Terbayang jika Aku sampai mati, bagaimana nasib Vina dan bayi kami yang baru saja lahir? gumamku dalam hati.
Kurasakan tubuh ini bergerak ketika beberapa Pewarat laki-laki mengangkat dan memindah kan tubuh ini pada tempat tidur pasien. Ku buka mata ini dan lirih bertanya. "Bagaimana kondisi tubuh saya Sus?" "Mas Gilang sudah sadar?" Terdengar suara orang bertanya menyela ucapan Suster. Dan aku hanya menganggukan kepala. Rasanya masih terasa luluh lantak tubuh ini. "Untuk kondisi Bapak Gilang nanti biar di jelaskan oleh dokter yang visit. Mungkin sebentar lagi pak. Saya tinggal dulu ya pak. " Ucap suster seraya pergi setelah mengecek semua proses pemindahan pasien selesai. "Bagaimana keadaan Istri dan Anak saya Pak?" memaksakan diri bertanya, walau badan masih terasa lemah. Aku berusaha menoleh ke arah Pak Rahmat Ketua RT di lingkungan tempat Ku mengontrak rumah bersama Vina. "Lebih baik Mas Gilang istirahat lagi saja. Saya lihat kondisi nya masih sangat lemah. Saya menemani di sini. Kalau sudah membaik nanti pasti akan saya ceritakan semua." "Iya Pak, bahkan untuk membuka mata saja terasa berat." Ucap ku lirih dan kembali memejamkan mata. "Istirahatlah Mas, nanti kalau Dokter datang untuk visit, saya bangunkan." Ku jawab hanya dengan anggukan lemah ucapan Pak Rahmat. 🌼 "Apa pasien belum bangun Pak?" "Sudah Dok, tapi tidur lagi. Masih lemas begitu Dok katanya." Segera ku buka mata ketika ku dengar ada dokter yang visit. " Sudah bangun Pak? Apa yang di rasakan saat ini?" tanya dokter ketika melihat ku membuka mata. "Saya tidak merasakan apapun Dok hanya lemas." "Berarti efek bius paska operasi masih terasa. Kemungkinan lima belas menit lagi akan hilang efeknya. Nanti bisa minta suster untuk suntikan pereda nyeri." "Sebenarnya saya operasi apa Dok?" tanyaku heran. "Mohon maaf Mas Gilang, Bapak yang menandatangani surat untuk operasi, karena kondisi mendesak. Dan tidak ada sanak saudara Mas Gilang yang bisa saya hubungi. Sekali lagi saya mohon maaf Mas." Ucap Pak Rahmat lemah. "Begini Pak Gilang, akan saya jelaskan. Kecelakaan yang di alami Pak Gilang menyebabkan kedua tulang betis Bapak hancur terlindas Ban mobil truk pengangkut pasir, jadi dengan sangat menyesal kami pihak Dokter mengambil keputusan untuk mengamputasi kedua kaki Bapak Gilang." Terkejut mendengar penjelasan Dokter, entah kekuatan dari mana hingga diri ini bisa bangun dan terduduk. Segera kusibak selimut yang menutup setengah dari tubuh ini. Terkesiap melihat kedua kaki yang terbungkus perban dengan hanya tersisa pada pangkal paha. [Tidak, ini tidak mungkin.] Gumamku lirih seakan tak percaya. Air mata pun bergulir membasahi pipi "TIDAAAK! AKU NGGAK MAU CACAT! Huu. Huu Hiks. Hiks." Teriakku dengan tangis menyayat hati. Berharap ini semua hanya mimpi, dan ketika terbangun semua kembali baik-baik saja. Ternyata semua ini nyata, ketika ku tatap dua kaki yang tak lagi sempurna. "Sabar Mas Gilang, ikhlaskan. Ini semua takdir Yang Kuasa." Ucap Pak Rahmat menghiburku. Sedang diri ini masih terisak. "Kami akan terus mengobservasi kondisi Bapak kedepannya. Saya harap Bapak dan keluarga bisa tabah. Yang terpenting sekarang kesehatan Bapak agar secepatnya membaik. Sepertinya saya sudahi visit kali ini.Saya akan mengunjungi pasien lainnya." Pamit dokter kemudia. meninggalkan ruanganku. "Baik Dokter. Terima kasih atas bantuannya." Ucap Pak Rahmat ketika melihat ku masih saja termangu. [Bagaimana Aku menghidupi Bayi ku jika keadaan ku cacat seperti ini. Bahkan pemakaman Vina pun Aku tak menghadiri. Ya Alloh, jika cacat ini bisa sebagai penggugur dosa Ku pada Ibu, akan ku ikhlaskan jangan kan kaki tubuh ini pun ku serahkan. Hiks. Hiks.] Tak henti mulut ini bergumam berharap hati agar ikhlas dan pasrah walau ku yakin hidup yang ku jalani kedepannya akan terasa lebih berat. 🌼🌼🌼🌼 Bersambung.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 22 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (111)
QorinaFatchul
Alhamdulillah, akhirnya publish juga. Untuk Reader selamat membaca, semoga suka dengan cerita yang ku persembahkan ini. jangan lupa ya follow dan komentarnya ....Terima kasih.🥰🥰🥰
Alhamdulillah, akhirnya publish juga. Untuk Reader selamat membaca, semoga suka dengan cerita yang ku persembahkan ini. jangan lupa ya follow dan komentarnya ....Terima kasih.🥰🥰🥰
21/12/2021
1halo semua
12/03
0aku tolong minta jagakan
12/03
0Ver Todos