logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 2 Di Kampus

Hari itu sengaja Jessy melewati rumah mamanya. Ada kerinduan yang teramat sangat namun Jessy menahan diri untuk gak mampir.
“Mobil putih mama masih terparkir di halaman depan. Mungkin hari ini waktunya Work From Home” batin Jessy. Tak lama kemudian muncul Mbak Inah dengan dua kantong plastik hitam. Diperhatikannya pembantunya yang centil itu dari jauh. Mbak Inah tampak rapi dengan rambut masih basah, mengenakan baju Barong dan celana tiga perempat. Kebiasaan Mbak Inah setelah selesai beres-beres rumah adalah mandi. Beruntungnya mama memiliki pembantu serabutan yang cekatan dan suka kebersihan walaupun kecentilan. Mula-mula yang dilakukannya bukan langsung membuang sampah tapi tersenyum ke arah salah satu satpam muda yang menghampirinya. Ada empat orang satpam yang berjaga di pos satpam dekat rumah. Terlihat seorang satpam berjaga di portal, seorang di pos sedang berjaga dan Pak Iman sang ketua sedang sibuk memantau keadaan. Sementara seorang satpam muda sedang memperhatikan keadaan cluster dan berjalan menuju rumah mama. Pakaian satpam saat ini persis sama dengan pakaian yang dikenakan polisi hanya bedanya logo polisi diletakkan di lengan kiri, sedangkan logo satpam berada di lengan kanan.
“Nah….apa kabarnya?” sapa satpam tadi, suaranya masih jelas terdengar karena kondisi cluster yang sepi.
“Baik-baik aja, Mas” senyumnya centil sambil membetulkan ikatan rambutnya yang sudah rapi seakan salah tingkah.
“Masak apa hari ini? Ibu ada di rumah ? Ada iuran Bansos dari Pak RT”
“Iya, nanti Inah sampaikan ke Ibu” jawab Inah sambil menuju tong sampah.
Tak lama kemudian kurir gofood mengantarkan makanan. Mbak Inah menunjuk ke arah kursi di teras depan. Rupanya Mbak Inah taat prokes juga, dia menuju keran air yang ada di depan carport untuk cuci tangan. Aldo, adik Jessy memang suka cemilan yang sebenarnya kurang baik, junk food, itulah kenapa mamanya suka marah-marah dan terpaksa mencampurkan sayuran mentah ke semua jus buah yang diminum Aldo. Kata mama biar daya tahan tubuh Aldo makin kuat, konsumsi sayur dan buah harus banyak sementara Aldo di usia 8 tahun masih susah makan sayur dan buah. Jadi begitulah cara mama menyiasati konsumsi gizi untuk Aldo, sayuran mentah berwarna hijau yang sebelumnya telah direndam air garam selama 5 menit untuk menghilangkan sisa pestisidanya.
Setelah Mbak Inah kembali ke dalam dan mengunci pintu depan, Jessy menyuruh supir grab jalan lagi. “Pak, kita jalan ke kampus sekarang”
“Siap,Non. Kenapa gak mampir ke rumah sebentar ketemu ibunya” saran sang supir .
“Lain waktu aja,Pak. Sekarang saya sedang terburu-buru karena ada presentasi di kampus”
“Okelah,Non. Siap”, pak sopir menekan gas mengambil KTP yang ditahan di pos satpam dan keluar cluster.
Supir grab membelokkan mobilnya di putaran pertama menuju ke arah kampus Universitas Sinar Harapan yang terkenal dengan mahasiswanya yang keren dan dari kalangan atas. Jessy yang sekarang adalah bukan Jessy yang dulu lagi. Minta apapun pasti tinggal minta sama papa. Papa kini telah pergi, dan papa pun nyaris miskin gara-gara wanita kampung itu.
Jessy turun dari grab dan berjalan melintasi drop off ke arah Gedung B tempatnya kuliah.
“Hai Jess” sapa Rio.
“Hai juga”. Rio adalah kakak tingkat di Fakultas Komunikasi yang sejak awal masa orientasi selalu berusaha mendekati namun selalu dicuekin.
“Aku masuk kelas dulu Kak” kataku.
“Pulang kuliah aku traktir ya,Jess. Please kali ini aja”, kata Rio dengan muka penuh harapan.
“Nanti aku kabari kalau bisa Kak”, jawab Jessy sambil tersenyum.
Dari belakang Rio masih memperhatikan Jessy. Cewek cantik bertubuh tinggi semampai dengan rambut sepinggang . Dan senyumnya itu…ah…lesung pipitnya susah untuk dilupakan.
“Berat rasanya untuk menggaet Jessy jadi seorang kekasih hati. Cewek itu cukup terkenal sejak SMA. Banyak cowok berlomba merebut hatinya” batin Rio sedikit pesimis.
Sesampainya di kelas, Jessy segera bergabung dengan teman-teman yang lain. Ini adalah hari pertama kuliah setelah PPKM. Hanya ada 20 mahasiswa dalam satu ruang dan masing-masing harus duduk dengan menjaga jarak 1 meter. Kedua puluh mahasiswa ini dibagi menjadi 5 kelompok yang masing-masing anggotanya terdiri dari 4 orang. Jessy dan kawan-kawan adalah kelompok 2. Mereka adalah Jessy, Prita, Andre dan Boy. Boy adalah ketua kelompoknya. Cowok gendut berkacamata tebal itu memang aktif dan terkenal rajin di setiap mata kuliah.
“Jess, kamu bagian prolog ya! Andre bagian menjelaskan bab I, Prita menjelaskan bagian II dan aku bagian III dan penutup” kata Boy dengan gaya diktator.
Dua puluh menit waktu presentasi berlalu sudah dan tepukan tangan meriah mengakhiri presentasi kelompok kami. Kini saatnya waktu tanya jawab dan beruntungnya kelompok kami memiliki Boy dan Prita yang sangat tangkas menjawab setiap pertanyaan di saat teman lain mengalami kesulitan menjawab.
Waktu telah menunjukkan pukul 4 sore. Jessy melirik jam tangannya, sebuah jam tangan putih dari Apple yang melingkar di tangan kanannya yang putih mulus. Kepalanya menengok ke kiri dan ke kanan mencari Rio. Tak lama Jessy berdiri, ada suara teriakan dari belakang.
“Hai Jess, tunggu!” Rio berlari menghampiri. Aroma parfum menyembul keluar dari badan Rio yang bidang. “ Sebenarnya cowok ini ganteng juga sih…Tapi Jessy kurang suka dengan cowok yang terlalu trendy. Kesannya kurang macho” ,batin Jessy.
“Ayolah kita ke seberang”, tangan Rio meraih tangan Jessy dan menggandengnya ke mall yang terletak persis di depan kampus mereka.
“Mobilku parkir di belakang kampus,Jess. Aku bisa antarkan kamu pulang setelah makan”, Rio menawarkan diri dengan tulus.
Setelah scan sertifikat vaksin, mereka pun masuk ke mall. Jessy sedikit kikuk berjalan bareng Rio.
“ Kamu yang pilih Jess, mau makan dimana? “ kata Rio.
“Terserah kakak aja deh, aku belum begitu lapar”
“Jangan diet ya Jess, tubuh kamu udah kurus begitu” mata Rio terlihat sedikit nakal melirik ke arah Jessy.
“Bagaimana kalau kita makan steak aja?”
Jessy hanya menganggukkan kepala.
Rio melepaskan maskernya dan meletakkan di atas meja. Pelayan datang membawa buku menu dan sebuah kertas kecil serta pulpen.
“Sirloin wagyu satu, Mbak. Well done. Minumnya ice lemon tea” kata Rio kepada pelayan. Kemudian melempar pertanyaan ke arah Jessy. “Kamu pesan apa Jess?”
“Aku Sirloin Steak. Medium well, minumnya mineral water, no ice ya mbak. Makasih”.
“Gimana kuliahmu Jess?” Rio membuka percakapan.
“Baik-baik aja,Kak” , Jessy berusaha menyembunyikan diri kalau saat ini dia bekerja paruh waktu sebagai pemandu lagu di sebuah karaoke.
Baginya itu pekerjaan halal karena banyak artis dan penyanyi juga bekerja di karaoke kelas atas itu.
“Kalau kamu ada kesulitan, boleh hubungi Kak Rio ya. Jangan sungkan-sungkan”, kata Rio sambil tersenyum .
Pelayan datang menyodorkan minuman dan percakapan mereka berhenti sejenak.
Tak lama kemudian makanan pun disajikan dalam hot plate.
Gigitan pertama Jessy tertunda tatkala dilihatnya Bram, cowok yang pernah dia tolak masuk bersama seorang cewek yang dirangkulnya dengan mesra. Bram adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran yang terkenal playboy. Bram melirik dengan sinis ke arah Jessy, seakan masih menyimpan dendam pernah ditolak. Mereka duduk di seberang Jessy. Bram seakan sengaja untuk pamer kemesraan.
“Jangan melamun woii…” tegur Rio.
“Ah,,, nggak, Kak” Jessy melanjutnya makannya.
Rio mengambil tissue dan menyeka mulut Jessy bagaikan perlakuan seorang ibu pada anak kecil.
“Ah..Rio..Rio…kenapa sih kamu harus demikian sama aku? Andai Rio tau keadaanku sebenarnya. Banyak laki-laki yang datang ke tempat kerjaku dan aku kini udah bukan perawan” , batin Jessy.
Jessy mengakui banyak banget perbedaan antara cowok di kampus dengan para cowok yang datang ke tempat kerjanya. Di kampus banyak cowok yang tampil seadanya dan kadang bau penuh keringat karena panas-panasan main basket di halaman belakang kampus sambil menunggu sesi perkuliahan selanjutnya. Sedangkan para cowok di tempat kerja Jessy adalah kaum lelaki banyak uang yang butuh hiburan. Mereka selalu wangi dan tampil rapi karena bekerja di ruangan full ac sepanjang hari. Banyak rekan kerjanya adalah para artis ibukota kelas dua atau tiga seperti penyanyi dangdut atau ftv. Mereka tampil mewah dan serba ada karena dipiara gadun. Gadun adalah pria banyak uang yang punya selingkuhan kaum wanita muda dan memberinya berbagai kesenangan. Gadun ini sering disebut sugar daddy. Sementara wanita muda piaraannya disebut sugar baby. Jessy jadi ingat akan Mirna, artis ftv rekan kerjanya. Syutingnya jarang-jarang tapi punya apartemen mewah di Pakubuwono dan sebuah mobil Mercedes Benz E class yang harganya di atas 1 M. Semua atas nama Mirna. Gadunnya adalah pemilik bank terkenal di Indonesia. Jessy pun sering mendapat godaan serupa, tapi rasanya masih jijik untuk pacaran dengan para om yang sudah tua, keriput dan berperut buncit. Yang Jessy lakukan di karaoke hanya menemani menyanyi atau minum, selebihnya tidak.
“ Yuk.. kita nonton film Jess” ajak Rio.
Jessy tersenyum . Rio sangat menikmati wajah cantik berlesung pipit milik gadis adik kelasnya. Rambutnya yang coklat keemas an terayun-ayun dibuai angin. Ingin rasanya memeluk gadis impiannya.
“ Maaf Kak. Aku ada kerjaan sore ini”
“Aku antar pulang ya Jess. Please” , wajah Rio penuh harapan.
Jessy melirik jam yang melinggar di pergelangan tangan kanannya. “Pukul lima tiga puluh sore”, batinnya. Artinya masih ada waktu dua jam lagi sebelum pergi bekerja.
“Baiklah, Kak. Yuk…”
Mereka pun berjalan ke area parkir yang terletak di belakang kampus.
Sebuah Toyota Harrier warna hitam keluaran terbaru membawa mereka menyusuri jalanan di kota Jakarta yang padat dan panas terik saat itu.
Rio memperbesar speed ac dalam mobil dan memutar lagu indie.
Diam-diam Jessy mengamati Rio yang sedang mengemudi mobilnya.
“Keren juga sih… tapi sepertinya kurang macho. Aku lebih suka cowok yang agresif, dan berkulit agak gelap “ batin Jessy berandai-andai. Yang terlintas adalah bayangan Tyo lagi. Pemuda Batak yang dibenci mamanya karena dianggap tidak punya masa depan dan hanya menggantungkan orang tua.
Rupanya Kak Rio adalah orang yang menyenangkan juga. Sepanjang perjalanan banyak humornya yang bikin Jessy tertawa.
“Jess.. aku boleh nanya gak ke kamu”
“Boleh…mau nanya apa, Kak?”
“Kamu, pernah pacaran berapa kali?” tanya Rio.
“Mmmh… dua kali aja Kak” sahut Jessy pelan.
“Kalau Kak Rio ?”
“Aku belum pernah tuh pacaran” jawab Rio tergelak.
“Ah Kakak bisa aja. Pasti boong ya…”
“Beneran Jess. Kakak tuh kalau jalan sama cewek ya kayak gini aja berteman. Belum ke arah yang serius banget. Nah..kalau sekarang kan Kakak hampir nyusun skripsi nih.. baru mikir cari yang serius”
Mobil bergerak lambat karena jalanan agak macet, banyak orang pulang kerja.
“Aku tuh…Gini Jes…Aku tuh mau serius sama kamu. Kira-kira diterima gak ya? “ Rio berkata dengan terbata-bata.
“Hhheeee… kakak ada-ada aja. Kan banyak cewek cantik di kelas kakak. Kenapa mesti aku sih?
“ Mmmhh..karena suka. Suka aja liatin kamu, senyum kamu, lesung pipit kamu”
“ Kakak belum kenal siapa aku. Jangan suka karena luarnya aja,Kak. Aku banyak kekurangan juga. Takut kakak jadi illfeel lama-lama” balas Jessy .
“Gaklah. Kalau suka, ya suka aja apa adanya. Cinta itu saling menutupi kekurangan masing-masing” ,timpal Rio sok bijak.
“Kita kan baru kenal,Kak. Jangan terburu-buru ambil keputusan”, Jessy berkelit dengan sejuta alasan untuk menolak Rio.
“Ya… pokoknya aku bakal nungguin kamu sampai kamu bilang iya”, balas Rio penuh percaya diri.
“Kesel juga nih. Gara-gara mau diantar pulang. Nih cowok jadi kepedean. Dikiranya aku membuka harapan” batin Jessy.
Sepanjang perjalanan, Jessy sibuk dengan pikirannya sendiri. Mau jadi apa kira-kira cowok lulusan ilmu komunikasi. Dirinya seorang yang borjuis, gak bisa hidup sederhana. Seorang foto model, selebgram yang glamour. Andaikan menikah dengan Rio kelak apakah akan bahagia? Akankah dirinya bisa setia manakala ada laki-laki lain yang menggoda dengan sejuta materi yang lebih berkilau?
Tak terasa matanya terasa berat dan rasa lelah yang bergelayut sepanjang siang tadi membuat Jessy tertidur sesaat dalam mobil.
“ Woii bangun,cantik!” teriak Rio ketika mobil telah sampai di mulut gang tempat kos Jessy. Sebuah kos yang cukup mewah namun terletak di dalam sebuah gang yang dekat pusat kota Jakarta.
“Ooh… maaf aku mengantuk. Terima kasih banyak,Kak”.
Tak sadar tangan Rio mengenggam tangannya yang terletak di atas tas. Jessy menoleh dan berusaha menepisnya dengan lembut. Meskipun begitu, diam-diam ada rasa aneh menyergap di dada Jessy. Perhatian dan kelembutan hati Rio memberi kesan lain karena selama ini mantan Jessy adalah cowok agresif yang sedikit nakal mengimbangi kebandelannya. Jessy merasa sangat klop dengan tipikal cowok macam itu, serasa satu jiwa dengan dirinya yang serba ingin tahu, serba berani dan menyukai tantangan. Dibukanya pintu mobil, kakinya bersiap turun buru-buru karena hari makin gelap.
“Gak disuruh mampir nih?” kata Rio sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil depan.
“Terserah Kak Rio..Tapi aku terburu-buru, ada kerjaan lain hari ini” Jessy tersenyum dengan ramah.
“Oke deh, lain kali boleh mampir ya…Babay”.
Jessy merapikan rambutnya dengan jari, lalu melambaikan tangan pada Rio.
“Oke…babay,too”
Jessy berjalan menyusuri lorong gang yang tak dapat dilalui mobil. Suasana di sekitarnya memang selalu sepi, hanya ada beberapa pedagang makanan di depan rumah. Ada penjual kopi, dan sebuah warung makan yang sekarang masih buka dan tetap eksis di era pandemi.
Sesampai di kamar,Jessy merebahkan diri sebelum memulai kegiatan lainnya.

Comentário do Livro (86)

  • avatar
    sigatok

    ceritanya bagus , disini aku banyak belajar tentang hidup dan kasih sayang orang terdekat yang mungkin kadang aku anggap hal sepeleh tapi disini ngajarin kalo orang terdekat lah yang membantu buat bangkit lagi , semangat thor bikin cerita baru nya ,😁😁😁

    21/12/2021

      1
  • avatar
    Nurul Huda

    keren

    29/09

      0
  • avatar
    IsmailNdh

    sangat menarik bagiku

    09/07

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes