logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 5 Kepergian Gilang.

"Alhamdulillah Le, kehadiranmu menemani Ibu. Kita berjuang bersama ya Le, jadilah anak yang Sholeh dan pintar. Mas Usman Putra kita sudah lahir Mas, dia yang akan menemani ku sampai masa tua dan akhir hayat ku." Berkata lirih sambil terus ku usah lembut pipi gembul Putra ku .
🌼🌼🌼🌼
POV BU LASTRI
"Sudah punya nama untuk anak mu Las?" tanya Mak Ijah padaku.
"Mas Usman sudah menyiapkan nama untuk putra kami Mak. Gilang Pratama namanya."
"Bagus sekali namanya Las." Sahut Mak Ijah sembari membersihkan semua perkakas untuk persalinan.
"Seperti nya kok Ndak ada ASI yang keluar ya Mak? Lastri pencet-pencet. sepertinya kosong . Kasihan Gilang dari tadi ngisap tapi Ndak ada air susunya."
"Coba Mak lihat, Lepas kan dulu Gilang, Ndak papa nangis, letakkan di pembaringan." Perintah Mak Ijah sembari meraba dengan tekanan halus berharap air susu keluar.
"Oalah Las, ini to kering kerontang. Mungkin karena umur mu yang lebih dari empat puluh Las, jadinya ASI nya Ndak keluar."
"Terus gimana ini Mak, kasihan Gilang kalau ndak nyusu?" tanyaku khawatir.
"Kamu punya uang ndak? Kalau punya ya beliin susu kalengan. Kalau ndak punya ya bisa pakai air gula atau air tajin."
"Ada Mak, Mas Usman sudah nyiapin uang kok Mak untuk biaya Lastri Lahiran. Bisa di pakai untuk beli susu."
"Kamu yakin Las? nanti seterusnya kamu harus nyiapin uang khusus buat beli susu."
"Ndak papa Mak, nanti Lastri jualan keliling lagi buat beli susunya Gilang."
"Ya sudah mana uangnya, Mak belikan susu sekarang."
"Ini Mak uangnya. Maaf ya Mak jadi merepotkan."
"Ya ndak papa to Las, namanya bertetangga sudah biasa saling membantu. Jangan mikir yang macem-macem, sek penting kamu sehat Gilang sehat jadi bisa jualan lagi nyari uang lagi buat beli susunya Gilang."
"Terima kasih ya Mak."
"Tak tinggal dulu ya Las. Malam ini kamu menginap dulu saja di rumah Mak. Besok pagi Mak antar pulang sekalian masak buat syukuran lahiran."
Hari pun berganti Minggu. Setelah dua Minggu istirahat Aku sudah mulai akan berjualan kue. Ku bawa Gilang dalam gendongan berbelanja bahan untuk Ku jual esok hari.
[Bismillahirrahmanirrahim, Gilang anak Ibu yang Sholeh mulai esok hari ikut Ibu jualan ya Nak. Buat beli susunya Gilang. Sehat selalu Yo Le.] Gumam ku dalam batin seiring doa yang selalu terukir.
Seperti biasa jam dua pagi sudah ku persiapkan semua adonan pembuatan kue agar jam enam pagi sudah bisa berangkat keliling. Niatnya q jualan hanya dari jam enam sampai jam delapan pagi saja . Setelah itu langsung belanja untuk bahan esok hari. Kasihan Gilang kalau harus jualan sampai siang.
[Bismillahirrahmanirrahim] Ku gumamkan sebait doa seiring langkah untuk jualan hari ini.
Gilang dalam gendongan. Sedangkan di tangan kiri ku bawa jinjingan wadah jualan kue.
"Kue. Kue. Kue."
"Oalah Las, sudah mulai jualan to. Sudah kehabisan uang kamu ya? Bayi belum selapan sudah kami ajak keliling jualan." celetuk salah seorang Ibu.
"Iya Bu. Bapak nya Gilang Ndak banyak punya simpanan. Apalagi Gilang harus minum susu. Jadi ya harus jualan lagi. Ndak papa Bu yang penting halal. Semoga Alloh senantiasa beri kesehatan untuk Gilang. Selalu kuat aku ajak keliling jualan."
"Ya sudah sini aku beli kue mu di campur sepuluh ribu ya."
"Masya Alloh, banyak sekali Bu. Terima kasih sudah berkenan membeli kue saya Bu."
"Iya, semoga laris ya Las. Jangan siang-siang pulang nya kasihan Gilang nanti kepanasan."
"Iya Bu, terima kasih sekali lagi. Saya pamit keliling lagi Bu."
Kembali ku langkahkan kaki dengan mantap. Menjajakan kue buatan ku sendiri.
Begitu lah rutinitas setiap hari yang ku lalui bersama Gilang, hingga tahun pun berganti .
Gilang tumbuh menjadi anak yang Sholeh. Tak pernah malu untuk membantu ku menjajakan kue buatan ku. Aku sangat bersyukur begitu sayang nya Gilang terhadap ku.
Pahit getir kami lalui bersama dengan penuh rasa syukur. Alloh selalu berikan rezeki cukup untuk biaya hidup dan sekolah Gilang.
Setahun setelah kelulusan nya dari SMA Gilang mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan sebagai OB. Sujud syukur Ku haturkan kehadirat Alloh SWT. Sejak itu kehidupan kami semakin membaik. Gilang melarang ku berjualan.
"Istirahat di rumah saja Bu. Biar Gilang yang bekerja. Setiap bulan nanti Gilang kasih uang untuk Ibu. Insya Alloh cukup, bahkan melebihi dari hasil jualan kue Ibu setiap harinya."
"Iya Nak, terima kasih sudah menyayangi Ibu di masa tua ini. Semoga Alloh selalu beri rezeki yang lancar dan berkah ya nak." Ucap ku di iringi doa yang tak ada habis nya.
"Sudah menjadi kewajiban Gilang Bu. Menyayangi dan merawat Ibu. Lakukan kegiatan-kegiatan yang ringan saja ya Bu, kalau Ibu merasa jenuh. Yang penting Ibu tetap Bahagia dan sehat selalu."
"Iya Nak, Hiks hiks hiks." Jawabku sambil terisak
"Lho lho kok malah nangis to Bu." Ucap Gilang seraya mendekap ku erat dan mengelus lembut pundak ku.
"Ibu ndak nangis Le, Ibu hanya terharu."
"Gilang akan selalu menyayangi dan merawat Ibu."
"Iya Le, Ibu tahu." Ucap ku dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirku.
Setahun berlalu, Gilang masih sama tak ada yang berubah. Kehidupan kami semakin membaik. Setiap bulan Gilang memberi ku separuh dari gajinya satu juta lima ratus ribu rupiah. Uang yang sangat besar untuk ku. Berkali-kali Aku bersyukur atas nikmat bahagia ini.
Hingga di hari itu Gilang mengutarakan maksudnya untuk menikahi seorang gadis

"Ajaklah main ke rumah Nak, perkenalkan pada Ibu." Ucap ku kala itu, hanya terbayang kebahagiaan karena rumah ini akan tambah ramai dengan hadirnya menantu dan cucu ku nantinya.
Namanya Vina Aulia, gadis yang manis dan kalem. Tak salah Gilang memilih calon Istri. Semoga hatinyapun secantik wajahnya.
Pernikahan Gilang dan Vina di gelar sederhana. Gadis yatim piatu itu begitu baik Budi dan sopan tutur katanya. Bersyukur Aku bermenantukan gadis sesholeha dia.
"Bu, ijinkan Gilang dan Vina untuk mengontrak rumah di dekat kantor ya?" tanyanya kala itu
Tertegun Aku seolah tak percaya dengan pendengaran ku. Anak ku akan pergi meninggalkan ku sendiri.
"Kenapa harus mengontrak Nak? Rumah ini walau tak begitu bagus tapi layak dan bisa di tempati bersama."
"Gilang dan Vina ingin belajar mandiri Bu, nanti setiap bulan Gilang pasti berkunjung ke sini sekalian ngasih uang bulanan untuk Ibu."
[Tidak Nak, bukan uang yang Ibu mau, hanya kehadiran mu menemani masa tua Ibu. Itu yang Ibu inginkan.] Kelu rasanya bibir ini tak sanggup berucap hanya batin yang mampu bergumam.
[Lupakah dengan perkataan mu yang akan menyayangi dan merawat di masa tua Ibu?]
Segera ku hapus setetes air mata yang tak sanggup ku bendung. Sesak rasa dada ini melihat Gilang dan menantuku Vina beranjak pergi meninggalkan rumah ini.
Hanya tangis kecewa yang tak terucap menatap kepergian mereka.
Di bulan pertama setelah kepergian Gilang dari rumah ini, dia datang mengunjungi ku dengan amplop berisi lima ratus ribu rupiah. Tetap ku Syukuri rejeki yang Alloh titipkan melalui tangan Anak ku.
Di bulan-bulan berikutnya Gilang datang dengan menyisihkan uang untuk ku sebesar tiga ratus ribu rupiah. Itupun dia sendiri tanpa Vina. Hanya sepuluh menit dia pun pamit pergi.
[Tak tahukah Nak, Ibu masih merindukan mu. Mengapa hanya sekejap kau datang menjenguk tubuh renta ini.] Gumam ku dalam hati.
Kesepian ini seakan menggerogoti tubuh ringkih ku. Beberapa kali aku jatuh sakit. Dengan sisa uang yang ku punya ku pakai untuk berobat.
Bulan keempat setelah kepergian Gilang dari rumah, uang pemberiannya telah habis ku pakai untuk berobat. Masih ada seminggu lagi waktu kedatangan Gilang ke rumah ini.
Kulihat pendaringan tempat aku menaruh beras telah habis. Ku Hela nafas sesak.
[Sepertinya untuk seminggu ke depan , Ubi sebagai pengganjal perut ku yang lapar.] Tersungging senyum kecut dari bibirku.
[ \Tak apa, sudah takdir ku dari kecil hingga tua hidup dalam derita.] Ku Hela nafas yang terasa sesak, seakan ada batu besar yang menindih dada.
Perlahan ku kumpulkan Ubi yang selama ini kutanam sebagai kesibukan penghilang jenuh. Ku rebus sekiranya cukup untuk ku makan seharian nanti.
🌼🌼🌼🌼
Bersambung.

Comentário do Livro (111)

  • avatar
    QorinaFatchul

    Alhamdulillah, akhirnya publish juga. Untuk Reader selamat membaca, semoga suka dengan cerita yang ku persembahkan ini. jangan lupa ya follow dan komentarnya ....Terima kasih.🥰🥰🥰

    21/12/2021

      1
  • avatar
    Sahiii

    halo semua

    12/03

      0
  • avatar
    AdiReja

    aku tolong minta jagakan

    12/03

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes