Pak Karta, lelaki desa yang lumpuh kaki kanannya. Saat bekerja sebagai kuli bangunan, dia sedang membangun rumah bertingkat. Saat menginjak kayu sangga, kayu itu patah dan dia terjatuh. Sudah 3 tahun, pak Karta lumpuh kaki kanannya karena sakit tersebut. Dia pun tak bisa bekerja seperti biasa lagi. Malam itu, dia mendapatkan mimpi aneh. Seorang lelaki tua datang kepadanya, jika ingin kakinya sembuh maka ambillah airmata Adam dan usapkan pada kakinya yang lumpuh. Pak Karta terbangun dari tidurnya, dia memikirkan mimpi anehnya. Hari sudah pagi, pak Karta tahu bahwa Adam sudah enam bulan ini gila karena cinta dan hanya berdiam di kamarnya. Pak Karta tak mengerti namun dia menganggap itu hanya bunga tidur semata, mungkin seperti khayalannya semata karena ingin sembuh. Namun, dua malam berturut-turut setelahnya, mimpinya sama. Pak Karta tak bisa lagi merasa ini mimpi biasa, dia meminta puteranya untuk mengantarkannya ke rumah bu Halimah. Rumah kecil milik Halimah kini sepi, suara Adam tak lagi terdengar seperti biasanya saat mengaji Qur’an. Sudah enam bulan, Adam seperti pesakitan bahkan untuk makan selalu disuapi Halimah. Airmata Adam menetes tanpa disadari pemuda lemah itu. ”Assalamu’alaikum,” suara pak Karta mengagetkan Halimah yang tengah menyuapi puteranya. Dia bergegas menjawab salam dan keluar, kenapa tiba-tiba ada tamu, siapa mereka? Tamunya pak Karta, membawa tongkat penyangga di tangan kanannya menekannya dan mempermudah jalannya. ”Ada apa pak Karta, tumben?” Halimah terkaget, ”Oya, silakan masuk dulu, duduk dulu,” Halimah mempersilakan pak Karta dan anaknya itu untuk duduk terlebih dahulu. ”Saya...” Pak Karta menggerak-gerakkan tongkatnya sambil duduk gelisah, dia ragu hendak berkata, ”Saya...” ”Ada apa ini?” suara yang datang dari luar tiba-tiba, suara Syarif. Syarif heran, tak biasanya ada tamu yang mendatangi rumah sahabatnya itu. Syarif melihat tamu itu, pak Karta, ada apa? Syarif pun bergegas duduk di sebelah bu Halimah. ”Jadi... begini,” pak Karta mulai bercerita, ”Tiga kali saya bermimpi yang sama. Mimpi itu, saya disuruh ketempat nak Adam. Saya harus mengoleskan airmata Adam ke kaki saya yang lumpuh agar sembuh.” Anak pak Karta, Aziz pun kaget dan tak tahu apa-apa dia hanya diminta segera mengantar bapaknya itu untuk ke rumah Adam dan bu Fatimah. Baru dia tahu kalau Bapaknya bermimpi aneh seperti itu. Ketiga orang yang mendengarkan penjelasan pak Karta seolah terbengong mendengar penjelasan pak Karta tersebut. Tak masuk akal, tapi? Syarif menatap wajah ibu Halimah, matanya pun bingung mau berkata apa. Bahkan, Adam setiap Ahad selalu menatap danau Kenanga dan disebut banyak orang sudah gila karena cinta. ”Tapi pak Karta, anak saya...” bu Halimah merapatkan bibirnya perlahan, kerutan di wajahnya terlihat, ”Anak saya bukan dukun atau bukan wali..., Dia hanya anak saya yang malang.” Pak Karta terdiam sejenak, ”Ehm..... Saya juga tidak tahu Bu, tapi di mimpi itu seperti nyata, seorang lelaki tua bahkan memintaku tiga kali. Bolehkah saya meminta airmatanya meskipun setetes saja?” Airmata? Bu Halimah selalu menyuapi anaknya itu, memang airmatanya tak pernah berhenti menetes hingga sesekali bu Halimah harus mengelap airmatanya itu. Wajah Adam bahkan sudah sangat kurus dan kuyuh. Makannya sedikit bahkan minum pun Halimah harus menyuapinya dengan sendok. Halimah menatap Syarif, matanya seolah bertanya pada sahabat baik anaknya itu. Mata Syarif pun berkedip dan gerakan anggukannya perlahan mengisyaratkan untuk Ibunya yang membuat keputusan, apapun keputusanmu Ibu, aku akan selalu mendukungmu, kau yang terbaik. ”Baiklah pak Karta, tunggu sebentar,” bu Halimah pergi ke dapur kecilnya, ruang tamu itu bersebelahan dengan semua kamar, rumah kecil dan gubuk dari papan itu benar-benar sederhana. Bu Halimah kembali ke ruang tamu, membawa sendok dan wadah tutup botol kecil, dia langsung ke kamar Adam beberapa saat. ”Naura..., Adam hanyalah untukmu...” suara Adam lirih terdengar. Mata Halimah pun setiap kali melihat kondisi puteranya itu ikut melelehkan airmatanya. Halimah meminta izin puteranya untuk menyeka airmata Adam. Ditadahkan sendoknya di pipi kanan Adam, tepat di bawah matanya, dan airmata Adam mengalir dalam sendok itu. Satu tetes di mata kanan dan satu tetes di mata kiri, Adam tidur miring ke kanan. Dua tetes, cukup. Bu Halimah tak jadi memasukkan air sedikit itu ke tutup botol plastik, hanya sedikit. Bu Halimah pun melakukan itu hanya karena tak tega melihat pak Karta memohon. Halimah keluar dari kamar Adam dan duduk di ruang tamu kembali. Membawa sendok yang berisi airmata Adam. ”Segini cukup pak Karta?” Menyodorkan sendok itu ke hadapan pak Karta. Pak Karta menerimanya tanpa sungkan. Tanpa diduga siapapun, pak Karta memegang sendok itu di tangan kirinya dan tangan kanannya meraih semua air itu meskipun sedikit dan langsung mengoleskannya ke kaki kanannya. Terus berulangkali, bahkan sampai habis pun tak bersisa, Karta masih terus memoleskannya dari ujung kaki hingga ke pahanya. Seperti tak sabar bayi kecil ingin berjalan, adakah perubahan? Beberapa saat tak ada perubahan yang terjadi. Karta berupaya bangkit, tetap tak bisa digerakkan kakinya. Seolah kecewa, Dia bingung dengan semua mimpinya. Karta pun meminta pamit, wajahnya kecewa. Pak Karta meminta puteranya Aziz untuk membantunya berjalan lagi agar cepat, wajahnya malu dan menuju motor, mereka pulang. Halimah menatap kepergian pak Karta dan puteranya itu hingga motor menderu hilang dari pandangan. Ada apa lagi ini ya Allah? Batinnya membatin. *** Malam menyapa, semua binatang malam memulai aktivitasnya mencari makan. Pagi pun datang. Matahari cerah menyembul dari ufuk timur, di keluarga pak Karta terjadi kehebohan. Pak Karta berjalan seperti biasa tanpa sadar dari bangun tidur. Dia berjalan biasa dan menemui isteri dan anak-anaknya. Seolah cacat lumpuhnya hanyalah mimpi, pak Karta sendiri baru sadar dia berjalan dengan kedua kakinya tanpa tongkat penyangga. Tak ada sakit, kakinya sembuh dan keajaiban terjadi. Masyarakat gempar. Orang yang lumpuh tiga tahun karena terjatuh, Karta sembuh total. Itu semua karena Adam. Keajaiban airmata Adam. Siang waktu dhuha, matahari naik sepenggalan. Bu Halimah kaget dengan kedatangan keluarga Karta ke rumahnya, dan, Karta bisa berjalan normal tanpa tongkat. Masyaallah! Bibir Halimah tak berhenti berdzikir. Pak Karta orang yang paling bahagia mungkin di dunia ini. Dia membawa banyak hadiah yang dibawa dengan motor, penuh dengan bahan makanan sembako seperti; beras, gula, minyak, hingga perlengkapan mandi bahkan baju yang seukuran dengan bu Halimah dan juga Adam. Bahkan, pak Karta membawa amplop yang sudah disiapkannya. Kesembuhannya tak bisa dibayar dengan apapun, pak Karta kini bisa berjalan dengan baik, bisa bekerja kembali, tak merasakan sakit saat malam tidurnya. Adam baginya seperti malaikat, orang mengatakan dia gila pun tak peduli, baginya Adam adalah penyelamat hidupnya. Bu Halimah sempat menolak, namun pak Karta memaksa dan meminta izin untuk bertemu dengan Adam. Halimah mengizinkannya, Syarif selalu datang dan menemani pak Karta masuk ke kamar kecil milik Adam. ”Terimakasih nak Adam, Kau adalah malaikat yang diturunkan Allah untukku. Seumur hidupku, aku akan selalu mengingat kebaikanmu nak Adam. Dan..., aku mendoakan kebaikan untukmu,” pak Karta mengelus rambut Adam. Hening tak ada sahutan. ”Naura...” desahan lirih Adam dapat didengarkan pak Karta. Betapa besar cintanya pada Naura. Adam mengalami nasib yang tragis dengan cintanya, namun dengan itu pak Karta menemukan jalan bagi kesembuhan kakinya. Pak Karta pun mengangguk dan meminta pamit pada Adam. Syarif menemani pak Karta keluar dan mengantarkan keluar rumah karena berpamitan, tak lupa amplopnya diberikan pada bu Halimah. Halimah menolak namun tak kuasa karena Karta terus memaksa. Pak Karta pulang, Halimah merasa hidup seperti roda. Adam sakit sudah berbulan-bulan, namun dia bisa menyembuhkan orang yang sakit. Allah memang Maha Segalanya. Kabar kesembuhan pak Karta cepat tersebar, beberapa orang awalnya malu datang ke rumah Adam dan bu Halimah. Namun, karena derita sakit yang dideritanya lebih perih dirasa, mereka pun akhirnya memberanikan diri datang ke tempat bu Halimah. Mereka yang awalnya mengejek Adam, kini malu. Ada yang datang dengan sakit gatalnya yang tak kunjung sembuh, meminta air mata Adam pada bu Halimah. Bu Halimah pun meminta izin Adam, Adam pun mengangguk saja. Satu tetes, dan esoknya gatalnya benar-benar sembuh total. Kini, orang semakin banyak yang datang ke rumah bu Halimah. Syarif mengatur orang-orang itu agar tidak membuat keributan. Mungkin, ini jawaban Allah atas sakit yang diderita sahabatnya demikian lama karena cinta. Tamu antre di depan rumah, mereka masuk ke ruang tamu. Syarif mengatur para tamu; ada yang sakit kanker payudara, ada yang sakit diabetes, sakit ginjal, sakit kulit bekas terbakar, sakit pinggang hingga sakit telinga atau matanya, ada juga yang datang karena sakit lumpuh dan stroke. Ajaibnya, meski setetes di sendok yang diberikan bu Halimah, esoknya mereka sembuh. Hadiah menumpuk di rumah bu Halimah, Syarif membantu menangani orang yang datang memberikan amplop atau hadiah. Syarif sigap dibantu beberapa orang yang merasa sudah disembuhkan Adam. Mereka membuatkan bu Halimah rekening bank dan semua uang dimasukkan ke tabungan bu Halimah oleh Syarif. Syarif sesekali masuk ke kamar Adam, hanya dia dan Halimah yang memasuki kamar itu. Sahabatku..., lukamu mungkin yang menyembuhkan orang-orang yang sakit, dan kau seperti yang menanggung sakit mereka semua. Siapakah engkau Adam? Aku yang selalu bersamamu di pesantren dan kita selalu bersama, seolah aku tak mengenalmu, bangunlah dari rasa sakitmu itu. Airmata Syarif menetes lagi, dia mendekati Adam dan menepuk pundak sahabatnya itu, ”Cepatlah sembuh dan bangkit Adam, tak peduli orang yang datang untuk mengobati sakit mereka. Sakitmu ini lebih berhak untuk diobati daripada apapun.” ”Naura hanya untuk Adam, Syarif dengarlah itu, nyanyian takdir akan bersenandung untuk Naura,” suara lirih Adam semakin membuat Syarif tak bisa menahan airmatanya dan dia menyeka airmata itu. Semakin banyak orang berkunjung, bahkan banyak orang kaya memakai mobil-mobil, pejabat yang sakit menahun bahkan tahu dan datang ke rumah Adam yang sempit itu. Mereka bertahan hingga ada yang memasangkan tenda di depan rumah bu Halimah. Semua datang untuk menyembuhkan sakit yang mereka derita bertahun-tahun, bahkan ada yang lumpuh dari kecil. Berita cepat beredar, koran dan media televisi menyiarkan itu. Banyak di ujung kota dan di ujung provinsi di seluruh Indonesia yang mengetahui berita itu, berita viral airmata Adam, seorang yang terluka karena cinta. Orang yang mendengar dan melihat berita itu hanya saling bercerita. Mungkin itu hanyalah mitos yang dibesar-besarkan, begitulah media mencari yang viral dan menjual isu demi agar uang mengalir dalam kantong-kantong mereka. Dan, konsumen adalah korban berita yang mereka sebarkan. Kisah Adam yang penyembuh, airmatanya yang lebih berharga dari apapun bahkan viral diberitakan. Media datang ke tempat bu Halimah, namun mereka tak diizinkan meliput Adam. Bu Halimah menolaknya, kalau sekedar bertanya padanya dan Syarif maka mereka memberitahunya. Adam bukanlah siapa-siapa, dia adalah anak dan juga teman dari Syarif. Orang yang datang percaya pada Adam bisa menyembuhkan sakit mereka. Namun, Adam hanyalah orang biasa, dialah yang sedang sakit sebenarnya. Jangan ekspos Adam, itulah pesan bu Halimah agar jangan dibesar-besarkan. Sejak awal mereka tidak mengatakan bisa menyembuhkan orang sakit, orang yang sakit datang pada mereka dan mereka tak bisa menolak. Jika sembuh maka itu dari Allah dan jika tidak sembuh maka itu bukan urusan mereka. Halimah tak pernah meminta bayaran, namun orang yang sembuh datang berbondong-bondong memberikan hadiah dan uang dan Syarif yang mengurusnya. Bu Halimah tak tahu menahu soal uang dan hadiah itu, yang dia pikirkan hanyalah kesembuhan anaknya sendiri, Adam Zulkarnein yang setiap hari hanya menangisi nasibnya sendiri. Kesedihan hati seorang ibu tak bisa dibayar dengan uang sebanyak apapun, bahkan permata di seluruh dunia dikumpulkan dan digulung untuk berikan pada seorang Ibu demi kebahagiaan anaknya, tak akan terbeli. Kebahagiaan anak bagi seorang ibu adalah napas itu sendiri. Berita semakin tersebar, dan siapakah Adam sebenarnya? Itulah yang menjadi berita hangat di seluruh Indonesia. Airmata Phoenix, bahkan itulah sebutan yang banyak dibicarakan di internet dan berita. Phoenix, binatang burung yang dalam cerita mitos diceritakan airmatanya bisa menghidupkan orang mati dan menyembuhkan segala penyakit.
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
Custo 42 diamantes
Balanço: 0 Diamante ∣ 0 Pontos
Comentário do Livro (230)
Bobby Gonsalez
good and fantastic story.i love it
11/08/2022
0
BangYudha
wow! ceritanya keren banget....saat bacanya ada perasaan senang sedih campur geregetan dan penasaran...pokoknya mantap!
02/02/2022
2
Sarif Hidayat
cerita isi novel yang berjudul deras cinta di dalem ceritanya seru, rame, bikin aku nggak jenuh, rasanya seneng banget punya aplikasi novel ah saya mengisi luang waktu kosong karenan aku bekerja di tempat santai waktu kosong itu aku gunakan buat baca aplikasi novel ah yang bikin aku enggak gabut lagi makasih yang udah bikin aplikasi novel lah😊
good and fantastic story.i love it
11/08/2022
0wow! ceritanya keren banget....saat bacanya ada perasaan senang sedih campur geregetan dan penasaran...pokoknya mantap!
02/02/2022
2cerita isi novel yang berjudul deras cinta di dalem ceritanya seru, rame, bikin aku nggak jenuh, rasanya seneng banget punya aplikasi novel ah saya mengisi luang waktu kosong karenan aku bekerja di tempat santai waktu kosong itu aku gunakan buat baca aplikasi novel ah yang bikin aku enggak gabut lagi makasih yang udah bikin aplikasi novel lah😊
26/12/2021
2Ver Todos