“Eh, udah nya?” Anna berbalik badan, mihat kondisi tubuh Ravel dari atas kebawah membuatnya tersenyum manis. Badan tegap, kekar berotot-otot seperti seorang penggulat, bersamaan dengan baju kaus seharga tingginya langit sama sekali tidak mengubah raut wajah canggung plus kesal seperti tidak ingin menggunakan baju itu. “Aduh, bagus! Kita pilih ini saja ya?” ucap Anna sembari memegangi bahu hingga sisi pinggang Ravel. Ravel tetap diam. Sepertinya gadis di depannya memang sudah gila! Potongan baju seperti dikenakannya banyak dijajakan oleh pedagang kaki lima. Harganya sangat aman di dompet. Tidak akan membuat pria dari kalangan ekonomi sepertinya menganga lebar saat melihat harganya. Apalagi kalau kian dia menderita penyakit jantung. Bisa-hanya karena terkejud, Ravel bisa meninggal dunia detik itu juga. “Kamu diam. Berarti, kamu tidak suka?” “Buk-bukan, bukan! Bukan tidak suka! Aku hanya saja ... Pakaian ini terlalu mahal,” adu Ravel mengungkapkan pikirannya saat ini. Gadis di depannya menatap wajah tertunduknya. Perlahan melepaskan kedua tangan yang tertempel di pinggang Ravel. “Terlalu ... Mahal?” lirih Anna melihat ke arah lain. “Ya, ini, terlalu mahal, aku tidak bisa menggunakan pakaian ini,” menarik pendek baju dari sutra halus, mencoba menunjukkan pakaian tersebut kalau dia merasa tak cocok mengenakannya. “Tapi baju ini ... Aku pilihkan langsung lho untuk kamu. Apa kamu tidak menghargai pemberianku?!” bentak Anna. Nada cukup tinggi, membuat beberapa pengunjung toko menoleh sekilas kearah mereka. “Bu-bukan itu ... Hanya saja, aku merasa risih menggunakannya,” bukan risih sebenarnya, Ravel merasa aman-nyaman dan tenang kok memakainya. Ravel hanya merasa dirinya naik satu angkatan kalangan ekonomi lebih tinggi dari posisinya saat ini. Dia takut, kalau menggunakan pakaian ini menjadi awal kesombongan dirinya. Setelah mendengar penjelasan dari Ravel, Anna menghela nafasnya, seperti ingin mereda amarah yang sempat memuncak. Anna memang seperti itu, bersama Raka pun dia akan lebih manja. Dia ingin kalau ‘hanya’ pemberian dan permintaannya terwujud. Tapi dengan alasan yang cukup masuk akal, Dia bisa menerima masukan. Lagi pula ini tak akan berlangsung lama. Anna dan Ravel hanya sebagai pacar palsu. Tidak boleh saling melukai perasaan satu sama lain. “Oh ... Baiklah!” Anna tersenyum, “Sekarang gantilah pakaian mu, dan gunakan pakaian lain.” Ravel kembali ke kamar ganti. Mengganti semua pakaian yang belum dibayar itu dan menggantinya dengan pakaian miliknya. Dia keluar dan kembali ke-posisi Anna. Mereka berdua berjalan menggandeng tangan keluar dari sana setelah mengembalikan pakaian percobaan Ravel. Namun sebelum itu langkah sepasang pacar palsu ini terhenti ketika seorang pelayan toko menyerukan nama mereka. “Eh tuan, nona!” Anna dan Ravel sontak berbalik. Mereka bertukar pandangan bingung. Pelayan itu menyodorkan sepasang baju pada Anna serta Ravel dan akhirnya sepasang manusia itu mengerti. “Maaf. Tapi kami sudah tidak membutuhkannya,” sela Ravel. Sedang Anna menggeleng membenarkan kata Ravel. “Kami tau, tuan, nona. Tapi kami tidak mau menyalahi aturan toko ini. Seperti yang Nona ketahui, kalau sudah dikenakan harus di beli,” Anna kembali menggunakan otaknya. Hmm ... Oh ya! Aduh, kok dia bisa lupa sih! “Iy-iya maaf kak! Saya hampir melupakannya. Saya akan membayar pakaiannya,” ucap Anna mengambil kembali sepasang pakaian itu. Mereka berjalan menuju kasir dan membayar semuanya. Anna mengambil sebuah kartu dari dalam tas kecilnya, ketika dirinya sibuk membayar, Ravel terus menggeleng-geleng kepala. Merasa sangat bingung dengan peraturan toko ini. Ingin rasanya pria itu bertemu dengan pemilik tokonya dan memprotes hal ini. Tapi dia mengerti dimana posisinya. Dia hanya orang rendahan. Tak boleh banyak berkutip dan menyalahi semua peraturan yang dipakai oleh pelanggan di toko khusus orang berdompet tebal. “Terimahkasih sudah berkunjung,” ucap pelayan dengan sopannya mempersilahkan Anna dan Ravel keluar dari toko tersebut. “Terima kasih kembali,” Anna dan Ravel tersenyum dan meninggalkan toko. Kini Anna dan Ravel sedang berjalan. Mendekat kearah parkiran tampa berbicara apapun. Satu set pakaian untuk Ravel ditenteng Anna dalam sebuah kantong belanja. *** Dhup! Pintu ditutup perlahan. Tarikan kuat pada pintu oleh Anna dan Ravel bersamaan menimbulkan suara sungguh nyaring. Mereka berdua memperbaiki pososi duduknya, Anna mulai melajukan kendaraan menjauh dari toko terbesar se kota N. “Rav! Kamu mau 'kan pakaikan semua pakaian tadi?” tanya Anna sembari melihat sekilas kearah Ravel. Kembali melanjutkan kegiatan menyetirnya ditengah jalan besar penuh riuk piuk kendaraan disegala sisi. Ravel tampak diam. Mencermati perkataan Anna barusan. ‘Menggunakan pakaian itu? Aduh ... Gimana ini? Bukankah Dia sudah mengatakan kalau baju itu terasa sangat risih baginya. Lalu mengapa Anna malah menginginkan jika menggunakan pakaian itu?’ “Maaf Rav. Tapi kamu harus memakainya. Atau jika kamu benar-benar merasa risih seperti perkataanmu tadi, kamu boleh kok membuangnya. Asalkan pakaian itu bersama kamu. Bukan aku. Kamu tau kan kalau aku ini perempuan, ayah dan ibu ku pasti akan curiga jika mereka melihat ada pakaian laki-laki di dalam kamar ku,” jelas Anna. “Tapi selama ini mereka 'kan tau kalau pacar. Eh, mantan pacarmu itu masih berpacaran denganmu. Kamu tidak perlu khawatir. Tinggal jawab ini punya pacarmu. Beres kan?” Ravel memberi solusi. Solusi paling masuk akal dan sangat mudah menurutnya untuk dilakukan. Tiba-tiba Anna menghentikan laju kendaraannya ketika sudah dipinggir jalan. Anna menghela nafas menatap dengan kelopak mata setengah terbuka. “Itu sebabnya Ravel. Selama ini ayah dan ibuku hanya memperdulikan semua pekerjaan mereka, uang-uang dan uang adalah segalanya bagi Mereka. Mereka hanya akan marah padaku ketika aku mengeluarkan uang untuk hal tak penting. Mereka itu ....” “Kalau sifat kedua orangtua kamu seperti itu, hal itu malah membuat mereka akan bertambah marah. Kamu menggunakan kartu. Dan kartu itu pasti bisa dilacak oleh kedua orang tuamu. Mereka itu kecewa padamu ketika kamu tidak jujur Anna.” “Ravel, kamu tidak tau seperti apa orangtuaku. Mereka hanya memperdulikan uang mereka! Bukan aku ataupun siapa disekitar Mereka. Sedikit berkurang, pasti Ma nya ia menimbulkan ribuan pertanyaan di kepala mereka!” jelas Anna. Nada suara tertekan dalam akhir katanya begitu menunjukkan kalau semua ini kenyataan. Sedang Anna menarik rambutnya kebelakang, Ravel tiba-tiba mengambil tas Anna yang terletak di tengah kedua kursi mobil itu. Dia merongoh tas mencoba mengambil sesuatu dari dalam sana. Anna melihat semuanya tiba-tiba marah dan menarik tasnya. Dia takut jika pria di sampingnya adalah penipu dan perampok semua aset berharga dalam tasnya. “Jangan ambil!” teriak Anna. Suara bergetar ketakutan tapi tertutup kemarahan membuat kata takut tak terlalu kedengaran. “Hey! Aku bukan mencuri aset berhargamu! Aku hanya mau menunjukkan sesuatu padamu! Siapa tau kamu bisa mengerti!” Perlahan melepaskan genggamannya, Anna masih takut hanya melihat aksi pria di sampingnya tersebut. Akhirnya dapat! Ravel dengan senyuman merekah kemudian menunjukkan kartu dalam tas tersebut. “Ini! Jika orang tuamu takut kalau isi dalam benda ini berkurang, maka tak ada gunanya jika benda ini ada. Lebih baik tidak perlu diberi padamu!” setelah mengucapkan kata-katanya, Ravel menurunkan kaca mobil dan melepaskan benda berbentuk persegi panjang itu dari kedua jarinya hingga terjatuh diatas tanah rerumputan yang dipijakkan dua pasang ban mobil Anna. “Ravel!” durai air mata mengalir membasahi pipi Anna. Menggeleng-gelengkan kepala dan menggoyangkan tubuh Ravel. Dia merasa sungguh tak rela jika benda itu lepas darinya. Ravel menoleh. Wajah datar tak berekspresi terlihat disana. Anna mengerutkan kening, menatap tajam walau air mata terus membingkai di pelupuk matanya. Anna mengepal erat kedua tangan ingin rasanya saat ini juga memukul wajah Ravel. “Ada apa?” tanya Ravel menantang Anna. “Cepat kembalikan kartu itu!” teriak Anna marah sekali. Namun begitu tidak menggangu kenyamanan warga disekitar. Bersambung ...
Obrigado
Apoie o autor para lhe trazer histórias maravilhosas
cerita novel nya sangat baguss hebatt💞
06/05/2022
4cerita nya bagus kak..
19/03/2025
0bagus
16/02/2025
0Ver Todos