logo text
Adicionar à Biblioteca
logo
logo-text

Baixe este livro dentro do aplicativo

Capítulo 4 Mengajaknya

“Jadi, hal apa yang akan kita mulai untuk pertama kalinya?” tanya Anna dengan polosnya. Kali ini dia benar-benar tidak tau mau mulai sesuatu yang mana. Soalnya kepalanya hari ini sungguh suntuk memikirkannya.
Entahlah, apakah benar keputusannya untuk menjadikan pria di depannya sebagai kekasih. Sedangkan tidak ada rasa cinta dalam hati mereka masing-masing. Lalu, gimana mereka menjalaninya? Tapi, yah sudah lah, mereka 'kan hanya jadi kekasih palsu. Tidak sungguh-sungguh. Kata ‘cinta’ tak perlu bagi keduanya. Toh ingin hanya sementara. Tidak lama-lama.
“Hmm ... Bagimana jika kita memulainya dengan peraturan. Seperti, apa yang harus Saya lakukan, atau nona lakukan supaya kita bisa sama-sama nyaman. Kita mulai, dari nona dulu. Gimana?”
“Sebenarnya, tidak perlu banyak peraturan. Anda cukup melakukan sesuai kebiasaan, dan saya juga seperti itu. Kalau saling menyentuh, saya sudah terbiasa melakukan hal itu. Jadi tak perlu sungkan pada saya. Selagi, anda melakukan sesuai batas sewajarnya, tidak lebih. Sebab saya juga, masih menjadi wanita suci walau sudah cukup lama berpacaran dengan ‘dia’,”
“Owh ... Baiklah. Saya juga akan melakukan hal yang sama seperti keinginna nona. Tapi, jika kita seperti ini, hem ... Maksudnya berkata ‘nona dan anda’ sepertinya, sangat resmi. Dan Kita juga belum sama-sama kenal, jadi, bagaimana jika di mulai dari perkenalan saja?”
Mata Anna membulat kaget. Kata-kata itu begitu mengingatkannya pada masa-masa kecilnya. Saat memulai sesuatu hal baru, hal pertama adalah ‘pekenalan’. Tidak bisa terbayang jika momen itu kembali lagi. Dia merasa lucu ketika membayangkannya.
“Apa ada yang salah?” Ravel memerhatikan wajah Anna. Sepertinya gadis itu tidak suka dengan idenya. Namun dia tidak merasa terganggu. Dia hanya menjadi sebuah wadah penyatu hubungan antar sepasang kekasih yang terpisah karena kesalah pahaman, tidak lebih!
“Tidak-tidak,” Anna menggeleng kepala memandang lurus sekilas. Lalu kembali memandang Ravel disampingnya, “Oh ya, kenalkan, nama saya Anna Bunga Vanesha. Panggilan saja dengan sebutan Anna,” cara bicara anak TK dan SD waktu kenalan. Menjabat tangan orang yang mau berkenalan dengannya hampir membuat Anna tertawa terbahak-bahak. Namun ditahan, karena Anna tidak mau menyinggung pria di depannya.
“Hey, tidak perlu seperti itu! Caranya begini,” Raven mulai beri cara yang ‘menurutnya’ baik itu, “Kenalkan, namaku Ravelion Jiorji. Panggil saja Ravel, atau Lion pun boleh,”
“Hahahaha! Sama saja!” tawa Anna. Ravel membulatkan mata memberi isyarat akan dirinya untuk diam.
“Ups~maaf. Kebab-blasan,” ucapnya memohon konsekuensi.
“Tidak apa. Hmm, oh ya, ketika kita mulai berpacaran. Kata, ucapan yang terlalu ‘resmi’ tidak perlu. Seperti biasa saja, oke?”
***
Kini kedua manusia yang baru saja resmi pacaran selama sepuluh menit lalu itu sudah berjalan pergi dari halaman ruang UGD tempat Ibunya Ravel berada. Mereka memberikan ruang lebar agar semua dokter-dokter tersebut lebih lelauasa dalam menjalani kewajiban masing-masing.
Selain tidak ingin menghebohkan jagat rumah sakit karena suara mereka yang sangat besar dan terlalu lebai, mereka pun juga punya sesuatu yang direncanakan agar ‘dia’ bisa kembali lagi pada Anna.
“Kita harus bersikap sedikit harmonis selayaknya sepasang kekasih yang jatuh cinta,” pesan Ravel ketika mereka sudah di lobi rumah sakit. Dijawab dengan anggukan lembut dari Anna. Dan mereka melanjutkan langkah menuju parkiran.
“Kita, kemana setelah ini?” sambil mengepal erat tangan Anna, Ravel dengan senyum manisnya seperti segalanya adalah kenyataan bertanya dan menimbulkan tolehan lembut dari Anna sendiri. Dia, seperti perkataan Ravel sebelum mereka pergi, kalau Anna harus ‘pura-pura’ atas semuanya.
Maka dia tetap mengikuti. Namun kepala otak udang Anna terus membayangkan waktu tepat itu. Waktu dimana Raka dan Anna kembali bersama untuk selamanya tampa ada rintangan berat yang harus dilalui.
“Hmm ... Bukan bermaksud untuk menjelek-jelekkanmu ya Rav,” Anna melepaskan tangan Ravel. Kini gadis itu sudah berada tepat di depan Ravel. Anna memandang tubuh tegap dan kekar milik Ravel dari atas lalu kebawah. Tampa ada yang terlewatkan.
“Maaf, namun kalau boleh tau, apa yang mau kamu lakukan?” tanya Ravel sedikit canggung. Laki-laki itu terlihat sangat risih dengan pandangan menyelidik dari Anna.
Anna menghela nafas. Tatapannya kini hanya terletak pada wajah Ravel yang tergolong kunyel dan menurutnya terlalu ‘buruk’.
“Sepertinya perlu renovasi,” gumam Anna memangku dagu oleh kedua tangannya.
“Apa? Ups, maaf. Tapi, ... Renovasi! Apa aku tidak salah dengar?”
Mata Anna membulat. Ya ampun, kata-katanya berhasil diketahui Ravel. Gimana ini?
“Bu-buk-an. Bukan itu maksudku. Aku hanya ...”
“Ya, aku tau kok,” Anna mengangkat kepala, “Tadi memang sempat sih aku kaget karena kamu seperti orang yang mau buat jantung mau lompat. Kamu pasti risih dengan penampilan acak-acakanku ini. kan-kan, kan?” tebak Ravel sembari tersenyum menaik-turunkan alisnya.
“Maaf. Tapi memang rasanya risih melihat penampilan kamu yang seperti ini. Bisakah kita pergi ke butik untuk mempermak penampilanmu?”
“Sesuai keinginanmu saja. Aku mah ikut aja. Kan tugasku hanya membantu, aku tidak punya hak-apaun jika kamu sudah menginginkannya.”
Mereka masuk kedalam mobil dan melajukan mobil membawa sepasang kekasih palsu ini ke sebuah butik kelas internasional. Semua orang dari kalangan menengah keatas berkumpul disana.
Memilih barang tanpa negosiasi, tinggal ambil, ambil dan bayar. Beres! Karena orang kaya disini bergaya sangat sombong sekali. Dan hal itu, ketika Ravel melihatnya menggeleng-gelengkan kepala merasa prihatin dengan semua sikap mereka.
“Kamu mau pilih yang mana?” tanya Anna sambil menyodorkan sepotong baju kemeja biru dongker kepada Ravel. Tatapan Anna terus silih berganti kepada tubuh Ravel dan baju itu.
“Sudah ku katakan, suka-suka kamu. Aku ikut saja,” ucap Ravel mengulangi semua katanya.
“Ya sudah. Hmm, aku pilih yang ini, ini, ini, dan ini!” menarik satu persatu potongan baju dari rak baju yang tergangtung tampa memperdulikan sudah berapa banyak potongan baju yang terambil dari sana.
“Ini! Sekarang kamu pergi ke kamar ganti, dan coba satu persatu bajunya. Oh ya, mengingat baju kamu berlumur banyak darah tadinya, maka jika ada yang benar-benar cocok, kamu pakai saja bajunya. Kita akan bayar dua kali lipat kalau toko ini memprotes aksimu.”
Anna menyodorkan sekitar lima belas potong baju serta celana jeans kepada Ravel. Lelaki itu membuka kedua tangannya lebar-lebar untuk menampung baju sebanyak itu.
Selepas kepergian Ravel ke kamar ganti, Anna masih memilih banyak baju.
****
“Yang ini, hmm ... Bagus! Tapi, terlalu norak!”
Ravel sudah berkali-kali memasang bukakan semua baju dan celana itu tapi semua tak ada masuk dalam akalnya.
Lihatlah, seperti baju warna biru. Memang warnanya bagus, tapi tak terpikir kalau baju itu memiliki beberapa bagian robek. Seperti di bahunya, ujung bajunya, serta ditengah-tengah, ah! Baju apa ini?
Lima belas menit di ruangan itu. Satu baju diatara banyak baju sepertinya sangat cocok dengan keinginannya. Natural dan biasa saja.
Ravel sempat tersenyum lega. Tapi tampa sengaja dia melihat harga yang tertera disana.
300$
Hey! Apa dia sedang tidak salah lihat?
300$ sama sekali bukan harga murah!
Satu baju ini, harganya fantastis! Hampir copot mata Ravel melihatnya. Dia yang sudah lebih lima tahun kerja sambil kuliah saja tidak pernah mendapat uang sebanyak itu dalam waktu singkat.
Sepertinya, butuh gaji seumur hidup untuk menggantikan satu baju ini.
Dengan kaki yang melangkah terasa sangat berat, Ravel menemui Anna disana. Melihat gadis itu masih memilih baju-baju, keseimbangan pada kedua kaki untuk menopang tubuhnya mulai berkurang.
Ravel menggeleng-geleng merasa tak percaya. Mengikuti keinginan Anna, ternyata tak semudah terbayangkan. Awalnya Ravel pikir kalau Anna bercanda.
Ternyata pikirannya salah. Anna mengikuti semua kebiasaan ‘borosnya’ padahal jika semua baju itu tidak beli, satu kampung bisa dikasih makan.
Ah, Ravel sama sekali tak habis pikir dengan Anna.
Apa orang kaya juga seperti dia?
Bersambung ...

Comentário do Livro (111)

  • avatar
    Ratu Jihan

    cerita novel nya sangat baguss hebatt💞

    06/05/2022

      4
  • avatar
    ARMuhazarah

    cerita nya bagus kak..

    19/03/2025

      0
  • avatar
    Muhammad Raka Brahmansyah

    bagus

    16/02/2025

      0
  • Ver Todos

Capítulos Relacionados

Capítulos Mais Recentes