logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 3 Flashback On

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam ketika Mam Rita menghubungi Jessy untuk sebuah acara di sebuah karaoke ekskusif di selatan Jakarta, Level Eleven. Jessy baru aja menyelesaikan tugas kuliahnya.
“Jess… ada yang minta ditemenin lu nih, boss besar lho”
“Ya ..tapi Mam, Jessy rada takut kalau masuk karaoke begituan”
Diliriknya tumpukan barang endorse yang telah menanti untuk diposting di instagram miliknya. Seminggu sudah Jessy melupakan tugasnya upload barang endorse karena belum sempat membuat video ataupun foto sejak meninggalkan rumah mamanya.
“Alaaah… katanya lu butuh duit . Pengen beli mobil , pengen beli apartemen” kata Mam Rita seakan menggoda.
“I..iya Mam, asal gak lama-lama dan gak macem-macem ya ..”
“ Yaudah kalau lu mau, sekarang otw. Jangan bikin boss besar menunggu. Oke?”
“Tapi..gak lama kan Mam? Besok Jessy ada kuis soalnya”
“ Oke-oke. Nanti Mam bilang ke boss jam 12 lu harus balik rumah ada kuis”
Jessy memesan taksi online. Dua puluh menit kemudian supir datang menjemput dan mereka melaju ke arah selatan Jakarta.
“Agak cepetan ya,Pak. Buru-buru soalnya”
“Oke sip,Neng. Tapi menurut googlemap, ada macet sedikit di depan Neng”
“Penyebabnya apa kira-kira?”
“Kurang tau Neng. Nanti setelah kita sampai depan baru tau penyebab kemacetannya”
Mobil merayap pelan, sementara motor-motor lebih gesit menerabas di sela-sela kemacetan lalu lintas. Sebuah mobil berhenti di tengah jalan, ada beberapa polisi berkerumun. Rupanya ada korban, dua mayat tergeletak bertutupkan terpal plastik berwarna hijau. Di sekelilingnya terdapat genangan darah merah pekat. Sebuah sepeda motor tergeletak di samping mobil tadi dalam keadaan ringsek.
“Ya Tuhan…”,Jessy memejamkan mata.
“ Mereka udah ngegiring itu supirnya ke kantor polisi, Neng. Dan korbannya mau diangkut ke ambulance, tuh masih ada polisi di belakang kita”.
Supir ambulance membuka pintu mobil bagian belakang dan dua perawat pria mengeluarkan blangkar untuk menandu kedua korban.
Setiap hari ada saja kejadian di ibukota, entah karena kelalaian pengemudi yang mengantuk, ugal-ugalan atau saling menyalip tanpa mau bersabar.
Tak lama kemudian, sampailah Jessy di sebuah karaoke besar di daerah Jakarta Selatan. Bagian lobi yang luas dengan dua orang satpam di pintu masuk.
“ Tiit… tiit… “ tanda thermal test selesai scan suhu tubuh. 36,4 derajat celcius dan satpam membiarkan Jessy masuk dengan tetap mengenakan masker.
Di ruang tunggu tersedia dua tiga sofa besar , beberapa konter makanan dan minuman, serta sebuah restoran yang siap melayani 24 jam dalam sehari.
Jessy masuk ke sebuah konter makanan dan minuman, dibelinya apple croissant dan ice milk .
“Mbak, croissantnya tolong dipanasin lagi ya…Ice milk less ice ya….” , pinta Jessy.
“Baik Non”
Kemudian dibayarnya dua pesanan tadi dengan kartu debit.
Setelah mengambil tempat duduk dekat jendela, dikunyahnya roti itu sambil membuka file mata kuliah besok. Sambil memainkan ponsel dan masuk ke instagram pribadinya, memposting foto endorse pakaian yang sempat tertunda bulan lalu.
Seorang pria muda berpakaian seragam office boy masuk dan membeli sebuah air mineral botolan.
“ Mbak Jessy?” sapanya ketika mendekat.
“Iya?” Jessy bengong karena merasa belum kenal.
“Mbak dicari Bu Santi di lantai dua, selekasnya masuk room 3”.
“Baik Mas. Terima kasih”.
Jessy mengelap mulutnya menggunakan tissue basah dan memasukkannya kembali sisanya ke dalam tas. Sejenak memandangi dirinya lewat kamera ponselnya seakan bercermin dan melangkah keluar.
“Hai Tika!” Jessy menyapa seorang gadis muda hitam manis yang berpapasan dengannya.
Tika adalah pemandu lagu yang mengambil shift siang. Satpam di sana mengenali Tika sebagai penyanyi dangdut yang seringkali tampil di layar kaca. Masyarakat luas tak tahu kalau selain onair di televisi maka penyanyi punya sejumlah kerjaan offair seperti manggung di hajatan atau karaoke eksklusif seperti ini.
“Hai Jess…gue duluan ya! Anak di rumah udah nungguin nih” pamit Tika.
“Babay Tika…CU “
Penyanyi baru yang terkenal dengan goyangannya yang khas itu berlalu dari pandangan.
Jessy meletakkan tangannya di tombol tanpa sentuh dalam lift, lalu menekan lantai 2 .Akhirnya terbuka lebar pintu lift ke lantai dua yang terdiri dari ruang resepsionis dan beberapa ruangan besar karaoke. Jessy melangkahkan kaki menuju meja resepsionis dan melakukan absensi, melihat room booked buatnya hari itu dan menuju ke room yang tertulis, room 3. Seorang satpam berkulit hitam dan berambut ikal berjaga persis di pintu masuk room 3 mempersilakan masuk setelah meneliti isi tas.
Sebuah ruangan besar besar yang temaram dengan sederet sofa panjang membentuk huruf L. Sebuah meja besar dan beberapa minuman di atasnya. Sebuah sound system untuk karaoke, amplifier dan sebuah televisi berukuran 70 inch. Mam Rita sudah siap menunggu tamu. Wanita setengah baya itu tampil menarik dan sangat wangi, mini dress berbunga-bunga menunjukkan sedikit perutnya yang membuncit karena sering minum alkohol, dan rambutnya yang pirang dibiarkan lurus terurai.
“Sini Jess, duduk di samping Ririn. Kita tunggu boss besar”
“Siapa sih boss besar yang dimaksud? Sok banget bikin orang lain nunggu lama” batin Jessy.
Mam Rita menumpangkan kaki kanannya di atas kaki kiri. High heels biru navy dari Christian Louboutin setinggi 18 cm . Jari lentiknya yang panjang dan berwarna biru tua mulai memantikkan api ke rokok putih yang dia pegang . Dalam hitungan detik seluruh ruangan ber-ac menjadi penuh debu, untung Jessy mengenakan masker, namun rasa pedih di mata tak mampu ditolak. Benar-benar tersiksa dan harus bertahan demi sebuah ambisi. Bibirnya yang manyun terasa aman di balik sebuah masker medis yang dia pakai.
Dua jam berlalu dan boss besar yang dimaksud belum juga datang. Kembung sudah, dua botol air mineral 330 ml masuk ke lambung Jessy. Jam di tangan kanannya telah menunjukkan pukul 11 malam dan 1 jam lagi dia harus pulang ke kos.
“Mam, Jessy ijin ke toilet sebentar”
“Baik tapi jangan lama-lama ya!”
“Siap,Mam”
Di sebuah room lain pintu terbuka dan terjadi sebuah keributan kecil. Dua orang satpam anggota mariner disibukkan oleh seorang pemandu lagu yang sedang mabuk berat.
Marleta namanya, mantan pemain utama sinetron berseri. Perannya selalu jadi putri raja dalam sebuah cerita persilatan. Kini dirinya tersingkirkan dengan masuknya banyak pendatang baru sehingga harus banting stir mencoba berbagai pekerjaan baru. Belum lagi kasuss percintaannya yang kandas dengan sesama pemain sinetron. Cinta yang telah dibina bertahun-tahun dan dijalaninya dengan penuh harapan, kini kandas hanya menciptakan sejuta kenangan pahit. Tekanan demi tekanan hidup mendorongnya untuk mengambil jalan pintas dalam mencari uang. Minuman beralkohol seringkali menjadi luapan pelampiasannya di saat pusing banyak pikiran.
“Oooo…..kumenari bersuka cita……” , nyanyian Marleta terdengar sampai ke luar. Dia menyanyi di atas meja dan kaca pun pecah mengundang kepanikan tamu dan pekerja lain. Satpam pun mengamankan situasi.
Seusai membuang hajat di toilet, kelegaan merayap di tubuh Jessy yang mulai penat. Entah sampai kapan harus menjalani kehidupan seperti ini. Hidupnya seakan tak sesederhana kehidupannya yang dulu ketika SMA. Banyak manusia dengan aneka masalah kehidupan kini hadir dalam benaknya. Sekembalinya dari toilet telah duduk dua orang laki-laki setengah baya. Yang satu kurus ceking sementara lainnya gemuk dengan perut buncit. Kesamaan di antara mereka adalah rambut kepala yang nyaris habis dan berkacamata. Si buncit mengenakan pakaian sederhana namun nampaknya semua serba branded. Sebuah arloji merk Rolex dengan butiran diamond berkilau-kilau dalam ruangan yang temaram. Sementara pria satu lagi masih sama hadir dengan tampang Chinese tua, rambutnya yang tipis tinggal separuh disisir ke belakang. Pakaiannya masih rapi berkemeja dan celana panjang seakan baru pulang dari kantor.
Si pria tua berperut buncit nampak memperhatikan Jessy dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sama persis dengan tatapan opa yang baru datang berkunjung. Seakan meneliti pertumbuhan fisik sang cucu secara detail dari rambut hingga ke ujung kaki.
“Kamu Jessy?”
“I.iya om. Nama saya Jessy Juanita Jonathan.”
“Masih kuliah dimana?”
“Universitas Sinar Harapan. Fakuktas Ilmu Komunikasi,Om” jawab Jessy sekenanya.
“Duduk sana,Jess!” pinta Mam Rita. Akhirnya dengan terpaksa Jessy duduk persis di sebelah pria perut buncit dengan berjarak sekitar kurang dari 1 meter. Jessy diminta bergantian menemani tamunya menyanyi.
Dia sama sekali tak tertarik menemani tamunya yang kini sedang menyanyi keras-keras dengan suara sumbangnya. Lagu-lagu yang mereka pilih kebanyakan lagu mandarin dan Korea. Si perut buncit sangat bersemangat menyanyikan lagu mandarin lawas. Lagu-lagu yang dulu pernah Jessy dengar sewaktu oma masih hidup. Si perut buncit ternyata Bernama Pak Heru, pemilik jaringan hotel, bank, stasiun televisi dan media massa terkenal di bumi nusantara. Minuman kegemarannga Cappucino, bukan soju bukan vodka bukan pula wine. Sementara satu lagi adalah Pak Yoga, direktur sebuah bank miliknya.
Ketika Pak Heru menyanyi dengan membawa microphonenya, siluet badannya terlihat jelas seperti bentuk balon yang menggembung di bagian tengah. Kepalanya tampak seperti bulan penuh bila dilihat dari atas. Sungguh pemandangan kurang enak dipandang, namun di sisi lain Jessy sangat membutuhkan uang dari mereka.
Dua tamu aneh ini buru-buru meninggalkan room saat waktu berjalan mendekati tengah malam. Mereka meninggalkan ruangan persis Cinderella yang pergi meninggalkan pesta dansa di saat waktu menunjukkan tepat pukul 12 malam. Namun ini suatu hal yang berkebalikan, pia gendut dan ceking meninggalkan ruangan dengan membawa sepatu mereka , bukan meninggalkan sepatunya seperti layaknya seorang Cinderella.
“Huuft! “ dengus Jessy pelan. Dirapikannya rambutnya dan diteguknya sedikit wine merah dalam gelas. Aroma ruangan yang berbau rokok bercampur dengan aneka parfum yang dipakai orang-orang di sana.
Leganya tugas berakhir dan si buncit meninggalkan tip untuk kami masing-masing 5 juta untuk kami bertiga dalam room. Sebuah nilai yang mungkin sangat kecil dan tak bernilai untuk mereka, namun sangat berarti buat kami bertiga. Jessy melangkah keluar ruangan karena ingat jadwalnya untuk menyiapkan kuis. Jessy ingin menyenangkan hati mama dengan mempersembahkan sebuah gelar sarjana. Jessy telah banyak berdosa dengan membohongi mama selama ini.
“Mbak, aku mau ambil fee hari ini dong” pinta Jessy di meja kasir. Seorang kasir bertubuh gemuk mengenakan pakaian berwarna merah, semerah warna gincunya malam itu.
Kasir mengeluarkan kalkukator dan menghitungnya, menarik laci dan mengeluarkan 5 lembar uang ratusan ribu berwarna merah.
“Jess, jangan lupa komisi buat gue” Mam Rita memalak di depan pintu lift turun.
“Ini Mam” sahut Jessy sambil menyodorkan selembar uang ratusan ribu .
Komisi untuk seorang agen yang disebut mami rata-rata adalah 20% dari tip yang diterima seorang pemandu lagu atau ladies companion.
Jessy menjatukan diri duduk di atas sofa ruang tunggu. Mengeluarkan ponselnya untuk memesan taksi online dan menunggu. Tak lama menunggu, satpam depan lobi memberi aba-aba adanya mobil jemputan telah datang. Jessy berjalan ke arah pintu keluar dan membuka pintu mobil.
Pukul 12 lewat 20 menit Jessy sampai di kos. Jalanan lancar karena hari telah malam. Dirinya telah siap belajar di meja belajarnya yang penuh tumpukan buku dan alat tulis. Dibukanya laptop, ditekannya tombol on. Beberapa materi kuliah yang telah diunduh, kembali dibuka. Mata kuliah Logika Terapan, sepintas tampak mudah namun perlu berpikir logika yang mendalam. Tiba-tiba ringtone berbunyi dari ponsel Jessy. Sebuah miscall dari nomer tak dikenalnya.
“Bukan nomer ponsel mama” batin Jessy, melanjutnya belajar.
Dituangnya air panas ke dalam gelas dan mencampurnya dengan minuman cereal.
“Gluk..gluk…” diminumnya minuman hangat itu sekedar pengisi perut malam hari.
Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 2 dini hari. Waktunya tidur, besok harus fresh untuk mengikuti kuis pukul 10 pagi di kampus.
Esoknya Jessy bangun terburu-buru karena bangun kesiangan. Biasa pukul 6 pagi udah siap sarapan dan lain-lain. Namun hari ini terasa masih mengantuk meskipun waktu telah menunjukkan pukul 7 pagi. Dirapikannya pakaian kotor yang berserakan ke dalam sebuah keranjang laundry dan diletakkan di depan pintu kamar. Lalu dibuatnya sarapan dari roti berlapis selai strawberry dan telur rebus. Satu jam kemudian Jessy telah siap menuju kampus dan bergabung dengan teman-teman yang lain.
Sebuah miscall masuk dari nomer yang tak dikenal di saat mengikuti kuis. Untunglah ponsel telah disilent. Usai kuliah ada sebuah chat dari orang asing yang masuk di whatssupnya.
“Morning beauty. This is Om Heru “
“Deg..pria tua buncit yang paling menyebalkan tiba-tiba chat. Dapat nomer darimana dia? Pasti Mam Rita” , batin Jessy kesal.
“Jess, kapan lagi dong temenin om nyanyi”
“Belum tau. Lagi sibuk”
Pulang kuliah ada acara ulang tahun Rika di sebuah restoran di Kemang. Jessy menyempatkan diri mampir ke mall dan membelikan sebuah kado. Pilihannya jatuh pada sebuah dompet kecil di konter Charles & Keith. Dompet kecil berwarna biru mengkilap yang lucu dibayarnya dengan harga delapan ratus ribu rupiah.
Pukul tujuh lewat lima belas menit malam itu, acara ulang tahun pun dimulai. Rika mengenakan pakaian anggun super mewah. Malam itu ballroom Hotel Astana sangat meriah meskipun tamu terbilang sedikit. Background ditata seperti layaknya istana putri dalam negeri dongeng. Dresscode malam itu adalah hitam, sementara Rika mengenakan long dress sexy berwarna pink fanta. Usut punya usut, Rika adalah selebgram, perempuan simpanan seorang cukong besar ibukota. Itulah mengapa dana ulang tahun ke-25 ini menelan biaya 200 juta sangat enteng untuk dibuang begitu saja demi sebuah ulang tahun. Tak banyak tamu yang diundang namun hidangan sangat istimewa . Ada doorprize tiga buah Iphone pro-max 12 dan ada pula cinderamata unik berupa botol parfum import. Pesta diakhiri dengan sebuah polonaise.
“Hai Jess, abang punya job buat lu lho. Tar kita kontek-kontekan ya!” pesan Bang Danu mantan manajer Jessy.
“Hai Bang Danu. Lama gak jumpa. Iya Jessy pasti hubungi” Jessy melambaikan tangan saat keluar dari lobi hotel.

Comentário do Livro (86)

  • avatar
    sigatok

    ceritanya bagus , disini aku banyak belajar tentang hidup dan kasih sayang orang terdekat yang mungkin kadang aku anggap hal sepeleh tapi disini ngajarin kalo orang terdekat lah yang membantu buat bangkit lagi , semangat thor bikin cerita baru nya ,😁😁😁

    21/12/2021

      1
  • avatar
    Nurul Huda

    keren

    29/09

      0
  • avatar
    IsmailNdh

    sangat menarik bagiku

    09/07

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes