Alvin memakan rotinya dengan kecepatan kura-kura. Bukan karena malu pada Michael, tapi dia tidak memiliki air minum. Jadi dia sengaja melambat, tidak ingin tersedak sampai mati. Ngomong-ngomong, apa nama roti ini? Tekstur diluar crispy tapi terasa lembut di dalam. Dan lagi selai jeruk ini terasa segar dan manis. Tidak banyak roti yang memakai selai jeruk, Alvin juga tidak pernah memakan yang seperti ini. Rasa unik roti membuatnya perlahan lupa dengan apa yang terjadi sebelumnya. "Apa yang terjadi?" Tiba-tiba Michael bertanya. Alvin melongo mendengar kata-katanya. Sungguh, dia tidak tahu apa yang Michael tanyakan. Michael mengubah posisinya, memiringkan tubuhnya ke arah Alvin sementara tangannya menopang kepalanya. Lalu dia menatap dengan cara memperhatikan. Ekspresi nya datar, tidak dapat di baca. Sorot mata dan seringai di bibirnya juga terasa seperti penghinaan. Tapi anehnya, semua itu membuat wajahnya semakin terlihat baik. "Kau menangis tadi. Tidak mungkin kalau tidak ada apa-apa." "Sekelompok gadis mengerjai ku. Kemudian aku bertemu para penindas didalam toilet dan hampir tertangkap." Alvin menjawab pertanyaannya dengan hati-hati. "Biasanya kau memakan makanan mu dengan riang. Tidak heran kau frustasi, ternyata memang ada yang terjadi." Dia menanggapi kata-kata Alvin santai. Alvin terkejut. Bukankah itu berarti selama ini setiap kali dia ada disana, Michael juga ada ? Kalau begitu, secara tidak langsung, setiap hari Alvin makan 'ditemani' oleh Michael? Lelucon macam apa ini! "Melihat wajah tolol mu dan caramu mengecilkan lehermu setiap kali melihatku, aku jadi teringat pada kura-kura yang dulu pernah ku pelihara." "Apa?!" Alvin melotot. Dengan berani dia menatap langsung ke wajah Michael. Entah keberanian dari mana, Alvin benar-benar mendengus keras di hadapannya. Melihat wajah Alvin yang sengit, Michael tidak marah. Sebaliknya, dia malah tertawa. "Kamu ... Kamu berani tertawa?!" Alvin memekik. Cara Michael tertawa sangat tidak sopan dimata Alvin. Dia merasa agak tersinggung karenanya. Wajahnya menyeringai penuh ejekan, dan berkata : "Hei kura-kura pemberani, apa kau tahu apa artinya 'berani'? Yaitu menduduki kursi milikku dan kemudian mengganggu tidur siang ku." 'Apa itu barusan?! Dia baru saja menyindir! Jika kau marah tolong katakan saja dengan jelas! Lagipula, jika kau memang seseram itu, tunjukkan saja dirimu yang asli!' Alvin tak henti-hentinya mengumpat dalam hati. "Itu ... Bukankah aku sudah mengatakannya sebelumnya, aku akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahanku. Tolong jangan mempersulit diriku." Alis Michael naik. Raut wajahnya seolah mengatakan 'apa aku tidak salah dengar?' "Kau mengatakan aku mempersulit kamu? Bagian mana dari diriku yang mempersulit dirimu? Dan untuk apa? Juga, kau sama sekali tidak mau mengatakan namamu. Benar-benar pemberani. Apa kau tidak tahu bagaimana reputasi ku di sekolah ini?" "Ya, aku tahu, reputasi mu buruk. Menurut rumor, kau anggota geng motor yang berbahaya. Kau suka bertarung, dan mempermainkan gadis-gadis. Kau juga pernah membunuh orang dengan tangan kosong." Selesai mengatakan kalimat ini, Alvin baru menyadari siapa orang dihadapannya. Ini Michael! Bagaimana bisa dia menyemburkan omong kosong tentang dirinya, tepat dihadapannya? Bodoh sekali! Alvin sungguh menyia-nyiakan susu yang telah dia minum selama bertahun-tahun, sama sekitar tidak menumbuhkan kecerdasan. Wajah Michael tercengang. Selama beberapa saat kosong dan tidak berbicara. Namun itu malah membuat Alvin menjadi takut. "Ma-maaf ... Aku seharusnya tidak mengatakan hal seperti itu." Setelah hening selama entah siapa yang tahu, akhirnya Michael membuka mulutnya. "Siapa namamu?" Alvin yang masih takut, menolak bicara. Michael bersuara lagi. "Katakan siapa namamu!" Suaranya menjadi lebih tinggi dan kedengaran tidak sabar. Alvin meneguk ludah dengan susah payah. Rasa roti yang baru saja dia makan tiba-tiba menjadi pahit di mulutku. Dia tidak boleh membuatnya lebih marah lagi. "Anu ... Bisakah aku tidak memberi tahu?" Haha, suara nyamuk ini, siapa yang bisa menerjemahkan nya? Michael memperbaiki posisinya menjadi lebih nyaman. Tapi matanya tetap mengawasi. "Mengapa?" Mengapa? Apanya yang mengapa? "Aku ...." "Alvin Wilson, benar?" Mata Alvin membulat. Kali ini dia tidak dapat menahan ketakutannya lagi. Tubuh gemuknya gemetaran. Namun pihak Michael tidak melakukan apa-apa. Juga tidak mengatakan apapun. Dia hanya menatap beberapa saat lagi sebelum pergi. Selepas Michael pergi, Alvin menghembuskan nafas yang sedari tadi ia tahan tanpa sadar. Dia mengurut dadanya berulang kali, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berdegup kencang. "Hah, begitu saja? Apakah tidak ada yang salah disini? Bukankah seharusnya dia memberiku setidaknya satu pukulan sebelum pergi?" Alvin menepuk dahinya. "Hal malang apa yang kukatakan?! Sangat bagus dia tidak melakukan apapun padaku. Tapi ... Yang tadi itu memang menakutkan." Alvin memandang punggung Michel yang semakin mengecil di kejauhan. Rumor mengatakan Michael jahat dan tidak berperasaan, juga sangat sulit didekati. Tapi sepertinya tidak begitu. Tatapan Alvin jatuh pada roti yang tinggal separuh ditangannya. Michael memberinya ini hanya karena mendengar suara perut Alvin. Jika dia jahat, dia tidak akan repot-repot melakukan ini. Yah, manusia memang tidak dapat di prediksi. Tidak akan pernah bisa dimengerti, karena manusia memiliki hati yang sangat dalam. Sekarang, bell masuk sudah berbunyi. Jujur saja Alvin sangat enggan masuk ke kelas karena kelompok gadis itu. Tapi dia tidak punya tujuan untuk membolos. Kemudian dia memandang ke arah dimana Michael menghilang. Tanpa pikir panjang, kedua kakinya melangkah mengikuti jejak Michael. Alvin terus mengikuti. Kalau tidak salah, disini seharusnya adalah gerbang bagian belakang sekolah, gerbang barat. Tidak banyak siswa yang menggunakan gerbang barat jadi disini relatif sepi. Agak jauh darinya, dia melihat Michael keluar dari gerbang itu membawa sebuah sepeda. Dan Alvin, si bocah kecil yang penasaran, diam-diam mengikuti. Gerbang ini cukup kecil dibandingkan dengan gerbang depan atau gerbang samping. Lebarnya hanya satu rentangan tangan. Mengikuti Michael, Alvin membuka gerbang dan melihat jalan kecil dibaliknya. Memandang ke kedua arah, tapi dia tidak menemukan bayangan Michael lagi. Sedikit putus asa, Alvin berjalan tanpa tujuan. Tidak tahu kemana jalan ini membawanya. Siang ini cukup terik. Alvin yang tidak terbiasa berjalan kaki, langsung berkeringat deras. Dia kelelahan tapi tidak ada tempat beristirahat. Disepanjang jalan, semua yang terlihat hanyalah tembok setinggi tiga atau empat meter. Sekarang, yang ingin Alvin lakukan adalah memukul dirinya sendiri. Mengapa ia begitu bodoh, begitu tertarik menyusuri jalan yang bahkan tidak tahu menuju kemana. Mengesalkan sekali. "Mengapa aku sangat ceroboh? Lagipula meskipun membolos, tidak harus mengikuti siswa preman yang menakutkan itu, kan? Aaahhh." Alvin menjambak rambutnya dengan frustasi. Dari sudut yang tidak terlihat oleh Alvin, Michael menatapnya dengan pandangan waspada. Anak itu sengaja mengikutinya, membuat Michael agak curiga. Namun ketika dia mendengar anak itu mengomel pada dirinya sendiri, Michael buru-buru membuang kecurigaannya. Pikirnya, bocah polos dan naif itu tidak mungkin bisa menyakitinya bahkan jika dia benar-benar memata-matai dirinya. Michael pergi tanpa mempedulikan anak naif dan polos yang tersesat itu. Alvin masih berjalan, dan terus berjalan. Tidak tahu berapa lama, dan berapa belokan, akhirnya dia menemukan ujung gang kecil ini terhubung dengan jalan raya. Ketika dia berdiri ditepi jalan yang familiar, rasanya seperti menemukan seorang penyelamat. Jalan yang dia kenal. Disisi kiri ada halte bus, dimana Alvin biasanya menunggu bus untuk pulang. Jarak antara halte bus dengan gerbang utama sekolah, sangat dekat. Kemudian Alvin melihat kebelakang, pada jalan kecil itu, lalu meratapi kebodohannya. Karena sudah seperti itu, Alvin memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, tubuh tambun itu segera ambruk. Bahkan untuk sekedar mandi saja terasa tidak sanggup. Tulang-tulangnya terasa rapuh, seolah-olah bisa lepas kapan saja. Sisa hari itu dia habiskan dengan berbaring. Hingga ibunya memanggil untuk makan malam. Alvin tidak memiliki nafsu untuk mengunyah apapun, jadi dia tidak makan banyak. Ketika dia akan pergi ke kamar, dia melirik timbangan badan milik ibunya disamping sofa. Tiba-tiba Alvin memiliki dorongan untuk naik dan dia melihat angka yang agak asing. Itu dua kilo lebih sedikit dari biasanya. Alvin tercengang. "Eh ...." ***
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 27 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (210)
Istianah01*Siti
sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya 😘😚😘😗
sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya 😘😚😘😗
04/06/2022
3bagus banget kak
13/06/2025
0bagus bnget novel nyaa KA hhuu🥲
03/06/2025
0Ver Todos