logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 6 Bu Lastri Kecelakaan.

[Tak apa, sudah takdir ku dari kecil hingga tua hidup dalam derita.] Ku Hela nafas yang terasa sesak, seakan ada batu besar yang menindih dada.
Perlahan ku kumpulkan Ubi yang selama ini kutanam sebagai kesibukan penghilang jenuh. Ku rebus sekiranya cukup untuk ku makan seharian nanti.
🌼🌼🌼🌼
POV BU LASTRI
Seminggu sudah Aku bertahan hidup dengan Ubi yang kutanam di belakang rumah. Hari ini anak ku Gilang akan mengunjungi ku . Setiap akhir bulan setelah gajian Gilang menyempatkan mampir menengok ku. Sejak pagi Aku duduk di teras menanti kedatangannya.
Hingga matahari tenggelam tak kunjung ku dengar deru motor nya.
[Mungkin hari ini Gilang sibuk, jadi belum sempat datang menjenguk ku.] Gumam ku menghibur diri.
Bergegas ku raih Ubi yang telah kucuci untuk ku rebus.Ku coba menyalakan kompor tak juga hidup.
[Sepertinya ubi bakar lebih enak dari pada ubi rebus, he he he.] Gumam ku seraya terkekeh menertawakan nasib diri.
Kukumpulkan daun ubi kering dan membakarnya. Ku masukkan ubi yang telah ku cuci. Beberapa saat tercium harum ubi bakar yang menggugah selera. Dengan lahap ku makan Ubi bakar yang masih panas dengan sesekali meniupnya.
Sedari pagi menahan lapar demi menyambut kedatangan Anak tercinta. Tapi ternyata dia terlalu sibuk untuk hanya sekedar menengok wanita tua ini.
Tak ku pedulikan air mata yang mengalir, ku usap dengan tangan yang menghitam bekas mengupas kulit ubi yang terbakar.
[Hemm, enak. Besok Aku makan ubi bakar saja rasanya lebih nikmat.]
Karena terburu-buru makan jadi seret di tenggorokan. Bergegas Aku masuk ke dapur dan mengambil air minum.
[Ternyata air galon pun habis.] Gumam ku lirih. Segera ku ambil gelas dan ku tampung air dari keran wastafel.
Gluk Gluk Gluk.
[Alhamdulillah, ternyata air mentah juga menyegarkan.]
Setelah merasa kenyang, pelan ku langkahkan kaki memasuki kamar. Ku baringkan tubuh lelah ini dan terlelap.
Lima hari telah berlalu. Tapi Anak tersayang ku tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Malam ini ku nyalakan lilin karena listrik pulsa telah habis. Aku bersyukur air masih bisa ku dapatkan dengan timba yang masih terpasang pada tiang sumur.
Tok Tok Tok.
"Assalamualaikum Bu Lastri, njenengan ada di dalam?"
"Waalaikumsalam,ooh Bu RT. Saya kira siapa. Ada apa ya Bu? Mohon maaf ini gelap-gelapan. Listrik pulsanya habis Bu saya belum isi."
"Kebetulan Bu, ini saya mau isikan listrik nya. Karena baru ada promosi subsidi dari PLN Bu. Gratis ini."
"Alhamdulillah. Terima kasih sekali lho Bu RT. Saya baru tahu kalau PLN bisa ngasih listrik gratis ya Bu. Dengar-dengar PLN merugi atau baru bermasalah katanya Bu." tanyaku heran.
"Jangan percaya Bu, Hoax itu. Ini Buktinya Bu Lastri dapat, gratis lagi."
"Terima kasih Bu RT. Nanti kalau anak saya Gilang sudah datang, saya akan ganti uang pulsa listrik nya ya Bu." Ucap ku lirih dengan mata berkaca-kaca, terharu dengan kebaikan hati nya.
"Bu Lastri jangan khawatir ini gratis dari PLN Bu. Malahan ini ada sembako gratis juga dari kelurahan. Tadi saya yang ambilkan. Nah, Alhamdulillah listriknya sudah menyala Bu. Sekarang sudah terang jadi lilinnya di matikan saja ya Bu. Oh ya sekalian saya ke dapur ya Bu, saya pasangkan tabung gas nya."
Aku hanya diam mematung melihat Bu RT sibuk mondar mandir memasukkan sembako ke dapur. Tak lama kulihat dia keluar dengan menjinjing tabung gas kosong.
"Saya pamit pulang dulu ya Bu, si Bapak sudah menunggu untuk makan malam di rumah. Assalamualaikum." Ucapnya sambil berlalu menuju pintu keluar rumah ku.
"Sebentar Bu RT, ada yang mau saya tanyakan. Apa Ini semua Gilang anak saya yang belikan? Apa dia tidak sempat pulang? Saya sudah tua Bu, jadi Ndak bisa pakai telepon. Apa yang terjadi dengan anak saya Gilang Bu? Apa dia baik-baik saja? " tanyaku beruntun.
"Kalau listrik dan sembako murni gratis dari PLN dan kelurahan Bu. Untuk masalah Gilang, nanti saya coba minta ke Bapak e anak-anak biar telepon ke handphone nya mas Gilang ya Bu. Mari Bu saya pulang dulu, soalnya sudah larut malam. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Terimakasih Bu RT."
"Iya Bu, sama-sama."
Perlahan ku langkahkan kaki ku menuju dapur . Terkejut dengan begitu banyak nya sembako di atas meja.
"Alhamdulillah Ya Alloh, Hiks Hiks Hiks. Kau berikan rezeki pada hamba melalui tangan-tangan berhati mulia seperti mereka." Segera ku seka air mata yang mengalir.
Ku hidupkan kompor dan bersiap memasak mi dan telur untuk makan malam ku.
Esok hari Aku masih setia duduk di kursi teras menunggu kedatangan Gilang. Selang beberapa lama terdengar deru motor Gilang. Kulihat dia sekarang pakai jaket seragam warna hijau.
"Assalamualaikum Bu, maaf Gilang baru bisa datang hari ini. Tiga hari kemarin Vina di rawat di rumah sakit Bu."
"Sakit apa Le, maafkan Ibu ndak bisa jenguk Vina. Wanita tua ini sudah semakin renta, ndak mampu melakukan perjalanan jauh Le."
"Jangan terlalu di fikirkan Bu, Vina ndak sakit tapi dia hamil dua bulan Bu. Trimester pertama mual dan muntah, Ndak bisa masuk makanan apapun makanya dia di rawat. Alhamdulillah sekarang sudah mulai membaik. Ibu akan punya cucu, Ibu seneng kan Bu."
"Tentu saja Nak, Ibu sangat bahagia. Sampaikan salam Ibu untuk Vina. Jaga kesehatan jangan lupa banyak istirahat."
"Oh ya Bu, Ini sedikit uang untuk Ibu, Gilang ndak bisa lama-lama ninggalin Vina Bu. Aku pulang ya Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Lirih ku jawab Salam dengan mata berkaca-kaca menahan agar tangis tak lagi keluar.
Setelah kepergian Gilang, perlahan ku langkahkan kaki menuju rumah Bu RT untuk mengganti uang pulsa listrik dan sembako.
"Assalamualaikum Bu RT."
"Waalaikumsalam , ada apa Bu Lastri jauh-jauh jalan ke rumah saya?"
"Ini saya mau mengembalikan uang listrik pulsa dan sembako kemarin Bu."
"Mohon maaf Bu Lastri , tolong di terima ya Bu. Itu tanda kasih dari kami Bu mohon Jangan di tolak ya Bu."
"Apa tidak akan merepotkan warga sini Bu RT?" tanyaku khawatir.
"Kami senang bisa berbagi dengan Ibu , dengan siapapun warga di sini pun sama Bu. Jadi jangan lagi sungkan meminta bantuan pada kami ya Bu."
"Terima kasih Bu RT. Saya pamit pulang dulu ya Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati ya Bu."
Sejak kedatangan Gilang yang mengabarkan kehamilan Vina. Sejak itu pula Gilang hanya datang dua bulan sekali. Dengan menyisihkan uang sebesar tiga ratus ribu saja untuk dua bulan.
Ku putuskan untuk kembali keliling berjualan kue seperti dulu. Walau hasil yang di dapat tak banyak. Tapi bisa untuk menyambung hidup.
Usia kehamilan Vina sudah mendekati hari lahiran. Aku semakin giat jualan agar bisa membelikan baju bayi atau jarik lendang untuk gendongan. Vina pasti senanng.
Jalanan terlihat sangat ramai hari ini. Setelah sekiranya jalan agak sepi aku mulai menyebrang, tapi kulihat motor melaju kencang berusah menghindari ku.
Tiiiit. Ciiiiit.
Brakk.
Kurasa nyeri pada kaki ku, dan semua terlihat gelap.
Ketika aku sadar sudah berada di rumah sakit. Kata dokter ada memar pada kaki kanan ku. Jadi terpaksa kalau jalan memaki tongkat , kruk atau kursi roda. Tiga hari aku di rawat di Rumah Sakit. Selama itu pula tak seharipun Gilang datang menjenguk ku. Hanya Bapak n Ibu RT juga warga sekitar yang bergiliran menemani ku, hingga di perbolehkan pulang.
Setiba di rumah pun mereka bergiliran merawat ku .Bersyukur aku tinggal di lingkungan yang sosialnya tinggi.
Di dalam kamar ku terpekur, memikirkan keadaan yang terjadi pada ku.
[Ternyata anak ku sudah berubah. Dia telah lupa padaku Ibunya.] Ku hapus lagi air mata yang mengalir menyesakkan dada. Nyeri tak terkira ketika merasa tak di anggap oleh anak kesayangan.
" Assalamualaikum Bu." Kulihat Gilang memasuki kamar.
"Bagaimana keadaan Ibu. Maaf ya Bu Gilang tak bisa datang nemanin Ibu di Rumah Sakit.Vina mengalami beberapa kali kontraksi palsu Bu. Ini uang untuk jatah bulanan Ibu, Gilang letakkan di meja ya Bu. Gilang Ndak bisa lama-lama ninggalin Vina. Gilang langsung pulang ya Bu." Ku lihat dia melangkah keluar dari kamar.
"Berhenti di sana, selangkah saja kakimu keluar dari pintu jangan anggap lagi aku Ibumu dan ku haramkan ASI yang telah ku berikan padamu!" ucap ku gemetar menahan Amarah.
🌼🌼🌼🌼
Bersambung.





Comentário do Livro (111)

  • avatar
    QorinaFatchul

    Alhamdulillah, akhirnya publish juga. Untuk Reader selamat membaca, semoga suka dengan cerita yang ku persembahkan ini. jangan lupa ya follow dan komentarnya ....Terima kasih.🥰🥰🥰

    21/12/2021

      1
  • avatar
    Sahiii

    halo semua

    12/03

      0
  • avatar
    AdiReja

    aku tolong minta jagakan

    12/03

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes