logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 7 Aku Butuh Keikhlasanmu

Halimah bingung akan menjawab apa pada wanita cantik tersebut, kepalanya yang kesana kemari seolah memahamkan dirinya bahwa wanita itu tak bisa melihat. Senyum kecilnya demikian indah.
”Sebentar..., saya akan meminta izin pada Adam.”
Halimah tak bisa menjawab apapun lagi dan kemudian dia masuk ke kamar puteranya. Disana, Adam masih meneteskan airmatanya, percakapan tadi yang membuat Adam merasa bersalah karena tak berdaya dan menjadi beban ibunya itu membuatnya merasa sedih berlarut-larut.
”Bolehkan seorang wanita buta berbicara pada Adam? Dia seorang wanita cantik yang malang hidupnya. Selain itu, dia juga lumpuh kakinya.”
Tak ada sahutan, tapi hanya anggukan kepala Adam yang terlihat. Adam sendiri merasa tak berdaya dan bersedih, dia hanya ingin Ibunya senang. Perasaan tak berdaya karena cintanya pada Naura yang membuatnya hancur, lebih dari itu sebenarnya dia hanyalah tak berdaya bangkit dari keterpurukan cintanya itu.
Halimah pun menuju ke ruang tamu kembali, dia menemui tiga orang tersebut.
”Kamu boleh masuk tapi hanya bersama Ibumu,” begitu ucap Halimah, dan mereka pun masuk ke kamar Adam sedangkan Fandi menunggu di kursi. Sarah sedikit kurang nyaman, rumah yang amat kecil dan tentunya jauh dari rumah mereka di kota. Namun, dia hanya menginginkan kesembuhan bagi puterinya itu, apapun dan bagaimanapun caranya.
Saat masuk itu, Sarah melihat lelaki yang kurus sedag tertidur miring, dan ada bening yang masih mengalir di kedua matanya. Keadaan itu amat membuatnya terenyuh hatinya dan merasakan bagaimana tersiksanya perasaan seorang Ibu. Seperti dirinya yang selama ini melihat kondisi puterinya, Diandra. Dia yakin, Halimah juga sangat sedih dengan puteranya yang kondisinya demikian.
”Kita sudah sampai Ibu?” Ucapan lembut Diandra itu membuyarkan lamunan Sarah.
”Iya puteriku, dia sedang tidur dan airmatanya mengalir.”
Diandra semakin penasaran, bagaimana pemuda itu bisa sakit dan menderita serta airmatanya terus mengalir. Seperti kesedihan yang dipendamnya terlalu dalam, seperti dirinya juga, yang setiap kali sendiri tentu akan merasa sedih dan ingin rasanya bisa melihat indahnya dunia.
”Wahai Adam,” suara Diandra lembut terdengar, dia sudah tahu cerita tentang Adam dan sudah mengkoreksi nama itu berulangkali lewat penjelasan Fandi.
Adam agak membesarkan matanya, ada yang aneh terdengar di telinganya, ”Apakah kamu Naura?”
Hening suasana. Ruangan kamar Adam itu seolah tertiup angin yang sangat lembut, Diandra pun merasa jantungnya berdebar-debar. Suara itu demikian melekat di dadanya, suara yang bisa menggetarkan jiwanya. Jika orang yang melihat, tentu mereka akan terpesona ketika melihat wajah seseorang, namun bagi Diandra dengan ketajaman telinganya dia merasakan bahwa suara itu berasal dari orang yang punya kharisma.
”Aku bukan Naura, aku adalah Diandra. Maukah kamu mengikhlaskan airmatamu untukku?”
Hening lagi, Halimah pun menjelaskan perlahan pada Diandra bahwa Puteranya itu selalu diam saja dan hanya meneteskan airmatanya seperti mayat hidup. Halimah juga berharap pada Diandra dan Ibunya agar tak terlalu berharap bahwa ucapan mereka akan dijawab oleh Adam. Menurut Halimah, tubuh Adam memang disini tapi jiwanya seolah entah dimana. Mungkin, suatu hari dia akan sadar sendiri dengan kemauannya sendiri.
Tapi, Diandra tak peduli. Dia hanya ingin keikhlasan pemuda sakit itu untuk airmatanya, jika tak diizinkan dia pun tak mau menerima air itu.
”Aku adalah Diandra. Ikhlaskah jika airmatamu itu aku menerimanya?”
Angin membela wajah indah Diandra, dan tak ada reaksi dan suara jawaban dari lelaki yang tengah tidur di pembaringan itu.
”Wahai Adam. Aku Diandra, aku adalah orang buta dan lumpuh. Aku selalu bersedih pada takdirku, tapi orangtuaku memaksaku untuk datang kesini. Jika kamu ikhlas, maka aku akan menerima airmatamu dan itu tidak akan mengecewakan orangtuaku.”
Ada sedikit gerakan yang dilakukan Adam, bibirnya mulai bergerak perlahan, ”Ambillah jika itu bisa membahagiakan orangtuamu.”
Suara itu begitu menenteramkan Diandra, dia pun tersenyum. Sembuh atau tidak, dia tak peduli. Dia hanya tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya yang paling dicintainya.
Halimah pun mendekati puteranya itu, namun dia tak mengambilnya dengan sendok karena permintaan Diandra. Dia tahu dari informasi bahwa Ibu Adam akan keluar membawa sendok dengan sedikit air di dalam sendok. Diandra ingin Ibu Halimah mengambil airmata Adam dengan tangannya.
Halimah pun mengusapkan tangannya pada pipi Adam, dimana disana air matanya terus mengalir. Jari Halimah basah, dia mendekati Diandra.
”Bolehkah aku yang mengusapkannya?” Sarah memohon kepada Halimah, dia ingin selalu memberikan yang terbaik untuk Diandra.
”Silakan.”
Sarah pun menerima air yang membasah di jari Halimah. Sesuai perkataan Halimah, air itu diusapkan di tempat yang sakit. Itu seperti biasanya, tak ada syarat apapun karena yang diketahui Cuma diusapkan pada bagian yang sakit.
Sarah pun mengiyakan dan mengusapkan tangannya yang basah itu ke kedua mata Diandra sambil mengucapkan basmallah.
Halimah mengambil dan mengusap airmata Adam lagi, kemudian memberikannya pada Sarah. Sarah pun kemudian mengoleskan kedua kalinya di kedua kaki Diandra dan mengusapkannya secara merata. Hal itu pun selesai, air yang diusap dirasakan oleh Diandra, airmata itu terasa sejuk dan menyelimuti tubuhnya seolah dia berada di padang hijau nan indah dan penuh kesejukan.
Halimah juga menceritakan sebenarnya, mereka tak membuka pengobatan alternatif namun terlanjur media memberitakan. Awalnya hanya ada seorang yang bermimpi dan disuruh mengobati lumpuh kakinya melalui airmata Adam. Lalu, kejadian ajaib itu terjadi. Maka dari itu, Halimah memang tak menolak orang yang datang, namun soal kesembuhan itu tentu mereka tak bisa mengobati apapun. Semuanya hanyalah karunia dari Allah semata.
Sarah dan Diandra pun mengangguk tanda mengerti.
Namun, Sarah masih merasa bahwa apapun itu tidak ada yang gratis, masalah kesembuhan itu nomor terakhir. Orang yang meminta tolong dan menggunakan jasa orang lain harus membayarnya.
”Sembuh atau tidak itu kami juga memahami bahwa itu urusan Tuhan. Namun, sebagai manusia kita harus saling menghargai. Kami akan mengirimkan uang pada bu Halimah dan kami mohon Ibu tidak menolaknya.”
”Tidak perlu Ibu,” Halimah menatap bu Sarah dengan pandangan meyakinkan, ”Kami bukan penyembuh atau tempat terapi, orang yang datang kemari atas kemauan mereka sendiri dan kami hanya tak mau mereka kecewa. Biarlah hal itu menjadi kewajiban bagi kami, hanya kami minta doa agar putera saya dapat kembali sembuh dan dapat bangun dari ketidakberdayaannya,” kesedihan tak lagi bisa dibendung oleh Halimah.
Sarah dan puternya Diandra pun hanya terdiam dan terharu, tak hanya mereka yang mendapatkan ujian, bahkan setiap orang juga mendapatkan ujiannya masing-masing.
”Bu Halimah,” suara lembut Diandra membuat Halimah menatap wanita cantik itu, ”Sepanjang hidupku, aku hanya terkurung dalam raga ini. Aku tak bisa melihat dan tak bisa berjalan. Dunai seolah sempit, hanya saja aku memiliki keluarga yang menyayangiku dan menceritakan segala hal tentang dunia ini.
Saya yakin..., Adam akan sembuh. Saya pernah berharap setidaknya sekali saja dalam hidup saya dapat melihat walau sejenak. Hal itu sudah cukup bagiku merasakan kebahagiaan seluruh dunia ini. Tapi, jika airmata Adam bisa menyembuhkan mataku, maka aku berjanji atas nama Tuhan, Ibuku, Ayahku dan juga bu Halimah. Aku akan menikahi Adam dan membantunya untuk sembuh!”
Semua terkaget di ruangan itu, bahkan Sarah pun merasa bahwa puterinya itu seolah mengucapkan sumpah yang benar-benar sangat berat.
”Puteriku... hati-hati dengan sumpahmu itu,” Sarah merasa bahwa Puterinya memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan. Jika dia benar-benar sembuh, maka sumpahnya itu seperti seorang yang mengabdikan diri pada seorang raja dan akan menjadi bawahannya selamanya.
”Ibu... dengarlah Diandra,” Diandra tersenyum kearah suara Ibunya, meski tak bisa melihat dia sangat paham letak darimana suara berasal, ”Dalam hidupku, aku tidak pernah melihat bunga. Jika aku bisa melihatnya sekali saja, maka aku rela meninggalkan dunia ini. Jika memang Adam bisa menjadi perantara penyembuhan mataku..., bukankah itu sudah merupakan surga bagiku Ibu.”
”Tapi Puteriku...” Sarah masih khawatir dengan sumpah Diandra itu.
”Sudahlah Bu. Aku merasakan bagaimana luka yang diderita Adam, meskipun aku tak bisa melihatnya. Diandra merasakan kalau dia seolah menampung semua sakit yang orang derita dan menampungnya sendirian. Jika benar ada orang yang sembuh karena airmatanya, itu seperti dia sedang memikul semua beban sakit semua orang. Dia adalah orang yang berbesar hati dan orang paling kuat di dunia ini.”
Setelah itu, keadaan hening lagi. Sarah tak berani menerskan kata-katanya setelah mendengarkan penjelasan Diandra. Lagi pula, apakah benar kalau airmata Adam itu bisa menyembuhkan mata Diandra yang buat dan juga kakinya yang lumpuh, itu hal yang sangat tidak masuk akal sama sekali.
Sarah dan Diandra pun berpamitan pada Adam yang tetap saja tak menjawab dan hanya terdiam. Halimah mengantarkan mereka hingga ke ruangan tamu, dan mereka duduk sejenak untuk sekedar basa-basi dan mengobrol sehingga terasa lebih akrab.
Hari pun sudah sore, mereka serombongan berpamitan dan bertanya penginapan yang terdekat karena sudah malam. Ayah Diandra yaitu Hamid juga sedang menyusul mereka karena menyelesaikan beberapa pekerjaan di beberapa kantornya. Mereka menuju ke kota, letaknya sekitar 10 km dari desa dimana Adam berada. Mereka pamitan pergi, berharap ada perubahan meskipun rasanya aneh dengan pengobatan airmata tersebut.
Mereka pun undur diri, tinggal Syarif dan Halimah di ruangan tamu. Syarif pun berpamitan pada bu Halimah untuk pulang, dia datang setiap pagi hingga sore menemani Adam dan Ibunya, apalagi hari senin hingga sabtu. Orang akan berkumpul ramai dari seluruh pelosok desa dan kota.
Untuk uang yang dikelola Syarif, dia selalu melaporkan pada Halimah namun Halimah seolah tak peduli. Simpan saja, begitu perkataan Halimah dan juga Syarif diminta mengambil uang itu tanpa perlu izin jika dia membutuhkan. Bagi Halimah, uang tak berarti, hanya kesembuhan Adam yang menjadi inti dari permasalahannya.
Syarif undur diri, Halimah beranjak untuk shalat dan sebelumnya dia melihat Adam. Adam selalu tayamum dengan gerakan tangannya sambil tetap tidur miring. Dia selalu shalat dengan kondisi berbaring dan tayamum, setelah itu dia akan menjadi pesakitan lagi dan hanya beberapa kali mendesah nama Naura.
Setiap kali melihat hal itu, tak kuasa, airmata Halimah pun pasti menetes meratapi takdir putera semata wayangnya itu.

Comentário do Livro (230)

  • avatar
    Bobby Gonsalez

    good and fantastic story.i love it

    11/08/2022

      0
  • avatar
    BangYudha

    wow! ceritanya keren banget....saat bacanya ada perasaan senang sedih campur geregetan dan penasaran...pokoknya mantap!

    02/02/2022

      2
  • avatar
    Sarif Hidayat

    cerita isi novel yang berjudul deras cinta di dalem ceritanya seru, rame, bikin aku nggak jenuh, rasanya seneng banget punya aplikasi novel ah saya mengisi luang waktu kosong karenan aku bekerja di tempat santai waktu kosong itu aku gunakan buat baca aplikasi novel ah yang bikin aku enggak gabut lagi makasih yang udah bikin aplikasi novel lah😊

    26/12/2021

      2
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes