Terkadang yang pergi memang harus direlakan dan diikhlaskan sepenuh hati. Toh mereka tak akan pernah kembali. Dari cerita itu aku belajar, bahwa semua yang datang pasti akan pergi, karena itu aku tak akan memaksakan siapapun untuk selalu di sisiku. Untuknya, menetaplah jika nyaman, bertahanlah walau sulit, dan pergilah jika tak lagi mampu. Vhelicia Camelyona Minarukha *** Mendengar suara jeritatan Lyona dari arah dapur, Camedyan segera menitipkan Ici kecilnya kepada Famela lalu berlari menyusul Key yang lebih dulu berlari untuk melihat keadaan Lyona. Entahlah, kekhawatiran mereka dirasa berlebihan... Tapi itulah yang mereka rasakan. Mereka baru saja kehilangan, wajar saja tingkat khawatirnya terlampau berlebih ketika mendengar jeritan Lyona. "Lyo! Kamu kenapa?!" tanya Key yang lebih dulu sampai melihat Lyona tengah memegang kepalanya "Kamu kenapa?" tanya Camedyan saat tiba di sana "NGAKU! INI SIAPA YANG BERANTAKIN DAPURKU?! BARU SATU MINGGU DAPUR INI GAK AKU URUS, UDAH KACAU KEK GINI! LIAT INI! GULA GAK DI TUTUP RAPET JADINYA SEMUTAN SEMUA! INI APA LAGI?! KOMPOR MAHALKU😭! KENAPA JADI CEMONG-CEMONG GINI?! NGAKU! SIAPA YANG BIKIN DAPURKU KEK GINI!" jeritan Lyona benar-benar memekakkan gendang telinga Key dan Camedyan. "S-sebenernya, itu Mas yang berantakin. Soalnya... Mau bikin mie instan sama kopi, tapi gak jadi karena tiba-tiba hilang mood" jawab Camedyan jujur "MAS?! SEKARANG JUGA AKU MAU INI SEMUA DI BERESIN! JANGAN KELUAR DARI DAPUR KALO INI BELUM BERES!" ujar Lyona lalu melenggang mempersiapkan bahan masakannya "Apes, apes..." ujar Camedyan pasrah "HEH! AKU DENGER YA, MAS!" Lyona memelotot ke arah Camedyan Key menahan tawanya "yang sabar ya, Bang" ujarnya sebelum berlari meninggalkan Camedyan dengan kekesalannya Saat tengah makan bersama... "Lyo, kalo aku mau kita pulang ke Indonesia... Kamu setuju?" ujar Camedyan di tengah kesibukan mereka makan bersama "Hum? Indonesia?" Lyona tampak merunduk sebentar "apapun keputusan kamu, Mas. Aku sebagai istri cuma bisa ngikut" sambung Lyona "Alhamdulillah, kalo kalian mau pulang" Famela tersenyum senang "Iya, lagian Oma-Opa tu pengen banget liat Ici-nya" timpal Key "Kalian kapan mau pulang?" tanya Camedyan pada Famela dan Key "Astaghfirullah, kita diusir?" Famela pura-pura bodoh "Heh, bulu landak! Aku tanya, bukan ngusir! Maksudku kenapa kita gak sekalian bareng aja pulang ke Indonesia-nya" jelas Camedyan "Besok kita udah pulang, Bang. Siapa yang mau urus perusahaan di Bandung kalo bukan kami? Masa iya ngandelin Pak Diktro terus" jawab Key "Mas... Yakin besok? Apa gak terlalu terburu-buru?" Lyona mulai murung. "Makin lama kita di sini, semakin susah kita ikhlasin Ben! Lyo, jujur aja aku masih gak terima keadaan ini. Tapi, mau gimana lagi?" Camedyan mulai mengutarakan isi hatinya "Ya udah, aku iku aja" Lyona. Setelah kepergian ke-tiga pelangi Minarukha itu, Camelyon memutuskan untuk kembali ke Indonesia membawa Icy kecil ikut serta. Hanya saja mereka lebih memilih mengurus perusahaan yang ada di Jakarta, berada di Bandung membuat mereka kembali mengenang masa-masa bersama kedua mendiang Mom dan Dad mereka. Key dan Famela pun dapat mengerti akan hal itu, sebenarnya mereka pun merasa demikian, hanya saja mereka harus menjaga kedua Opa dan Oma mereka, yaitu Minadyon dan Rukhaidah yang mulai renta. Alasan mereka kembali adalah untuk menenangkan hati mereka setelah apa yang Filipina berikan atas mereka, Ya... Tak ada yang wajib disalahkan. Kediaman Minarukha setelah satu bulan peninggalan tiga pelangi Minarukha... "Key! Aku, Lyona, dan Ici... Hari ini akan langsung terbang ke Jakarta" Camedyan "Lah, cepet banget, Bang. Nanti aja lah, Bang" sejujurnya Key masih ingin bermain bersama Ici kecil yang menggemaskan. "Iya. Seenggaknya kami bisa main sama Ici satu minggu lagi" Kali ini Famella yang meminta sambil mencolek hidung Ici kecil yang terlelap digendongan Lyona "Maaf ella, tinggal di Bandung buat kami susah memperbaiki hati kami. Tempat ini bersejarah banget. Mom, Dad, dan Ben" Tolak Lyona yang hampir berkaca-kaca "Iya. Aku ngerti, Lyo. Jangan lama-lama ya di Jakarta-nya. Aku pasti nanti kengan keponakanku ini" Kata Famella mencuil hidung Ici "Ga tahu deh. Yang jelas kami bakal pulang setelah Ici masuk usia sekolah dan saat itu tiba kami harus mengikhlaskan apa yang udah Manila tinggalin 1 bulan terakhir" Camedyan "Inget! Iqy disini pasti akan nungguin Ici-nya dan dia pasti kesepian gak ada temen" Kata Key sambil memandang wajah Iqy dan Ici bergantian. "Ada apa nih rame-rame?" Nampaknya Rukhaida baru saja keluar dari lift dan mendengar pembicaraan mereka "Oma, Camelyon pamit ya..? Kami mau ngurus perusahaan yang di Jakarta aja" "Lama? Ici ikut? Kapan pulang? Gimana perusahaan di Manila? Pembangunan Rumah Sakit Iqy & Ici? Restaurant? Resort? Perhotelan?" Serang Rukhaida dengan pertanyaannya, sebenarnya Rukhaida masih menginginkan bermain bersama cucu buyutnya itu. "Maaf, Oma. Tapi, kami gak bisa. Tolong kasih kami waktu buat bisa mengikhlaskan kenagan-kenangan pahit di Manila 1 bulan terakhir ini" Kali ini Lyona bersuara, namun tanpa disadari setetes air mata meluncur mulus di pipinya yang mulus itu kala mengingat Ben. "Selamat belajar kuat, Cucu Oma. Oma cuma masih kangen sama Ici-ku" Rukhaida luluh akan tangisan Lyona. Dia tahu rasanya kelihalangan buah hati, itu pun sedang dia alami. "Oma, semua soal perusahaan dan aset yang Camelyon tinggalin akan kami lanjutin! Ayolah, aku sama Famela ada di sini buat kalian!" Key meyakinkan Rukhaida. "Iya... Oma 'kan bilang Oma cuma masih kangen Ici. Hmmm, seenggaknya masih ada Iqy yang ngejaga Oma buyutnya ini nanti. Hey tapi untuk Keyfam dilarang pergi kemana-mana karena kalian udah janji akan tetep di sini jagain Oma dan juga Opa!" Rukhaida melarang... "Iya... Iqy tak akan tinggalkan Oma dan Opa-nya" Famella bersuara "Kalo gitu kalian pamit sana sama Opa!" Suruh Rukhaida kepada Camelyon "Udah pasti Oma" Jawab Lyona "Tapi aku mohon, Oma ya yang ngejelasin ke opa alasan kami pindah?" "Hmmm gimana ya..." Rukhaida terlihat menimbang... Nyatanya Rukhaida hanya bercanda agar menambah wajah ketegangan pada raut Camelyon-nya itu "Ayolah Oma 'ku cantikkk" Camedyan merayu "Hahaha kamu ini ya! Kalo ngerayu nomor satu!" "Iya dong! Suaminya siapa dulu" Kali ini Lyona bersuara "Kalian bikin kami iri" Kali ini Famella bersuara lagi "Dih! Ngapain iri sama mereka? Kita juga bisa hehe" Ujar Key seraya memeluk pinggang Famela yang sedang menggendong Iqy "Kalian ini!" ujar Rukhaida melihat kelakuan ke empat cucunya itu Sebelum pamit kepada Opa-nya, Camelyon menitipkan Ici kepada Key. Kamar Minarukha.... "Dyon, cucu-cucumu mau pamit" Ujar Rukhaida pada Minadyon yang tampak sedang asik memandang pemandangan pagi lewat balkon. "Suruh masuk saja" Ujar Minadyon tanpa menoleh pada Rukhaida "Assalamualaikum, Opa" Ujar Camelyon "Alaikumussalam, masuk" "Iya Opa, hmm Opa kami mohon pamit ya.." Ujar Camedyan "Ici 'ku dibawa?" Tanya Minadyon "Pastilah, Opa. Ici masih kecil" Lyona "Jaga baik-baik Ici-ku! Kalian gak tahu seberapa hancur perasaanku saat aku tahu jagoanku lebih dulu mendahuluiku!" Ujar Minadyon menatap nanar kaca jendela itu, bahkan dia tak sempat memberikan banyak waktu untuk bermain puas dengan jagoannya (Ben). "Pasti, Opa. Maafin aku yang gagal ngurus jagoanmu dengan baik" Ujar Camedyan seraya merunduk merasa bersalah, dia tahu sehancur apa perasaan Opa-nya itu. "Udahlah, Nak. Pergilah! Tenangin diri kalian! Jangan salahin diri kalian terus, kalian gak salah, gak ada yang patut disalahin" Ujar Minadyon mendekat pada Camedyan dan menepuk dua kali pundak cucunya itu "Makasih, Opa" Ujar Camelyon bersamaan "Gak salah aku nikahkan kalian, serasi. Dan terima kasih karena kalian nerima dengan lapang dada perjodohan ini" Ujar Minadyon lagi "Kami yang harusnya bilang makasih, Opa. Opa udah menyatukan kami. Kami bahagia, Opa!" Lyona bersuara "Baguslah kalo gitu" Beberapa menit berselang, Famela datang dengan menggendong Ici "apa Opa gak mau gendong Ici dulu sebelum dia pergi?" "Bawa ke sini Ici cantikku! Opa mau nganterin kalian sampe boarding" Ujar Minadyon sambil merebut Ici dari gendongan Famela "Makasih, Opa" Ujar Camelyon bersamaan lagi Camelyonpun tersenyum melihat sudah tak ada lagi raut kecewa pada wajah Opa-nya setelah kepergian Ben. Hanya Lyona lah yang paling terpukul atas kepergian anaknya itu... Buktinya saja ia yang meminta pada Camedyan untuk pindah ke Jakarta. Ya... Dia selalu mengingat masa-masa bersama Ben jika ia sedang melihat toko ice cream, toko mainan, ikan hias di ruang tamu apartemennya... Ya Ben menyukai ikan hias. "Aku minta sesuatu boleh gak?" Tanya Lyona pada Camedyan "Sejak kapan aku nolak permintaan kamu? Apapun untukmu!" Ujar Camedyan "Nanti kamu bakal ke Manila lagi 'kan?" Tanya Lyona "Ada yang ketinggalan?" Tanya Camedyan balik "Emm, aku mau kamu ambilin sesuatu di rumah yang di Manila. Buat kenang-kenangan" Jawab Lyona "Apa?" Camedyan bertanya lagi "Emm... I-ikan hias" Lyona terbata, takut Camedyan marah padanya yang sulit mengikhlaskan Ben "Ikan Ben?" Tanya Camedyan memastikan "Hm" Jawab Lyona seadanya "Ok, tapi janji jangan nangis kalo udah kuambil ya?" "Gak janji" Jawab Lyona "Hufttt!" Camedyan menghembuskan nafasnya kasar Lalu Camedyan mengamit lengan Lyona. "Eh, kalian mau kemana?" tanya Minadyon yang berdiri di ambang pintu sambil menggendong Ici kecil "Em... Ada yang mau diobrolin sebentar, Opa." Jawab Camedyan "Oh ya udah.. Ici-nya biar sama Opa dulu ya? Kasian diajak mondar-mandir mulu" Ujar Minadyon yang tak akan menyia-nyiakan waktu-waktu bersama Ici-nya. "Oh iya... Jangan lama-lama.. Ntar ketinggalan pesawat!" Ujar Minadyon yang kembali membalikkan badannya "Hah? Opa udah pesenin tiket?!" Tanya Camedyan yang terkejut "Yang jelas Opa gak mau Ici-ku lama-lama di dalem pesawat, Opa udah pesenin tiket premium buat kalian!" Jawab Minadyon dan langsung melengos masuk kedalam. "Si Opa, kebiasaan" Lyona menggeleng pelan. Beberapa tahun setelahnya... Kini, Ici kecil mereka yang dulunya suka merengek telah tumbuh menjadi gadis cantik nan imut, Camelyon menyebutnya putri kelinci lantaran Ici imutnya itu sangat menyukai wortel! Entah wortel yang sudah dimasak dan diolah ataupun wortel mentah! Bahkan dia sering mencuri wortel-wortel yang ada di kulkas setiap malam hari, dengan dalih "untuk cemilan di kamar" Suatu pagi... "PAPA!!! SIAPA YANG ACAK-ACAK KULKAS INI HEMMM?! NGAKU!" jerit Lyona membuat Camedyan yang baru saja turun dari tangga lantas menutup gendang telinganya Sementara Ici yang tengah berada di kamarnya langsung bergidik ngeri membayangkan Mama-nya itu mengomelinya sebelum berangkat sekolah. "Aduh aku harus bilang apa ya kalo ditanyain?!" gumamnya mulai panik "ICI! TURUN KAMU! GAK MAU SEKOLAH KAH? INI UDAH JAM 06.30! KAMU BELUM MAU KELUAR KAMAR?" jeritan Lyona membuat Ici yang memang sudah siap pun langsung cepat-cepat mengambil tasnya lalu turun ke bawah untuk sarapan. "Ekhem... Ici, kamu tahu soal kulkas yang berantakan? Soalnya tadi Mama kaget ngeliat isi kulkas berantakan semua" ujar Lyona pura-pura tidak tahu, padahal dia yakin putrinya itu adalah dalang dari berantakannya kulkas "Iya, Ma. Ta-tahu" Ici mulai gugup sembari mengunyah nasi gorengnya. "Jelasin" ujar Lyona acuh tak acuh "Semalem Ici cariin wortel buat temen sambil ngerjain tugas, Ma. Tapi setelah Ici cariin gak ada lagi stok wortel... Jadi Ici acak-acak aja sekalian! Huh!" ujarnya menggerutu "Gara-gara kamu yang acak-acak... Papa nih yang kena imbasnya disuruh beresin☺️, dasar ya kamuuu" Camedyan "HUAHAHAHAHAHA" tawa Lyona dan Ici pecah memenuhi ruang makan itu. To be continued...
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 38 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (65)
Goodbye
Cerita bagus banget meskipun dengan cerita yang sangat berbeda dengan orang lain. cerita paling best deh
Cerita bagus banget meskipun dengan cerita yang sangat berbeda dengan orang lain. cerita paling best deh
31/12/2021
3ok, jadi apa ini berdosa sekali 😭
30/03/2025
0bagus
24/03/2025
0Ver Todos