logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

3. Tentang Ben

Sejatinya yang pergi tak benar-benar menghilang, hanya saja menunggu kita 'tuk menyusul
Saiqy Keyfam Minarukha
***
Setelah satu bulan pernikahan Camelyon, Lyona dinyatakan positif hamil dan di susul pasangan Keyfam menikah.
6 tahun berselang...
Pasangan Camelyon mempunyai seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang bernama Benzo Camelyon Minarukha, sementara pasangan Keyfam belum mempunyai keturunan.
Di rumah besar kediaman keluarga Minarukha...
"Key, kapan kalian berniat punya momongan?" Tanya Rukhaida
"Iya, kami harap anak kalian perempuan nantinya" Timpal Minadyon
"Nenek... Kakek, kami masih mau fokus ngurusin perusahaan-perusahaan kita yang tersebar ke berbagai negara ini. Kalo nanti kami punya momongan terlalu cepet, pasti waktu kami terbagi-" sanggah Keytodhilac terpotong
"Selalu alesan itu! Apa kalian tega ngeliat kami meninggal tanpa sempet liat buyut-buyut kami menikah?!" Ujar Minadyon
"Iya! Apa kalian gak liat? Nenekmu ini udah sakit-sakitan" ujar Rukhaida
"Lagi pula, Camelyon gak pernah ngeluh repot saat mereka bagi waktu antara ngurus Ben sambil ngurus perusahaan-perusahaan, rumah sakit bahkan hotel milik keluarga kita yang berdiri di penjuru dunia" ujar Minadyon menuntut
Pasangan Keyfam hanya bisa berdiam jika mereka sudah disudutkan seperti ini.
Satu bulan setelahnya mereka mendapat kabar bahagia dari pasangan Keyfam, mereka mengatakan jika Famela positif mengandung.
Setelah lahirnya anak pertama pasangan Keyfam yang berjenis kelamin laki-laki dengan nama Saiqy Keyfam Minarukha, satu tahun berikutnya kebahagiaan mereka bertambah kala Camedyan mengabarkan via telephon jika Lyona pun sedang positif mengandung anak kedua mereka.
Proses persalinan berlangsung dengan lancar, seluruh anggota keluarga Minarukha bergembira akan hadirnya sosok mungil berjenis kelamin perempuan itu lahir dengan sehat. Namanya Vhelicia Camelyona Minarukha, nama yang cantik untuk bidadari mungil kesayangan Minarukha.
Sekitar satu tahun usia Ici kecil, perusahaan keluarga Minarukha yang berada di Filipina, yaitu perusahaan yang dipegang kendali oleh pasangan Camelyona langsung itu mengalami sedikit masalah lantaran salah satu pemegang saham mencabut sahamnya dari perusahaan mereka secara paksa, saat ditanyakan alasannya mereka menjawab bahwa pemegang saham itu telah mengalihkan seluruh sahamnya pada keluarga Hareta, musuh bebuyutan keluarga Minarukha. Mereka bermusuh lantaran pernah terjadi kesalahpahaman antar kedua belah pihak tentang perbisnisan. Lalu keluarga Hareta tanpa bukti menuduh keluarga Minarukha telah berbuat curang demi mengambil keuntungan besar dari kerja sama yang mereka buat. Bertambah lah rasa benci ketika mereka mengetahui hubungan antara Lyona dan Rhoky.
"Pak, Direktur perusahaan Hareta sudah menandatangani berkas pemindahan saham tersebut." Lapor salah seorang pegawai perusahaan kepada Camedyan.
"Bisa kamu atur jadwal meeting kita bersama pemegang saham lainnya sekarang? Kita antisipasi sebelum mereka berfikir yang tidak-tidak tentang pencabutan saham ini. Bisa-bisa mereka ikut-ikutan" Camedyan mulai kewalahan, biasanya Lyona akan membantunya dalam hal-hal berat seperti sekarang. Namun, kini dia tak bisa lagi mengandalkan istrinya yang tengah sibuk mengurus Ici kecil mereka, Ben, dan tentu saja mengurus rumah.
Sangking sibuknya, Camedyan lupa untuk menjemput Ben yang kemungkinan sudah pulang. Hingga panggilan dari Ben mengingatkannya soal itu.
"Papa! Jemputtt, udah lama loh Ben nungguin" omel Ben, bosan menunggu Papanya yang tak kunjung menjemputnya.
"Astaghfirullah, iya Ben, Sayang... Tunggu ya, ini dikit lagi Papa selesai. Jangan kemana-mana ya, bentar lagi Papa langsung berangkat"
"Ajak Mama ya, Pa" rengek Ben memohon.
"Abang... Mama 'kan lagi sibuk ngurusin Adek, Papa sendirian aja ya..." bujuk Camedyan
"Heum... Padahal mau liat Mama"
"Nanti 'kan langsung Papa anter ke rumah, Bang" Camedyan
"Cepet ya, Pa"
"Iya..."
Camedyan pun segera menjemput putranya itu. Sialnya di jalan dia harus melalui drama kemacetan Ibukota negara Filipina itu. Setibanya di sekolah Ben, Camedyan tidak menemukan putranya itu di tempat biasa Ben menungguinya, lantas Camedyan menanyakannya pada penjaga gerbang sekolah. Sayangnya mereka pun tak terlalu memperhatikan Ben, entah mengapa Camedyan merasa cemas yang benar-benar cemas, tapi dia tak tahu alasan kecemasannya yang berlebih itu. Dia pun mengecek ke kelas Ben. Nihil, sudah tak ada siapa-siapa di sana, akhirnya Camedyan meminta penjaga sekolah itu untuk menunjukkannya rekaman CCTV di depan gerbang.
Berhasil! Camedyan berhasil membujuk penjaga sekolah itu agar memperlihatkannya rekaman kejadian sebelum Camedyan sampai di tempat itu. Terlihat di sana Ben menunggu hingga dia menelfon Camedyan, setelah itu muncul sebuah mobil Ferrari berwarna hitam bersama seorang laki-laki berpakaian layaknya seorang supir menghampiri Ben, sayangnya percakapan mereka tidak dapat terdengar jelas di rekaman tersebut. Dengan cerdiknya Camedyan memotret wajah orang tersebut bersama plat nomor kendaraan mereka. Tanpa fikir panjang Camedyan melaporkan orang tersebut ke pihak kepolisian bersama dua buah bukti tersebut. Camedyan belum berniat mengabari Lyona, dia tak ingin Lyona ikut khawatir. Namun, entah mengapa hati kecilnya benar-benar mengkhawatirkan keberadaan Ben sekarang, seingatnya dia tidak memerintahkan salah satu supir rumahnya untuk menjemput Ben, lagi pula orang yang dilihatnya di rekaman CCTV tadi bukanlah salah satu supir rumahnya. Apakah Lyona memerintahkan supir baru untuk menjemput putranya itu?
Untuk memastikan sekaligus menenangkan rasa khawatirnya yang berlebih, Camedyan pun memutuskan untuk mengecek keberadaan Ben di rumah. Dengan kecepatan laju mobilnya di atas rata-rata membuat Camedyan cukup cepat untuk sampai di rumahnya.
"Sayang, Ben udah pulang?!" Tanya Camedyan tiba-tiba, bahkan dia pun belum sempat mengucapkan salam.
"Waalaikumussalam" Lyona yang tengah menggendong Ici kecil pun memutar bola matanya malas
"Ben ada?" Tanya Camedyan
"Lah, baru aja aku mau tanya! Abang mana?! Kamu belum jemput?!" Lyona memelototkan matanya ke arah Camedyan.
Deg...
Seketika otak Camedyan seaakan berhenti berdetak, kalau bukan supir suruhan Lyona, lalu siapa?!
Tiba-tiba telefon Camedyan berdering, dengan segera Camedyan menerimanya, awalnya dia fikir itu adalah nomor salah satu dari pihak kepolisian. Tapi ternyata...
"Halo?"
"Bisa bicara dengan Prof. Dr. Camedyan Amyaz Minarukha?"
Tunggu, siapa orang ini? Apakah salah satu kliennya? Ah! Camedyan tidak ada waktu meladeni kliennya saat ini, seisi kepalanya tengah sibuk memikirkan kemungkinan kemana perginya putra sulungnya itu.
"Iya, ini saya sendiri."
"Ingin putramu selamat? Kembaliin Ily-ku" ujar seseorang bersuara berat di sebrang sana.
Deg!
Camedyan seolah lupa bernafas, siapa orang itu? Apa kaitannya dengan Ben dan Ily? Siapa Ily-nya yang dia maksud? Apakah... Lyona? Lyona istrinya? Entahlah!
"Siapa anda ini?! Jangan main-main sama saya, ya!"
"Uhuhu, lu ngancem gue? Nyawa anak lu di tangan gue, mau lantai 25 punya lo ini jadi saksi berakhirnya nafas anak lo? Ck ck ck, pasti sakit kalo jatoh ke bawah-"
"Papaaa! Mamaaa! Tolongin Ben! Hiks... Tolong"
"Ben?! BEN! KAMU DI SANA, NAK?! BENNNNN!"
Sambungan lebih dulu diakhiri orang di seberang sana. Hal itu benar-benar membuat Camedyan menggeram dan kalap mata, dengan segera dia berlari ke arah mobilnya, mengambil sesuatu dari bagasinya, dimasukkannya ke dalam jasnya, lalu pergi dari pekarangan rumah sembari berfikir tentang lantai 25 miliknya?
Lyona yang sedari tadi bertanya pun ikut panik ketika melihat ekspresi wajah suaminya itu dengan beberapa kata ancaman yang didengarnya saat Camedyan menerima telfon tadi.
"BIKKK!" Jerit Lyona memanggil baby sitternya, dan dengan segera orang yang dipanggil pun muncul.
"Ada apa-"
"Saya titip Ici, jangan sampe nangis ya, Bik!" Lyona memberikan Ici ke gendongan baby sitter tersebut. Setelah itu ia mencoba mengejar mobil Camedyan yang mulai jauh lantaran kecepatannya yang di atas rata-rata.
"Ben! Kamu kemana, Nak?!" ujar Lyona tiba-tiba panik lantaran memikirkan hal yang tidak-tidak. Di depan sana, dilihatnya mobil Camedyan berhenti tepat di parkiran hotel bintang lima milik mereka.
"Mas!" jerit Lyona memanggil suaminya itu, seketika Camedyan yang berlari cepat menuju sebuah lift pun terhenti mendadak "kamu ngapain ke sini?!"
"Ben kenapa?!" tanya Lyona sedikit menjerit, "panjang ceritanya! Sekarang kamu suruh seluruh pegawai hotel buat tutup semua akses keluar masuk, dan telfon polisi segera! Ben dalem bahaya, aku udah ga ada waktu buat jelasin! Ben sama Rhoky di rooftop, dia berniat celakain Ben kita!" Camedyan segera masuk ketika pintu lift terbuka.
Lyona kalang kabut, dia langsung melakukan apa yang diperintahkan suaminya itu, lalu dia pun menyusul ke rooftop.
Setibanya Camedyan di rooftop, dia sempat dihadang oleh beberapa laki-laki berbadan besar. Namun, Camedyan melumpuhkannya hanya dengan beberapa gerakan. Matanya langsung menemukan Ben kecil yang tengah terjuntai di ujung rooftop, dengan tumpuan tangan seorang Rhoky Hareta, andainya Rhoky melepas genggamannya begitu saja... Dipastikan Ben tewas.
"Rhoky, jangan main-main kamu! Jangan mempermainkan nyawa seseorang! Dia anakku! Tolong, ini bisa kita bicarakan baik-baik" andainya boleh menangis dan berlutut demi keselamatan nyawa putranya itu, maka Camedyan siap melakukannya.
Prakkk...
Rhoky melemparkan sebuah map berisi beberapa berkas di dalamnya "di dalem itu ada surat cerai sama pena, sudah ada tanda tangan Lyona. Tinggal tanda tanganmu! Cepet tanda tangani, terus bawa Ily-ku ke sini segera" perintah Rhoky dengan wajah congkaknya.

*Rhoky pov
Heh, dulu lo boleh menang dan menertawakan penderitaan gue, tapi gak untuk yang kedua kalinya

Dengan gemetar Camedyan menanda tangani surat cerai tersebut, dia yakin Rhoky telah memalsukan tanda tangan milik Lyona, mana mungkin istrinya itu rela menanda tangani surat sakral itu. Setelah selesai surat itu ditandatanganinya, Camedyan pun melempar kembali surat itu ke depan kaki Rhoky.
"Sekarang lepaskan anakku" ujar Camedyan, tanpa Rhoky sadari... Camedyan sedang merencanakan satu hal.
"Pap-pa" Ben meringis menahan pedih di tangannya yang digenggam kuat oleh Rhoky "utututu... Sakit ya, Nak? Bayangin deh kalo kamu jatuh ke bawah" ucap Rhoky agar ketakutan Ben bertambah.
"Ben! Dengerin Papa, jangan liat ke bawah! Jangan! Rhoky saya udah tandatangani suratnya! Sekarang lepasin anak saya!" Bentak Camedyan
"Ben!!!" Tiba-tiba Lyona muncul dan melihat nyawa anaknya ada di ambang bahaya.
"Pas sekaliii! Ily, aku kangen... Abis ini kita nikah ya...," ucap Rhoky seolah tanpa beban
"Sinting! Jangan gila kamu Rhoky, aku udah bersuami, udah punya dua anak! Sekarang lepasin anak aku!" Tolak Lyona mentah-mentah
"Aku bakal lepasin kalo kamu mau nikah sama aku" ujarnya bernada mengancam
"ORANG SINTING!" Maki Camedyan yang mulai meradang
"Bilang sekali lagi, kupastiin anakmu tewas" Rhoky menyunggingkan senyum miringnya. Lalu mulai mengendurkan genggamannya pada lengan Ben.
To be continued...

Comentário do Livro (65)

  • avatar
    Goodbye

    Cerita bagus banget meskipun dengan cerita yang sangat berbeda dengan orang lain. cerita paling best deh

    31/12/2021

      3
  • avatar
    ArsyantiNita

    ok, jadi apa ini berdosa sekali 😭

    30/03/2025

      0
  • avatar
    Puji Ea

    bagus

    24/03/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes