logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

4. Hampir Saja

# Hikmah di Balik Hilangnya KTP
Bab 4 ( Hampir saja )
Pov Herman
Drrtt Drrttt
Kulihat HP yang tergeletak di meja, terpampang Widya istriku yang sedang memanggil.
Sengaja kuabaikan, aku sedang menggendong anakku Nesa dari istri keduaku Viny..
Nesa sedang duduk dipangkuanku, anakku masih balita sedang aktif aktifnya senang berjalan kesana kemari.
Sudah 2 tahun ini aku menikah dengan Viny janda anak 1. Dan sekarang kami sudah dikarunia seorang anak perempuan berusia 1 tahun lebih.
Pernikahan ini bukan keinginanku sepenuhnya. Ini permintaan Ibuku yang sudah sejak lama ingin menjodohkanku dengan Viny anak dari sahabatnya.
Dulu aku menolak perjodohan itu karena terlanjur mencintai Widya teman satu kampusku.
Dia wanita sederhana, bahkan di awal pernikahan kami tidak memiliki apapun. Hingga kami berjuang bersama sampai pada titik ini. Kami menjadi keluarga berkecukupan bahkan usaha kami maju dengan pesat.
Aku memiliki bisnis usaha meubel yang awalnya dimodali oleh mertuaku. Berkat bimbingan mertua dan kepiawaianku dalam berbisnis kini usaha yang kugeluti sangat maju bahkan menjual produkku sampai ke mancanegara.
Ini tidak lepas dari campur tangan Widya yang sangat pandai melobi klien kami. Aku hanya bekerja di lapangan memantau perkembangan produksi.
Viny memang cantik, tapi lebih cantik Widya hanya saja Widya cantik alami tanpa polesan.
Terkadang aku menjadi bosan melihatnya di rumah hanya memakai daster dan dandan seadanya.
Widya memiliki usaha butik yang cukup besar dan memiliki 2 butik yang sudah terkenal. Customernya saja merupakan para ibu ibu sosialita dan tak sedikit para seleb yang sering nongol di TV.
Widya jarang sekali datang ke butik dia memiliki karyawan kepercayaan yang mengelolanya. Paling hanya sesekali datang ke sana atau hanya menerima laporan lewat email.
Aku percaya dengan kepandaian Widya buktinya butiknya makin berkembang dan produknya sangat diminati.
Bukan itu saja usaha meubelku pun dia turut memantaunya, semua laporan keuangan dan jalannya perusahaan dia mengetahui secara persis.
Viny berbeda dengan Widya, dia merupakan wanita manja dan pandai berdandan. Awalnya aku tidak tertarik tapi karena kami sering dipertemukan oleh ibuku lama lama aku membuka hatiku.
Aku tahu ibu sering memberi kesempatan kami untuk berduaan sehingga dengan sadar kami melakukan hubungan suami istri sebelum terjadi pernikahan.
Yang akhirnya lahirlah Nesa anakku bersama Viny. Mau tak mau aku harus bertanggung jawab. Tapi seiring berjalannya waktu aku pun mulai mencintainya.
Dia pandai memanjakanku dan selalu bergantung padaku sehingga aku merasa dibutuhkan. Sifatnya bertolak belakang dengan Widya.
Tapi sampai kapan pun aku tak mau melepas Widya dia lah cinta pertamaku. Berkat dia juga perekonomian keluargaku terangkat.
Mereka dua orang berbeda yang memiliki kekurangan dan kelebihan. Ibu pun tidak memaksaku menceraikan Widya karena itu syarat yang kuajukan ketika bersedia menikahi Viny.
Drttt Drrttt
Hp ku kembali berbunyi, aku sudah tak dapat menolaknya.
" Siapa pah? " Viny bertanya padaku.
" Widya " tanpa menjawab dia langsung melengos pergi tanpa mengambil alih Nesa dari pangkuanku.
Dia seperti sengaja agar aku tak mengangkat panggilan dari Widya, karena Nesa dipangkuanku sedang menangis pastinya akan membuat Widya curiga.
Ya ampun bagaimana ini, kalau tidak diangkat Widya pasti curiga. Tadi siang saja dia sempat curiga waktu dia menelepon dan mendengar panggilan keberangkatan pesawat.
Untung aku ada alasan itu suara radio di mobil travel yang kutumpangi.
Hari ini benar benar menegangkan keberangkatan yang mendadak karena salah melihat jadwal dan tiba tiba Viny sudah datang menunggu di rumah Ibuku untuk pergi ke Bali.
Aku fikir jadwal keberangkatannya besok, ternyata aku salah. Untung saja ketika pulang ke rumah Widya sedang keluar jadi tidak banyak bertanya.
Bisa saja aku tidak membawa baju dari rumah tapi Widya pasti lebih curiga. Dengan keberangkatan aku saja yang meninggalkan mobil di rumah dia pasti heran. Karena tak sebiasanya aku pergi tanpa menggunakan mobilku.
Sudahlah aku angkat saja panggilannya daripada tambah curiga untung Nesa sudah berhenti menangis.
[ Hallo ]
[ Pah, susah banget sih di telepon ]
[ Maaf mah tadi meeting, ini baru beres ]
"Huaaa huaaa"
Aduh ini Nesa malah nangis lagi, pasti Widya curiga.
[ Loh mas kok ada suara anak kecil itu siapa? ]
Tuh kan bener Widya curiga.
[ Ah bukan siapa siapa mah, itu pengunjung restoran anaknya nangis ]
[ Loh bukannya papah baru beres meeting kok di resto, yang bener yang mana? ]
[ Mama cerewet banget sih, Papah disini lagi kerja jangan mikir yang aneh aneh. Sudah papah cape ]
Kuputus sepihak obrolan kami daripada Widya tambah curiga.
" Sudah teleponannya? " Viny berucap sinis sambil mengambil alih Nesa dari pangkuanku.
" Kamu kenapa sih gak lihat kondisi. Seharusnya kamu ambil Nesa dari tadi "
" Ngapain aku ambil supaya kamu bisa ngobrol sama istri tuamu "
" Kamu gak usah merajuk deh, dari awal kamu sudah tahu aku memiliki anak istri tapi kamu yang terus menggodaku "
Kulempar serbet ke meja makan karena kesal, kutinggalkan Viny bersama Nesa di meja.
Viny memanggilku dan berjalan tergopoh gopoh " Mas jangan gitu dong, maafin aku. Aku hanya cemburu, ini kan waktunya kita liburan aku gak mau di ganggu sama Widya "
Aku berhenti dan membalikan badanku " Kalau kamu ingin dimengerti harusnya tahu posisimu seperti apa "
" Ya aku hanya istri keduamu mas " air mata langsung membasahi pipi Viny.
Inilah yang bikin aku malas, sedikit sedikit menangis bikin aku serba salah. Itu memang sudah menjadi senjata andalannya.
" Sudah gak perlu nangis malas lihatnya " Aku segera masuk lift menuju kamar kami. Viny mengikutiku dari belakang sambil menggendong Nesa.
Kurebahkan badanku diranjang, entah kenapa hari ini aku merindukan Widya dan anak anak.
Kepergian hari ini begitu terburu-buru banyak hal yang tidak dipersiapkan bahkan HP yang khusus digunakan untuk menghubungi Viny saja tertinggal di dalam mobil.
Beruntung kunci mobil sudah kubawa dan HP pun kusimpan di tempat tersembunyi.
Namun ada 1 kejadian yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak. Siang tadi sebelum ke bandara kami mampir ke minimarket untuk membeli susu Nesa.
Aku berada dilorong berbeda dengan Ibu dan Viny, kudengar suara Ibu yang melengking sedang marah marah sampai mengundang perhatian pengunjung yang lain.
Ketika kutengok ternyata Ibu sedang memarahi Ridwan yang tak sengaja menyenggol Nesa.
Kulihat Ridwan hanya tertunduk dan didampingi teman temannya. Kasihan anak sulungku.
Karena panik aku langsung berlari ke arah pintu dan segera masuk ke dalam mobil taksi yang menunggu kami.
Aku tak berani keluar khawatir Ridwan melihatku dan mengadu pada Widya.
Ibu pun aneh kenapa memarahi Ridwan dengan sangat emosi padahal Nesa tidak terluka.
Aku yakin Ibu seperti itu karena dia tidak menyukai Widya jadi melampiaskannya pada Ridwan " Maafkan papah ya kak yang tak bisa membelamu "

Comentário do Livro (25)

  • avatar
    bangaltafio

    bagus, tapi bacanya belum selesai, bikin penasara

    05/07/2025

      0
  • avatar
    Salsabila Dialfa

    baguss

    25/04/2025

      0
  • avatar
    SitiMardiah

    mantapppp

    19/03/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes