# Hikmah di Balik Hilangnya KTP Bab 7 ( Kepulangan Herman ) 3 hari berlalu hari ini jadwal kepulangan Herman dari Bali. Beruntung semua rencana yang disusun Widya sudah beres. Berkat bantuan sahabat dekatnya yaitu Indah. Mengetahui Herman akan segera pulang Indah pun pamit tak mau bertemu Herman. Dia bilang takut tak bisa menahan emosi melihat wajah pengkhianat seperti Si Suhe. Jadilah apartement yang dibeli Widya dipakai Indah terlebih dahulu sampai menunggu Bian suami Indah pulang dari Bali. Semua surat berharga serta perhiasan sudah disimpan di safe deposit di Bank, dia pun memiliki apartement tempatnya berlindung bersama anak anak nantinya. Bahkan mobil yang digunakan Herman dan miliknya pun sudah dipasang GPS dan cctv yang sengaja di sembunyikan agar bisa memantau apa saja yang dilakukan Herman. Widya sudah bertekad akan menahan emosinya dulu untuk mencari bukti yang lebih kuat agar bila terjadi perceraian maka hak asuh akan jatuh ke tangannya. Karena itulah hal yang paling ditakutkannya, berpisah dari anak anak yang sudah dilahirkannya penuh perjuangan. " Aduh aku jadi gak enak nih sama kamu Wid, kamu yang beli kok aku dulu yang pakai hehee " " Halaahh sok malu malu kucing gitu malah jadi malu maluin hahaaa. Udah sana keburu suamiku sampai rumah. Katanya gak mau ketemu " " Ya sudahlah aku berangkat sekarang kasihan tuh taksi online udah nungguin. Bye Widya ingat kalau ada apa apa cepat hubungi aku ya " " Oke beib, sudah sana buruan " Widya pun mengantarkan Indah menuju taksi pesanannya. Mereka berjalan sambil tersenyum dan bercanda. Baru juga pintu rumah hendak ditutup Herman sudah datang memakai taksi juga. Tiinn tiinnn Widya langsung melihat ke arah mobil yang datang. Herman turun sambil menurun kan koper dari bagasi mobil dibantu sopir taksi. " Makasih ya Pak, ambil saja kembaliannya " " Makasih Pak " ujar sopir taksi tersebut. " Mah lagi apa disitu, kok diam aza lihat papah pulang " Widya pun terpaksa memasang senyum manisnya " Cuma mau nutup pintu aza Pah takut ada pelakor " Herman langsung terdiam sejenak " Mamah ngomongnya ngaco saja dari kemarin, ayo kita masuk Papah kangen banget sama mamah " Widya pun masuk tanpa mengajak Herman, hal yang jarang terjadi. Biasanya setiap Herman pulang Widya akan menghujaninya dengan pelukan dan ciuman namun berbeda kali ini dia terlihat masa bodo. Dia sudah merasa jijik, apalagi Herman sudah memiliki istri baru. Dia tak mau lagi ada kontak fisik dengan Herman. Melihat istrinya yang seakan tak peduli Herman menjadi heran, namun dia menahan diri untuk bertanya.Karena Herman masih merasa lelahdengan perjalanannya. 3 hari ini dia lelah harus mendengar rengekan dari Viny. Untung saja Viny pandai menservisnya sehingga Herman tidak terlalu merasa dongkol. " Anak anak kemana Mah? " dia mencoba berbasa basi. " Ini kan jam sekolah Pah, ya mereka di sekolah lah. Papah istirahat saja dulu ya aku mau ke butik sebentar terus jemput anak anak " Widya berusaha menghindari Herman. Dia tahu kebiasaan Herman, apabila pulang dari bepergian jauh biasanya akan meminta haknya sebagai suami. " Loh mamah gak kangen sama Papah, udah 3 hari kita gak ketemu " Herman merajuk mencoba merayu Widya. Dipeluknya Widya dari belakang dan langsung membawanya ke kamar. " Maaf Pah aku sedang ada tamu bulanan " Widya menepis tangan Herman. " Apa mamah lagi ada masalah? ceritalah sama Papah " " Gak ada. Papah istirahat aza aku mau jemput anak anak sekolah " Widya menyambar kunci mobil dan tasnya ingin segera keluar dari rumah. " Masalahku itu kamu Pah " Widya mendumel dalam hatinya. Widya masuk ke dalam mobilnya memasang kacamata dan headset. Kemudian dia keluar dari garasi membelah jalanan aspal yang sedang memanas seperti hatinya yang sedang dikuasai emosi. Hanya saja dia ingin bermain cantik tak ingin membangunkan musuhnya yang masih tidur, karena sekarang belum saatnya mereka terbangun. Dibukanya HP ingin melihat CCTV yang terhubung dengan HPnya. " Wah wah rupanya kamu belum puas berduaan dengan istri mudamu. Baru juga pulang kamu sudah tidak tahan untuk menghubunginya " Sebelum anak anak dijemputnya Widya menyempatkan diri untuk bertemu seseorang. Dia sudah biasa mendapat tugas dari Widya untuk mencari informasi. Kali ini Widya memakai orangnya sendiri. Dia tak ingin menggunakan orang yang sudah dikenali Herman. Dia khawatir sebelum tugas dilaksanakan pasti Herman akan memanipulasinya. Drttt drttt [ Hallo ] [ ............... ] [ Baiklah Pak 5 menit lagi saya sampai ] Widya sudah sampai di tempat yang sudah dijanjikan kemudian dia keluar dari mobil dengan menggunakan masker dan kacamatanya. Orang yang dicarinya sudah ada, duduk di meja paling pojok yang jarang dilewati orang. " Siang Pak, maaf saya terlambat " " Gak masalah Bu saya juga belum lama tiba disini, jadi ada pekerjaan apa untuk saya? " " Tolong Bapak cari alamat ini dan cek siapa saja yang tinggal disana. Lengkap dengan nama, usia, berapa lama mereka disana. Yang pasti selengkap lengkapnya, saya akan bayar Bapak mahal untuk pekerjaan ini. Dan saya minta Bapak lebih hati hati, karena ini berhubungan dengan suami saya " Widya menyodorkan amplop coklat yang berisi uang serta sebuah kertas berisi alamat. " Baiklah saya akan kerjakan secepatnya dan serapih mungkin. Ibu percayakan saja pada saya " ujar laki laki tersebut sambil tersenyum. " Oke sisa bayarannya setelah pekerjaan selesai " Widya pun berdiri dari duduknya dan pamit pulang. " Tunggu saja Mas, semua akan terbuka pada waktunya " **** Tiinn tiinnn " Putri ayo kita pulang, Papah sudah di rumah sayang " Widya manggil Putri yang sudah menunggu di dekat gerbang. " Papah sudah pulang Mah, bawa oleh oleh gak?" Putri masuk ke dalam, mobil pun melaju menuju sekolah Ridwan. " Bawa sayang khusus buat Putri, lain kali kalau Mamah belum jemput Putri tunggu di dalam ya jangan di gerbang seperti itu. Mamah takut ada orang jahat jemput Putri. Pokoknya yang boleh jemput Putri cuma Mamah saja. Oke " " Kenapa Mah, emang orang jahatnya lagi nyari Putri ya? " " Hhmmm ngga sih cuma jaga jaga saja. Kalau misal yang jemput Putri selain Mamah suruh izin dulu sama Ibu Guru Putri ya " " Iya Mah Putri ngerti " Putri pun menganggukan kepalanya. " Mah itu kakak sudah menunggu " Mobil pun menepi dan melaju kembali setelah Ridwan masuk ke dalam. " Kak papah udah di rumah, jadi kita harus buru buru pulang " Ridwan hanya terdiam tidak memberi respon apapun. Widya memperhatikannya dari spion tengah karena Ridwan duduk di belakang. " Kakak kenapa? " " Gak ada apa apa Mah cuma pengen buru buru istirahat saja " " Oke sabar ya paling 10 menit lagi sampai " Dalam perjalanan pulang hanya Putri yang terus berceloteh. Widya hanya menanggapi seperlunya, dia lebih fokus pada jalanan yang mulai macet. " Sudah sampaiii, ayo kita ke dalam Papah udah nunggu " Putri langsung turun dari mobil dan berlari, ternyata Herman sudah menyambutnya di pintu. Dipeluknya Herman sambil menciuminya. Berbeda dengan Ridwan yang tetap terlihat malas. Bahkan berjalan pun terlihat ogah ogahan. " Kak, kakak gak kangen sama Papah? sini dulu lah " Ridwan pun berjalan mendekati Herman dan mencium tangannya " Aku masuk dulu ya Pah, capek " " Loh cape kenapa, emang ngapain aza seharian ini ? " " Ya belajar lah di sekolah masa liburan di pantai " Ridwan menjawab sambil berlalu masuk ke rumah tanpa menghiraukan tatapan heran kedua orang tuanya. " Ada apa, kenapa dia?" Herman bertanya pada Widya tanpa bersuara. Widya tak menjawab hanya mengendikan bahunya lalu menyusul masuk kedalam bersama Putri. Tinggal Herman sendirian di luar yang masih belum faham dengan keadaan di rumah. Tadi istrinya bersikap dingin sekarang anak sulungnya seperti tak peduli padanya. " Ada apa ini? apa yang terjadi di rumah ini selama 3 hari aku pergi " tanyanya dalam hati.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
bagus, tapi bacanya belum selesai, bikin penasara
05/07/2025
0baguss
25/04/2025
0mantapppp
19/03/2025
0Ver Todos