logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

|8.| Tokoh Baru

Hal yang pertama kali tertangkap indra pengelihatan Retta adalah langit-langit kamarnya. Jam dinding di sudut kamar Retta menunjukkan pukul 05.32. Namun, gadis itu enggan beranjak dari kasur.
Sadar.
Retta sangat sadar bahwa dirinya telah kembali ke dunia nyata. Dunia yang seolah gemar memberinya penderitaan. Retta memeluk tubuhnya sendiri. Gadis itu menangis dalam diam. Rasanya, pelukan sang mama saat Retta tidur tadi, terasa begitu nyata. Retta dapat merasakan kehangatannya. Andai Retta bisa memilih, ia ingin selamanya ada di dunia novel.
Setelah 30 menit meratapi nasib, Retta bangkit dari kasur. Kaki jenjangnya melangkah gontai menuju kamar mandi. Tak lupa, Retta mengambil seragamnya terlebih dahulu. Lima belas menit kemudian, Retta keluar dari kamar mandi dalam balutan seragam khas SMA Trijaya. Langkahnya berhenti di depan cermin, merapikan sekali lagi pakaian yang membalut tubuhnya. Tangan Retta bergerak mengumpulkan rambut panjangnya menjadi satu ikatan. Sentuhan terakhir berupa jepit warna silver untuk poni Retta. Gadis itu meraih tas juga ponselnya, lalu beranjak keluar kamar.
Sampai di lantai bawah, Retta mendapati pemandangan pagi hari yang pahit. Papanya sedang sarapan bersama seorang wanita yang tak pernah Retta harapkan kehadirannya.
"Non Retta? Sarapan dulu, Non," ujar Bi Nun yang baru saja meletakkan semangkuk sayur sup.
Retta memilih tak menggubris. Gadis itu melangkah menuju sang papa, lalu mencium punggung tangannya. "Assalamualaikum."
"Salim sama mama kamu juga, dong, Retta," ucap Panji.
Mendengar kata-kata papanya, Retta yang sudah dua langkah di depan kembali balik badan. Kedua matanya menatap Panji heran. "Mama?" Retta melirik sinis ke arah wanita yang duduk di hadapan Panji. Wanita itu bahkan menatap tajam ke arah Retta secara terang-terangan. "Mama Retta udah meninggal tiga tahun yang lalu."
Lalu, Retta melangkah cepat dengan dada yang terasa sesak. Mungkin, ia akan terus mengalami sakit ini untuk pagi-pagi berikutnya.
Sampai di teras rumahnya, ponsel Retta bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
+62***:
Gue tunggu di depan
Retta lantas mendongak. Gadis itu melihat sebuah motor merah di depan pagar rumahnya. Dari perawakan laki-laki itu, sepertinya Retta tau dia siapa.
Retta keluar pagar. Tepat setelah itu, sosok cowok berseragam khas SMA Trijaya yang tadi Retta lihat melepas helm full facenya. Kini, Retta dapat melihat jelas wajah lelaki itu.
"Ngapain lo di sini?" tanya Retta ketus.
"Hai." Angga turun dari motor, menghampiri Retta. "Berangkat bareng gue, ya?"
"Tahu nomor gue dari mana?" tanya Retta.
"Penting, ya?"
"Penting."
"Eli."
"Eli?"
Retta heran. Yang ia tahu, sahabatnya itu bukan tipe orang yang dengan mudah memberi informasi pada orang lain. Apalagi, informasi tentang Retta.
"Gue berangkat sendiri aja," ucap Retta.
Angga menghela napas berat. "Gue tahu lo marah sama gue, Ret. Tapi mau sampai kapan? Bisa nggak, kasih gue satu kesempatan aja? Satu kesempatan untuk nunjukin kalau gue beneran suka sama lo."
"Nggak."
"Gue janji. Gue nggak akan berharap lebih sama lo. Gue cuma mau selalu ada buat lo."
Retta menghela napas sejenak. "Nggak tertarik."
Angga meraih pergelangan tangan Retta. Lelaki itu mengunci bola mata gadis di hadapannya dengan tatapan serius.
"Kali ini aja, Ret. Gue cuma mau nganter lo ke sekolah."
"Oke."
Jawaban Retta membuat Angga tak kuasa menahan senyum di bibirnya. Sudah lama Angga menaruh hati pada Retta. Sangat lama. Gadis cantik yang tidak banyak bicara, tapi selalu bertindak nyata. Siapapun yang melihat Retta pasti merasa iri dengan gadis itu. Hidup mewah, paras cantik, populer, otak cerdas, nyaris sempurna. Padahal, Retta memiliki banyak luka di dalam hatinya. Lama tak menatap Retta dari dekat, membuat Angga merasa sedih karena ia dapat melihat kekosongan di balik mata gadis itu.
Angga mengambil helm yang telah ia siapkan untuk Retta. Tentu saja, cowok itu memasangkannya.
"Gue bisa pasang sendiri kali," kata Retta.
Angga tak menjawab. Laki-laki itu hanya tersenyum tipis.
'Retta, lo buta, ya? Cowok seganteng Angga kenapa lo tolak, sih? Buat gue aja, ya?'
Entah darimana asalnya suara itu. Tapi, Retta mengakui bahwa senyum Angga memabukkan. Apalagi, lesung pipit di pipi kanan cowok itu. Rasanya, mustahil jika perempuan normal yang melihat tidak meleleh. Namun, ada sesuatu di dalam hati Retta yang enggan menerima Angga.
"Ayo naik," ucap Angga yang membuat Retta menurut.
Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, tak ada yang memulai pembicaraan. Baik Angga maupun Retta sama-sama diam.
Dua puluh menit kemudian, motor Angga memasuki gerbang SMA Trijaya. Semua pasang mata lantas tertuju ke arah mereka.
"Itu Angga sama Retta? Mereka pacaran?"
"Cantikan juga gue kemana-mana."
"Ihhh!!! Angga kenapa malah sama Retta, sih?!"
"Potek hati dedek, Bang!"
"Gila! Mereka couple goals banget!"
"Retta mah menang putih doang!"
Kira-kira seperti itu beberapa tanggapan yang sampai ke gendang telinga Retta.
"Nggak usah dipeduliin," bisik Angga. Kini, Angga dan Retta melangkah beriringan menuju kelas XI IPA 3. Retta yang sebelumnya tak pernah menjadi pusat perhatian, tentu saja risih dengan mata-mata yang menatapnya dengan sarat menilai.
"Waduh waduh waduhhh!!! Udah taken, niih?!" Azka bersorak heboh saat melihat Angga dan Retta masuk kelas bersama.
"YAHHH!!! Lo mah nikung gue sukanya, Ga! Kan, gue duluan yang antre jadi pacar Retta!" protes Erzan.
"Pajaknya jangan lupa!" Rian yang tadinya sibuk menyalin tugas milik Wina turut nimbrung.
"Berisik lo semua!" sungut Angga pada ketiga temannya.
Sementara teman-teman kelasnya heboh, Retta memilih abai. Gadis itu langsung duduk di kursinya. Membuat Eli yang semula asyik membaca buku menoleh.
"Ret, ini lo sengaja pakai nama sendiri apa gimana, sih?" tanya Eli. Retta yang ditanya seperti itu merasa heran.
"Maksudnya?"
"Ini." Eli mengulurkan buku novel berjudul Gazara. Ya. Novel yang Retta ciptakan. "Namanya persis sama lo. Elvaretta Adinda."
Retta menyahut novel dari tangan Eli dengan rasa penasaran yang membuncah. Gadis itu membuka chapter 1. Benar kata Eli, ada tokoh baru bernama Elvaretta Adinda di sana. Peristiwa, dialog, bahkan saat Retta berbicara dalam hati pun tertulis lengkap.
"Tapi, nih, ya, Ret. Kehidupan karakter Retta di novel lo itu kayak kebalikan dari hidup lo di sini nggak, sih?" tanya Eli.
Jujur, Retta bingung harus menanggapi bagaimana. Retta kira, kehadirannya di dunia novel tak akan mempengaruhi alur cerita. Tapi ternyata Retta salah.
"Ret!"
"Hah?"
"Kenapa bengong?"
"Nggak pa-pa." Retta tersenyum tipis.
"Jadi, lo sengaja bikin karakter dengan nama yang sama persis sama lo?"
Retta mengangguk singkat. "Gue pengin punya nasib yang seratus delapan puluh derajat beda dari hidup asli gue. Meskipun cuma berkhayal."
Mengetahui seluk-beluk kehidupan Retta, Eli jadi merasa prihatin. Bagi Eli, Retta adalah gadis yang kuat. Sangat kuat. Kalau Eli ada di posisi Retta sekarang, mungkin dia sudah mengalami depresi.
Retta membuka chapter 2. Kedua matanya terbelalak saat mendapati sebuah adegan. Di sana, tertulis bahwa Retta akan mengalami kecelakaan dan meninggal. Gadis itu dengan cepat menutup bukunya.
"Kenapa?" tanya Eli heran.
Retta menggeleng cepat. Tak ingin Eli curiga lebih jauh. "Oh, ya!" seru Retta. "Ngapain lo ngasih tahu Angga nomor gue?" Retta bertanya dengan nada tidak suka.
Eli tersenyum meringis. "Dia janji bakal traktir gue di kantin selama sebulan penuh. Sepuasnya, Ret! Gue nggak bisa nolak dong kalau gitu!"
"Oh! Jadi, gue seharga jajan lo di kantin selama sebulan? Gue kan udah bilang, jangan ngasih info tentang gue ke sembarang orang!"
Eli menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Melihat wajah jutek Retta, Eli jadi merasa bersalah.
"Maaf, Ret ...," bujuk Eli sambil menggenggam pergelangan tangan Retta yang terlipat di atas meja. "Maafin, ya? Please!!! Nggak bakal gue ulangi lagi, deh. Janji!"
Retta menoleh. Kedua matanya menatap Eli sebal. Raut muka melas sahabatnya itu membuat Retta tak kuasa menahan tawa.
"Dimaafin, 'kan?" Eli tersenyum merayu.
"Hhhmmm." Retta berlagak jual mahal. "Dimaafin nggak, ya?"
"Maafinlah, Ret ... Ya? Ya?"
"Iya, deh. Tapi, ada syaratnya."
"Apa?"
"Lo nggak boleh nyontek tugas kimia gue selama seminggu."
"IH? KOK GITU, SIH?! MAMPUSLAH GUE, RET! JANGAN GITU LAHHH!!!"
Retta terbahak-bahak. "Bercanda ...."
Eli menghela napas lega. "Eh iya, Ret. Tadi kenapa bisa bareng Angga?
"Ya menurut lo?" balas Retta sewot.
"Dia jemput lo ke rumah? Sejak kapan Angga tahu alamat rumah lo?"
Retta menonyor kepala Eli pelan. "Kan emang tahu dari dulu, dodol!"
"Iya juga, ya." Eli tersenyum meringis. Gadis itu menaikkan kedua alisnya cuek. "Tapi, kalau gue amati dengan seksama, nih, ya. Dia itu tulus tahu sama lo, Ret. Beneran suka gitu. Beda cara dia natap orang lain sama natap lo."
"Gue nggak suka sama dia," balas Retta.
"Masa, sih? Dikittt aja! Masa nggak?"
Retta menggeleng. "Gue nggak lagi mau buka hati. Emang sih Angga ganteng. Tapi, nggak menjamin dia nggak bakal ganggu jam belajar gue, 'kan?"
Memiliki stricts parents seperti orang tua Retta memang tidak mudah. Butuh kesiapan mental sekuat baja. Wajar jika Retta menutup hati dan SAY BIG NO tentang pacaran.
Pak Jamal, guru Kimia kelas XI IPA 3 memasuki ruangan. Saat itu juga, tiba-tiba ....
"Awh!"
Retta merasakan nyeri di bagian jantungnya.
"Ret, kenapa? Sakit?" tanya Eli cemas.
Retta tak mampu menjawab. Gadis itu masih sibuk menetralisir rasa sakit di dada kirinya.
"Mau ke UKS?" Eli bertanya lagi.
"Gue nggak apa-apa," lirih Retta.
Jam hitam pemberian Bang Surya yang melingkari pergelangan kiri Retta tampat berkelap-kelip warna merah. Entah sinyal apa itu. Tapi yang jelas, Retta baru menyadari bahwa jam ini anti air.
Lalu, ada apa dengan jantungnya barusan?

Comentário do Livro (98)

  • avatar
    AjaAska

    keren aku sampai bisa beli Minecraft pocket

    9d

      0
  • avatar
    MarwahMarwah

    baguss bgt aplikasi nya

    23d

      0
  • avatar
    LadjupaJuhadi

    mantap

    23d

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes