logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 7 Terima Kasih

“Dimana aku?” guman Anna ketika kedua mata indahnya terbuka. Satu pandangan yang ditangkapnya adalah ruang bercat putih, dan aroma ... Tak sedap! Mirip ... Bau obat-obatan!
Gadis itu mencoba bangun dari perbaringannya. Tapi entah kenapa telapak tangannya nyeri dan sakit Membuat dia susah hanya bisa menumpukan tubuhnya pada siku. Menutup bukakan kedua mata ketika penglihatannya masih buram dan terlihat dua-dua.
Nah!
Sudah jelas!
Anna tersenyum saat pandangan yang dirasanya sangat jelas saat ini. Dia mulai mengadah kesana kemari, dengan kening mengenyit heran.
Mencoba mengerti dimana dia saat ini. Tapi tak kunjung mengerti. Kepalanya kembali berputar, mencari alasan kenapa dirinya bisa ada di ranjang ini, berbaring tampa tau siapa dan kenapa orang itu membawanya.
Ceklek!
Dari arah pintu, terdengar suara sangat nyaring. Pandangan Anna langsung menyorot orang tersebut dengan tatapan bingung.
Seorang pria berpakaian jaket putih dengan kemeja biru dan celana panjang berawarna hitam mengintip disela jaket putih tersebut. Senyan manis bersahabat dengan satu lambaian tangan menyapa Anna.
Sedang Anna sama sekali tak tau maksud dari pria tersebut. Kebingungan melingkupinya hingga gadis itu menjadi bodoh sendiri.
Setelah beberapa langkah, pria yang ternyata seorang dokter tersebut, dari belakangnya terlihat lagi seorang yang lain. Orang paling dikenal Anna dari sang dokter. Ravel.
Dia kembali mengingat. Semuanya bermula ketika dia terjatuh dan memegangi sebatang tubuh pohon sangat tajam hingga kedua tangannya terluka. Sangat lama terasa karena ketakutan dan kegelisahan menylimuti perasaan Anna.
Apalagi darah mengalir dari dalam tangannya. Disana Anna sudah pingsan dan hal terakhir yang dilihat Anna adalah sosok Ravel menolongnya.
Anna tersenyum sangat manis. Hampir membuat orang dibelakang dokter yang tak lain adalah Ravel itu ikut tersenyum jua.
Tapi karena dia ingat dia siapa dan seharusnya senyuman itu dilontarkan kemana, dia sedikit menciut. Dia pikir, dokter di depannya adalah tujuan senyuman di lontarkan.
“Kamu sudah siuman, nona Anna?” tanya dokter.
“Sud-sudah dok,” Anna gagap. Gadis itu mulai melunturkan senyuman pada Ravel dan beralih kepada sang dokter.
“Apa ada perasaan sakit, atau nyeri di kedua tanganmu?” memegang telapak tangan Anna yang terletak di kedua paha, terbungkus perban baru dari rumah sakit.
“Sedikit dok.”
“Sedikit? Coba, dokter lihat. Siapa tau masih membengkak lukanya.”
Anna memberikan tangannya secara suka rela sedang Ravel yang penasaran mengganti posisinya di samping dokter lelaki itu.
“Luka tangannya sudah membaik,” ucap dokter setelah membuka perban.
Tangan Anna tampak terkelupas hingga telapak tangan Anna semula berawarna merah jambu dan sedikit garis pada tangan menyerupai akar pohon kini terlihat seperti tercakar-cakar, membengkak dan daging pada kulit dalam telapak tangan menyembul keluar beberapa millimeter.
Anna yang melihatnya bergidik ngeri hampir pingsan. Tapi berbeda dengan Ravel, pria itu malah merasa kasihan dengan Anna. Sangat malang. Pasti sakit. Pikirnya dalam hati.
“Sedikit diberikan olesan obat pereda sakit, sudah diperbolehkan pulang, kalau memang kebelet ingin keluar,” sambil mengambil kotak obat dalam lemari di samping ranjang rumah sakit tempat Anna duduk menghadap dokter.
Dokter mulai meneteskan obat berupa cairan tersebut diatas kapas, dan mengolesi kapas pada kedua telapak tangan Anna secara bergantian dan merata.
Tentu saat obat itu terteskan, Anna menyipit tutupkan kedua matanya dengan kedua bahu naik turun bersamaan serta merintih kesakitan.
“Tunggu sebentar ya. Tahan. Jangan berteriak,” instruksi dokter.
Anna mulai menutup mulutnya rapat, menahan sakit yang dirasanya saat ini.
Sedang Ravel yang melihat aksi Anna hanya melihat tampa melakukan apapun. Sebab dokter itu sepertinya sungguh dekat dengan Anna.
Terlihat saat Ravel terpaksa menggendong Anna pada bahunya semalam setelah turun dari mobil.
Dokter bernama Adam itu langsung antusias menyambut Ravel dan Anna. Dia mulai menginstruksikan pada perawat agar Anna bisa dengan tenang berbaring di ranjang rumah sakit.
Semalam juga, dia yang telah mengobati Anna hingga gadis itu bisa sehat hingga detik ini.
Katanya, Anna terkena duri tajam mematikan dari tumbuhan rambat berduri yang tertancap saat Anna hampir terjun langsung ke dalam jurang. Itu semua diketahui dokter Adam dari Ravel, tentunya.
Kalau Ravel tidak segera menyelamatkan Anna dengan cara membawanya kemari, Anna sudah tewas detik itu juga. Anna tinggal nama, tidak ada yang bisa disesalkan lagi.
Ravel sendiri bergidik ngeri membayangkan Anna meninggal saat orang terakhir yang dijumpai Anna adalah Ravel.
Bisa-bisa, Ravel terkekang serta menghabiskan sisa hidupnya di dalam penjara karena sebuah kesalah pahaman. Sesuatu hal yang sama sekali tidak dilakukannya. Membunuh!
“Nah, sekarang, sudah siap. Obatnya akan segera bereaksi. Jadi jika kamu, Anna, merasa sangat sakit, kamu boleh tinggal beberapa menit bagi disini selama obatnya masih bekerja dalam jaringan tubuhmu. Serta tidak perlu khawatir. Karena ini hanya sementara,” ucap Dokter sambil merapikan semua peralatan yang dipretelinya tadi.
“Sekarang saya pergi,” membalikkan badan membawa kembali kotak obat yang sama sekali tidak dibawah saat masuk kedalam ruangan ini.
“Rav, jaga Anna ya,” pesan dokter menepuk pundak Ravel sekilas dan bergegas ke luar ruangan.
Saat ini, ruangan tempat Anna sangat hening. Tiada pembicaraan menyebabkan ruangan itu sunyi senyap seperti tiada manusia di dalamnya.
Ravel melangkahkan kakinya dan menghadap kepada Anna. Melihat kebawah, wajah Anna, seperti kelihatannya, tetap cantik! Ravel mempunyai tinggi hampir 2 meter.
Sedang Anna hanya 166 sentimeter. Cukup tinggi sebenarnya dari pada wanita lain, tapi membandingkan tinggi Anna dengan tinggi Ravel seperti keduanya adalah ayah dan anak. Jauh berbeda.
“Apakah tangan mu masih sakit?” tanya Ravel prihatin. Sepertinya obat itu sangat keras bagi Anna yang lemah. Pikirnya.
Anna terlihat menunduk menatap kedua telapak tangannya yang sudah diperban tadi. Mungkin, Anna masih merasa sakit. Pikir Ravel kemudian saat setetes bening air mata tumpah menyisakan warna cukup tua pada perban putih itu.
Ravel berjalan mengambil sebuah kursi dipojok ruangan, tepat di depan ranjang dudukan Anna, meletakkan kursi tepat di depan Anna yang duduk di sisi ranjang.
Ravel mulai meraih kedua tangan Anna, menghembus-hembuskannya perlahan, menyebabkan angin kurang sedap terasa di area penciuman Anna.
“Apa kamu tau.”
Ravel menoleh kearah Anna sembari menghentikan hembusan nafas tersebut.
“Apa?” tanyanya. Walau Ravel merasa sedikit berbunga-bunga pada hati, ketika Anna akan sangat berterimahkasih padanya.
“Nafas kamu, sangat bau!” kata ‘u' adalah kata paling panjang. Sontak, hati berbunga-bunga Ravel hilang saat itu juga. Digantikan rasa sedikit kesal dan lumayan banyak kata maki-makian keluar dari dalam hati Ravel.
Tapi detik kemudian dia sadar dan mengungkapkan isi pemikirannya.
“Memang, nafasku sangat bau. Tapi apa kamu tau, semalam itu, kamu sibuk ngigau. Kamu mulai menyebut-nyebut nama Ravel di saat aku keluar dari dalam ruangan ini. Yaa, terpaksa deh, aku menemani kamu di sini. Kamu memelukku sangattt erat!’’ Ravel berbohong.
Memang, 70% dari kata-katanya benar, Anna itu mengigau semalaman. Karena dia demam sebab racun dalam duri tajam sempat menjalar pada tubuh Anna. Namun dengan bantuan obat, ia jadi nyaman dalam tidurnya.
Anna tidak menyebut nama Ravel seperti perkataan pemuda di depannya, melainkan menyebut nama Raka, si mantan kekasih yang sudah putus dengannya karena kesalah pahaman.
“Ah, enggak benar itu!” tiba-tiba wajah Anna memerah. Menggeleng-geleng kan kepala menyembunyikan rasa tak percaya dalam hatinya.
“Benar!” dilanjutkan dengan tawa, Ravel berhasil membuat Anna bisa melupakan rasa sakitnya.
“Enggak!”
“Benar!”
“Ya aku bilang enggak, ya enggak!” Anna mendorong dada Ravel hingga hampir terpental, jatuh ke lantai. Namun Ravel bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
Anna meringis kesakitan tak kala kedua tangan bersentuhan dengan benda kenyal dan kokoh milik Ravel.
Ravel sigap mengambil tangan Anna dan mulai meniupinya kembali. Anna menahan nafasnya ketika bau dari mulut Ravel menyeruak keseluruh area penciumannya.
“Sudah ku katakan Ravel, aroma mulutmu bau!” nada suara melengking menyebabkan gendang telinga Ravel hampir pecah!
Ravel menghentikan kegiatan meniupi kedua tangan Anna. Digantikan dengan memegangi daun telinga dan menghela nafas berkali-kali.
Gadis ini, sangat ribut!
Setelah beberapa menit, hampir menunjukkan angka satu jam, keadaan senyap kembali. Anna mulai memerhatikan sikap terdiam Ravel di depannya.
“Maafkan, dan terima kasih.”
Ravel mengangkat kepalanya. Dia cukup mengerti maksud dari perkataan Anna. Tapi tatap, dia bersikap bod*h di depan Anna.
“Maksudnya?”
“Yaaa, maafkan karena telah membentakmu. Dan terima kasih karena telah membawaku ke rumah sakit ini. Kalau tidak ada dirimu. Pasti, aku sudah tiada, gentayangan menjadi arwah penasaran di pepohonan atas jurang itu.”
“Ya. Aku maafkan. Dan soal berterima kasih karena telah membawamu ke rumah sakit ini, aku tidak menerima hal itu!”
“Kenapa?” Anna mengernyitkan kening. Menatap heran akan Ravel di depannya.
“Karena bukan karena aku kamu bisa selamat.”
“Lalu siapa?”
“Terima kasih lah pada dokter, dan obat-obatannya. Kalau bukan karena Mereka, maka aku pun akan jadi roh penasaran karena dikekang di penjara, menyisakan kenangan pilu telah melakukan kegiatan pacar kontrak bersamamu,” canda Ravel dilanjutkan dengan tawa dan anggukan mengerti dari Anna.
“Jadi, kamu mau 'kan, menerima terima kasih ku?”
“Tidak akan!”
“Kenapa lagi?”
“Bukan kah sudah ku katakan kalau aku tidak melakukan appaun untukmu. Berterima kasih-lah pada dokter, obat-obatannya dan tak lupa suster di rumah sakit ini.”
“Tapi ...” Anna tampak khawatir. Seperti ada sebuah kegelisahan tertancap jelas di hatinya.
“Sudah, biar aku temani. Bukankah rasa sakit pada telapak tanganmu mulai mereda?”
“He'eh. Sudah.”
“Sini, aku bantu,” Ravel mulai memegang pinggang Anna dari belakang, dan siku kakinya. Anna sempat kaget serta mengatakan,
“Hey! Mau kamu apakan aku!?” teriaknya memukul dada Ravel. Kebetulan rasa sakit sudah hilang. Namun kepalanya tetap berputar seperti roda berporos tentang banyak hal. Dimana Ravel akan melecehkannya.
“Diam lah!” ucap Ravel tetap berjalan keluar dari dalam ruangan, “Aku tidak akan melakukan apa yang kamu pikirkan tersebut!”
“Tapi bukan kaki ku yang sakit Ravel!”
“Siapa yang peduli. Yang penting aku tidak melakukan pemikiran burukmu tentangku!”
Anna mulai malu dengan pikirannya. Dia diam dan membiarkan Ravel membawanya. Bersama seluruh mata memandang mereka.
Para gadis dan wanita-wanita mulai mengagumi kemesraan yang ditunjukkan keduanya.
Berharap jika pasangan Mereka melakukan hal sama seperti pandangan Mereka.
“Kamu lihatlah, Mereka cemburu dengan kita lho,” canda Ravel tersenyum kecil melihat wajah memerah Anna disana.
Bersambung ...

Comentário do Livro (111)

  • avatar
    Ratu Jihan

    cerita novel nya sangat baguss hebatt💞

    06/05/2022

      4
  • avatar
    ARMuhazarah

    cerita nya bagus kak..

    19/03/2025

      0
  • avatar
    Muhammad Raka Brahmansyah

    bagus

    16/02/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes